Home > Kliping Media > Republika

Artis Jangan Pamer Aurat di TV

Harian Republika, 9 Maret 2000

PADANG -- Gaya para penyanyi, khususnya penyanyi dangdut, saat tampil di layar televisi membuat gusar Rhoma Irama. Di mata Rhoma yang tak lain megabintang musik dangdut Indonesia itu, penampilan banyak artis dangdut wanita sangat vulgar dan tidak menghormati etika.

Sebagian besar dari penyanyi dangdut wanita itu, menurut Rhoma, menyuguhkan hiburan murahan dengan gaya yang seronok, vulgar, sensual dan tentunya membuka aurat. Ia akhirnya sampai pada satu kesimpulan: sampai kiamat pun, hal itu (pamer aurat oleh artis dangdut) sulit bisa dihentikan, karena setan selalu menggoda. ''Yang bisa dilakukan hanyalah memberikan tekanan moral sepanjang saat. Sehingga, hal-hal yang mengoyah iman itu bisa dikurangi muncul di layar kaca.''

Rhoma Irama mengemukakan hal itu kepada wartawan di Padang, Rabu (8/3), dalam acara jumpa pers Persatuan Artis Pencipta Lagu dan Penata Musik Rekaman Indonesia (Pappri) Sumbar. Organisasi ini akan mengadakan Musda di Padang besok.

Jika begitu keadaannya, bisa disimpulkan, kalangan ulama dan kelompok moralis, hanya bisa urut dada. Sebab sesering mereka berteriak agar dihindari buka-bukaan aurat di televisi, sesering itu pula pelanggaran terjadi. Menurut Rhoma, teramat sulit untuk memasukkan unsur-unsur dakwah ke dalam sebuah lagu. Ketika pada tahun 1973 silam, Rhoma dengan Soneta Grupnya, mencoba memasukkan kata-kata Assalamualaikum di pentas musik, Rhoma dilempari dengan sandal. Ini, terjadi menurut dia, karena ia melanggar hal tabu, memasukkan unsur dakwah ke dalam hal yang bathil.

Menurut pengamatan Republika, acara-cara televisi, baik TVRI maupun swasta, terutama untuk nyanyi dan sinetron memang sudah memuakkan. Para penyanyi tampil seenak perutnya saja. Tidak saja gerak-geriknya yang sensual, tapi cenderung membuka aurat, sesuatu yang sejak kecil diketahui orang hal itu haram. Namun, hari demi hari hal itu dilanggar tanpa merasa berdosa.

''Saya sudah muak melihat hal-hal yang mengubar aurat di televisi. Melihat itu semua, saya panik,'' tutur Asril Koto, seorang seniman di Padang, kemarin. Menurut dia, para pemilik televisi, benar-benar tidak peduli dengan perasaan masyarakat. ''Sepertinya mereka tuli, atau memang keberatan-keberatan masyarakat tidak masuk agenda mereka,'' cetus Koto. Sebagai penyair ia nyaris kehilangan akal menjelaskan kepada anaknya, ketika ada adegan ciuman di televisi, atau adegan berpelukan ketika sebuah nyanyi ditayangkan. ''Tak tahu apa yang akan saya sebut. Anak saya bertanya terus,'' tuturnya sambil geleng-geleng kepala.

Menurut Rhoma Irama, sebagai 'Raja Dangdut' dia sudah berusaha mendidik 'adik-adiknya' yang penyanyi dangdut untuk tidak membuka aurat saat tampil, baik di televisi maupun di pentas. ''Saya juga sudah memberi contoh lewat Soneta Feminim,'' tegasnya.

Namun itu saja, ternyata belumlah cukup. ''Ternyata mereka tetap tak banyak berubah,'' aku Rhoma prihatin. Kesulitan itu mungkin karena nyaris tidak ada penyanyi yang mau merujuk kitab suci agamanya untuk memagar dirinya sebelum tampil menyanyi. Rhoma berjanji akan terus berusaha mengurangi hal-hal tabu itu. ''Tapi ingat, setan tetap eksis sampai hari kiamat, dan dia akan selalu menggoda. Itu sebabnya, artis musik dangdut yang tampil seronok tetap akan kita lihat,'' papar Pembina Pappri ini.

Secara terpisah, Ketua Umum Pappri, Sodikin Zuchra, menyebutkan, dewasa ini pembajakan kaset lagu benar-benar menggila. Dampaknya, para artis seperti terkungkung dalam sangkar. ''Teman-teman seperti dihisap, dan tidak bisa berbuat apa-apa,'' keluhnya.

Karena itu, ia berharap Pappri harus terus menerus berjuang guna mendapatkan hak-hak sewajarnya yang harus diterima para artis penyanyi. Sebab, nasib buruk lebih kerap mendera artis penyanyi di daerah. Sesuatu yang terkadang tidak terbaca oleh Pappri pusat.


Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.

comments powered by Disqus

Website ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn.