Kolom Amien Rais

Arsip per tahun: 2000 | 2001 | 2002

detikcom
Info detikMobile ProXL IM3 Telkomsel Satelindo LippoTel detikPlus.com
| Cover | Laporan Utama | Laporan Khusus | Foolitik | Kolom Amien Rais | Adilan Adilun |
Kamis, 14/11/2002
 

Bahaya Syahwat Kekuasaan


detikcom - Jakarta,
Barangkali ada baiknya dalam bulan Ramadhan ini kita bersama melakukan perenungan tentang salahsatu hikmah terbesar ibadah puasa. Pada umumnya disepakati oleh para ulama bahwa tujuan ibadah puasa antara lain untuk menaklukkan dan sekaligus mengatur serta mengarahkan nafsu atau syahwat yang bersemayam di dalam diri setiap manusia.

Nafsu itu berupa dorongan naluriah untuk mengejar kebendaan, lawan jenis, dan berbagai dorongan manusia yang kadangkala cenderung sangat nista. Tetapi di dalam konsep agama Islam nafsu memang tidak perlu dimusnahkan sama sekali, sehingga kita menjadi bak seorang pertapa yang menghindari keramaian dunia dan mengejar kesunyian total. Akan tetapi sebaliknya, sebagaimana contoh Nabi Muhammad, manusia adalah makhluk Allah yang selalu berhadapan dengan masalah-masalah yang harus diatasi.

Bahwa nafsu cenderung mengajak manusia ke lembah kenistaan juga diterangkan di dalam Quran secara jelas. Namun bagi seorang yang beriman nafsu itu dapat dididik menjadi nafsu muthma'innah, nafsu yang telah tenang, damai, dan serba terukur dalam menghadapi tuntutan-tuntutan keduniaan.

Sementara itu kalau kita renungkan mengapa kadangkala orang mengejar kekuasaan secara membabi buta, maka akan kelihatan bahwa di balik kekuasaan itu tujuan-tujuan lain yang merupakan anak pinak daripada kekuasaan yang tidak terkendali. Sebagai contoh, orang mengejar kekuasaan untuk memperoleh berbagai fasilitas dan kekayaan keduniaan. Kemudian dengan kekayaan keduniaan itu dia bisa membeli apa saja yang diinginkan di muka bumi ini.

Maka betul kata Quran bahwa kesenangan berupa anak keturunan, lawan jenis, emas, perak, kuda tunggangan serta sawah ladang hakikatnya adalah kesenangan-kesenangan dunia, tetapi diingatkan bahwa sebaik-baiknya kembali adalah di sisi Allah SWT.

Dalam kaitan ini ada gejala yang menarik, bahwa justru di era reformasi ini syahwat kekuasaan tampaknya melanda bangsa kita secara tidak masuk akal. Pertama, istilah money politics sudah menjadi terbiasa, dimana uang dijadikan sarana lewat penyogokan dan berbagai macam cara untuk meraih kekuasaan yang diinginkan.

Dengan menggunakan politik uang sebagai ekspresi dari syahwat kekuasaan tak terkendalikan, maka dapat dipastikan pejabat yang mengejar kekuasaan lewat politik uang itu tidak memiliki kecakapan memadai. Namun karena menggunakan uang sebagai pembeli suara, maka dia bisa memenangkan pertarungan politik untuk sebuah jabatan.

Kedua, begitu dia memperoleh jabatan yang diinginkan maka tahun pertama yang dipikir adalah bagaimana memperoleh uang tidak halal untuk menutup biaya kampanye yang sudah dia keluarkan. Ketiga, yang lebih gawat lagi, adalah situasi politik kita menjadi tidak terkendali dan semua bisa dieksploitasi, bisa dimanfaatkan secara sangat vulgar dan bahkan primitif untuk mengejar kekuasan, karena para pengejar kekuasaan itu sudah dikuasai syahwat kekuasaan yang tidak ketulungan.

Inilah saya kira satu gambaran negatif di era reformasi dimana hampir setiap pemilihan walikota, bupati, gubernur, dan juga pergantian direksi BUMN serta setiap kali ada jabatan yang punya implikasi keuangan dan berbagai kemudahan keduniaan menjadi porak poranda karena dorongannya betul-betul syahwat yang tidak terkendali, dan bisa menggunakan uang, teror, ancaman, character assasination, black mail, dsb.

Inilah barangkali satu fenomena menyedihkan yang perlu kita renungkan dalam bulan Ramadhan ini. Syahwat kekuasaan juga sudah menembus ke jantung kehidupan hukum di negeri kita. Hukum tidak bisa ditegakkan karena para penegak hukum sudah diselimuti keadrengan untuk bertahan supaya tidak bergeser dari kekuasaannya, karena posisi yang dimiliki itu dapat menghadirkan sejumlah kenikmatan keduniaan yang hampir tiada batas.

Lagi-lagi syahwat kekuasaan jika sudah menembus dunia apapun, dunia yang ditembus oleh syahwat kekuasaan itu akhirnya rontok dan kehilangan kode etik, kode moral, serta perspektif manusiawinya. Maka sangat arif dan tepat apabila kita menggunakan ibadah puasa Ramadhan untuk menangkap ruh atau semangat yang berada di baliknya. Jelas sekali ruh puasa adalah ruh yang mengingatkan manusia untuk selalu bersahaja, selalu mengetahui keterbatasan sebagai mahluk ilahi, dan mengingatkan bahwa dunia ini secemerlang dan menyilaukan seperti apapun hakikatnya adalah sementara dan bersifat semu.

Orang yang sudah faham hakikat puasa akan menghayati betapa semu dan betapa temporernya kehidupan dunia yang fana ini. Maka buat para pemimpin, penggiat masyarakat, politisi, pengusaha, birokrat, pendidik, rohaniawan, ulama dll sesungguhnya mereka tetap berada dalam satu level apabila sudah berhadapan dengan nafsu, termasuk syahwat kekuasaan.

Dengan mengerjakan puasa Ramadhan secara sungguh-sungguh, dengan menghidupkan malam-malam Ramadhan lewat dzikir dan shalat malam, kemudian juga menajamkan kepekaan sosial kita maka insya Allah syahwat kekuasaan itu bisa kita kendalikan. Bahkan kita bisa taklukkan untuk kemudian kita arahkan dan kita atur sesuai dengan perintah agama.

Cuma masalahnya, setiap keinginan dan cita-cita yang luhur memerlukan pengorbanan, kesungguhan, dan betul-betul merupakan perjuangan tidak mudah. Jadi kita lantas ingat sindiran Nabi, bahwa betapa banyak orang berpuasa namun hasilnya hanyalah lapar dan dahaga. Barangkali puasa semacam itu tidak akan bisa menaklukkan syahwat kekuasaan.

Tetapi apabila kita mampu berpuasa lebih tinggi dari sekadar menahan lapar, haus dan nafsu badani, serta kita bisa mengoptimalkan amal shaleh dan komtemplasi kita di malam-malam hening pada bulan ramadhan, maka insya Allah cepat atau lambat kita akan diberi kemampuan oleh Allah untuk memiliki keandalan dan kepiawaian dalam menghadapi berbagai macam nafsu. Termasuk syahwat kekuasaan yang sekarang makin menggejala dimana-mana di Indonesia. Wallahua'lam.


Print artikel | Kirim ke teman

comments powered by Disqus

Menyelesaikan Kasus Pak Harto | Inkonsistensi Pemerintahan Mega | Beranikah Mega Meloloskan PKPS? | Ada yang Hilang dalam Pemerintahan Sekarang | Di Mana Letak Kesalahan Kita? | Sekitar Proses Pembusukan Ekonomi | Tentang PKPS dan Buloggate II | Konsistensi dan Inkonsistensi | Kebusukan Terorisme | Masih Adakah Alasan Lain? | Amandemen UUD 1945 'Insya Allah' Sukses | Mengapa Harus Berangkat dari Kecurigaan? | Pelajaran dari Piala Dunia 2002 | 'It's Now or Never' | Hal-hal yang Mungkin Mengganggu ST-MPR 2002 | Menyambut Kehidupan Politik Baru | Tragedi TKI Kita | Aceh Menuntut Kesegeraan | Nasib Politik Akbar Tandjung | Belajar dari PT QSAR | Hadapi Terorisme dengan Cerdas | Bahaya Syahwat Kekuasaan

Arsip Kolom Amien Rais ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq