Tuhan “Cemburu”, Cinta Ibrahim Terbelah Dua - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Wawancara
16/02/2003

KH. Drs. Ahmad Musta’in Syafi’i, M.Ag Tuhan “Cemburu”, Cinta Ibrahim Terbelah Dua

Oleh Redaksi

Sesungguhnya, Ibrahim itu berasal dari latar belakang keluarga biasa yang lama sekali tidak mempunyai anak. Lalu dia berdoa terus: Rabbi habli minasshalihin (Tuhan, karuniai aku anak yang saleh! Red). Itu doa yang terus-menerus dia kumandangkan. Lantas doa itu terkabul, dan lahirlah seorang anak yang dalam bahasa Alquran disebut ghulam halim.

Kemarin, umat muslim merayakan hari raya Iedul Adha atau juga dikenal sebagai lebaran Qurban. Ibadah qurban merupakan manifestasi ketakwaan manusia terhadap Khaliq-nya. Qurban mengandaikan adanya keterputusan hawa nafsu dan interest apapun yang menghalangi upaya kita untuk mendekat kepada-Nya. Qurban juga bisa diartikan sebagai pemutusan total manusia terhadap kemungkinan masuknya perangai kebinatangan dalam perilaku sehari-harinya. Untuk menambah wawasan kita tentang makna Qurban, berikut ini petikan wawancara Burhanuddin dari KIUK dengan K.H Mustai’in, pakar tafsir di Institut KH Hasyim Asy’ari dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang pada Kamis, 13 Februari 2003:

Pak Kiai, kita tahu, secara kebahasaan kata qurban berarti “pendekatan.” Kira-kira pesan simbolik apa yang hendak disampaikan Allah lewat perintah qurban ini?

Menurut saya, manusia tidak bisa langsung mendekatkan diri pada Tuhan, kecuali setelah memenggal sesuatu; harus ada yang diputus, yaitu elemen-elemen yang menghambat diri untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Analoginya, ketika kita hendak menuju suatu tujuan dengan melintasi suatu jalan, lalu bertemu rintangan, maka rintangan itulah yang pertama-tama harus kita singkirkan.

Cara begitu tentu lebih melempangkan dan mendekatkan kita kepada tujuan. Karena itu, manusia tidak boleh terpental dari Tuhan, dan seharusnya mempunyai jiwa ketuhanan (lahût). Sementara, jiwa ketuhanan itu tak bisa dicampur dengan jiwa-jiwa kebinatangan yang merusak dan lainnya.

Dari kisah historis qurban, kita mendengar bahwa Nabi Ibrahim dititahkan untuk menyembelih anaknya; yaitu Nabi Ismail, merujuk banyak pakar tafsir. Hanya saja, komentar Ali Syariati, perintah memenggal kepala manusia itu tak mungkin dititahkan Allah yang Maha Pengasih. Perintah itu otomatis membawa konflik batin dalam diri Nabi Ibrahim. Tanggapan Anda?

Biarlah Ali Syariati berpendapat demikian. Barangkali, dia ingin memetik hikmah yang lebih jernih. Tapi kami punya kesempatan untuk menilik kembali sisi historis kisah ini. Nabi Ibrahim itu lahir di sebuah kabilah yang bernama Jurhum. Di kabilah itu, animisme menjadi kepercayaan, dan pengorbanan, ketika itu --termasuk pengorbanan manusia-- sudah menjadi tradisi. Jadi, (tradisi qurban) itu sudah ada dan sudah terbiasa sekali.

Artinya, ketika membarter Ismail dengan hewan qurban, seolah-olah Tuhan ingin menganulir tradisi pengorbanan manusia atas nama Tuhan?

Ya, memang demikian. Ada hal yang sangat penting di balik perintah itu. Salah satunya adalah ingin meluruskan cara-cara mereka (kabilah Jurhum) yang suka mengatasnamakan Tuhan, termasuk dalam mengorbankan anak mereka sendiri. Tradisi buruk itu yang ingin diluruskan.

Tapi pesan yang sesungguhnya: bukan itu yang dimaksud dengan qurban; bukan mengorbankan anak atau manusia. Dalam konteks ini, Ibrahim dites. Tapi, sesungguhnya Tuhan sudah punya perencanaan sendiri, dengan bahasanya sendiri. Jadi latar belakang perintah menyembelih itu, tak sama dengan tradisi kabilah Jurhum waktu itu.

Saya ingin sedikit bercerita. Sesungguhnya, Ibrahim itu berasal dari latar belakang keluarga biasa yang lama sekali tidak mempunyai anak. Lalu dia berdoa terus: Rabbi habli minasshalihin (Tuhan, karuniai aku anak yang saleh! Red). Itu doa yang terus-menerus dia kumandangkan. Lantas doa itu terkabul, dan lahirlah seorang anak yang dalam bahasa Alquran disebut ghulam halim (bocah yang lembut, Red). Nah, ketika punya anak, Ibrahim mulai membagi cintanya. Kalau dulunya (sebelum berketurunan) dia sangat konsentrasi pada Tuhan, tapi setelah kehadiran Ismail, konsentrasi dia mulai terbelah: pada Allah dan pada anaknya.

Mungkin itu karena efek samping dari sekian lama Ibrahim mendamba seorang anak?

Ya, bahkan ada cerita yang, menurut saya, agak manusiawi. Konon, Ibrahim pernah bermunajat pada Allah, lalu terganggu oleh anaknya. Nah, karena keseringan seperti itu –dan bagi seorang Nabi, itu tidak layak-- akhirnya Tuhan mulai “cemburu” dalam bahasa yang ekstrim. Sebab cintanya dibelah dua; dimadu Ibrahim antara cinta kepada-Nya dengan cinta pada anak.

Oleh karena itu, sebagai pengemban tugas risalah, Ibrahim diuji dengan menggunakan tradisinya sendiri. Namun, (tradisi itu) disiapkan bukan untuk keberhalaan, tapi sesungguhnya untuk menguji kadar nilai keimanan seorang Ibrahim sebagai seorang Rasul dan Nabi.

Kalau dikaitkan dengan nafsu kebinatangan yang merasuk dalam diri manusia, apa hikmah yang bisa kita petik dari peristiwa qurban ini?

Sama, saya tetap pada esensinya. Tapi sesungguhnya tidak hanya nafsu kebinatangan. Kebetulan saja yang diqurbankan itu binatang (jadi seolah hanya mengeliminir nafsu kebinatangan, Red). Karena, peristiwa simbolik menyembelih itu memang menggunakan binatang. Kita tidak bisa memaknai sebatas kebinatangannya. Kalau diteruskan, itu meliputi seluruh nafsu; yaitu seluruh yang merenggangkan kita dari Tuhan. Makanya, harus didekatkan atau diqurbankan kembali.

Ketika (leher) binatang itu terputus, seharusnya semua nafsu juga terputus. Makanya tidak logis sekiranya seorang menteri menyedekahkan hewan qurban sekian ekor, lalu dicampur korupsi. Itu tidak bisa! Itu tak terkena maknanya. Maka, mereka yang masih suka melalap “daun muda” misalnya, lantas pada bulan ini mengorbankan sapi, tapi tetap saja dalam perilaku lamanya, itu jelas mendapat (porsi) sedekah, tok. Tapi makna qurban; bahwa dia mendekatkan diri pada Tuhan, tetap tidak ada, blank.

Pak Kiai, apakah ibadah haji dan qurban terkait dengan struktur kelas. Artinya, keduanya hanya bisa dilakukan orang yang mampu sehingga dalam hal perintah qurban lebih ditujukan untuk solidaritas sosial?

Hemat saya, tidak selamanya begitu memberi makna qurban. Khusus qurban tak hanya monopoli elit ekonomi saja. Pada saat Rasulullah melaksanakan qurban, dia menyembelih sendiri, lalu dia atasnamakan qurban beliau untuk umatnya. Dengan demikian, qurban itu menyentuh keseluruhan, atau totalitas apa saja. Sementara fikih, konstruksi fikihlah yang membagi-bagi sedemikian itu: kambing untuk satu orang, unta tujuh. Itu legal sekali. Itu pemahaman fikih.

Ada pandangan yang mengatakan uang qurban itu sebaiknya dibelikan sembako saja, mengingat masyarakat miskin lebih butuh sembako ketimbang daging.

Secara esensi itu bisa saja. Tapi ibadah itu ada segmen-segmen sendiri. Qurban spesial untuk Idul Adha. Tuhan memang mengisyaratkannya sebagai hari pesta. Kalau dilihat dari segi gizi, hari itu adalah yang terbaik. Ada istilah ayyamut tasyriq dan lain-lain. Ini soal menu yang diperhatikan. Sedang yang tadi disebutkan, soal beras, itu ‘kan sudah ada porsinya sendiri, (misalnya) pada zakat fitrah dan sedekah harian. Terus jangan lupa bahwa kambing atau hewan yang ditumpahkan darahnya atau diqurbankan itu, punya makna sendiri.

Dulu ada diskusi mengapa hewan-hewan yang diqurbankan di Tanah Haram, oleh sebagian ulama tidak dibenarkan untuk dibawa keluar. Alasannya begini --saya mengutip satu pendapat saja--.karena nilai universal qurban atau bersedekah daging itu, tidak hanya untuk manusia. Di sana ada jin, siba’, atau binatang-binatang yang memang ikut menikmati prosesi itu. Masalahnya tak terbatas pada fakir miskin. Jatah untuk fakir miskin, sudah banyak porsinya pada zakat. Lagi pula, ‘kan ditetapkan hanya sekali dalam setahun. Jadi kurban ada penyapaan terhadap mahkluk non-manusia, entah itu hewan, bakteri maupun jin.

Bagaimana kalau kita timbang dari kondisi ekonomi masyarakat kita yang lebih butuh bahan-bahan pokok?

Ya, saya tidak mengelak dari itu. Tapi dalam catatan amal, itu tidak masuk bukunya Idul Qurban, tapi masuk buku sedekah biasa. Ritual menumpahkan darah itu bisa diserap siapa saja, termasuk semut. Ada tulisan yang menyatakan: bahkan semut, burung dan hewan yang tidak diperhatikan umat manusia, bisa berpesta di sana. Jadi sejauh itu konsep rahmatan lil alamin diagendakan dalam bentuk kerja sosial yang lintas manusia.

Tadi Anda mengartikan ayyamut tasyriq sebagai “mepe dendeng.” Kira-kira apa akar historis yang melandasi argumen itu?

Dari segi kebahasaan, itu begini. Pada saat orang menyembelih daging, umumnya ‘kan tak habis pada waktu itu. Masih ada hari ke depan yang pestanya perlu ditambahi, sehingga daging perlu diawetkan dalam bentuk yang paling tradisional, yaitu dengan dikeringkan melalui sinar matahari. Itu sesungguhnya adalah suatu hal ke depan; bagaimana rejeki tidak habis pada waktu itu. Makanya, sampai tiga hari tasyriq, seperti itu. Itukan makna yang terambil dari etimologi yang alami saja.

Ayat 37 surat Al-Hajj menerangkan kalau daging dan darah yang ditumpahkan itu tidak diterima Allah, malainkan ketakwaanlah yang Dia terima. Bisa Anda elaborasi lebih lanjut?

Sama saja dengan yang saya utarakan tadi. Kurang bermakna kalau kita hanya mengurbankan luhum atau daging dan darah saja, tapi tak berhenti dari maksiat. Yang demikian itu, tidak sampai orientasinya. Memang hanya ketakwaan yang sampai pada Allah. Kalau si pengorban malah lancar dan makin dekat dengan Tuhan, itulah yang namanya qurban yang sesungguhnya.

Sebagai upaya toleransi, umat Islam di Bali tidak menyembelih sapi, tapi kerbau karena sapi menjadi hewan yang dihormati di kalangan umat Hindu. Ketika hewan qurban (yang sah disembelih) bertentangan dengan nilai-nilai kesakralan lokal, kita bisa mensubstitusinya dengan hewan lain, dengan substansi yang sama. Tanggapan Anda?

Menurut saya, pengertian toleransi itu harus dipertimbangkan. Tak seluruh yang di luar kita itu menghentian konsep kita. Kalau sapi barangkali tak boleh disembelih dalam keyakinan umat Hindu, ya biarlah. Tapi kita tidak punya pandangan seperti itu. Tapi kalau untuk bertoleransi, kita bisa beralih ke kambing. Tapi secara esensi konsep, kita tetap tak bisa (berpandangan begitu). Konsep tetap berlaku seperti adanya, tapi dalam hal trik, tetap ada kebijakan sendiri. Pada masyarakat kita yang menghormati sapi, (berqurban) dengan diganti kambing tujuh ekor, saya kira tak masalah. Tapi, itu jangan sampai mematikan konsep sapi yang kita yakini sendiri itu.

Qurban dan haji juga termasuk peristiwa simbolik yang perlu banyak dipertajam maknanya. Bagaimana Anda memaknai ritual-ritual haji?

Kita sederhanakan dulu. Sesungguhnya, ibadah haji itu adalah ibadah wisata. Kita di Arafah (seolah) mengisi absen, kita hadir di situ. Makna lebih jauh dari itu ialah kita sudah mendaftar, sudah hadir dalam rangka memenuhi panggilan Allah. Karena itu, fikih mengatakan sudah sah (haji seseorang bila telah mengikuti wukuf di Arafah, [al-hajj arafah, haji adalah Arafah, sabda Rasulullah], Red) walaupun di sana itu, mungkin main gaplek. Tapi itu ‘kan menyalahi esensi wukuf.

Selain dimaknai sebagai pariwisata, kira-kira apa makna haji lainnya yang bisa dijelaskan?

Kalau sampeyan melihat rukun Islam di Indonesia, haji itu nomor lima. Di pelajaran anak SD, haji ke Mekkah itu nomor lima. Tapi di Saudi Arabia, haji rukun nomor empat; nomor limanya adalah puasa. ‘Kan ada hadits yang menunjukkan kalau (rukun) yang nomor lima itu puasa. Alasannya karena bagi orang Saudi Arabia, puasa itu lebih berat ketimbang haji. Haji tinggal ngeluyur saja ke Tanah Suci, mumet-mumet, terus balik lagi. Kan mudah?! Sebetulnya orang Saudi Arabia itu sendiri kurang terkesan dengan haji, karena (tempatnya) sudah di sana.

Masalahnya, menyikapi haji itu, serius atau tidak. (Analoginya) sama ketika kita main bola. Sepak bola itu, kita pandang main-main atau sebuah sakralitas? Bagi pelatih klub semacam Manchester United dan AC Milan, itu serius sekali, bukan main-main. Haji juga begitu.

Tapi dalam konteks Indonesia, haji begitu bermakna. Haji juga menyangkut status sosial-ekonomi, apalagi sepulang dari sana menggondol status haji!

Ya, itulah salahnya. Perlu kita tegaskan bahwa rukun Islam yang lima itu baru rukun saja. Kita tahu, rukun-rukun itu baru tiang-tiang awal saja. Belum apa-apa. Itu masih butuh pelengkap. Rukun itu artinya tiang, pilar, pondasi. Belum ada bangunan! Belum ada dinding, asesoris, emperan dan lain-lain. Makanya, ibadah haji itu, bagi saya baru 20 persen dari rukun yang lima itu. Karena itu, tidak bisa dianggap segalanya. Kemudian, kalaupun ketika kita pulang disebut haji mabrur yang diampuni dosanya (menurut hadits, Red), itu ‘kan hanya semacam rangsangan saja. Tapi, untuk mengukur kemabruran itu seperti apa, justru di situlah tanggung jawab kita lebih banyak.

Ada yang melihat pengorbanan Ibrahim atas anaknya itu adalah peristiwa simbolik yang amat bermakna. Lantas mana yang lebih utama: ibadah haji atau qurban?

Tadi haji saya sebut rukun. Kemudian untuk peningkatan bangunan, ada di kurban, ada di lain-lainnya. Dalam ibadah haji juga ada kewajiban dam (mengganti pelanggaran ritual haji dengan darah/qurban, Red) untuk yang melakukan haji tamattu’. Itu termasuk bagian qurban. Karena itu, saya ingin meluruskan pemahaman fikih yang berkembang di Indonesia, yang beranggapan bahwa haji ifrad lebih afdal dari yang lainnya, karena mendahulukan ritual haji ketimbang umrah.

Yang perlu dicatat, haji (yang dilakukan) Rasulullah itu, tammattu’ bukan ifrad. Rasulullah cuma haji sekali saja, yaitu haji wada’. Itu disebabkan karena Rasulullah ketika di Madinah, (lama) tak bisa masuk Mekkah, karena situasi politik yang tak aman. Baru setelah Mekkah ditaklukkan, dia bisa melakukan haji (haji wada’, Red) yang menjadi syariat itu. Nah ketika itu, kurang lima hari, Rasulullah masuk Mekkah, dan melakukan haji tamattu’, lalu menyembelih qurban. Jadi begitu. []

16/02/2003 | Wawancara | #

Komentar

Komentar Masuk (1)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

kecemburuan tuhan berupa perintah kurban saya kira tidak hanya berlaku untuk nabi ibrahim tapi ada makna janganlah manusia menempatkan cinta pada Allah dalam bayangan cinta makhluk, maka akan dapat diamati cobaan manusia akan datang dari apa yang dicintainya selain Allah

Posted by achmad  on  02/16  at  09:15 PM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq