Tuhan Kebaikan, Tuhan Kejahatan - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Editorial
09/05/2004

Tuhan Kebaikan, Tuhan Kejahatan

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Pertanyaan saya kemudian, apakah betul bahwa sumber kejahatan itu di luar Tuhan? Apakah tidak mungkin kejahatan ada dalam Tuhan sendiri? Kalau kejahatan secara mutlak di luar Tuhan, apakah dalam konsepsi monoteisme hal itu tidak berujung kepada kemusyrikan, karena akibatnya adalah adanya dua Tuhan: Tuhan Kebaikan (The Hero) dan Tuhan Kejahatan (The Villain)? Apakah itu tidak menyekutukan Allah?

Banyak yang beranggapan bahwa pemikiran-pemikiran saya sangat “menuhankan” akal. Anggapan ini terutama disampaikan oleh teman-teman Islam fundamentalis. Teman-teman ini berpendapat bahwa akal itu, kalau diikuti, hanya akan menyeret manusia kepada kesesatan. Alasannya, akal itu lemah, terbatas, dan karena itu butuh petunjuk. Petunjuk yang sudah pasti benarnya hanya bisa datang dari Tuhan. Dengan kata lain, akal itu adalah “duta besar” Iblis dalam kehidupan manusia. Iblis sesat karena menggunakan akalnya, sehingga ketika diperintahkan sujud oleh Allah kepada Adam, Iblis menolak: “Khalaqtani min narin, wa khalaqtahu min thin, Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia [Adam] dari lempung,” demikian kata Qur’an.

Pertanyaan saya kemudian, apakah betul bahwa sumber kejahatan itu di luar Tuhan? Apakah tidak mungkin kejahatan ada dalam Tuhan sendiri? Kalau kejahatan secara mutlak di luar Tuhan, apakah dalam konsepsi monoteisme hal itu tidak berujung kepada kemusyrikan, karena akibatnya adalah adanya dua Tuhan: Tuhan Kebaikan (The Hero) dan Tuhan Kejahatan (The Villain)? Apakah itu tidak menyekutukan Allah?

Ini masalah rumit yang sudah menjadi perdebatan klasik dari dulu. Mungkin terlalu mewah memperdebatkan hal ini. Apalagi kita sedang bergairah menghadapi pemilihan presiden untuk kali pertama. Tetapi, bagaimanapun juga, perkenankan saya mengutarakan pikiran saya yang masih bersifat sementara ini.

Bagi saya, sebagai penganut monoteisme, wawasan yang lebih masuk akal tentang ketuhanan adalah wawasan yang justru memandang Tuhan itu sendiri sebagai “Dzat” atau “Being” atau “Wujud” yang sedang berproses juga. Bagi teman yang pernah membaca pikiran filosof proses, Alfred Whitehead, konsepsi ketuhanan yang berwatak “prosesual” ini sudah pasti tidak aneh dan mengagetkan. Kebaikan dan kejahatan bersumber dari Tuhan yang sama, dan dalam diri Tuhan memang terdapat dua aspek yang paradoksal. Paradoks ketuhanan itulah yang kemudian “memancar” (ini istilah khas dalam filsafat: emanasi (al faidh) ke dalam kehidupan manusia. Jika manusia diciptakan dalam citra Tuhan (Imago Dei dalam konsepsi Kristen; atau wa nafakhtu min ruhi dalam konsepsi Islam), maka dengan sendirinya paradoks-paradoks yang ada dalam Tuhan sendiri akan “mengalir” pula dalam watak dan psike manusia itu sendiri.

Sebagaimana Tuhan dalam dirinya mengalami semacam “proses” yang melibatkan pertarungan antara yang “Baik” dan yang “Buruk”, sebagaimana Tuhan dalam dirinya mengalami dialektika, maka demikian pula manusia. Inilah konsepsi yang konsisten mengenai Tauhid, mengenai Tuhan yang satu: Tuhan Kebaikan sekaligus Tuhan Kejahatan. Wallahu a’lam Bisshawab (Ulil Abshar-Abdalla)

09/05/2004 | Editorial | #

Komentar

Komentar Masuk (44)

(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)

Bayangan atau kegelapan itu tidak ada.  Apa yang kita katakan sebagai bayangan dan kegelapan hanyalah ungkapan untuk menunjukkan kurang atau tiadanya sinar.
Demikian juga dengan kejahatan.  Kejahatan itu tidak ada. Apa yang kita katakan sebagai kejahatan hanyalah untuk mengungkapkan tiadanya “Sinar Ilahi”.

Posted by Susilo  on  05/01  at  04:46 AM

Allah mengilhamkan kedalam diri manusia kehendak bebas, yaitu sukma kefasikan dan ketakwaan, kefasikan adalah kehendak melanggar perintah tuhan dan sukma ketakwaan adalah kepatuhan kepada perintah Tuhan, tuhan Melarang ente untuk berzina, itu berarti anda memiliki kehendak untuk patuh dan tidak patuh, jika anda tidak patuh maka itulah kejahatan. Jadi kejahatan bukan Allah tapi anda sendiri.

Pertanyaan untuk mas Ulil
Jika presiden SBY melarang anda melakukan kejahatan, Apakah SBY bisa dibilang pelaku Kejahatan?

Posted by Handika  on  08/15  at  02:50 PM

mas ulil yang di rahmati tuhan..saya mungkin sependapat dengan mas ulil, tuhan nya kebaikan dan kejahatan adalah tuhan nya itu-itu juga,tapi mungkin agak ektrim . kalau manusia menurut saya adalah tuhan ,langit adalah tuhan ,bumi adalah tuhan,semua yang ada di alam ini adalah tuhan.logikanya kalo kita bertanya pada diri sendiri,adakah sesuatu yang tidak dan bukan berasal dari tuhan ? saya kira tidak ada. bukan kah tuhan itu qodim (terdahulu)kalau tuhan itu terdahulu berarti sebelum adanya makhluk baik itu surga ,malaikat atau pun manusia berarti tuhan dalam kesendirian.bukan kah dalam hadis qudsi-Nya ada ungkapan .aku adalah maha besar, aqu adalah maha kuasa.maka kemudian Dia ciptakan makluk supaya dia di kenal ke-Maha besarannya ,di kenal ke-Maha kuasaannya.makhluk itu adalah diri-Nya itu sendiri yang memiliki wajah yang plural.kalau dia tidak menciptakan makluk, siapa yang akan mengetahui kebesarannya,siapa yang akan mengetahui kekuasaannya.kemudian kita cobA BERTAnya kembali.kalau memang makluk bukan bagian dari tuhan yang maha besar lantas adakah tuhan yang lain ketika dirinya dalam kesendirian ?ketika diri-Nya rindu sebuah pengakuan.  andai kata ada manusia yang masuk neraka ,pada hakekatnya Dialah yang sedang terbakar, andaikata ada manusia yang masuk syurga dirinyalah yang sedang mengalami kesenangan .mungkin ini adalah hal yang logis .dan bahkan mungkin tuhan sedang bersandiwara yang bergelut dengan dirinya sendiri.  Sungguh kau maha besar Wahai tuhan ku ALLah SWT .sungguh kau maha suci .Subhanallah
-----

Posted by ida wahyudi  on  03/31  at  02:04 AM

assalamuaikum pendapat alferd W sebenernya mempunyai celah bagi monoteisme, kesalahannya terletak pada teori emanasinya yang menganggap bahwa keseluruhan dualitas dimiliki oleh Allah sekaligus. Hal ini jelas bertentangan dengan konsepsi eksistensi nafsu dan bahkan berusaha menegasikannya. Mungkin disini kita perlu merefleksikan lagi tentang ikrar-metefisik yang di abadikan dalam al-quran: apakah saya tuhanmu?manusia menjawab ya. ketauhidan awal telah terbentuk bahkan sebelum manusia itu lahir,disini berarti nilai monotheisme telah ada dalam diri kita.ditambah lagi dengan firman Allah yang memberikan sebagian citraNya kepada manusia,membuat manusia mempunyai nilai ketuhanan sebagai representasi dari kebaikan.Pertanyan yang muncul kemudian adalah bagaiman konsepsi keburukannya?harus diingat pula bahwa manusia secara alamiah lahiriah mempunyai nafsu yang apabila tidak bisa dikendalikan akan mendestruksi dirinya sendiri. nah yang berperan penting dalam hal ini adalah setan(satanic roles)maka dari itu ini merupakan kiblat dari segala kejelekan. Bahkan Allah berfirman dalam al-quran:segala yang baik datangnya dariKU sedangkan segala keburukan datangnya daru diri kalian. wallahu a’lam bisshowab

Posted by ahmad hasan ubaid  on  01/26  at  11:01 PM

sebelum saya memberi tanggapan ini, alangkah baik_nya saya bertanya terlebih dahulu kepada antum, apakah antum seorang muslim, apabila memang antum muslim, kenepa disetiap artikel anda tidak mempunyai adab, mengucapkan salam. dan diahiri dengan salam.  dan perlu anda ketahui tidak ada tuhan selain allah, dan tidak ada tuhan kebajikan dan tidak ada pula tuhan kejahatan. Allah Swt, tidak pernah menciptakan yang sia-sia dimuka bumi ini, semua pasti bermanfaat bagi umat_nya, dan kalau memang ada itu hanya manusia itu sendiri yang dimasuki oleh snafsu syetan.

Posted by abdurrahman arifin ilham budim  on  10/25  at  07:10 AM

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq