|
|
Rhoma Irama: Pemuja Deep PurpleHarian Kompas, 3 Mei 2002 "Superstar" dangdut, Rhoma Irama (55), tampak di antara penonton konser Deep Purple, Selasa (30/4) lalu. Rhoma datang bersama putranya, Ficky (25), yang seperti bapaknya sama-sama menyukai rock, selain dangdut. Pendiri dan pemimpin grup dangdut Soneta itu memang menggemari Deep Purple, terutama pada permainan gitaris Richie Blackmore yang kini tak lagi bergabung. Saking gandrungnya, sampai-sampai Rhoma memasukkan unsur rock dalam musik dangdut. "Saya dulu ambil sense of rock music agar Soneta kompetitif dengan rock. Deep Purple itu kan hard rock tapi sweet, manis dan melodius, jadi cocok untuk dangdut. Jadi, ini juga suatu strategi. Lagu Soneta, Badai Fitnah, itu kan rock banget," tutur Rhoma. Jangan heran jika dalam lagu Soneta berjudul Sahabat, Rhoma memainkan gitar bergaya rock, dan bernyanyi diselingi suara terkekeh-kekeh pendek, "He-he-he!" mirip-mirip gaya vokalis Deep Purple, Ian Gillan, dalam lagu Speed King yang ditampilkan dalam konser. Kini, kata Rhoma, dangdut menjadi lebih dinamis. Liriknya tidak lagi pesimistis, dan musiknya seakan harus menggunakan unsur gitar rock seperti dirintis Rhoma seperempat abad silam. Konser Deep Purple itu mengingatkan Rhoma pada era 1970-an saat terjadi "perang" antara dangdut dan rock. Saat itu, kenang Rhoma, terjadi polemik tajam di media seputar musik dangdut dan rock. Implikasinya sampai ke penggemar. "Akhirnya ada konser perdamaian di Istora pada 1979. God Bless mewakili rock, dan Soneta wakili dangdut. Kita melepas burung merpati sebagai simbol perdamaian." (XAR) |
|
Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.comments powered by DisqusWebsite ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn. |