Kolom Amien Rais

Arsip per tahun: 2000 | 2001 | 2002

BERITA | MEMBERS |FREE E-MAIL | KOMUNITAS | CHAT | i-GUIDE
| Cover | Laporan Utama | Laporan Khusus | Tajuk | Kolom Amien Rais | Adilan Adilun |
Kamis, 19/04/2001
 

Perlukah Pertemuan Empat Tokoh?

Adil - Beberapa hari yang lalu Abdurrahman Wahid membuat pernyataan yang cukup menarik, yaitu ingin bertemu bersama tiga tokoh lain yakni Megawati Soekarnoputri, Akbar Tandjung, dan Amien Rais. Karena usulan datang dari Abdurrahman Wahid, maka segera usul itu menjadi berita besar bahkan sampai sekarang pun masih mendapatkan sambutan, baik yang pro maupun yang kontra.

Mereka yang pro mengatakan, dalam keadaan negara yang sudah cukup panik sekarang ini ada baiknya keempat tokoh itu bertemu. Karena, siapa tahu dari hasil pertemuan bersama, akan muncul sebuah solusi bagi permasalahan bangsa. Kalangan yang pro juga menekankan bahwa adanya dialog bersama tentu lebih baik daripada tidak ada sama sekali.

Dikatakan juga dari kalangan yang pro, bahwa empat tokoh itu akan menjadi simbol yang sangat penting, sehingga kalau mereka duduk bersama-sama maka rakyat di bawah akan lega melihat kerukunan yang ada di atas sebagaimana yang mereka lihat di media massa. Masih ada lagi yang dikatakan kalangan yang pro, yaitu Abdurrahman Wahid sebagai presiden tentu akan mengemukakan hal-hal yang substansial yang perlu diberikan reaksi sepadan oleh ketiga tokoh yang lain.

Namun apabila kita cermati, ternyata lebih banyak lagi yang mengatakan pertemuan itu tidak akan membawa manfaat. Inilah kesimpulan yang datang dari kalangan yang kontra terhadap rencana pertemuan empat tokoh tersebut. Alasannya, yang pertama, sudah terlalu sering diadakan pertemuan-pertemuan formal semacam itu di berbagai tempat namun hasilnya nihil. Lantas juga dikatakan, tanpa ada agenda yang jelas dan saling kepercayaan yang mendalam, maka apapun yang akan dibicarakan tentu hanyalah ngalor-ngidul dan tidak akan membawa maslahat bersama.

Dari kalangan yang kontra, ada pula yang mempertanyakan masih bisakah Gus Dur dipercaya, karena catatan selama ini dia terlalu sering mengumbar kebohongan publik. Malahan yang paling berbahaya apabila sampai ada pertemuan berdua dengan Abdurrahman Wahid, maka dialah orang yang paling pandai memanfaatkan waktu dan isu dengan membuat cerita-cerita imajiner. Sebagai contoh, Akbar Tandjung pernah dikatakan menangis di pangkuannya, sementara ketika dicek kepada Akbar hal tersebut tidak benar sama sekali.

Buat saya sendiri, bertemu selalu saja merupakan hal yang baik. Dari sisi agama Islam, pertemuan yang esensinya adalah silaturahmi sangat direkomendasikan, karena lewat pertemuan itu tentu akan ada pembicaraan-pembicaraan yang dapat bermanfaat bagi banyak orang. Hanya saja syarat pertemuan itu memang tidak mudah, yaitu saling percaya (mutual trust) di antara para anggota pertemuan. Tanpa adanya kepercayaan, maka sesungguhnya tidak salah kalau dikatakan pertemuan sekadar menjadi sandiwara politik atau semacam basa-basi belaka, tanpa menyentuh masalah yang sedang menjerat kehidupan rakyat Indonesia.

Tetapi lebih daripada itu, sesungguhnya kalau kita sampai terperangkap pada permikiran bahwa seolah-olah keempat tokoh adalah orang-orang yang paling menentukan di negeri ini, barangkali keterperangkapan seperti ini justru menimbulkan bahaya yang lebih besar lagi. Oleh karena, di samping empat orang tokoh ini, kita tidak boleh melupakan ada tokoh-tokoh lain. Hamzah Haz misalnya, yang mempunyai partai lebih besar dari PKB maupun PAN sendiri.

Hamzah Haz seorang teknokrat yang cukup mumpuni dan punya visi kenegarawanan, tapi mengapa dia tidak diikutsertakan. Demikian juga Yusril Ihza Mahendra dan Hidayat Nurwahid, yang masing-masing memimpin PBB dan Partai Keadilan dan mempunyai wakil-wakil yang cukup signifikan di lembaga perwakilan rakyat, mengapa tidak dicoba dihadirkan. Di samping itu, sesungguhnya masih ada tokoh-tokoh lain yang sangat menentukan seperti Prof. Dr. Ahmad Syafii Ma'arif yang sekarang menjadi komandan 28 juta umat Islam yang bernaung di bawah panji-panji Muhammadiyah.

Dalam kadar yang hampir sama, bisa saja kita katakan bahwa tokoh-tokoh ulama NU semacam Abdullah Faqih, yang dianggap sebagai ulama penentu kaum nahdliyin, secara formal bisa disebut juga Hasyim Muzadi yang menjadi ketua PB NU, bisa dilibatkan dalam pertemuan para tokoh nasional. Tetapi lebih dari itu, bukankah tokoh-tokoh kalangan gereja baik Kristen maupun Katolik, perlu juga diajak kerja sama karena walaupun mereka minoritas toh juga mewakili kelompok-kelompok bangsa yang cukup signifikan.

Oleh karena itu, saya berpendirian sebaiknya memang bukan hanya empat tokoh saja yang kemudian diadili oleh mahkamah sejarah, kalau sampai tidak berhasil mengentaskan masalah bangsa yang demikian pelik sekarang ini. Namun, tentu saya juga harus bersikap realistis jika mengumpulkan tokoh-tokoh yang lebih banyak lagi sulit, maka tidak apalah dibatasi keempat orang itu dahulu. Kata-kata dahulu ini perlu digarisbawahi dalam arti, bahwa setelah pertemuan keempat tokoh dikembangkan dengan pertemuan-pertemuan yang diikuti oleh tokoh-tokoh nasional lain. Bahkan orang semacam Goenawan Muhamad sebagai budayawan yang jernih berpikirnya mengapa tidak diikutsertakan, atau juga tokoh-tokoh LSM yang terkemuka barangkali juga perlu dilibatkan pada pembicaraan berikutnya.

Itulah sebuah kenyataan yang perlu kita sadari, bahwa kita sering mengatakan jangan kita ini mencoba bergerak dalam wacana ketokohan di dalam memecahkan masalah-masalah nasional. Tetapi pada saat yang sama kita justru akan membesarkan wacana ketokohan sebagai pusat dari perpolitikan nasional. Terus terang sekarang ini saya bersikap aktif menunggu, dalam arti begitu ada jadwal dan agenda yang jelas, masuk akal, dan tidak hanya akan dijadikan sandiwara politik belaka, maka saya akan segera meloncat ikut memberikan kontribusi maksimal buat pemecahan masalah bangsa yang sudah sangat berat sekarang ini.

Akan tetapi satu hal perlu saya tekankan, bahwa tidak boleh proses politik demokratis di Gedung Senayan sampai terjegal oleh kemungkinan pertemuan empat tokoh yang sedang diisukan ramai dewasa ini. Maksud saya, proses Memorandum I menunju Memorandum II jangan sampai tertelingkung karena ada kebijakan atau keputusan yang mungkin dianggap bisa mengurangi kewibawaan lembaga DPR yang resmi merupakan hasil pemilu kita bersama.

Jadi secara fair harus saya katakan, saya sendiri akan senang hati ikut bergabung dalam pertemuan empat tokoh setelah agendanya jelas dan disepakati bersama, sambil mewanti-wanti sekali lagi bahwa proses demokrasi yang transparan di DPR yang berupa rangkaian memorandum menuju Sidang Istimewa juga jangan pernah kita usik sama sekali. Kalau demikian sikap kita, maka kedua-duanya akan mencapai hasil yang maksimal. Keempat tokoh itu akan menunjukkan rasa persaudaraan, rasa persatuan dan kebangsaan yang setinggi-tingginya, dalam keadaan yang sesulit apapun tetap duduk bersama-sama secara tulus ikhlas mencari pemecahan.

Tetapi pada sisi yang lain, kita juga menghormati proses politik yang sudah kita sepakati bersama, sehingga dua-duanya akan dilihat oleh rakyat Indonesia sebagai upaya terbaik buat bangsa yang sedang sakit sekarang ini. Wallahu a'lam.

comments powered by Disqus

Masalah Utama Tahun 2001 | Otda, Sebuah Taruhan | Kita Memang Lemah | Jangan Kehilangan Harapan | Belajar dari Kejatuhan Estrada | Tragedi Abdurrahman Wahid | Jangan Memperumit Proses Politik | Gambaran yang Makin Suram | Tragedi Sampit dan Keputusasaan Masyarakat | Rahasia Sukses Pemimpin | Menanti Lahirnya Memorandum II | Aceh Bukti Kegagalan Gus Dur | Memorandum dan Kompromi Politik | Bahaya Politisasi Agama | Perlukah Pertemuan Empat Tokoh? | Menegakkan Moral Demokrasi | Yang Kita Kelola adalah Negara | Ujian Berat Megawati | Mempertahankan Kredibilitas | Dana Hibah yang Menghebohkan | Hikmah di Balik Pemboman New York dan Washington | Kita Semua Prihatin | Terpulang kepada Kita Sendiri | Benarkah Kita Mengumpulkan Kepentingan Bangsa?

Arsip Kolom Amien Rais ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq