Tuhan Pasca-Tsunami - Komentar - JIL Edisi Indonesia
Halaman Muka
Up

 

Diskusi
19/01/2005

Diskusi Freedom Institute dan Jaringan Islam Liberal Tuhan Pasca-Tsunami Freedom Institute, Selasa, 11 Januari 2005

Oleh Redaksi

Assalamu’alaikum dan Selamat malam! Selamat panjang umur, terutama buat Ulil Abshar-Abdalla. Nah, berhubung Ulil adalah orang yang banyak sekali berpikir tentang Tuhan, maka ulang tahunnya pun diisi dengan semacam obrolan tentang Tuhan. Tema ini kita angkat karena punya alasan yang kuat sekali. Saya akan review sedikit. Setelah kiamat Aceh kemarin (26/12/2004), begitu banyak orang lari atau melarikan diri kepada Tuhan, baik dengan semangat minta bantuan, minta tolong atau bahkan menyalahkan.

19/01/2005 01:15 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (28)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

Tsunami adalah fenomena alam, musibah yang dialami oleh orang-orang di aceh adalah ujian dari Allah SWT bagi keimanan mereka, dan Allah (InsyaAllah) telah mengangkat derajat mereka sebagaimana Allah mengangkat derajat para Rasul setelah mereka diuji.

Pertanyaan, sudahkah anda semua sudah di uji dengan musibah oleh Allah SWT? Kalau belum mungkin itulah sebagian kecil “azab” yang Allah timpakan kepada anda wallahu’alambissawab.

Imam Ali Zainal Abidin As-sajjad pernah berkata, “aku hampir-hampir bingung mana yang harus didahulukan mensyukuri nikmat atau musibah, karena kedua-duanya adalah rahmat dari Allah SWT”.

Selamat ulang tahun bung Ulil, semoga pencarian anda terhadap Tuhan berjalan seperti jalannya orang-orang yang diberi petunjuk olehNya dan bukan jalan orang-orang yang tersesat Amin3x.

regards

Husin Alatas, Departemen Fisika ITB

#1. Dikirim oleh husin alatas  pada  18/01   09:01 PM

Dari semua pembicara maupun ‘komentator’ seperti yang ditulis, saya masih bingung, sebenarnya orang-orang JIL ini diskusi tentang apa?, yang ada hanya paparan tentang pendapat orang lain, termasuk reaksi terhadap khotbah para ustad yang digolonkan kepada 2 hal yaitu : bencana merupakan ujian atau hukuman. Namun tidak ada kesimpulan dan pemikiran baru terhadap pertanyaan, bagaimanakah kita mensikapi bencana yang telah ditakdirkan Allah di Aceh dan Sumatera Utara??.

Ada lebih 100 ribu orang tewas, ada lebih 300 ribu yang mengungsi, sekalipun mereka menghadapi bencana yang sama, tsunami yang menerjang mendadak, kurang dari 10 menit, air laut naik setinggi pohon kelapa, namun siapa yang bisa memastikan saudara-saudara kita itu menerima takdir yang sama?. 30 persen dari yang tewas adalah anak-anak, bukankah menurut keyakinan Islam anak-anak adalah makhluk Allah yang belum dihitung dosanya, jadi bisa masuk sorga tanpa diseleksi terlebih dahulu??

Ada yang mengalami depresi, ada yang makin menjauh dari Tuhan, tapi bukan tidak mungkin musibah malah menjadikan orang lebih dekat kepada Allah, makin banyak beribadah dan beramal shaleh, jadi ingat untuk cepat-cepat minta ampun dan bertobat, bukankah itu bisa digolongkan orang-orang yang mendapat keberuntungan??

Tidak bisakah kita melihat bahwa bencana bisa juga termasuk bentuk kasih sayang Allah kepada manusia?

Justru disaat kita diberi kekayaan, kejayaan dan kepintaran oleh Allah zonder bencana, sedangkan semuanya kita pergunakan dijalan yang dimurkai-Nya, berbuat zalim, maksiat, sombong, dan Allah memberikan kita umur panjang serta kesehatan untuk makin ‘aktif’ berbuat durhaka. Dan sampai akhir hayat tidak ada kesempatan untuk bertobat, bukankah itu merupakan bencana yang sebenarnya???

Memang sebaiknya tidak ada generalisasi penyebab suatu bencana, karena akibat yang ditimbulkannya untuk setiap orang juga berbeda. Ayat-ayat Al-Qur’an yang disitir terkait dengan hal itu seharusnya dipakai untuk orang lain yang kebetulan belum terkena bencana, untuk introspeksi dan memperbaiki diri kedepan..

#2. Dikirim oleh Arda Chandra  pada  18/01   11:01 PM

musibah yang ada diaceh merupakan sebuah ujian dari Tuhan bukannya azab. sebab azab hanyalah menimpa kaum yg melampaui batas spt pada masa nabi terdahulu. musibah aceh juga marupakan pelajaran bagi kita sudah kah kita beramal sholeh atau bertaubat terhadap dosa kita

#3. Dikirim oleh arya blitar  pada  19/01   05:01 AM

Mengomentari topik dari diskusi ini, tangapan saya adalah bahwa bencana yang terjadi di Aceh adalah tidak dapat dipilah-pilah apakah ini intervensi dari Tuhan ataukah memang gejala alam yang memang secara teoritis bahwa bumi ini terdiri dari beberpa lempeng, laut dsb yang tidak statis namun bergerak. Bencana tersebut sebenarnya hanyalah cara bagaimana manusia mati, sama halnya dengan yang meninggal karena sakit jantung, kecelakaan, sedang tidur dan berbagai macam cara lainnya. Menurut saya yang dapat dicarikan sebabnya adalah mengenai jumlah orang yang meninggal pada saat itu begitu banyak hal inilah yang harus kita diskusikan. Apabila dikatakan Azab menurut saya adalah sebuah stigma yang sangat sadis, karena mungkin saja mereka itu orang-orang yang lebih taat beribadah dibandingkan yang masih hidup. Begitu pula apabila dikatakan sebuah ujian, terlalu mriris mendengarnya, karena sudah tentu ujian itu diperuntukkan bagi yang masih hidup sebab para korban yang meninggal secara lahiriah tidak dapat merasakan ini adalah sebuah ujian atau bukan. Jadi memang kita menyikapinya tergantung dari dari masing-masing individu tidak dapat didefinisikan menjadi sebuah teori seperti apa yang dikatakan oleh Pak Goenawan Mohammad. Yang terpenting adalah apa yang dapat kita perbuat bagi mereka yang secara fisik dan kasat mata terlihat mendapat kesusahaan.

#4. Dikirim oleh Rikihadi  pada  19/01   09:01 PM

Sebelum saya ikut urun rembug, atau ikut menanggapi diskusi “Tuhan Panca-Tsunami” saya ingin mengucap selamat ulang tahun untuk Bung Ulil, semoga panjang umur dan sukses semua yang anda kerjakan.

Menurut saya, Tuhan tak mungkin campur tangan dengan Tsunami yang “menghantam” tidak hanya Aceh dan wilayah Sumatra Utara lainnya, tapi juga Thailand, Sri Langka, dan India. Apalagi mengirim bencana Tsunami hanya untuk memberi pelajaran, atau menghukum manusia, atau masyarakat yang terkena bencana.

Memang kalau di lihat dari kepercayaan Kristen dan Yahudi, mungkin juga Islam, banjir zaman Nabi Nuh merupakan hukuman Tuhan pada manusia yang melanggar laranganNya, atau berbuat dosa...tapi dari ajaran Kristen dan Islam, maupun Yahudi, bukankah kita tahu bahwa tidak ada satu umat/manusia yang tak berdosa di dunia ini? Semua manusia berdosa. Lalu kenapa tak semua negara dihatam Tsunami?

Bencana alam terjadi di mana-mana. Kita semua akan meninggal/mati pada akhirnya nanti.

Para korban Tsunami di Aceh, atau di Negara-Negara lain memang memilukan, tapi benarkah kita bisa berthobat akan dosa kita, atau semakin mendekatkan diri pada Tuhan panca-Tsunami? Saya tak yakin. Pada dasarnya manusia adalah insan yang Munafik dan Sombong, musibah sebesar Tsunami-pun tak akan pernah jadi pelajaran bagi manusia.

Lihat saja issu pemurtadan lebih “mengerikan” kita dari pada “jeritan” derita dari para korban Tsunami. Kecurigaan berubah jadi provokasi yang digembor-gemborkan via media. Walaupun bagi yang cerdas dan waras imannya, 300 anak-anak tentu tidak begitu mudah di bawa keluar dari Indonesia, ataupun masuk Amerika, tanpa diketahui. Toh, yang suka provokasi tak perduli “logika.” Dosa muncul dari hati manusia. Iri, benci, curiga, provokasi dll. Inikah “perthaubatan” yang di-inginkan Tuhan panca-Tsunami?

Sungguh mulia jika Tsunami bisa membuat rakyat Indonesia, atau manusia untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan, bukan? Korupsi akan terus menjamur, diskriminasi Pemerintah atas minoritas akan terus terjadi, intoleransi akan terus terjadi...yeah, manusia, Tsunami tak akan merubah perbuatan hina kita di dunia, atau membuat kita sadar akan dosa-dosa kita.

Bagi saya pribadi, mendekatkan diri pada Tuhan adalah proses yang dilakukan setiap hari. Sehingga kalau bencana semacam Tsunami merenggut jiwa saya, paling tidak saya siap.

Jadi apakah tangan Tuhan ada dibalik Tsunami. Only God Knows, and I try to think that “Tuhan itu Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun yang tak akan pernah mengirim bencana hanya supaya manusia semakin dekat denganNya.”

Terimakasih.

#5. Dikirim oleh Galuh S  pada  19/01   11:01 PM

Mas Ulil saya hargai komitmen anda tentang ketuhanan apapun itu namanya menurut mas Ulil.tapi yang saya sesalkan adalah kenapa waktu anda yang begitu berharga digunakan untuk hal yang tak ada gunanya buat membantu rakyat Aceh.Apakah tidak sebaiknya waktu anda dipakai untuk memikirkan solusi yang tepat untuk menangani aceh pasca tsunami

#6. Dikirim oleh solehudin  pada  20/01   02:01 AM

urun komentar.

untuk orang yang sudah meninggal, jelas mereka sudah nggak mampu berteologi (theos: tuhan; logos = “representasi”, knowledge, dan semacamnya. so berteologi = “berpikir” tentang tuhan). aktivitas teologi ini adalah urusannya manusia hidup. itu yang pertama.

yang kedua, sesuai dengan jumlah sebutan tuhan yang tak terbilang itu, atau pinjam istilahnya kiai pastor kuntoro : tuhan “sing tan kena kinaya ngapa”, maka aktivitas berteologi hanyalah salah satu cara mendekati tuhan. artinya, ada berbagai cara lain untuk mendekati tuhan. aktivitas teologi ini berkembang due to the celebration of the thought. (thanks to the renaissance and modernism). sejauh mana aktivitas teologi ini memberikan manfaat (tentang paradigma manfaat ini, lihat ariel heryanto, kalam no 1) pada pembangunan, eh pada manusia, amatlah tergantung pada posisi yang mereka ambil dalam berhadapan dengan multifaceted life.

bagi orang yang berhabitus (tentang habitus ini, baca kompas beberapa hari yang lalu) cartesian, aktivitas teologi merupakan keniscayaan dalam establishing a certain kind habitus of preferred value. dan pada hemat saya, inilah habitus orang orang jil.

tanggapan teologis manusia terhadap tragedi tsunami tidak bisa dikelompokkan menjadi kategori kategori terpisah, melainkan merentang sepanjang sepektrum seturut proxymity mereka terhadap tragedi itu. orang yang mampu melakukan refleksi teologis terhadap tragedi tsunami ini adalah mereka yang mampu menempatkan diri pada proximity berjarak (distant proximity) terhadap tragedi ini. saya, kita termasuk dalam barisan orang orang seperti ini. saya berkecenderungan menempatkan tuhan dengan highlighting kemaha-rahimannya (rather than kemahakuasaannya).

tragedi tsunami aceh telah menggerakkan hati begitu banyak manusia bersolider dengan mereka yang tertimpa bencana. compassion yang tumbuh dari tragedi ini merupakan jejak kemaharahiman tuhan. despite [atau malah ‘karena justru’?] efek media [dan personal interest?], orang berbondong bondong menyanggupkan diri untuk memberikan dan melakukan pertolongan. i believe, it is kemaharahiman tuhan that make orang orang itu merasa obliged untuk share dan express their compassion.

ok, itu refleksi teologis saya yang punya proximity berjarak dengan tragedi tsunami. tapi lalu bagaimana kita memahami tuhan dalam kaitannya dengan korban bencana itu sendiri? adakah di sana jejak kerahiman tuhan? bukankah tuhan begitu kejam merenggut nyawa begitu banyak orang (for whatever reasons)?

untuk mencoba merespons pertanyaan seperti itu, barangkali ada baiknya kita mundur sejenak melihat what death means to us. pada hemat saya, habitus kita pada umumnya ‘mengajarkan’ kepada kita bahwa kematian adalah sesuatu yang menakutkan karena kematian dibingkai dengan kemahakuasaan. matra kemahakuasaan menyiratkan ganjaran atau hukuman. orang yang comply with whatever kemahakuasaan suggests, akan menerima ganjaran; yang breach them mendapatkan hukuman. ganjaran membikin orang senang, hukuman membikin orang sedih. dan kemudian logika ini dibalik --entah karena rekayasa atau keterbatasan ‘kata’-- menjadi: segala kesenangan adalah ganjaran dan kesedihan adalah hukuman. kenikmatan duniawi dan panjang umur adalah ganjaran dan kematian adalah hukuman karena dia merenggut manusia dari segala yang jaring eksistensinya. proses discerning untuk memutuskan suatu ganjaran/hukuman itu sendiri, yang dalam kehidupan sehari hari kita istilahkan sebagai ‘cobaan’, sungguh suatu situasi yang tidak mengenakkan, bikin manusia anxious. dus, cobaan dipahami sebagai hukuman kecil.

ganjaran dan hukuman ‘membikin manusia menjadi tamak/rakus atau penakut’: tamak akan ganjaran tuhan, dan takut jangan jangan telah melanggar kemahakuasaan tuhan. [a very simplistic statement. hope you get what i mean].

habitus yang [lebih] menyoroti kemahakuasaan tuhan yang kemudian suggests ganjaran dan hukuman, juga sangat endorse logika cause and effect. dan ini bukan logika tuhan tapi logika manusia yang kemudian diterapkan seolah olah ‘beginilah tuhan akan berlogika’. dan inilah tahap pertama manusia mereduksi ‘sing tan kena kinaya ngapa’ menjadi sekelas dengan manusia.

pendekatan [habitus] semacam inilah yang membawa kita pada anxiety yang kemudian muncul dalam sikap menggugat [questioning ‘why’] kemudian menyalahkan [blaming god and/or victims].

meletakkan dan mendekati tuhan sebagai yang maharahim, akan membikin kita tidak ‘sendirian’ dalam menghadapi tragedi tsunami. relasi kemanusiaan [yang lebih taken for granted than cultivated through deep reflection] antar kaum kerabat yang ‘terenggut’ oleh bencana ini bertransformasi menjadi relasi kemanusiaan yang compassionate. [tentu saja hal semacam ini tak akan tampak kalau ‘dilihat’ dengan kaca mata kemahakuasaan].  karena paradigma kemaharahiman ini, maka hubungan antara khalik dan insannya adalah hubungan compassion. kita yang masih hidup melihat dan merasakan jejak kemaharahiman tuhan lewat the acts of compassion. of course, all these acts of compassion are potentially at odds with the logika ganjaran dan hukuman, logika cause and effect dan tidak menunjukkan jejak ketamakan ataupun ketakutan.

karena relasi yang compasionate yang lahir dari kemaharahiman tuhan, logika cause and effect [yang terumuskan dalam pertanyaan ‘why’: why so many people, why them, why us, why me, dan segala macam pertanyaan gugatan ‘why’ yang lain] bukan merupakan tema utama. themanya adalah ‘what do you want from me?’ ‘what do you want me to do?’.

bencana tsunami telah terjadi. it’s happened, so it’s happened. let’s celebrate their lives and legacies. let them (their lives and legacies) rekindle our takwa, our life journeys, and shed lights on us so that we see more clearly kemaharahiman tuhan which dwells within and without us. they have been showing us [the trace of] kemaharahiman tuhan.

barangkali ada yang komentar: kau ini gila atau gimana? lalu menurut paradigma tuhan yang maharahim ini, bagaimana memberikan justifikasi terhadap penderitaan sekian banyak orang yang terkena bencana tsunami itu?

jawab: saya tidak punya justifikasi apa apa. it’s happened, so it’s happened. usaha mereka reka justifikasi terhadap bencana ini, hanya akan mereduksi derajad sang-penulis-skenario-dan-sutradara-agung-kehidupan ‘sing tan kena kinaya ngapa’.

komentar: jadi? para korban bencana tsunami itu hanya sekedar pemeran pembantu, latar belakang [kemaharahiman tuhan] yang pantas dan layak dilupakan?

jawab: their lives and legacies have shed lights on us so that we can see more clearly kerahiman tuhan.

wassalam,

#7. Dikirim oleh yu senik  pada  20/01   03:01 AM

Saya adalah pemeluk Agama Islam yang biasa saja, tidak memiliki kemampuan memahami tentang Ilmu teology Islam, apalagi Teology tentang Tuhan Pasca Tsunami.

Saya belum memahami bagaimana konsep teology dari narasumber maupun peserta diskusi ini tentang Tuhan Pasca Tsunami. Saya sebagai pemeluk Agama Islam sangat meyakini bahwa Al-qur’an adalah Kalam Allah sebagai pedoman bagi manusia yang mau mempergunakan akal pikirannya dengan benar dalam memahami konsep Kekuasaan dan sipat Tuhan.

Dalam Al-qur’an banyak diungkapkan bahwa Tuhan Maha Kuasa atas segala sesuatu ( Innallaha ‘ala Kullisyaiin Qadiir ) serta Maha Pengasih dan Penyayang ( Arrahmanirrahim ) serta Maha Pemberi petunjuk. Sesungguhnya pada penciptaan manusia, alam dan seluruh isinya terdapat tanda - tanda kemahakuasaan Tuhan. Tuhan telah menciptakan manusia dan memberinya akal dan pikiran serta petunjuk yang benar, tinggal manusia apakah dia mau mempergunakan akal dan pikirannya pada jalan yang benar ( dirihoi ) atau jalan yang salah ( dimurkai ). Ketika kita mendapatkan kesenangan dan kenikmatan, kita selalu mengatakan bahwa Tuhan telah mengasihi dan menyayangi saya. tetapi ketika kita mendapat bencana, malapetaka apakah kita tetap mengatakan bahwa Tuhan tetap mengasihi dan menyayangi kita ?

Ketika kita mendapatkan kesenangan, kenikmatan atau malapetaka sekalipun, Tuhan itu tetap Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Tidak ada satupun manusia yang mengetahui rencana Tuhan atas kita. Mungkin dari kenikmatan atau bencana yang kita dapatkan, kita akan lebih mendekatkan diri kepadaNya. Kemudian manusia diciptakan dilengkapi dengan akal dan pikiran serta diberi petunjuk. Manusia mempunyai kebebasan memilih jalan yang benar dan jalan yang salah ( free will ).

Ternyata banyak manuasia yang tidak mau mempergunakan akal dan pikirannya, mereka lebih suka melanggar/tidak mengikuti petunjukNya. Saya kira baik didalam Al-Qur’an maupun kitab2 agama lainnya banyak menganjurkan kita untuk memelihara dan mencintai alam dan lingkungan kita. Karena manusia dengan alam/lingkungan saling memberikan perlindungan dan manfaat. Ketika terjadi gempa baik vulkanik maupun tektonik dan menimbulkan gelombang seperti gelombang Tsunami di Aceh, mungkin secara akal dan pikiran, kita mengatakan itu hanya gejala alam. Dan seandainya hutan bakau dan pepohonan lainnya yang ada di pinggir pantai tidak dibabat oleh tangan - tangan manusia pastilah tidak terjadi kerusakan yang sangat parah serta korban yang sangat banyak. Dengan demikian benarlah firman Tuhan dalam Al-qur’an bahwa terjadinya kerusakan dan malapetaka di muka bumi disebabkan oleh tangan - tangan manusia. Manusia sudah diberi petunjuk, akal dan pikiran namun mereka tidak menerima petunjuk itu dan tidak mau mempergunakan akalnya pikirannya. Seandainya mereka mempergunakan akalnya pastilah mereka memahami manfaat hutan bakau. Karena kecerobohon manusia itu sendiri maka mereka menanggung sendiri akibat dari kecerobohannya. Tetapi ketika kita berbicara dari sudut akal dan iman bahwa Tuhan itu Maha Kuasa, bisa saja Tuhan menahan pergerakan lempengan krak bumi jika Dia mau.

Jadi Tuhan Pasca Tsunami adalah sama dengan Tuhan sebelum Tsunami, yaitu Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Kuasa dan Maha Pemberi Petunjuk. Bukan Tuhan bengis yang sering digugat oleh sebagian pemahaman Teology Barat.

Semoga kita semua bisa mengambil hikmah dari kejadian itu untuk lebih menjaga alam dan lingkungan kita.

Wassalam,

Sultani

#8. Dikirim oleh Sultani Palekeri  pada  20/01   12:01 PM

Saya sangat setuju dengan wacana yang berkembang dalam diskusi tersebut. Melihat Gempa dan Tsunami yang begitu Dahsyat di Aceh, Kita tidak boleh gegabah menyalahkan pihak lain, seperti masyarakat aceh, JI, JIL, FPI, Muhammadiyah, NU, atau TNI dan GAM, lebih-lebih menyalahkan Tuhan, bahkan juga Hantu sekalipun, yang menurut sebagian kepercayaan sedang murka.

Yang tebaik adalah diam, sambil merenung dan berpikir, ada apa gerangan dengan kejadian tersebut dan apa maknanya buat kita, yang masih hidup ini. Manusia yang terbaik adalah yang bisa mengambil hikmah dari segala peristiwa yang terjadi dimuka bumi ini, dan menyadari betapa kecilnya kita dihadapan Tuhan Yang Maha BESAR, Tuhan Yang Maha AGUNG.

#9. Dikirim oleh Andi Ahmad Assidiqi  pada  21/01   03:01 PM

Tuhan Pasca-Tsunami Moderator: Hamid Basyaib Narasumber: Goenawan Mohamad, Syamsurizal Panggabean Peserta: Ulil Absar-Abdalla, Novriantoni, Muhammad Qodari, Nong Darol Mahmada, Julia Suryakusuma, dan lain-lain.

Assalamuallaikum Alhamdullilah, saya dapat mengikuti diskusi freedom mengenai “Tuhan pasca-tsunami”, yang demikian menarik, ternyata di sini banyak para ahli, yang cara berpikir kontruktif dan ini banyak menolong dalam amalan yang hendak saya lakukan, tapi tentunya ada beda yaitu saya masih belajar (dungu), walaupun demikian saya mencoba berpartisipasi, tapi sebelumnya maaf kalau ada yang salah jangan dibanding dengan narasuber:

Goenawan Mohamad dengan bahasan begitu menarik, wawasannya demikian luas, memang seharusnya demikian, seorang mantan pimpinan redaksi tempo: Seorang filsuf Perancis bernama Jean-Luc Marrion juga mengatakan bahwa, begitu kita membikin konsep tentang Tuhan, kita sudah terjatuh pada pemberhalaan konsep.Dengan kata lain, mengapa tadi saya tidak berani mengatakan konsep saya, karena saya lebih baik diam.

Samsurizal Panggabean dengan bahasan yang tidak kalah menarik, bagaimana jalan keluar yang sederhana dari affect musibah: kalau kamu ditimpa musibah, sebutlah innalillahi wainna ilaihi rajiun! Jadi, rasa-rasa kehilangan, dan segala macam yang kita punya ini berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan jua. Ungkapan seperti ini sebenarnya sederhana saja dan mungkin akan menjadi statement affect kalau kita percayai.

Neng Dara Afifah yang mengajukan ilah-ilah yang memang saya rasakan dalam kehidupan ini, yah ekspresi yang menyadarkan saya, yaitu Selama ini, kita mungkin sudah sangat terjebak pada ilah-ilah yang lain, termasuk ilah rasionalme. Itu poin saya yang pertama.

Novriantoni mas Toni ini produktif bukan main dalam mengemukan sesuatu yang menurut saya sesuai dengan “manusia yang dikaruniai akal” yang harus digunakan secara baik sehingga hasilnya dapat digunakan oleh masyarakat lain dan ujung-ujungnya masyarakat akan berkelakuan baik, dam berkehendak mengubah dirinya, dengan demikian seharusnya Indonesia merupakan negara maju. Adapun komentarnya begitu sederhana dan mudah dipahami: daripada kita mengambinghitamkan korban (blaming the victim) atau mengumpat Tuhan (blaming God), lebih baik mengambil hadis nabi yang berbunyi qul khairan awishmut atau katakan yang baik atau diam sajalah.

Para narasumber ini tentunya saya kagumi, yang juga saya kagumi seperti Achmad Chodjim yang mengulas agama dengan pengertian sederhana dan mudah dicerna, yang salah satunya mengenai Al Qur’an kering (yang tersurat) yang kemungkinan sulit dipahami dengan menggunakan penjelasan sehari-hari ataupun penjelasan ilmiah, dilain pihak dengan Al Qur’an basah (yang tersirat), yang dari pengalaman saat saya belajar dari SR sampai di universitas, dan dilanjutkan dengan menjalani kehidupan dalam mencari “sesuatu”, saya sering terbentur akan jawaban sesuatu persoalan yang tidak bisa terjawab, seperti yang disampaikan oleh narasumber tadi: membawa manusia menuju usaha untuk menyelesaikan persoalan dan membebaskan diri mereka dari kegetiran bencana, dan pada akhirnya untuk jawaban agar kita merasa tidak panasaran /tidak menimbulkan stres maka jawaban itu adalah kita harus memalingkan pada Allah yaitu berupa “Hukum Allah Yang Tersirat”, sebagai contoh bagi mereka yang berjasa menemukan hukum gravitasi, aljabar dll, dan ada suatu yang sangat menarik mengenai contoh hukum tersebut adalah mengenai molekul yang terjadi milyaran tahun yang lalu, bahwa kalau H2O (air), CH4, NH3, H2 dipanaskan dengan air (dalam tabung tertutup kalau ini berbentuk percobaan) dan diberi energi melalui lecutan listrik/radiasi ultra ungu maka akan terbentuk senyawa HCN, formaldehida.-------- yang paling penting dari rentetan proses itu adalah akan terbentuk asam amino, nukleotid, gula, dan asam lemak yang merupakan molekul dasar dalam pembentukan kehidupan mahluk di dunia ini. Suatu rentetan gerakan yang misterius yang diperintahkan oleh Allah, kenapa (?) karena belum diketahui kenapa. Bukankah statement ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh salah satu surat (Al Qur’an), bahwa manusia dibentuk dari tanah dan kemudian Allah meniupkan sesuatu, maka jadilah manusia.  Ini suatu contoh, suatu contoh “hukum Allah yang tersirat”, kenapa jadi begitu, yaa karena kehendak Allah, yang apabila “hukum Allah yang tersirat” dituliskan dengan pena yang berasal dari seluruh batang pepohonan di muka bumi dan dengan menggunakan tinta yang berupa air laut 7 lautan itu maka hukum-hukum Allah tersebut tidak akan cukup tertulis (tintanya keburu abis). Dengan kata lain selalu terjadi pembaharuan dari sesuatu yang baru ditemukan, yang lebih baru yang sesuai dengan jamannya (karena kemajuan teknologi yang lebih canggih), sehingga penemuan itu selalu sesuai dengan jamannya (contoh, dulu transportasi memakai kuda, kemudian mobil, dan kalau dibandingkan dengan mobil saat sekarang ternyata jauh berbeda, kenapa ya itu tadi selalu ditemukan lagi “hukum Allah yang tersirat” yang didukung penemuaan terdahulu yang menimbulkan hukum yang lebih baru). Demikian pula “hukum Allah yang tersirat” yang berlangsung dalam kehidupan sel dalam suatu mahluk hidup, seperti molekul sitokin (cytokine) yang menimbulkan rentetan peristiwa yang begitu menajubkan dan sempurna, semuanya bergerak dalam keseimbangan, semua itu adalah ciptaan Allah yang sampai sekarang masih merupakan misteri dan terus diteliti. Jadi kita tidak cenderung menyalahkan Tuhan atau menjadikan-Nya kambing hitam persoalan yang sebenarnya timbul dari kegagalan manusia sendiri. Apakah dalam kesempatan ini (Tuhan pasca-tsunami) saya boleh mengajukan statement sehubungan dengan keterangan di atas, mungkin statement bodo: “Sepeninggal nabi Muhamad maka umat akan terpecah dalam 70 aliran, dan hanya satu yang benar”. Nahh, menurut saya yang satu itu adalah umat yang percaya pada “hukum Allah yang tersirat” karena ini merupakan hasil penampakan/ penelitian obyektif yang telah dibuktikan, dan dapat diulang oleh orang lain dan akan menghasilkan sesuatu yang sama ataupun yang lebih baru dan lebih berguna, yang tentunya rentetan penemuaan-penemuan itu pada ujung-ujungnya akan sesuai dengan jamannya, dan tentunya juga kita jangan lupa akan fondasi “hukum Allah yang tersurat”. Statement ini berasal dari hipotesis yang telah dibuktikan kebenarannya dengan mengacu pada premis-premis “hukum Allah yang tersirat” yang ditemukan dan terbukti pada suatu penelitian terdahulu seperti hukum gravitasi, aljabar, einstein, dan sebagai sehingga manusia yang sadar akan hukum itu akan dapat memanfaatkan seperti dapat pergi dan pulang dengan selamat dari angkasa luar, dapat menemukan senjata baru dsb, tergantung kemana “hukum Allah yang tersirat” itu dibawa, bisa bersifat membangun maupun memusnahkan, tergantung dari amalan “hukum Allah yang tersurat”. Dengan demikian aliran yang satu itu bukan yang di sini, bukan yang di situ, yang pada kenyataan aliran yang ada itu yang diklaim paling benar tersebut menyebabkan perpecahan umat, permusuhan dan tentunya saling bunuh.

Nahh, bicara mengenai tsunami maka ini merupakan juga “hukum Allah yang tersirat” yang tadi telah disampaikan. Mengapa, sebab dapat dipelajari dari pengalaman terdahulu, dan tentunya inipun diteruskan dan dipelajari oleh orang lain. Sebelum kejadian tsunami Aceh itu, pada tahun 2000 telah dibicarakan secara internasional mengenai tsunami dan mitigasinya di ITB yang diikuti oleh para ahli di bidangnya masing-masing, yaitu berupa: one-day seminar mengenai “Earthquake and Tsunami Disarter Mitigation Technologies and Their Intergration for the Asia-Pasific Region (EQTAP)” pada 7 Agustus 2000, yaitu bagaimana tindakan dan penanganan kita apabila tsunami itu terjadi di Indonesia. Jadi tsunami adalah kejadian alam sesuai dengan “hukum Allah yang tersirat” itu, yang sedang menuju keseimbangan baru akibat ulah manusia sendiri, seperti hutan bakau dibabat, pantai jadi real-estate dsb, tumbuk karang dibabat dsb, maupun kondisi kerak bumi yang selalu bergerak sehingga meminta banyak korban. Waktu itu lebih daripada cukup untuk melakukan persiapan asalkan manusia memahami pola-pola bekerjanya alam dan berusaha menjadikannya sebagai bagian dari manajemen bencana yang tersosialisasi di masyarakat. Sekali lagi maaf saya nimbrung dalam pembicaraan tingkat tinggi itu. teologi yang memberikan harapan (mungkin dengan “hukum Allah yang tersirat”), bukan rasa putus asa atau sikap menyerah kepada kekuasaan Tuhan.

Sebagai kesimpulan Semoga dengan menyadari adanya “hukum Allah yang tersirat” yang lebih penting ini kita dituntut selalu berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan diri, keluarga, kelompok, umat, suku, dan negara. Suatu masyarakat tidak akan mengalami perubahan/kemajuan apabila masyarakat itu sendiri tidak mau merubah diri.  Semoga sebagian besar masyarakat Indonesia mau dibawa kearah perubahan sehingga terlepas dari dari kondisi sekarang, dan mengalami kemajuan.

Wassalam

H. Bebey.

#10. Dikirim oleh H. Bebey  pada  21/01   05:01 PM

Gusti Allah itu causa prima, udah cape-cape nyiptain jagat raya ini; sekarang masih kita gosipin terus dengan segala kedangkalan kita. Kita ini seakan mau mindahin air tsunami yg maha dahsyat ke sebuah lubang kecil di pinggir pantai meulaboh sewaktu kita mereka-reka tentang Tuhan, seperti yang pernah dilakukan seorang agustinus.

Kalo Gusti Allah itu causa prima; setelah itu apa? ya terserah anda (kata sebuah iklan obat kelek). Semua punya penjelasannya kok, ini bukan kesalahan siapa-siapa. Bukan korbannya, bukan juga Gustinya, dan moga-moga bukan juga yang pada ngegosip.

Inilah alam dengan segala dinamikanya, kreasi Tuhan, nikmati aja dan jalani aja seluruh upaya yang kita yakini semakin mendekatkan kita pada sang Causa Prima. Alam dan kehidupan itu sakramen: tanda dan sarana bagi kita semua menuju pada Allah.

#11. Dikirim oleh sadewo  pada  21/01   11:01 PM

Saya tertarik dengan ulasan Rizal tentang otonomi alam, dan itu sudah lama menjadi kesimpulan para filsuf Muslim yang sering kontras dengan pendirian para mutakallim yang cenderung jabariah. Namun, masih perlu dilengkapi lagi dengan keterangan bahwa seotonomi apapun, sebagai wujud yang tidak mandiri, alam ini tetap memerlukan intervensi Tuhan di setiap saat, termasuk menyangkut otonomi itu sendiri.

Dalam setiap pecahan detik, otonomi -yang terjadi karena Tuhan menghendaki tatanan dan keteraturan itu- sangat bergantung kepada intervensi Tuhan, karena bagaimanapun juga alam tidak mungkin bergerak dan “berkehendak” tanpa ada yang menggerakkan dan “mengkehendakkan” atau membuatnya bisa berkehendak. 

Betapapun juga, dengan penjelasan Rizal, kita justru menjadi tidak patut berpura-pura bodoh dengan mengatakan bahwa setahu kita gempa tsunami hanya sekedar hasil pertumbukan antara dua lempengan bumi seperti yang dinyatakan Hamid Basyaib.

Aspek lain yang ingin saya garis bawahi dari penjelasan Rizal ialah bahwa dengan adanya keteraturan dan hukum yang “selalu” dikehendaki Tuhan itu, maka tidak ada predikat buruk dan blaming untuk Tuhan, begitu pula untuk korban. Sebab, semuanya berjalan sesuai keteraturan dan keseimbangan. Konteksnya sama persis seperti saat kita mempertanyakan mengapa ada ular, racun, dsb.

Akan tetapi, itu semua tidak lantas menutup kesempatan bagi kita untuk bicara, meyakini, atau sekedar berspekulasi tentang hikmah, ujian, dsb. Sebaliknya, sangat mungkin dan bisa jadi pasti bahwa manusia menghadapi ujian, imtihan, azab dsb dari Tuhan justru melalui hukum dan aturan-aturan alam tadi. Dari situ kemudian kita sah-sah saja untuk berspekulasi apa saja asal mengedepankan rasionalitas. Bagi saya pribadi, betapapun besar dan menyedihkannya petaka itu, hikmah yang bisa dipetik oleh umat manusia bisa lebih besar dari bencana itu sendiri, baik hikmah yang bersifat empirik dan profan maupun hikmah yang bersifat teologis dan transenden –untuk yang kedua ini agaknya sulit diterima oleh JIL yang paling gak betah dengan hal-hal yang bersifat sakral.

Soal para korban, kalau kita masih menaruh sedikit kepercayaan kepada agama, paling tidak bahwa kita memiliki dua kehidupan, dunia dan akhirat, maka ketahuilah bahwa penderitaan yang membuat kita ngeri ketika melihat para korban adalah penderitaan yang bersifat duniawi. Secara lahiriah dan duniawiah para korban memang celaka, tapi secara ukhrawiah, bisa jadi kita yang lebih celaka dari mereka, karena bencana alam ini ternyata ujian besar bagi kita yang jika kita tidak bisa lulus dari ujian itu, bencana yang hakiki dan jauh lebih dahsyat justru menimpa kita. Biarlah raga ini membangkai dan membusuk, tapi jika ruh kita yang membangkai dan membusuk, maka apa lagi yang bisa dibanggakan dari diri ini. Percayalah, ruh kita akan membangkai dan membusuk jika kita membiarkan para korban Aceh terlantar, hak mereka dikorupsi, martabat wanita mereka dilecehkan warga asing, anak-anak kecil mereka diperlakukan seperti barang, dsb. Tak ada dosa yang bisa dilekatkan kepada warga Aceh untuk menyebutnya bencana tsunami itu sebagai azab. Sebaliknya, banyak dosa yang akan atau bahkan sudah membangkai dan membusukkan jiwa dan ruh kita ketika kita membiarkan atau bahkan menjadi bagian dari agkara murka tersebut, dan saat itulah kita menganggap bencana itu sebagai imtihan atau bahkan azab bagi kita.

Sekali lagi, “otonomi” alam sama sekali tidak menutup kemungkinan bencana alam datang sebagai ujian bagi umat manusia. Karena itu, saya rasa tidak perlu kita memamerkan gelak tawa kita kita untuk Taufiq Ismail, Ebiet, Bimbo, atau para Mullah di Iran.

#12. Dikirim oleh musi nanda  pada  22/01   07:01 PM

Menjawab masalah Tsunami

Tsunami yang terjadi 26 December 2004 lalu yang menerpa banda Aceh dan sekitarnya, Srilangka, India, Thailand, Malaysia hingga sebagian kecil benua Afrika tentunya bukan hukuman Tuhan ataupun ujian Tuhan bagi umat manusia, karena dari sejarah dan kitab nabi2 kita ketahui bila Allah menghukum, selalu didahului dengan peringatan2 melalui nabi2nya. Jadi terjadinya bencana tanpa peringatan bukanlah sifat pengadilan Allah, ini adalah semata2 bencana alam, dimana manusia yang sudah kebiasaan saling mengadili berusaha mengadili dengan mencari segala dalih, dan yang lebih parah mengatas namakan Allah.

Masalah yang lebih utama ialah bahwa Paska Tsunami telah dimanfaatkan oleh berbagai pihak luar negri dengan menyodorkan bantuan tanpa bunga, mengirim tanaga ahli yang tentunya gajinya sangat tinggi, mengirim alat2 berat, padahal di Indonesia masih banyak sisa2 alat berat era pembangunan PELITA jaman Suharto yang tersebar di berbagai instansi pemerintah, berserakan di daerah2 ataupun ditangan kontraktor2. Tinggal bagai mana mengkoordinirnya, sedang upah tenaga asing berratus2 kali upah lokal. Disini kita dapat melihat bahwa banyak pihak yang berkedok menolong sambil mencari keuntungan (sambil menyelam minum air).

Para korban Tsunami tersebut sebetulnya mempunyai mata pencaharian terakhir di Banda Aceh, Meulaboh dll, yaitu business Recycling, antara lain menganggap puing2 kota tersebut adalah sumber tambang yang bisa dipakai sebagai modal pertama hidup mereka sebelum meningkat ke lebih lanjut. Mereka dapat mengumpulkan bata2 bekas, besi2 bekas, sisa2 genteng, bangkai mobil, atau paling sedikit pakai metal detektor mencari sisa2 emas yang tercecer dll. Dengan adanya broker2 atau tukang tadah ataupun bila pemerintah bijaksana maka mereka dapat membantu menyalurkan menjualkannya ke kota lain. Sedangkan bahan2 yang masih baik dapat mereka pergunakan kembali.  Dengan masuknya alat2 berat negara asing, kemungkinan segala sisa2 tersebut akan digusur kelaut.

Di kota2 besar seperti Jakarta, Medan dan Surabaya business recycle sudah begitu maju hingga tidak ada yang sisa2 dari pembuangan, recycle batu baterai bekas, kertas koran, batu bata, besi, sisa2 makanan dan sayuran untuk membuat kompos dll. Disini diperlukan adanya pengarahan dari Pemerintah Indonesia, karena penduduk lokal tidak mempunyai jaringan penjualan ataupun pengetahuan yang diperlukan.

Dengan datangnya kontraktor2 pembersih dan mesin2 berat Asing, kemungkinan segala sisa2 tersebut akan digusur kelaut hingga kesempatan kerja terakhir masyarakat akan musnah, mereka akan jadi gelandangan selamanya dan hidup semata2 hanya dari belas kasih negara lain, ibarat anjing yang mengikuti tuannya agar diberikan makanan..

Kalau kita telaah kembali pembangunan kota Banda Aceh, paska tsunami, apakah masih layak bahwa pembangunan tersebut akan dilaksanakan di lokasi sisa gempa, ataukah lebih baik dipindahkan sedikit ke tempat yang lebih aman?, Apakah pembangunannya secara bertahap atau sekaligus menyeluruh?..........berapa bagian dari banda Aceh yang hancur terserang tsunami, apakah seluruhnya, ataukah bagian pelabuhan dan daerah datar saja? Bagai mana efek psichology masyarakat bila mereka disuruh kembali bertempat tinggal di lokasi tersebut?. Masih banyak yang harus dianalisa secara mendalam sebelum pembangunan kembali dilakukan. Mungkin pihak pemerintah lebih baik menggunakan kontraktor2 dalam negri dari pada bantuan asing walaupun itu tanpa bunga, karena gajih buruh asing ber-ratus kali lipat gajih lokal dan ini juga menghilangkan kesempatan kerja tenaga lokal. Kalau negara asing ingin memberikan pinjaman tampa bunga, ini dapat dimanfaatkan, tetapi bila tidak, pemerintah masih bisa kredit terhadap kontraktor lokal.

#13. Dikirim oleh Binsar Napitupulu  pada  22/01   07:01 PM

Saya setuju dengan mas Goen: diam. kalau itu soal Tuhan. maksudnya, kalau memang harus ada yang dipersalahkan atau dimintai pertanggungjawaban atas bencana ini, kita baiknya diam saja. saya ingin mengatakan: tidak ada yang harus dipersalahkan. apakah Tuhan yang salah? bagaimanapun, siapa yang bisa tahu? lalu kalau begitu alamnya yang salah. tidak semisal itu, saya kira. benar kata mas djiwo: alam tidak pernah memberi bencana pada manusia. dia hanya selalu berusaha mencapa keseimbangan. saya tambahi: justru sebaliknya, manusialah yang selalu memberi bencana pada alam.  lalu siapa lagi yang ingin disalahkan? manusia? tunggu dulu. manusia yang mana? apa yang tersangkut kaku di dahan pohon yang roboh itu? atau yang sedang menghitung keuntungan dari perusahaan tambang emasnya? atau yang sedang istirahat di white house sana? atau yang sedang ulang tahun?  saya membaca diskusi ini baru saja di internet. dan saya melihat tidak ada satupun dari pembicara, peserta, dan moderator yang sampai pada titik puas dalam mencari justifikasi atas bencana yang terjadi di aceh dan sebagian asia sana. yang satu setengah begitu. dan satunya setengah begini. lebih baik kita memusatkan kekuatan kemanusiaan kita untuk lebih baik lagi menjaga alam, lebih baik lagi berhubungan dengan tuhan, lebih baik lagi memanage eksploitasi. jadi, kita akan--semoga--bisa sampai pada titik paling rendah kemungkinan terjadinya bencana. kalau memang barat lebih baik penanganannya terhadap suatu bencana, kita harus menirunya. dan mengembangkannya. bukan angan yang terlalu muluk, kan?

#14. Dikirim oleh nadhief shidqi  pada  23/01   09:01 AM

“Diam Lo!”,

Dan saya bosen benar mendengar kata itu...kata inti dan banyak di setujui dalam forum diskusi Ulang Tahun bung Ulil kali ini. Padahal kita semua menunggu kejelasan maksud dan teologi apa yang bisa menjadi pencerahan/jalan keluar dalam menyikapi peristiwa di Aceh.

Pertama, seolah kita disekat dengan pemikiran mas Goenawan Muhammad yang mengabsurd kan permasalahan sehingga tidak ada jalan keluar. Kata-katanya terkesan gamang dan susah untuk di tela’ah [apa ini karena kedangkalan pemikiran saya]. Malah hanya cenderung mengulang-ulang, dan pada akhirnya malah membuat kita menjadi tersesat dalam dikotomi pemikiran yang di persulit. Walaupun tetuntunya karena faktor kepintaran bahasa dan pengalaman berhasil menggunakan Oforisma yang lumayan baik.

Saya hanya setuju dengan apa yang di sampaikan Bung Samsurizal tentang sebutan “innalillahi wa inna ilahi raji’un”, dalam konsep teologi yang mendalam, walaupun lagi-lagi kita harus turun gunung (istilah dalam pemikiran dangkal) karena sekali lagi kita kembali kepada konsep awal mas Gunawan “Diam”.

Sebenarnya sudah jelas ketika kita mengutip sebuah Ayat “Wallahu kholaqokum wama ta’malun” Tuhanlah yang menjadikan dan menjalankan manusia dan begitu juga seluruh isi Alam ini. Begitu jelas ketika konsep teologi benar-benar masuk di dalamnya, bukan untuk membelokkan kita ke arah menyudutkan tuhan dan menyalahkan kemanusiaan itu sendiri. Namun mencoba menela’ah secara jauh bahwa tuhan dan kemanusiaan adalah sama-sama menginginkan penyeimbang untuk melakukan proses masa depan (walaupun dalam masa depan yang Embigu sekalipun). Sekali lagi ini bagian dari proses “Penyeimbang” untuk saling membuka jalan kamanusiaan dan cinta kasih dalam bumi kemanusiaan.

Terakhir, menjadi pertanyaan besar bagi saya secara pribadi “ Kalau diskusi tidak ada jalan keluar, lalu buat apa?,hehehe.

Salam hangat untuk bung Ulil...dan Selamat Tambah Umur.....

y@-y4 Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya UGM

#15. Dikirim oleh Cavaliers  pada  24/01   02:01 AM

HUKUM ORANG YANG MENGKLAIM BAHWA SEBAB KETERBELAKANGAN KAUM MUSLIMIN KARENA KOMITMEN MEREKA TERHADAP AGAMA

Oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin

Pertanyaan: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Sebagian orang yang lemah imannya mengklaim bahwa sebab keterbelakangan kaum muslimin adalah karena komitmen mereka terhadap agama. Syubhat yang mereka lemparkan menurut klaim tersebut bahwa tatkala orang-orang Barat tidak meninggalkan seluruh agama dan terbebas dari kungkungannya, sampailah mereka kepada kondisi sekarang ini, yaitu kemajuan peradaban sementara kita karena komitmen terhadap agama masih saja mengekor terhadap mereka, bukannya sebagai orang yang dipanuti. Bagaimana mementahkan tuduhan-tuduhan semacam ini? Barangkali mereka menambahkan lagi satu syubhat lainnya, yaitu ada hujan yang lebat turun di sana, hasil-hasil pertanian dan bumi yang subur menghijau. Mereka mengatakan, ini merupakan bukti kebenaran ajaran mereka.

Jawaban Kita katakan, bahwa sesungguhnya pertanyaan semacam ini hanyalah bersumber dari penanya yang lemah imannya atau tidak memiliki iman sama sekali; jahil terhadap realitas sejarah dan tidak mengetahui faktor-faktor kemenangan. Justru, ketika umat Islam komitmen terhadap agama pada periode permulaan Islam, mereka memiliki ‘Izzah (kemuliaan diri), Tamkin (mendapatkan posisi yang mantap), kekuatan dan kekuasaan di seluruh lini kehidupan.

Bahkan sebagian orang berkata, “Sesungguhnya orang-orang Barat belum mampu menimba ilmu apapun kecuali dari ilmu-ilmu yang mereka timba dari kaum muslimin pada periode permulaan Islam.”

Akan tetapi umat Islam malah banyak terbelakang dari ajaran diennya sendiri dan mengada-adakan sesuatu di dalam Dienullah yang sebenarnya tidak berasal darinya baik dari sisi aqidah, ucapan dan perbuatan. Karena hal itulah, mereka benar-benar mengalami kemunduran dan keterbelakangan.

Kita mengetahui dengan seyakin-yakinnya dan bersaksi kepada Allah Subhanhu wa Ta’ala bahwa andaikata kita kembali kepada manhaj yang dulu pernah diterapkan oleh para pendahulu kita dalam dien ini, niscaya kita akan mendapatkan ‘Izzah, kehormatan dan kemenangan atas seluruh umat manusia. Oleh karena itulah, tatkala Abu Sufyan menceritakan kepada Heraklius, kaisar Romawi yang ketika itu Kekaisaran Romawi dianggap sebagai negara adidaya- perihal ajaran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, dia mengomentari,

“Jika apa yang kamu katakan mengenai dirinya ini benar, maka berarti dia adalah seorang Nabi dan sungguh, kekuasaannya akan mencapai tempat di bawah kedua kakiku ini. “

Dan tatkala Abu Sufyan dan para rekannya berpaling dari sisi Heraklius, dia berkata,

“Urusan si Ibn Kabsyah [1] ini sudah menjadi besar, sesungguhnya Raja Bani al-Ashfar (sebutan Quraisy terhadap orang Romawi) gentar terhadapnya.” [2]

Sedangkan mengenai kemajuan di bidang industri, teknologi dan sebagainya yang dicapai di negara-negara Barat yang kafir dan atheis itu, tidaklah agama kita melarang andaikata kita meliriknya akan tetapi sangat disayangkan kita sudah menyia-nyiakan ini dan itu; menyia-nyiakan agama kita dan juga menyia-nyiakan kehidupan dunia kita. Sebab bila tidak, sesungguhnya Dien Islam tidak menentang adanya kemajuan seperti itu bahkan dalam banyak ayat Allah berfirman,

“Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu.” [Al-Anfal : 60]

“Artinya : Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizkiNya.” [Al-Mulk :15].

“Artinya : Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” [Al-Baqarah:29)]

“Artinya : Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan. “ [Ar-Ra’d : 4]

Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang mengajak secara terang-terangan kepada manusia agar berusaha dan bekerja serta mengambil manfaat akan tetapi bukan dengan mempertaruhkan agama. Kaum kafir tersebut pada dasarnya adalah kafir, agama yang di-klaim juga adalah agama yang batil. Jadi kekufuran dan atheistik padanya sama saja, tidak ada perbedaannya. Dalam hal ini, Allah Swt berfirman,

“Artinya : Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya. “ [Ali Imran: 85]

Jika Ahli Kitab yang terdiri dari orang-orang Yahudi dan Nashrani memiliki sebagian keunggulan yang tidak sama dengan orang-orang selain mereka akan tetapi mereka sama saja bila dikaitkan dengan masalah akhirat kelak, oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersumpah bahwa tidaklah umat Yahudi atau Nashrani tersebut yang mendengar (dakwah) beliau kemudian tidak mengikuti ajaran yang beliau bawa melainkan ia termasuk penghuni neraka. Jadi, sejak awal mereka itu adalah kafir, baik bernisbah kepada Yahudi ataupun Nashrani bahkan sekalipun tidak bernisbah kepada keduanya.

Sementara adanya banyak curahan hujan dan selainnya yang mereka dapatkan, hal ini hanya sebagai cobaan dan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah memang menyegerakan bagi mereka anugerah kenikmatan-kenikmatan di dalam kehidupan duniawi sebagaimana yang disabdakan Nabi Saw kepada Umar bin Al-Khaththab tatkala dia melihat beliau lebih mengutamakan tidur beralaskan tikar sehingga membuat Umar menangis. Dia berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, orang Persi dan Romawi hidup bergelimang kenikmatan sementara engkau dalam kondisi seperti ini?” Beliau menjawab,

“Artinya : Masih ragukah engkau wahai Ibn al-Khaththab? Mereka itu kaum yang memang disegerakan untuk mendapatkan kenikmatan-kenikmatan di dalam kehidupan duniawi.” [3]

Kemudian mereka juga ditimpa musibah kelaparan, malapetaka-malapetaka, gempa dan angin-angin topan yang meluluhlantakkan sebagaimana yang diketahui bersama dan selalu disiarkan di radio-radio, koran-koran dan sebagainya.

Akan tetapi orang yang mempertanyakan seperti ini buta. Allah telah membutakan penglihatannya sehingga tidak mengetahui realitas dan hakikat yang sebenarnya. Nasehat say a kepadanya agar dia bertaubat kepada Allah Swt dari pandangan-pandangan seperti itu sebelum ajal dengan tiba-tiba menjemputnya. Hen-daknya dia kembali kepada Rabb-nya dan mengetahui bahwa kita tidak akan mendapatkan ‘Izzah, kehormatan, kemenangan dan kepemimpinan kecuali bila kita telah kembali kepada Dien al-Islam; kembali dengan sebenar-benarnya yang diimplementasikan melalui ucapan dan perbuatan. Dia juga hendaknya mengetahui bahwa apa yang dilakukan orang-orang Kafir itu adalah batil, bukan Haq dan tempat mereka adalah neraka sebagaimana yang diberitakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan melalui lisan RasulNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pertolongan berupa nikmat banyak yang dianugerahkan Allah kepada mereka tersebut hanyalah cobaan, ujian dan penyegeraan kenikmatan, hingga bilamana mereka telah binasa dan meninggalkan kenikmatan-kenikmatan ini menuju Neraka Jahim, barulah penyesalan, derita dan kesedihan akan semakin berlipat bagi mereka. Ini semua merupakah Hikmah Allah dengan memberikan kenikmatan kepada mereka padahal mereka sebagaimana telah saya katakan tadi, tidak akan selamat dari bencana-bencana, gempa, kelaparan, angin topan, banjir dan sebagainya yang menimpa mereka.

Saya memohon kepada Allah agar orang yang mempertanyakan ini mendapatkan hidayah dan taufiq, mengembalikannya ke jalan yang haq dan memberikan pemahaman kepada kita semua terhadap dien ini, sesungguhnya Dia Mahakaya lagi Mahamulia. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, washallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad Wa ‘Ala Alihi Wa Ala Ashhabihi Ajma ‘in.

[Alfazh Wa Mafahim Fi Mizan asy-Syari’ah, h.4-9, dari fatwa Syaikh Ibn Utsaimin]

#16. Dikirim oleh saehu  pada  25/01   12:01 AM

Dalam kekristenan ada yang disebut dengan konsep “predestinasi”. Artinya tidak jauh-jauh dari apa yang anda semua sudah diskusikan di ulang tahunnya Mas Ulil, yaitu “sebuah keyakinan bahwa Tuhan berkehendak dan bertindak dalam konteks riil hidup manusia”. Konsep ini menguat menjadi sebuah paradigma berteologi dalam kekristenan yang cenderung membaca realitas sebagai arena pertarungan antara kekuasaan Tuhan yang menyelamatkan manusia versus kekuasaan iblis/demon yang menghancurkan manusia.

Dalam konteks “bencana” saya melihat teologi kristen juga gagal keluar dari keterbelengguannya pada paradigma predestinasi. Tuhan dilihat sebagai the “Supreme Being” yang menyejarah namun juga pada sisi lain enggan untuk diterima dan dibongkar-pasang dalam pergulatan sejarah manusia. Mungkin ambivalensi (atau eskapisme) teologi kristen (dan agama-agama) ini yang mesti didekonstruksi dan dilihat dalam habitus-nya.

#17. Dikirim oleh Steve Gaspersz  pada  28/01   12:01 AM

salam

saya agak malas membaca seluruh tulisan diskusi itu, namun dapat saya lihat secara sepintas, peserta diskusi itu berbicara atas nama diri sendiri dan mencoba mereka-reka dan menghubung-hubungkan argumennya dengan tuhan. padahal tak seorangpun bisa tanya Tuhan atas apa yg ia lakukan itu (kalau memang tuhan lakukan itu, karena aku tidak bisa tanya tuhan).

ada satu hal yg mengganggu pikiran saya, begini kenapa tidak pernah kita mencoba melontarkan suatu kecurigaan atas perilaku manusia secara umum, atas apa yg menimpa saudara kita di aceh. manusia begitu ‘rakus’ menyedot isi bumi, baik berupa minyak, gas, tambang atau apalah namanya, hingga mungkin beberapa ruas yg ada dilapisan bumi menjadi kosong dan membuat ‘kulit luar’ bumi runtuh ke dalam dan menyebabkan tsunami itu. kenapa kita tidak mencoba curiga seperti itu,sehingga tidak perlu membawa-bawa tuhan dalam bencana itu. kitalah yg perlu memperbaiki diri, tak usahlah membawa-bawa tuhan, lagian kita tidak pernah bisa tanya tuhan atas apa kehendaknya, kalau memang ia ada.

salam

#18. Dikirim oleh insan karim  pada  29/01   05:01 AM

kita sebut apa dulu tuhan gue jadi bingung ini?kita sepakat saja dengan kata tuhan (titik).tuhan sebelum tsumami dan sesudah tsunami semacam tuhan yang bagaimana ???gampangnya begini tuhan itu seperti mungkin yang kita imajinasikan sesuai dengan kehendak kita pasti akan menciptakan bencana dimana mana atau mungkin sudah mengobok obok isi dunia ini atawa lagi bermain main dengan kekuasaannya itulah tuhan yang kita tahu.atau mungkin lagi bagi bagi rejeki ditempat lain itulah tuhan atawa lagi menimbang nimbang proposal doa doa dari pemujanya.atawa lagi kejar kejaran sama setan untuk di kerangkeng di neraka lantaran bandel nggak sopan sama penemunya.kita berbicara dan menginterpretasikan tuhan layaknya tuhan itu seprti referensi yang ada di perpustakaan memory otak manusia.setelah bencana orang hanya bisa menangis tapi tidak bertanya kenapa bumi begitu tega mengguncang dan menumpahkan airnya lantas memakan korban manusia ,apakah bumi mepersembahkan korban manusia kepada tuhan?logikanya kan begitu.tapi tuhan adalah tuhan kita dan tuhan siapa siapa yang mengakuinya sebagai tuhan.tapi begitu sensitifnya manusia sampe sampe tuhan diseminarkan untuk mencari jawabannya siapakah tuhannya tsunami apakah beda tuhannya manusia dengan tuhannya tsunami.tapi karena tsunami tidak pernah mengadakan seminar maka tsunami boleh dianngap nggak bertuhan cuma manusia saja yang berhak punya tuhan.sementara alam semesta ini boleh dianggap kapir karena nggak tahu tuhan.maka boleh lah kita anggap tsunami hanyalah gejala alam biasa karena tsunami nggak punya tuhan maka wajar wajar saja tsunami berefek brutal terhadap manusia yang punya tuhan.logikanya kan begitu?

#19. Dikirim oleh broken^pencil  pada  29/01   09:01 AM

Assalamualaikum Wrbb… Komentar Saya Pendek, tetapi berdiskusi soal Tuhan dan hal ihwal di sekitarnya adalah pekerjaan sejak Adam lahir menjadi penghuni bumi sampai nanti ketika semuanya berakhir.

Buat saya Tuhan yang maha Pengasih dan Maha Buas adalah sebuah realitas, dan Dia adalah sama, untuk-Nya berdiri dititik ekstrem nalar manusia bukan soal, entah di titik terkasih maupun terbuas, atau di antara keduanya.

Terima kasih,

Jalan terus JIL menjadi bagian yang mencerahkan bagi manusia

#20. Dikirim oleh Bambang E. Tjahjo  pada  31/01   07:02 PM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 >

comments powered by Disqus


Arsip Jaringan Islam Liberal ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq