Home > Kliping Media > D & R

Wawancara Rhoma Irama: “Masa Transisi Saya Ada Sepuluh Tahun”

Majalah D&R edisi 21 September 1996

KEMAMPUANNYA sebagai pengumpul suara (vote getter) sudah terbukti jauh sebelum masa kampanye dimulai. Saat pendaftaran calon anggota legislatif di DPP Golkar, Jumat pekan lalu, kerumunan umat yang ingin mendengarkan ceramahnya meluber sampai ke luar masjid. Rhoma Irama, 49 tahun, memang dijaring Golkar sebagai pengumpul suara. Meski mengaku baru mengurus Nomor Pokok Anggota Golkar (NPAG), ia ditempatkan dalam nomor jadi di daftar calon anggota legislatif Golkar untuk daerah pemilihan Jakarta.

Kepindahannya ke Golkar mengagetkan banyak orang. Soalnya, penyanyi dangdut yang pernah membuat film Satria Bergitar itu menjadi juru kampanye Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada Pemilu 1977 dan 1982. Sambil menyanyikan lagu-lagunya, seperti Begadang, pemimpin orkes Soneta itu mengajak umat mencoblos PPP. Dan, karisma Rhoma, yang biasa dipanggil Pak Haji itu, terbukti bisa menyedot orang untuk menghadiri kampanyenya. Tapi, sesudah Pemilu 1982, penyanyi yang pernah dicekal di TVRI selama sebelas tahun tersebut menyatakan tak mau mendukung kampanye PPP dan berdiri di atas semua golongan. Kini, ia memutuskan mendukung Golkar, tak hanya sebagai juru kampanye, tapi sebagai calon anggota legislatif dengan nomor jadi.

Untuk mengetahui lebih banyak tentang keputusan politiknya itu, Budi Nugroho dari D&R mewawancarai bapak dari 4 anak --3 dari istri pertama dan 1 anak angkat dari istri kedua-- itu di rumahnya di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, yang ditinggalinya bersama istri keduanya yang cantik, Ricca Rahim. Berikut petikannya.

Ketika Anda mengambil sikap netral pada Pemilu 1987 dan 1992, apakah ada semacam kekecewaan Anda terhadap PPP?

Enggak ada. Karena, motivasi saya di situ adalah Islam. Artinya, PPP saat itu berasas Islam. Nah, saya tidak lagi mendukung PPP karena saat ini tidak berasas Islam lagi dengan adanya asas tunggal. Jadi, saya kehilangan motivasi.

Kemudian, setelah semua organisasi peserta pemilu (OPP) menganut asas tunggal, tidak ada beda antara PPP dan Golkar, kenapa Golkar yang Anda pilih?

Karena, saya melihat Golkar pada setiap periode pemilu semakin menunjukkan progresivitasnya dalam menciptakan sistem yang kondusif untuk kehidupan beragama. di samping aktivitas Golkar dalam merumuskan dan melaksanakan GBHN.

Artinya, Anda memandang Golkar lebih aspiratif terhadap umat dibanding PPP?

Ya, artinya di dalam aktualisasi. Bukan dibandingkan dengan PPP, tidak. Artinya Golkar yang lebih mempunyai peluang, kesempatan untuk melakukan itu karena Golkar selama ini sebagai golongan yang dipercaya oleh umat, oleh rakyat, secara mayoritas untuk melaksanakan GBHN.

Jadi, Golkar sebagai mayoritas tunggal juga menjadi salah satu bahan pertimbangan Anda untuk memutuskan masuk Golkar?

Saya rasa bukan demikian. Kalau pemihakan saya kepada Golkar, implikasinya tentunya makro, bukan Golkar an sich, tapi umat Islam khususnya dan bangsa ini.

Tidak ada kekecewaan sedikit pun terhadap PPP?

Tidak ada, enggak ada kekecewaan semacam itu. Bukan karena kecewa kepada PPP, terus kemudian saya masuk Golkar, bukan itu. Karena, selama ini, di samping hak asasi, saya ingin berjuang melalui jalur formal, di samping informal seperti yang selama ini telah saya lakukan dalam kapasitas saya sebagai budayawan.

Apakah Anda merasa perjuangan yang selama ini dilakukan tidak bisa mencapai tujuan yang diinginkan, kecuali dilakukan lewat lembaga legislatif?

Sepertinya akan lebih konkret, lebih baik, lebih kukuh kalau dibantu dengan jalur formal, di samping jalur informal.

Mungkin ada masyarakat yang melihat bahwa kepindahan Anda ke Golkar demikian mendadak, apakah ada konflik batin ?

Wong transisinya saja sepuluh tahun kok, bukan mendadak dari PPP ke Golkar. Jadi, ada transisi yang sangat panjang. Saya melihat Golkar kondusif dengan aspirasi Islam sejak 6 tahun yang lalu.

Dalam posisi netral sejak 1987, apa ada usaha dari PPP untuk menarik Anda kembali?

Tidak ada.

Dari PDI?

Enggak ada.

Anda tidak merasa dimanfaatkan oleh Golkar sebagai pengumpul suara?

Alhamdulillah, kalau saya bisa bennanfaat pada bangsa ini, berarti rahmat buat saya dari Allah. Salah satu penghormatan buat saya dari Golkar kalau memang saya bisa dimanfaatkan. Berarti, saya adalah orang yang bermanfaat.

Apa arti partai dalam konteks perjuangan Anda?

Sebetulnya, partai itu cuma sarana, cuma alat, instrumen untuk mencapai tujuan. Jadi, pada saat tertentu, kita membutuhkan legitimasi untuk melaksanakan perjuangan.

Anda tidak takut ditinggalkan oleh penggemar dengan masuk ke Golkar?

Tidak, karena keberadaan saya di sana adalah untuk penggemar.

Maksudnya, secara primordial-emosional, Anda kan lebih terikat pada PPP sebagai "partai Islam"?

Tidak, salah itu. Saya terikat kepada Islam, bukan kepada PPP. Itu sebabnya, dulu pun, saya juga bukan fungsionaris partai, kok. Saya cuma simpatisan PPP. Saya bukan anggota PPP. Tidak pernah saya menjadi anggota PPP. Istilah saya dulu kan menumpang jihad, menumpang berjuang, karena dilihat PPP punya asas Islam.

Anda merasa perjuangan itu akan bisa lebih tercapai dengan terjun ke politik?

Paling tidak lebih terarah dan lebih konkret begitu.

Anda dulu pernah di cekal oleh TVRI karena menjadi juru kampanye PPP. Apakah itu juga menjadi salab satu pertimbangan Anda saat ini?

Seperti saya katakan tadi, saya melalui masa transisi 10 tahun. Jadi, bukan faktor-faktor itu yang menjadi pertimbangan. Sekarang enggak ada masalah. Tanpa menjadi Golkar, saya bisa bebas beraktivitas.

Apa ada rencana untuk menarik teman-teman budayawan lainnya masuk ke Golkar?

Saya rasa bukan itu tujuannya. Bukan lantaran saya adalah vote getter; terus menarik orang, tidak sedangkal itu. Tapi, saya akan berusaha meyakinkan umat bahwa dengan Golkar artinya kita telah memberikan manfaat, sebagaimana saya katakan tadi: progresivitas Golkar dalam setiap aspek kehidupan. Tidak dibantah, walaupun di sana-sini ada kekurangan, tapi ada progresivitas. Pertama adalah dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk kehidupan beragama Islam, contohnya ukhuwah Islamiah lintas sektoral, kemesraan antara ulama dan umara, maraknya kehidupan ibadah dikalangan elite, dan komitmen ketiga jalur Golkar--birokrat-ABRI-Golkar--yang semakin kental terhadap Islam. Misalnya, zaman dulu mana ada pejabat bikin tarawih di rumah? Salat di kantor saja takut-takut. Tapi, sekarang... enggak ada pejabat yang enggak pergi haji, enggak ada pejabat yang enggak bikin tarawih, hari besar Islam dibuat sedemikian rupa dari tingkat RT sampai istana. Itu salah satu faktor yang membuat saya ingin memanfaatkan suasana ini.

Tapi, di balik kemajuan yang Anda sebutkan tadi masih terdapat berbagai kekurangan, ketimpangan, dan sebagainya. Bisa jadi, itu juga menjadi salah satu tanggung jawab Golkar?

Ya, makanya .... sebagai negara berkembang, wajar. Bangsa yang 51 tahun merdeka tentu saja akan banyak kelemahan. Tapi. yang pasti, kita lihat ada kemauan untuk memperbaiki setiap kelemahan. merevisi setiap kebocoran.

Apakah nanti, setelah menjadi anggota legislatif, Anda akan bersuara keras terhadap berbagai penyimpangan yang ada?

Keberadaan kita di legislatif kan sebagai wakil rakyat. kita harus menyuarakan aspirasi rakyat. Bersuara keras itu bukan cara Islam. Islam itu memerintahkan untuk mencari jalan Tuhan dengan bijaksana dan akhirat yang baik, berdialog dengan cara yang baik, bukan bersuara keras. Vokalnya anggota DPR itu kan konotasinya negatif, ngoyo, memaksakan kehendak. Allah tidak meminta hasil perjuangan tapi kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah: " Kamu menyampaikan atau tidak. kamu berjuang atau tidak." Berhasil atau tidak, itu bukan tanggung jawab kita. Jadi enggak perlu vokal dalaln pengertian negatif sebagai anggota DPR.

Seandainya Anda diminta masuk Golkar tapi tidak dicalonkan sebagai anggota legislatitf, Anda bersedia atau tidak?

Tidak.

Jadi, salah satu jalan perjuangan itu adalah dengan menjadi anggota DPR?

Ya, artinya, saya akan memhantu Golkar, tapi denga jelas. Keberadaan saya di sana betul-betul akan efektif.

Apakah Anda juga membicarakan keputusan itu dengan istri?

Ya... sedikitlah.

Anda memutuskan masuk Golkar atas ajakan Mbak Tutut, tapi apakah sebelumnya juga telah ada pendekatan intensif?

Sejak netral, saya mempunyai akses ke segala golongan. Nah, mulai saat itu, saya berproses dari PPP, netral, menjadi Golkar. Jadi, tidak secepat itu, ya, perubahan yang sebenarnya. Saya yakin umat juga tidak terlalu terkejut. Karenanya, saya bukan kutu loncat, yang drastis dari PPP ke Golkar, tapi ada suatu proses alamiah yang juga bisa dirasakan dan dilihat oleh umat. Selama ini kan saya ke pemerintah, ke ABRI....

Setelah nanti duduk di lembaga legislatif, bagaimana dengan kegiatan musik dan dakwah Anda?

Sama saja, justru ditambah yang formal. Bukan berarti pindah ke jalur formal kemudian saya membatalkan yang informal. Justru, musik dan dakwah itu satu potensi Rhoma Irama sendiri yang enggak boleh hilang.

Apa tanggapan Anda atas Peristiwa 27 Juli?

Yang saya tahu bahwa di sana ada agitasi, ada perebutan markas, dan di sana ada kerusakan. Kemudian. di sana juga ada tendensi-tendensi politik yang akhirnya terbuka kepada kita bahwa ternyata masih ada kelompok-kelompok yang antikemapanan.Yang barangkali, ada satu istilah we can not make every body happy (kita tak bisa membahagiakan setiap orang). Banyak, dalam pembangunan ini, orang yang tidak mendapatkan kue pembangunan, pembangunan yang bersifat proporsional, dan sebagainya. Saya lihat Partai Rakyat Demokratik sebagai satu manifestasi dari kelompok antikemapanan dalam konteks politik. Jadi, itu memang cukup kompleks permasalahannya. Kedua, secara keseluruhan, ada kelompok/pemikiran yang ingin membuat suatu perubahan.

Anda melihat gejala itu sebagai kelompok antikemapanan atau menginginkan suatu perubahan sosial?

Artinya, justru kedua-duanya, antikemapanan dan menginginkan perubahan yang tidak prosedural.

Bukan lahirnya kondisi tersebut juga disebabkan kemampatan politik yang terjadi?

Ya, tapi perusakan bukan jawaban yang menyelesaikan permasalahan. Apa pun Sifat perusakannya, itu bertentangan dengan nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai yang mulia.

Hal itu juga menjadi salah satu keprihatinan Anda?

Ya, terus terang saja. Kita boleh enggak sependapat, kita boleh enggak puas, tapi yang namanya memaksakan kehendak, itulah yang "setan"-nya. Sebagaimana saya katakan tadi, kalau ada anggota DPR yang vokal... itu sesuatu yang enggak perlu ada. Jadi, yang namanya ngoyo atau memaksakan kehendak itu akan menimbulkan hal-hal yang bertentangan dengan tujuan.

Setelah menjadi anggota DPR, Anda tentunya tidak hanya menyuarakan aspirasi budayawan. Apakah ada suatu obsesi atau program yang akan Anda lakukan?

Obsesi seorang muslim tentunya adalah amar makruf nahi mungkar. Kedua, menegakkan kalimat Allah. Itu obsesi setiap mukmin.


Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.

comments powered by Disqus

Website ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn.