Home > Kliping Media > Citra

“Satria Bergitar” Akhirnya Pindah Layar

Tabloid Citra

SENIN sore pekan kedua bulan September, raja dangdut Indonesia, R H Oma Irama ( Rhoma Irama) terlihat letih memasuki studio Soneta untuk pengambilan gambar vedio klip terbaru. Maklum saja, suami Rica Rahim ini baru saja memimpin demo antipembajakan kaset, CD serta VCD di Mabes Polri bersama rekan seniman, seperti Deddy Dores, Ikang Fawzi, Rama Aiphama dan artis pendukung lainnya.

Para kru video klip yang sudah siap untuk mengambil gambar, memberi ucapan selamat. Suasana terlihat seperti penyambutan pahlawan yang baru saja pulang dari medan perang. Sebelum syuting, Pak Haji (begitu Rhoma biasa dipanggil) menyediakan waktu untuk bincang-bincang dengan wartawan Citra, M. Nizar mengenai mafia pembajakan, rencananya main sinetron dan soal Gita, wanita dari Solo yang konon dinikahi Rhoma beberapa waktu lalu.

Apa yang hendak Anda suarakan kepada Kapolri?

Saat ini kan ada pembajak besar yang tertangkap. Nah, kami ke sana (Mabes Polri) meminta supaya pembajak ini jangan di lepas lagi seperti pembajak-pembajak yang lalu. Karena selama ini belum ada pembajak kaset (CD, VCD) yang diproses secara hukum sampai tuntas.

Kenapa bisa begitu?

Karena adanya KKN yang dilakukan oleh oknum aparat dengan para penjahat. Ini sudah sangat meresahkan masyarakat. Saya bukan cuma berpikir dari sisi komersial, tetapi juga dari sisi moral dan spiritual. Soal pembajakan, Indonesia adalah negara paling besar. Sebagai anak bangsa kami malu. Coba lihat, begitu maraknya penjualan VCD, kaset bajakan. Seakan-akan aparat ini tak berperan. Kalau toh ada pembajak yang ditangkap lalu disiarkan di televisi, kelihatannya seperti formailtas saja. Kami menilai ada permainan. Makanya kami lantas turun ke jalan.

Dan sudah bukan rahasia lagi, mereka itu (pembajak) dipelihara seperti sapi perahan. Sementara pedagang kaki lima yang tak mengerti apa-apa, kecuali memikirkan mencari sesuap nasi, yang dikejar-kejar. Kenapa tak produsernya saja yang ditangkap.

Sudah berapa kali turun ke jalan?

Kalau aksi kampanye pemberatasan pembajakan, sering saya lakukan. Tetapi kalau sampai turun ke jalan baru kali ini. Soal pembajakan sekarang ini sudah komulatif. Istilahnya sudah seleher.

Konon pembajak itu jaringannya orang-orang kaset itu sendiri?

Justru sekarang mengarah pada produser. Pembajak itu adalah produser itu sendiri. Makanya, ASIRI (Asosiasi Industeri Rekaman Indonesia) di sini sangat boleh jadi sarangnya pembajak.

Indikasinya apa?

Adanya kaset-kaset aspal. Kalau anda lihat kaset-kaset tersebut, nyaris sama dengan yang aslinya, pakai stiker ppn segala. Namun, kalau dicermati, ternyata palsu. Dan kaset tersebut beredar di toko resmi, bukan di kaki lima.

Malah dari kalangan para produser sering terdengar ungkapan bahwa daripada dibajak, lebih baik membajak sendiri. Hal ini sudah sering diucapkan oleh para produser itu sendiri. Jadi, kami memang menghadapi suatu mafia pembajakan yang luar biasa.

Ada dampaknya setelah para teman turun ke jalan?

Ya, paling tidak kami telah berbuat apa yang kami perlu perbuat. Pertama sebagai anak bangsa ingin memberikan konstribusi dalam rangka penegakkan hukum. Yang kedua, khusus sebagai seniman, kami harus bergandengan tangan satu sama lain. Kami menunjukan solidaritas antar seniman. Bahwa kami tidak mementingkan diri sendiri, kami tak egois.

Kalau saya mementingkan diri sendiri, saya sudah cukup untuk bisa hidup. Tetapi, bagaimana sama nasib para seniman-seniman yang baru merintis karirnya dalam dunia menciptakan lagu. Yang biasanya bisa menjual satu lagu dalam seminggu atau sebulan setalah marak pembajakan dalam beberapa bulan, karyanya belum tentu dibeli orang.

Dengar-dengar Anda ingin main sinetron?

Saya akan main di sebuah karya klasik yang dikemas dalam sinetron. Inti ceritanya untuk mengajak umat untuk belajar keimanan Islam dan iksan melalui visual dan dikemas dengan hal-hal yang bersifat filmis. Sinopsisnya kira-kira ada seorang pembawa islam, bernama Ibnu Sabil yang membawa islam kepada satu komunitas jahiliyah. Berbagai macam rintangan dan tantangan dihadapi Ibnu Sabil saat mengislamkan komunitas demi komunitas. Ini seperti kisah Wali Songo di Jawa. Tetapi cerita film ini terjadi di negeri antah-berantah, dengan tokoh fiktif pula.

Anda terilhami dari cerita apa saat menggarap sinetron ini?

Dari film Satria Bergitar (tahun 1984). Kira-kira dari sana lah kami ambil ceritanya. Ini pertama kali saya main sinetron ini. Ide cerita dan penulis, dan pemeran utamanya saya. Tapi produser bukan saya.

Jadi produksi siapa?

Itu (produksi) Diwangkara Film. Pengambilan gambarnya, sekitar Jabotabek aja. Ada pun setting terbanyak di studio alam Depok. Sampai sejauh ini saya belum tahu bintang-bintang yang terlibatnya itu siapa saja.

Kenapa Anda mau terjun ke layar kaca?

Karena itu satu-satunya media visualisasi yang bisa digunakan sebagai alternatif dari layar lebar. Boleh dibilang layar lebar sudah tak ada. Ya, penggantinya sinetron itu sendiri. Dulu main sinetron itu hasilnya tak sebanding dengan tenaga yang kita keluarkan. Makanya mendingan rekaman atau bikin pementasan.

Kok sekarang mau?

Sekarang ini agak memadai, ketimbang ya dulu-dulu. Jadi pendapatan agak sebanding dengan waktu yang kita luangkan.

Kalau memadai berapa sih Anda dibayar?

Oh, saya tak pernah mau mengungkap soal nominal. Buat saya itu tabu sekali. Tetapi, sekarang lebih rasional lah ketimbang yang dulu.

Setelah sinetron, Ada rencana kembali ke layar lebar?

Kalau film layar lebar, saya kira ini sudah almarhum. Kalau kemarin ada film Ada Apa Dengan Cinta kemudian Jelangkung itu tak bisa disebut indikator bangkitnya film nasional. Karena sukses hanya di beberapa kota besar dan beberapa gedung saja. Belum bisa dikatakan perfilman Indonesia bangkit.

Perfilman nasional secara teknolgi, secara kualitas dan kuantitas kalah bersaing dengan teve. Saat ini ada 11 televisi lokal, belum lagi kalau pakai parabola atau teve kabel. Kalau ditotal bisa 60 televisi yang bisa ditangkap dari seluruh dunia. Mereka itu menyajikan film-film lokal dan impor yang bagus-bagus. Sehingga film nasional kalah bersaing.

Terakhir, bagaimana kabar Gita, gadis asal Solo yang konon telah Anda nikahi itu?

Itu soal privasi. Saya enggak mau menanggapi.


Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.

comments powered by Disqus

Website ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn.