Home > Kliping Media > Kompas

Musik Dangdut Mencapai Puncaknya

Kompas, 13 Juli 1997

SETELAH ditunggu bertahun-tahun, para seniman musik dangdut akhirnya mendapatkan penghargaan yang paling mereka tunggu-tunggu. Terlepas dari siapa yang memperoleh penghargaan tersebut, sebagaimana disampaikan banyak pemusik dangdut, Anugerah Dangdut TPI benar-benar ajang yang dirindukan seniman dangdut untuk mengukur diri, memotivasi, dan juga semakin mengukuhkan keberadaan musik dangdut di tengah masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Tidak terlalu berlebihan menyebut musik dangdut kini telah mencapai puncaknya. Dilihat dari banyak sisi, antara lain industri musik, kedekatannya dengan masyarakat, tingkat kesejahteraan para pemusiknya, maupun penampilan para pemusik dangdut, bukti-bukti dangdut telah mencapai puncak banyak tersedia.

Dari sisi industri musik, misalnya, sejak bertahun-tahun lalu musik dangdutlah yang paling laku keras di pasaran kaset sehingga banyak sekali dibajak orang-orang tak bertanggung jawab. Bukti terbaru, misalnya, album lagu Selamat Malam Evie Tamala bisa terjual sampai 750.000 keping. Album-album dangdut lainnya, tidak sulit menembus angka 100.000 keping. Di banding album-album musik lainnya, album-album musik dangdutlah yang terus muncul secara rutin dari waktu ke waktu. Dari sisi ini, hanya musik pop-lah yang menyainginya dangdut. Untuk menunjang kaset rekaman, video klip dangdut pun kini sudah digarap semakin serius, bahkan bila perlu sampai di buat di luar Indonesia seperti Evie Tamala dengan lagu Sedingin Salju.

Dari tingkat kesejahteraan para pemusiknya, musisi dangdut kini bukan lagi "warga kelas dua". Banyak pemusik dangdut kini tak kalah dengan seniman lainnya, bermobil BMW, bergaul di kafe-kafe, berpakaian dengan merek-merek terkenal pula. Tak usahlah menyebut Rhoma Irama, Elvi Sukaesih, Camelia Malik, atau Evie Tamala, yang sudah meroket. Penyanyi dangdut Chicha Mochtar yang barangkali asing di telinga pendengar musik nondangdut kini sudah bisa menunjukkan "kesejahteraan" sebagai penyanyi dangdut dengan membuka rumah makan.

Dari segi pertunjukan, tak dapat dipungkiri gaung kedahsyatan musik dangdut dewasa ini bisa ditemui di mana-mana. Dari rumah-rumah di pinggiran desa, bus kota, rumah gedongan, pinggiran jalan, bahkan sampai menggoyang dunia lewat penampilan beberapa penyanyi dangdut di Jepang, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, bahkan belakangan Australia.

Posisi dangdut yang sangat mengakar di tengah masyarakat, sampai saat ini tidak tergoyahkan musik-musik lain. Antusiasme penonton dangdut tak pernah mengenal tempat. Di tengah lapangan, di kantor-kantor, di tempat pesta, bahkan di ajang Anugerah Dangdut pun antusiasme itu tak bisa dibendung. Dua gerakan dasar biasanya tanpa sadar dilakukan ketika orang mendengar musik dangdut, yaitu menggerakkan kepala dan kaki. Dangdut pun tidak lagi hadir sebagai musik, tapi lebih jauh lagi sudah berkembang menjadi kuis, jadi sinetron, dan entah akan berkembang jadi apa lagi di kemudian hari.

***

DI dalam tubuh musik dangdut itu sendiri, musik dangdut berkembang dengan baik pula. Warna musik dangdut sekarang cukup beragam dari perkawinannya dengan aliran-aliran musik lain, antara lain disko, reggae, jaipong, keroncong, dll.

Pola birama 4/4 (empat perempat) yang menjadi ciri khas dangdut, kini sudah mulai dilanggar, misalnya lagu Kecewa yang membuat Iis Dahlia dinobatkan sebagai penyanyi wanita dangdut terbaik Anugerah Dangdut TPI 1997. Aransemen musik dangdut pun kini sangat bervariatif dan kaya. Terobosan-terobosan kerap dilakukan, salah satunya bahkan oleh pemusik yang dasarnya bukan dangdut, yaitu kelompok Trakebah yang dikomandoi Indra Lesmana dan kawan-kawan.

Dari sisi sumber daya manusia, tenaga-tenaga kreatif dalam musik ini seperti tak kenal habis-habisnya. Para pengarang lagu dangdut terus bermunculan, begitu pula penyanyi-penyanyinya. Berbeda dari jalur-jalur musik lain yang seringkali ditinggalkan penyanyi atau pemusiknya, musik dangdut tak pernah terdengar ditinggalkan artis-artisnya. Yang terjadi justru sebaliknya, banyak artis dan musisi dari musik lain yang hengkang ke jalur dangdut.

Regenerasi pun berjalan cukup baik. Elvi, misalnya, sempat melahirkan Fitria sebagai penyanyi dangdut. Kini, Mansyur S pun meneruskan bakatnya kepada putranya Irfan Mansyur. Sebagai orang yang terlahir di zamannya, Irfan bisa diharapkan akan terus menjadi bagian dari kehidupan musik dangdut di masa datang.

Dari sisi "kedewasaan" dangdut pun kini semakin dewasa antara lain terlihat dari penampilan para artis-artisnya yang tidak lagi "seronok". Goyang dangdut yang dulu menjadi semacam kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang penyanyi, kini tidak begitu penting lagi. Penyanyi seperti Evie Tamala, Nana Mardiana, dan banyak lagi nama lainnya, adalah penyanyi-penyanyi dangdut yang "enggan" bergoyang tetapi terbukti tetap bisa sukses di dunianya. Rok mini, pakaian seksi, dan aksesori yang begitu ramai, juga semakin jarang terlihat pada penyanyi dangdut, terutama mereka yang sudah sukses merambah jalur rekaman.

Kedewasaan itu pulalah yang membuat musik dangdut kini semakin bisa diterima kalangan menengah ke atas. Dangdut pun merambah hotel-hotel berbintang, salah satunya adalah Hotel Indonesia. Jauh sebelum itu, dangdut sudah mulai menggusur musik disko dari banyak diskotik di Indonesia.

Dengan berbagai gambaran di atas, wajarlah bila Menteri Penerangan R Hartono saat memberikan sambutan pada ajang Anugerah Dangdut TPI '97 menyatakan keyakinannya, "Suatu saat musik dan penyanyi dangdut akan memperoleh tempat yang terhormat di dunia internasional. Musik dangdut akan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, dan dapat memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa."

***

BERBAHAGIALAH para seniman dangdut Indonesia. Berbanggalah pula bila untuk pertama kalinya dalam sebuah ajang festival musik di Indonesia, para seniman dengan bangganya bisa keluar dari mobil atau motor besar, berjalan di karpet merah dengan sambutan meriah dari para penggemar di kiri kanannya, seperti pada Festival Film Cannes atau ajang Oscar.

Maka dari itu, barangkali sudah saatnya para seniman dangdut tak perlu lagi meneriakkan dangdut adalah musik Indonesia, musik yang mengakar di tengah masyarakat, musik semua kalangan, dan banyak lagi kalimat-kalimat lain yang pada intinya justru masih mencerminkan ketidak-percaya-dirian seniman dangdut. Lupakan itu, dangdut kini sudah memasuki era baru yang harus disikapi dengan semakin percaya dirinya para seniman dangdut. (Yurnaldi/Rakaryan S)


Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.

comments powered by Disqus

Website ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn.