Home > Kliping Media > Kartini

Berjumpa Debby Rhoma Irama: "Apapun Alasan Papa untuk Kawin Lagi, Saya Tetap Tak Setuju...!"

Majalah Kartini, No. 441 Tahun 1991

Anda masih ingat Debby Rhoma Irama? Jangan dulu bilang ya. Sebab si penyanyi cilik yang terkenal dengan lagu "Papa Genit" itu kini sudah banyak berubah. Sekarang ia sudah menjadi nyonya, ibu dari seorang putri. Dan dalam busana muslimnya, anak sulung superstar dangdut Rhoma Irama itu nampak dewasa, kharismatik dan tawakal. Pada Kartini, menantu Alm. Kyai Hasan dari Pesantren Zainul Hasan, Probolinggo ini bercerita tentang perubahan jalan hidupnya, perjodohannya, dan juga tentang berita Rhoma Irama menikah lagi. "Kalaupun Papa Rhoma menikah lagi, saya yakin pasti niatnya untuk kebaikan. Tetapi, sebagai anak, apapun alasannya, saya tetap tak setuju!"

Debby Rhoma Irama tak pernah lagi mampir ke diskotek, memakai Rok mini atau menyanyi sambil melenggokkan tubuhnya di panggung. Kalau pun kini ia naik ke atas mimbar dan memperdengarkan suaranya yang merdu, pasti untuk mengagungkan kebesaran Ilahi. Dalam usianya yang sekarang, 19 tahun, Debby tampak dewasa, berwibawa dan mantap dengan pilihan hidupnya. "Memang banyak orang yang tak mengerti perihal pilihan hidup saya. Jangankan teman-teman di Jakarta, saya sendiri pun kadang-kadang masih tak percaya kalau saya bisa ke sini."

Mulanya, niat Debby Veramasari mondok di pesantren hanya untuk mencari pengalaman dan belajar hidup mandiri dalam lingkungan yang berbeda. Belum ada setahun di pesantren, Debby dapat jodoh dan menikah dengan Haji muhammad Hasan Zainul Yaqin (21 tahun) putera ke enam Alm. Kyai Haji Mohammad Hasan Saifouridzall, pemilik Pesantren Zainul Hasan, Probolinggo. "Eh, nggak tahunya saya jadi betah di sini. Allah sudah mentakdirkan saya harus mengabdikan diri dalam lingkungan ini untuk selamanya," tutur Debby, dengan penuh kebahagiaan.

Mulanya Tidak Betah

April 1989, sebulan sebelum Debby ujian akhir di SLP Muhammadiyah 36 Jakarta, Rhoma Irama mendapat undangan untuk memberi ceramah di Imtihan (pesta para santri) di Pesantren Zainul Hasan, Probolinggo. Ketika sedang berceramah di hadapan para santri putri, sekelebatan Bang Haji seperti melihat Debby mengenakan jilbab duduk di antara santri putri. "Begitu Papa pulang, ia menceritakan pengalamannya. Saat itu Papa mengatakan barangkali ada baiknya kalau saya menggali ilmu di lingkungan pesantren," cerita Debby tentang awal kehidupannya di Pesantren.

Kebetulan, jauh sebelum ayahnya menawarkan kemungkinan itu, Debby pernah mengobrol dengan Yanti - putri kakak ipar Rhoma - tentang kehidupan di pondok pesantren. "Kami lantas merasa bahwa kami berdua memang perlu mencari pengalaman, belajar mandiri dan jauh dari orangtua serta saudara, di tempat yang berbeda dari kehidupan biasa," ujar mantan penyanyi cilik yang sempat menyelesaikan 3 album ini.

Itulah sebabnya ketika ayahnya berbicara tentang kemungkinan belajar di pesantren, Debby langsung setuju. "Papa lantas berjanji akan menghubungi Kyai Hasan di Probolinggo. Saya heran kenapa harus jauh-jauh ke Probolinggo? Kalau mau mondok di Jawa Barat juga ada. Papa menerangkan bahwa di Pesantren Zainul Hasan atau yang dikenal dengan sebutan Zaha, selain menimba ilmu kami juga bisa mendapat barokah. Ketika saya tanya lagi apa artinya barokah, Papa bilang, 'nanti kamu akan mengerti dengan sendirinya.' Yang jelas, saya yakin bahwa Papa pasti memilih yang terbaik untuk saya."

Seminggu sebelum berangkat, Debby sakit. "Papa kelihatan kasihan melihat saya. Kata Papa, kalau saya keberatan masuk pesantren, jangan memaksa diri. Tetapi saya bersikeras. Saya ingin mencoba hidup di lingkungan orang yang saleh."

Akhir Mei 1989 Debby dan Yanti diantar orangtuanya ke Pesantren Zainul Hasan dan langsung sekolah di Madrasah Aliyah Zainul Hasan. "Dari Jakarta, kami masih memakai celana pendek. Di kopor kami, juga masih ada rok mini selain rok maksi dan blus lengan panjang. Kami beranggapan bahwa di luar pesantren tentu masih bisa memakai rok mini atau celana pendek. Tapi begitu tiba di sini, 'impian' itu buyar. Di sini, semua putri memakai rok maksi,blus lengan panjang, dan berjilbab. Pakaian mereka juga cantik dan serasi. Akibatnya saya jadi minder. Habis, waktu itu kalau saya mencoba memakai maksi, rasanya seperti pakai celana kodok yang kedodoran," tutur Debby geli.

Selain berat dalam hal berpakaian dan bersikap, jadwal kegiatan di pesantren juga membuat Debby kalang-kabut. "Pukul 03.00 dinihari, kami harus sudah mandi. Sholat Tahajud, Wirid, Sholat Subuh dan disusul dengan pengajian di mesjid, kemudian sarapan. Pukul 07.00 sampai pukul 12.00 kami sekolah di Aliyah. Usai makan siang, ada pengajian di aula, sholat Dzuhur dan sholat Ashar berjamaah. Setelah mandi sore, kami berkumpul untuk sholat Magrib, makan malam, lalu belajar bersama per kelas. Setelah itu dilanjutkan dengan sholat Isya' dan mengaji bersama sampai pukul 22.00. Selain itu, masih ada kegiatan lain. Misalnya, setiap malam Selasa ada Sholat Tasbih, jari Jumat ada sholat Jumat dan sholat Dhuha."

Karena belum terbiasa, baru seminggu mondok di sana, Debby sudah mau bikin surat mengundurkan diri. "Sebelum niat saya terwujud, Nyai Hasan - yang akhirnya jadi ibu mertua saya - memanggil. Dengan sabar dan penuh pengertian beliau menanyakan kesulitan yang saya hadapi. Saya bilang, tak betah memakai jilbab karena panas dan saya tak suka memakai maksi dan lebih suka memakai kulot. Untuk sementara saya diberi kelonggaran. Saya boleh memakai jilbab tanpa dipeniti dan di luar pesantren saya boleh memakai kulot."

Lama-kelamaan, karena memperoleh banyak kelonggaran, Debby jadi sadar dengan sendirinya dan terbiasa dengan semua peraturan di pesantren itu. "Berbarengan dengan itu, Kyai Hasan mulai sering mengajak saya menghadiri ceramah agama dan pengajian. Baik di Jawa Timur maupun di daerah lain seperti di Bali, di Lombok, dan Madura. Mula-mula saya merasa tak mampu dan merasa jadi beban moral. Kyai bilang saya tak boleh putus asa. Kyai juga bilang bahwa saya punya bakat dan punya nama. Kalau soal materi bisa dipelajari asalkan ada kemauan. Karena itu saya dilatih di Media Dakwah," tutur Debby.

"Anehnya, selain Kyai, banyak orang mengatakan bahwa saya memang punya bakat di bidang dakwah. Saya menerima banyak undangan untuk memberi ceramah agama dan panggilan dari kelompok pengajian di Jawa Timur. Tapi, sampai saat ini, saya merasa belum mampu memberi ceramah. Saya masih terbilang awam, belum jadi kyai. Kalau untuk memberi sambutan satu dua patah kata saya bersedia. Dan mereka umumnya sudah senang kalau saya mau datang, meski hanya sebagai tamu," ungkap Debby pula.

Kepincut lewat Mimpi

Jodoh itu datangnya dari Tuhan, kata orang bijak. Begitu juga yang terjadi dengan Debby. Baru beberapa bulan tinggal di pesantren ini, ia sudah mendapat "pertanda" akan berjodoh dengan Haji Muhammad Hasan Zainul Yaqin yang biasa dipanggil Gus Nunung (Gus dan Ning merupakan panggilan kehormatan di sebagian daerah Jawa Timur, termasuk Probolinggo, yang artinya, tuan, nona/nyonya). "Awalnya, saya benci betul sama Gus Nunung," kata Debby yang kini punya panggilan Ning Debby. "Waktu itu, baru 4 hari saya mondok di sini, keluarga besar pesantren ini tengah bersiap-siap berangkat ke Surabaya menghadiri selamatan untuk beberapa anggota pesantren - termasuk Gus Nunung - yang akan menunaikan ibadah haji," cerita Debby. Karena terburu-buru, sehabis mandi sore, Debby lupa kalau harus mengenakan busana muslim. Sesampai di Surabaya, ia baru ingat kalau dirinya kalau dirinya mengenakan celana Jeans selutut dan T Shirt. Melihat penampilan Debby yang begitu, Gus Nunung dan beberapa temannya memanggil Debby si 'Betis', karena betisnya kelihatan. "Ketika tiba saatnya berfoto bersama, saya dipanggil untuk ikut berfoto. Saat itu Gus Nunung mengolok-olok saya. Dia bilang dia takut kameranya rusak dan filmnya nggak jadi karena si 'betis' mau ikutan. Kalau nggak ingat berada di lingkungan pesantren, mau rasanya saat itu saya melabrak dia," kenang wanita yang kini punya 3 idola, Papa Rhoma, Kyai Hasan dan Gus Nunung.

Dua minggu setelah keberangkatan Gus Nunung ke Tanah Suci, Debby - lewat Kiki, adik bungsu Gus Nunung - dapat salam. "Saya makin sebal padanya. Karena pakai kirim salam segala, orang-orang di sini jadi ribut mengolok-olok saya. Saking sebalnya sama dia, saya tak mau keluar kamar waktu acara penyambutan dan selamatan kepulangannya dari Tanah Suci. Saya juga tak ikut mengantar waktu Gus Nunung harus berangkat untuk mengajar dan belajar di Pesantren Nirbaya, Kediri," ungkap Debby.

Singkatnya, Debby hampir lupa sama Gus Nunung. Tetapi, beberapa minggu setelah kepergian pemuda itu ke Nirbaya, "Saya mimpi ketemu dia di muka rumah. Dalam mimpi itu saya sedang duduk di tangga teras pesantren ini. Gus Nunung lewat, seperti mau pergi kuliah. Dia membawa buku-buku dan sebuah tas besar. Aneh, dalam mimpi itu Gus Nunung lain. Sikapnya dewasa, alim dan wajahnya kelihatan tampan sekali. Bersamaan dengan itu saya seakan mendengar bisikan halus di telinga, "itulah Gus Nunung yang asli. Tampan dan baik budinya."

Setelah mimpi itu, sikap Debby terhadap Gus Nunung mulai berubah. Ketika Gus Nunung berlibur ke Probolinggo, mereka sempat mengobrol di ruang tamu. "Tiga hari kemudian, dia memanggil saya ke ruang tamu lagi. Dia bertanya apakah saya sudah punya pacar. Saya jawab, belum. Saat itu juga di mengatakan bahwa dia jatuh cinta pada saya dan berniat memperistri saya."

Bulan Ramadhan datang menjelang. Para santri dipersilakan berlibur selama 40 hari. Gus Nunung juga pulang ke Probolinggo dan Debby berkemas untuk balik ke Jakarta. "Saat itu, saya merasa berat untuk meninggalkan keluarga besar Zaha. Begitu pula sebaliknya. Saya melihat dia gelisah. Ketika mobil Papa sudah menjemput, saya menawarkan untuk berkunjung ke Jakarta. Dan beberapa hari menjelang Lebaran, dia datang ke rumah kami. Melihat keakraban kami berdua, Papa mulai menyelidik. Singkatnya, Papa menanyakan isi hati kami yang sesungguhnya. Setelah jelas, Papa minta agar Gus Nunung mengajak orangtuanya datang melamar saya."

Tanggal 21 Mei 1990 Debby dan Gus Nunung menikah siri di Jakarta. Pernikahan itu sendiri dilakukan secara kilat. "Rencananya hari itu kami cuma akan dipertunangkan. Tetapi teman Papa, yang juga kenalan baik Kyai Hasan menyarankan agar kami di-siri saja. Usul Habib Al Djufri itu akhirnya diterima dengan baik. Hari itu juga saya mendengar ijab kabul antara Papa dan Gus Nunung."

Usai menikah siri, mereka kembali ke Jawa Timur. Gus Nunung kembali ke Pesantren Nirbaya dan Debby melanjutkan pelajarannya di Madrasah Aliyah Zainul Hasan.

Juli 1990, beberapa hari setelah selamatan 100 hari wafatnya Nyai Hasan - ibu kandung Gus Nunung - Debby sakit. "Ternyata saya hamil. Tanggal 24 September 1990, berbarengan dengan seorang adik perempuan Gus Nunung, diadakan resepsi pernikahan kami," lanjut Debby yang kini jadi ibu dari Lutfiah Hasinah Iramani, nama yang mempunyai arti gadis yang baik dan suci. "Sekarang umurnya 5 bulan dan sedang lucu-lucunya."

Sebagai anggota keluarga besar Pesantren Zainul Hasan, terlebih lagi menantu sang Kyai besar, kehidupan Debby sangat berbeda dengan di Jakarta dulu. "Sekarang, yang namanya rok mini dan diskotik tinggal kenangan," katanya." Di sini, saya tak bisa sembarangan berbuat. Mau keluar rumah saja musti ditemani oleh santri wanita. Tapi, terus terang, saya bahagia dengan kehidupan ini. Saya merasa tenteram, jauh dari perbuatan tercela, juga jauh dari gosip dan menggosipkan. Pokoknya, sekarang kegemaran saya, ya membantu-bantu pekerjaan keluarga di sini dan momong anak."

Sejak ayah mertuanya, Kyai Hasan meninggal - Juli lalu - pesantren yang sudah berumur 153 tahun ini dipimpin oleh putera Kyai Hasan yang bernama Kyai Haji Muhammad Muttayiakil Alallah dan 21 saudaranya dari 3 ibu. "Semuanya mempunyai kewajiban untuk memajukan pesantren ini," ujar Debby. Saat ini, pesantren besar yang terletak di Desa Kraksaan, Probolinggo mempunyai santri pria dan wanita sekitar 1500 orang. Pesantren ini dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas termasuk sekolah dasar, 3 SLP, 8 SLA, 2 Madrasah Aliyah, 8 Ibtidaiyah, 3 Madrasah Tsanawiyah dan Universitas Zainul Hasan atau yang dikenal dengan nama Unza.

Menurut Debby, setiap hari ada saja orang yang datang. Baik untuk bertanya soal agama, sekadar bersilaturahmi atau untuk berkenalan dengan Debby. "Dari jauh-jauh mereka mau membawa buah-buahan atau sayur-sayuran untuk kami di sini. Saya pernah bertanya untuk apa mereka repot-repot membawa oleh-oleh segala. Mereka jawab untuk mendapat barokah. Saya jadi ingat perkataan Papa tentang barokah. Saya jadi menghubungkan ke diri saya sendiri," kata ibu muda yang sebentar lagi akan menyelesaikan pelajaran di Madrasah Aliyah Zainul Hasan ini. "Kalau Allah mengizinkan, setelah lulus ujian nanti saya mau meneruskan ke Perguruan Tinggi Zainul Hasan. Saya ingin mewujudkan apa yang diinginkan oleh Papa dan bapak mertua saya," lanjutnya.

Namun begitu, sebagai manusia yang pernah mencicipi kehidupan glamour di kota besar, sekali-sekali Debby merasa suntuk juga tinggal di lingkungan ini. "Kalau sudah suntuk, saya mengajak suami nonton film atau sekadar jalan-jalan ke Probolinggo, Surabaya atau ke Malang. Lantas kalau liburan sekolah, saya pulang ke Jakarta, menengok orangtua dan saudara."

Shock Baca Berita Papa Kawin Lagi

Dari tiga bersaudara putra-putri Rhoma Irama, Debby merasa paling dekat dengan sang ayah. "Karena batin kami begitu akrab, perubahan sekecil apapun yang terjadi pada Papa pasti saya rasakan. Waktu Papa menjalin hubungan diam-diam dengan Mama Ricca, saya ribut duluan. Bahkan sebelum Mama Vero menyadari hubungan mereka, saya yang lebih dulu ngomong sama Mama," ungkapnya.

"Kejadian-kejadian itu sebetulnya kecil saja. Misalnya, setiap ketemu Mama Ricca saya harus cium tangan. Padahal, sebelumnya, Papa tak mengharuskan begitu. Belakangan saya baru tahu kalau Papa sudah menikah resmi dengan Mama Ricca. Artinya Mama Ricca itu sudah jadi ibu saya karena itu kami, anak-anak Papa harus mencium tangannya."

Pernah suatu kali ketika Rhoma syuting bersama Yatie Octavia di Bandung, Debby mimpi ketemu ayahnya. "Perasaan saya nggak enak. Saya bilang sama Mama agar kita menjenguk Papa. Mama melarang karena saya belum libur sekolah. Eh, nggak tahunya, waktu Papa mau Pulang ke Jakarta, mobilnya masuk ke jurang."

Sekitar dua bulan lalu, ia kembali mimpi tentang ayahnya. "Dua malam berturut-turut saya mimpi melihat Papa datang. Baru saja saya mau tulis surat, eh saya membaca di sebuah harian kalau Papa menikah lagi dengan Marwah," tutur Debby sedih. "Terus terang, saya merasa shock membaca berita itu. Saya lantas menghubungkan dengan mimpi saya. Apa betul Papa menikah lagi?"

Tapi selama ini, Debby merasa hubungan papanya dengan Ricca Rachim rukun dan mesra. "Mama Ricca juga nampaknya ceria dan tak mengeluh apa-apa. Baik soal uang maupun soal waktu papa untuk keluarga di rumah."

Tentang Marwah, wanita yang diberitakan beberapa harian telah diperistri oleh Rhoma Irama, rupanya memang mempunyai hubungan yang cukup akrab dengan keluarga itu. "Ayah Marwah teman baik Papa. Adik prianya juga pernah belajar musik di rumah," kata Debby lagi. "Setahu saya sih, Marwah itu sudah menikah dan kini suaminya bekerja di luar negeri."

Karena penasaran, pertengahan September lalu, ketika Rhoma menghadiri Munas I Kelompok Pagarnusa se Indonesia di Pesantren Zainul Hasan, Debby sempat menanyakan soal kebenaran berita itu. "Papa cuma nyengir aja. Selama ini sih kalau Papa nyengir itu artinya berita bohong dan tak perlu diperpanjang," kata Debby.

"Melihat sikap Papa saat itu, saya tak berani bertanya lebih jauh lagi. Apalagi sekarang kan saya sudah berkeluarga. Ya, kalau menurut hukum, saya sudah tak berhak mencampuri rumah tangga Papa dan sebaliknya," sambung Debby yang bertubuh langsing dan mungil ini. "Tapi kalau Papa sampai menikah dengan Marwah, saya yakin tujuannya pasti baik. Papa pasti ingin berbuat kebaikan bagi sesama. Entah untuk menolong Marwah atau untuk yang lainnya."

Meski begitu, sebagai anak, Debby mengatakan tak setuju kalau ayahnya menikah lagi. "Apapun alasannya, saya tetap nggak setuju. Sebab saya sudah merasakan akibatnya. Dulu, waktu saya tahu Papa menikah dengan Mama Ricca, saya sangat terpukul. Saya merasa kehilangan pegangan, dibohongi oleh orang-orang yang saya cintai."

Sebelum Rhoma menikah dengan Ricca Rachim, Debby mengatakan sudah akrab dengan Ricca." Kami sudah menganggapnya sebagai tante sendiri. Karena dia tak punya anak, saya dan adik-adik memanggilnya Mama. Nyatanya mereka membohongi saya. Mereka menjalin hubungan khusus dan meninggalkan Mama Vero," tambah Debby.

Waktu itu, kedua adik Debby, Fiqih dan Romi, masih kecil. "Saya tak punya teman untuk membicarakan kepedihan dan kekecewaan saya. Adik-adik belum peduli soal Mama dan Papa. Bagi mereka, yang penting bisa main sepedanya. Kalau sepedanya bisa jalan, mereka sudah senang."

Karena kesal, Debby memutuskan untuk ikut bersama Veronica. "Ternyata, di rumah Mama Vero, saya makin parah. Saya kasihan sama Mama Vero, tapi saya tak bisa menolongnya. Akhirnya saya jadi frustrasi, malas belajar. Waktu itu, saya duduk di kelas satu SLP, saya sering bolos. Kerja saya ikut teman-teman keluyuran, ke pesta, ke diskotik, minum-minuman keras sampai mabuk. Nilai pelajaran saya ambruk. Di kelas satu saya terpaksa mengulang. Mengetahui saya tinggal kelas, Papa membujuk saya agar saya mau berkumpul dengan Papa dan adik-adik. Di sana otak saya "dicuci." Papa tanya, kenapa saya kesal? Apakah saya kecewa karena papa menikah dengan Mama Ricca? Saya bilang, ya! Papa menjelaskan bahwa sebetulnya tak mau menceraikan Mama Vero, tapi Mama Vero yang minta bercerai."

Lama-kelamaan Debby menyadari kalau perkawinan ayahnya dengan Ricca Rachim itu karena kehendak Yang Kuasa. "Mereka sebetulnya sudah menghindar, tapi keadaan mempersatukan mereka kembali," kata Debby yang kini akur sekali dengan ibu tirinya, Ricca Rachim.

"Berkat gemblengan Papa dan Mama Ricca, akhirnya saya kembali memiliki semangat belajar. Saya bukan hanya naik kelas, tetapi selalu menjadi juara kelas. Hidup bersama Papa dan Mama Ricca membuat saya dewasa, bisa bertanggungjawab buat diri sendiri dan mampu menghargai uang dan waktu. Mereka mendidik saya secara disiplin juga konsekwen. Misalnya, kalau hari sekolah dan ada ulangan, saya tak boleh nonton televisi. Tetapi kalau hari libur, mereka memperbolehkan saya pergi ke mana saya suka. Bahkan kalau perlu mereka mengantar saya," tutur Debby tentang hubungannya dengan ayah dan ibu tirinya.

"Biarpun kata orang Papa punya uang, tapi Papa tak pernah memanjakan saya dalam hal materi. Semua hadiah yang ia berikan merupakan imbalan atas usaha saya. Di SLP, saya pernah kepingin punya boneka garfiel yang harganya Rp 300.000,-. Saya minta sama Papa, tapi Papa menjanjikan baru boleh memberi boneka itu kalau nilai rapor saya bagus. Saya berusaha mati-matian agar nilai pelajaran saya biru semua. Tapi begitu saya terima rapor, boneka itu sudah tak ada lagi. Sudah dibeli orang!"

Memang pada akhirnya Debby bisa mengerti bahwa perkawinan ayahnya dengan Ricca Rachim bukan semata untuk kesenangan pribadi-pribadi. "Seandainya pun Mama Ricca tak menikah dengan Papa, saya yakin kalau dia tetap sayang pada kami. Tetapi untuk sampai pengenalan dan pemahaman itu kan butuh waktu dan pengorbanan. Karena itu saya keberatan kalau Papa menikah lagi. Dengan siapapun orangnya. Saya tak mau ada anggota keluarga Papa yang menjadi korban atau mengalami kekecewaan seperti dulu," kata Debby tentang sikapnya terhadap kabar yang sudah merebak itu. (Rini. H)


Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.

comments powered by Disqus

Website ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn.