Home > Kliping Media > Suara Pembaruan

Noer Halimah Hadir Dengan Lagu "Rumput Tetangga"

Harian Suara Pembaruan, 12 Agustus 1999

JAKARTA - Bukan hanya wajahnya yang jelita. Suaranya ketika berdendang sering membuat hati orang terpikat. Termasuk Rhoma Irama. Raja dangdut itu sempat menggaetnya untuk berduet. Setelah lama menyepi, peraih penghargaan ''Penyanyi Dangdut Berpenampilan Terbaik 94 versi PAMMI'' itu ingin hadir kembali. ''Saya percaya penggemar saya tetap menunggu,'' kata Noer Halimah.

Wanita ayu kelahiran 9 September di Jombang, Jawa Timur ini sepertinya memang digariskan untuk jadi penyanyi. Ketika ia ingin beralih usaha di jalur bisnis lain, hatinya malah gunda. Dalam kegundahan itulah akhirnya muncul gairah baru bermusiknya yang menggebu.

Album terbarunya berjudul Rumput Tetangga, hasil dari endapan hati yang gundah, sekaligus dijadikan penghantar kerinduan para pengagumnya pada kejelitaan suaranya. ''Proses album ini hampir memakan waktu setahun,'' tuturnya.

Kisahnya menjadi penyanyi cukup unik. Sekian tahun lalu, Noer yang masih duduk di bangku SD kelas IV tiba-tiba naik ke atas panggung dalam suatu konser musik di kotanya. Di atas panggung seorang superstar dangdut sedang beraksi. Gadis itu tidak perduli, dia mengatakan ingin menyumbang nyanyi.

Rhoma Irama bersama grup Soneta tidak marah dan merasa terganggu dengan kelancangan gadis itu. Mereka malah mengajaknya menyanyi bersama. Dan, massa pengagum Rhoma Irama yang semula tak tahan dengan ulah gadis itu, berbalik kagum ketika mulai mendengarkan dendang si cantik mungil itu. Gadis kecil tersebut adalah Noer Halimah. ''Saya waktu itu diajak duet dengan Rhoma,'' kenangnya.

Bakat menyanyinya memang sudah ada dalam dirinya. Sejak kecil dia aktif menjadi penyanyi Qasidah di kampungnya, desa Ngoro. Peristiwa kelancangannya muncul di panggung memang sempat membuat desanya geger. Tapi peristiwa tersebut akhirnya berlalu begitu saja.

Dan suatu hari, saat Noer sudah mulai remaja dan duduk di bangku SMP, Rhoma Irama yang sedang tur ke Jombang dikagetkan lagi dengan munculnya gadis cantik di atas pentasnya. Ingin menyumbang lagu.

Saat itu Rhoma lebih terpana, bukan hanya pada keberanian Noer Halimah, tapi juga suaranya yang memang merdu. ''Ketika saya sudah di SMA, dan Rhoma tur di Surabaya saya dicari untuk menjadi partner duetnya,'' kenang Noer.

Selesai duet di panggung, Noer tak menyangka bila akhirnya Rhoma malah mengajaknya untuk rekaman. ''Ketika itu partner duetnya Rita Sugiharto sudah bersolo karier. Saya dipilih jadi pengganti,'' lanjut Noer lagi.

Bisa menyumbang lagu di pentas Soneta saat itu sudah dianggap luar biasa, apalagi ditetapkan dan dipilih jadi teman duet si raja dangdut. Tentu hal itu merupakan kebanggaan bagi setiap penyanyi dangdut saat itu. Termasuk Noer Halimah.

Bersama Soneta dan Rhoma Irama, Noer Halimah melahirkan beberapa album duet, di antaranya Pesona yang dijadikan soundtrack film Satria Bergitar dan Piano sempat melegenda. ''Kemudian saya memisahkan diri dan bersolo karir,'' kata Noer.

Perpisahannya dengan Rhoma sempat mengundang tanda tanya banyak orang, tak kurang pengamat musik dan pers juga penasaran atas mundurnya Noer dari Soneta.

Penyanyi cantik ini juga sempat mempunyai kekhawatiran bila buntut perpisahan diri itu akan mengundang gosip yang bukan-bukan. ''Antara saya dan Rhoma memang tidak ada apa-apa, lagi pula pengunduran untuk bersolo karir itu dianggap sebuah tekad baik oleh Rhoma akhirnya langkah saya itu didukung juga,'' tandas Noer lagi.

Pemilik vokal merdu yang gemar rekreasi di gunung ini malah sempat melahirkan album solo di Soneta Productions. Di antaranya yang sempat jadi hit adalah album Bayang-bayang, Surat Merah dan yang terakhir muncul tahun1998 Cemara Biru.

''Album tersebut sebenarnya dibuat tahun 1995 dan entah mengapa tiga tahun kemudian baru beredar,'' lanjutnya. Saat menunggu selama tiga tahun merupakan waktu yang melelahkan buat Noer Halimah. ''Saya memang jarang show lagi. Maklum, krisis moneter. Saya lalu memilih mendirikan usaha bengkel mobil,'' katanya.

Di sela-sela kesibukan barunya itu, tawaran kontrak datang dari Dian Record. Perusahaan rekaman tersebut merasa sayang bila Noer Halimah hilang tertelan putaran zaman. ''Dia penyanyi potensial. Jarang penyanyi dangdut yang memiliki karakter suara natural sepertinya. Cengkoknya bagus dan vokalnya khas,'' ujar Budi dari Dian Record.

Menurut Noer, lagu Rumput Tetangga berkisah tentang pria yang mata keranjang. Sudah mempunyai pacar yang mencintainya, masih juga melirik milik orang lain. ''Semacam sindiran pada perilaku pria zaman sekarang,'' tegas Noer.

Untuk menyesuaikan tema lirik, lagu karya Hendro Saky dan Eko Saky tersebut dibuat kenes, lincah dan menggemaskan. Berangkat dari tuntutan tersebut, ada semacam tantangan baginya. ''Orang mengenal saya selalu menyanyikan lagu sendu. Dalam lagu itu saya harus berubah. Ada perjuangan yang membuat saya bergairah untuk maju, yaitu tantangan tampil beda,'' kata Noer.

Lagu itu Rumput Tetangga itu pulalah yang diangkat untuk videoklipnya. (W-9)


Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.

comments powered by Disqus

Website ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn.