|
|
Rhoma Irama: Musik, Politik, dan Kutu LoncatMajalah Forum Malam itu, suasana sebuah kampung di Jakarta Selatan tiba-tiba menjadi gaduh. Warga yang semula duduk-duduk sambil mengobrol langsung berlarian di depan pesawat televisi. Mereka berteriak-teriak memanggil teman atau saudaranya agar tak ketinggalan menyaksikan peristiwa yang sangat ditunggu selama bertahun-tahun itu. Memang, pada 6 mei 1988 itulah, untuk pertama kali, sejak satu dasawarsa, Raja Dangdut Rhoma Irama kembali tampil di TVRI. Judi! Menjanjikan kemenangan/ Judi menjanjikan kekayaan/ Bohong! Bila engkau menang, itu awal dari kekalahan/ Bohong. Bila engkau kaya, itu awal kemiskinan.... Apa pun dan bentuk judi semuanya perbuatan keji. Luar biasa. Syair yang dilantunkan "Sang Raja" bukan hanya membius para pemujanya di depan pesawat televisi, tapi juga menjadi senjata para istri yang geram melihat para suami yang kecanduan main judi. "Tuh, dengar kata Bang Haji. Judi itu perbuatan keji. Perbuatan setan." Bagi para pemujanya, Rhoma memang tidak hanya seorang bintang, tapi juga panutan. Rhoma Irama. Rasanya semua orang Indonesia tak ada yang tak mengenal namanya. Posternya terpasang di rumah-rumah kampung dan musiknya melantun di mana-mana. Sebagai seorang musisi, Rhoma adalah fenomena. Dialah yang pertama kali memadukan musik rock dan irama melayu. Dengan pandangan bahwa musik adalah universal, Rhoma meramu musik Led Zeppelin atau Deep Purple ke dalam lagu-lagu berirama melayu. Inilah yang oleh Rhoma disebut sebagai unsur dinamik dalam dangdut. Rhoma terlahir dengan nama Irama pada 11 Desember 1947. Sedangkan Oma adalah nama panggilannya. Pada 1975, Oma menunaikan ibadah haji sebagai ungkapan terima kasih kepada Sang Pencipta karena album Begadang sukses merajai tangga lagu seantero Indonesia. Sepulang dari Tanah Suci, ia melengkapi namanya menjadi Rhoma alias Raden Haji Oma Irama. Agaknya, nama itu merupakan hoki baginya. Album-album Rhoma makin laris di pasaran. Sebelas Piringan Emas merupakan bukti nyata bahwa Rhoma Irama telah mengukuhkan diri sebagai Raja Dangdut di Tanah Air. Bukan hanya itu, September 1992, Rhoma bersama grupnya, Soneta, diundang tampil di negeri Matahari Terbit. Tidak seperti lagu-lagu dangdut yang umumnya hanya bicara soal cinta, musik yang diciptakan Rhoma juga syarat dengan kritik sosial dalam syairnya. Selain ke musik, Rhoma rupanya juga sangat tertarik dengan agama. "Rasa ketertarikan saya ke agama (Islam), sama berat dengan musik," ujar Rhoma suatu ketika kepada Femina. Rhoma lantas membawa Soneta sebagai voice of Islam dengan banyak melantunkan lagu-lagu bernada dakwah. Toh, perjuangannya sempat dihajar oleh kalangan Islam sendiri. Pada 1983, Kiai Syukri Gozali--ketika itu Ketua Umum MUI--menyatakan bahwa menyanyikan Alquran hukumnya haram. Pernyataan itu tentu saja menampar Rhoma yang baru saja meluncurkan album La Illaha Illalah. Sebuah diskusi lantas digelar. Di hadapan para ulama, Rhoma memutar kaset-kasetnya yang bernapaskan Islam. "Tidak ada ayat Alquran yang didangdutkan," ujar Rhoma ketika itu. Sukses di musik dan film, Rhoma melangkah ke politik. Sebagai orang yang memperjuangkan Islam, tak mengherankan jika Rhoma memilih PPP. "Saya membela PPP lillahi taala. Sebagai seorang muslim, saya harus memilih pemimpin yang muslim pula," ujar Rhoma saat itu. Bagi PPP, bergabungnya Rhoma ke partai berlambang Kakbah jelas merupakan dukungan yang luar biasa. Selama dua musim pemilu, 1977 dan 1982, Rhoma mampu menyedot jutaan umat untuk mendatangi arena kampanye PPP. Sayang, kehebatan Rhoma agak tercoreng. Menjelang Pemilu 1997, ia menyeberang ke Golkar. Karena ulahnya itulah, Rhoma mendapat cercaan cukup tajam dari para pemujanya yang sebagian besar juga fans berat PPP. Bahkan, cap "kutu loncat" segera menempel di kening si Raja Dangdut. Ketua DPW PPP Jakarta Rusjdi Hamka, misalnya, menyatakan, "Sebagai muslim, Rhoma harus istikamah (konsisten)." Toh, Rhoma punya segudang alasan mengapa ia bersedia dirangkul Golkar. Bagi Rhoma, partai yang bernapaskan Islam saja tidak cukup untuk memperjuangkan Islam. Karena itulah, Rhoma memilih bernaung di bawah "Pohon Beringin". "PPP memang menyuarakan aspirasi Islam. Tapi, karena PPP tidak dalam posisi sebagai partai yang menang, yang unggul dan yang dominan, hasilnya kurang efektif," kata Rhoma melontarkan alasan kepindahannya. Wahid Rahmanto |
|
Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.comments powered by DisqusWebsite ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn. |