Kolom Amien Rais

Arsip per tahun: 2000 | 2001 | 2002

BERITA | FREE E-MAIL | KOMUNITAS | CHAT | i-GUIDE
| Cover | Laporan Utama | Laporan Khusus | Tajuk | Kolom Amien Rais | Adilan Adilun |
Rabu, 24/01/2001
 

Jangan Kehilangan Harapan

Adil - Pertengahan Desember yang lalu, saya berkesempatan pergi ke daerah Nyiur Melambai, Sulawesi Utara. Saya datang ke Minahasa, Tondano, Menado, dan beberapa kecamatan, untuk menengok akibat musibah banjir di sana. Beberapa pekan sebelumnya, saya menjelajahi Pulau Sumatera selama 16 hari, berkunjung ke 8 provinsi dan 49 kabupaten/kotamadya.

Hikmah dari muhibah ke Pulau Sumatera, sudah pernah saya kemukakan dalam tiga judul tulisan di kolom ini. Tetapi masih ada catatan tersisa, ditambah kesan-kesan dari kunjungan ke Sulawesi Utara, terutama yang berkaitan dengan masalah yang sering dibicarakan belakangan ini yaitu mengenai gejala disintegrasi. Masalah ancaman disintegrasi memang paling mendesak untuk diselesaikan, di antara tumpukan masalah lainnya.

Setelah Timor Timur lepas, tampak sekali ada gerakan yang cukup riil, baik di Tanah Rencong Aceh atau bumi Cenderawasih Irian Jaya, yaitu semacam separatisme yang ingin melepaskan diri dari pangkuan Negara Kesatuan RI. Secara laten mungkin keinginan yang sama mungkin ada di Riau, Kaltim, juga mungkin provinsi yang lain, meski gejalanya tidak terlalu mencuat ke permukaan.

Namun saya melihat sesungguhnya gejala separatisme itu hanya simptom belaka. Sejatinya masalah tidak lain adalah soal penegakan keadilan sosial, politik, ekonomi, mungkin juga pendidikan dari Sabang sampai Merauke. Mengapa saya katakan gejala sepatarisme lebih merupakan simptom atau gejala penyakit, daripada penyakitnya itu sendiri? Kalau saya cermati selama 16 hari di Sumatera, juga kunjungan ke beberapa daerah di Sulawesi Utara, sesungguhnya anak-anak bangsa tetap saja masih percaya pada republik.

Sebagai contoh, di Sumatera. Saya melihat kemantapan dan komitmen masyarakat di sana kepada republik Indonesia masih sangat kuat. Bahkan itu masih under current, yang riil ada di tengah-tengah bangsa Indonesia. Saya merasakan selaku orang dari suku Jawa, ketika bertemu dengan tokoh-tokoh daerah di Jambi, Bengkulu, Medan, dsb. mereka betul-betul mencerminkan bagian dari bangsa besar ini.

Di Aceh, sampai kunjungan saya terakhir yang kesembilan, saya masih menangkap dari hati kecil tokoh-tokoh Aceh bahwa mereka masih ingin tetap merupakan bagian dari republik. Demikian juga ketika saya bertemu dengan tokoh-tokoh di Minahasa, baik yang Muslim maupun Kristen. Mereka dalam suasana informal dari hati ke hati, menyatakan masih mendukung republik.

Memang kalau bicara formal, apalagi di hadapan banyak wartawan, mereka harus pretending to be a hero --bahwa mereka adalah pahlawan anak-anak daerah yang mempertahankan perjuangan bagi kepentingan daerah. Tetapi sesungguhnya di lubuk hati terdalam, mereka masih berpengharapan kalau republik ini bisa meratakan keamanan, kesejahteraan sosial dan ekonomi buat seluruh anak bangsa, mereka tetap ingin bersama-sama dalam pangkuan Republik Indonesia.

Hasil pantauan saya setelah pergi road show ke mana-mana, masih menyembulkan harapan dan optimisme cukup kuat untuk mempertahankan republik yang kita cintai. Tentu saja optimisme itu mempersyaratkan adanya manajemen pemerintahan yang benar, transparan, adil, memperhatikan seluruh potret bangsa secara komprehensif --jangan hanya mengutamakan Jawa saja. Jika hal itu dapat dilaksanakan, insya Allah, tidak perlu banyak kekhawatiran untuk mempertahankan republik ini.

Lantas berkaitan dengan itu, umumnya yang agak menimbulkan kekhawatiran adalah implementasi UU Nomor 22 tentang Otonomi Daerah dan UU Nomor 25 mengenai Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Di sini pun, para ahli tata negara kita masih berbeda-beda pendapat. Ada yang mengatakan sesungguhnya kita belum siap. Yang lain bilang sudah siap. Yang lainnya lagi mengatakan, kapan lagi kalau tidak sekarang. Toh, kalau ditunda-tunda akan lebih repot lagi.

Dari pantauan saya ke berbagai daerah, bertemu para wakil gubernur, bupati, walikota, serta tokoh-tokoh masyarakat, mereka umumnya mempertanyakan, ''Pak Amien, apakah implementasi dua UU nanti sungguh-sungguh atau cuma kosmetik?'' Mereka khawatir mentalitas pemerintah pusat yang sentralistik masih kuat. Jangan-jangan nanti banyak bolong-bolong yang bisa dipakai untuk tetap mempertahankan pola lama. Ya, saya mengatakan memang ada beberapa yang perlu dicermati.

Pertama, pemerintah harus tulus untuk melepaskan cengkeramannya seperti pada zaman sebelumnya, ke provinsi dan kabupaten. Ini sesuatu yang tidak mudah, karena menyangkut mentalitas dan habit yang sudah mendarah daging. Kedua, ada bahaya di daerah kalau otonomi tidak hati-hati dilaksakan, lantas gubernur, bupati/walikota merasa inilah saatnya mereka mengelola secara penuh daerahnya, maka akan ada transfer KKN dari pusat ke daerah. Kalau ini sampai terjadi, alangkah amburadulnya potret republik ini.

Ketiga, implementasi kedua UU itu merupakan hal baru yang memang butuh kesabaran, ketekunan untuk mengatasi berbagai macam kesulitan. Butuh adaptasi dan adjusment. Keempat, harus dihindari jangan sampai dengan otonomi daerah ini lantas ada provinsionalisme atau apalagi etnosentrisme. Jangan sampai Aceh hanya untuk orang Aceh, Jambi untuk orang Jambi, dst. Kalau begitu yang paling repot tentulah orang Jawa. Kelima, kita memerlukan sebuah kepemimpinan nasional yang punya visi, mampu memberikan motivasi dan inspirasi buat rakyat, untuk bergerak ke depan dan tidak boleh kehilangan momentum.

Sekarang ini kritik saya secara umum bahwa kepemimpinan nasional tidak jelas visinya. Semua dikerjakan secara ad hoc. Kalau orang tidak punya visi, bagaimana mungkin bisa membuat visualisasi program nyata. Tanpa visualisasi, bagaimana bisa memotivasi, memberikan direction, pengarahan, dan inspirasi. Tentu juga agak sulit.

Soal momentum, saya kira para ilmuwan mengetahui bahwa momentum itu sesuatu yang tidak mudah untuk diciptakan. Kalau momentum datang secara objektif, maka kita harus tangkap momentum itu, kemudian tinggal menggenjot ke depan. Momentum reformasi sesungguhnya sekarang tinggal sayup-sayup sampai, kalau pun belum hilang sama sekali. Inilah potret negara kita. Tetapi sebagai orang beriman, kita tidak perlu terlalu khawatir. Apalagi lantas kehilangan harapan.

comments powered by Disqus

Masalah Utama Tahun 2001 | Otda, Sebuah Taruhan | Kita Memang Lemah | Jangan Kehilangan Harapan | Belajar dari Kejatuhan Estrada | Tragedi Abdurrahman Wahid | Jangan Memperumit Proses Politik | Gambaran yang Makin Suram | Tragedi Sampit dan Keputusasaan Masyarakat | Rahasia Sukses Pemimpin | Menanti Lahirnya Memorandum II | Aceh Bukti Kegagalan Gus Dur | Memorandum dan Kompromi Politik | Bahaya Politisasi Agama | Perlukah Pertemuan Empat Tokoh? | Menegakkan Moral Demokrasi | Yang Kita Kelola adalah Negara | Ujian Berat Megawati | Mempertahankan Kredibilitas | Dana Hibah yang Menghebohkan | Hikmah di Balik Pemboman New York dan Washington | Kita Semua Prihatin | Terpulang kepada Kita Sendiri | Benarkah Kita Mengumpulkan Kepentingan Bangsa?

Arsip Kolom Amien Rais ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq