Home > Kliping Media > Bintang Indonesia

Konser Rhoma Irama & Elvy Sukaesih Mengumpulkan Penonton Terbanyak

Bintang Indonesia

DI banding dengan acara sejenis di tempat lain, konser Rhoma Irama & Elvy Sukaesih di malam Tahun Baru 2002 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Senin (31/12) lalu, boleh dibilang berhasil mengumpulkan penonton terbanyak. Sedikitnya 250 ribu pemegang tiket seharga Rp 7.500 memadati lapangan Tugu Api Pancasila tempat berdirinya panggung megah berukuran sekitar 50 x 20 meter. Konsernya berjalan lancar dan memuaskan. Selama hampir 4 jam, Rhoma dan Elvy secara bergantian juga duet mengisi panggung, dengan lagu-lagu yang pernah populer pada tahun 70-an, seperti Helo (Hello-hello - webmaster), Mandul, Joged, Ke Monas, Rambate Rata Hayo, dan lain-lain. Acara yang disiarkan langsung SCTV, dimulai pukul 21.00 WIB.

Untuk meredam kegelisahan penonton, bila di televisi tengah iklan, sebagai selingan, di panggung ditampilkan pelawak atau penyanyi dangdut lain macam Yuyun Ekawati, Gina yang melantunkan lagu-lagu Cirebonan, seperti Goyang Dombret, Waru Doyong, dan lagu lain yang pernah dipopulerkan Elvy Sukaesih.

Untuk menyiarkan acara itu, konon SCTV perlu menyetor dana sebesar Rp 250 juta. "Biaya keseluruhan sekitar 750 juta. Kalau mengandalkan tiket masuk, nggak ketutup. Program TMII
ini memang berorientasi sosial. Namanya juga Pesta Rakyat. Yang penting bisa menghibur sekaligus menyisipkan pesan pendidikan pada masyarakat. Ini program rutin setiap tahun.
Artisnya ganti-ganti. Memang kali ini panggungnya lebih besar dari biasanya," ungkap Mas'ud Thoyib dari pihak TMII.

Beberapa menit sebelum tahun 2001 berakhir, Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, memberi sambutan dan berkenan duet dengan Rhoma Irama lewat lagu Begadang. Sementara dari jajaran Muspida yang mengawal gubernur ikut bertepuk tangan dari belakang. Konsep pergelaran ini, menganalogikan Rhoma dan Elvy sebagai Raja Sulaiman dan Ratu Seba dari kerajaan Balkis.

Panggung diset seperti pendopo kerajaan Balkis. Para penari latar, didandani seperti dayang-dayang kerajaan. Tema ini sebenarnya ide penyelenggara. Mereka digambarkan sebagai raja
dan ratu yang sama-sama mempunyai kerajaan. Suasana itu makin kental dan legitim dengan hadirnya MURI (Museum Rekor Indonesia -red.) yang memasukkan Rhoma dan Elvy sebagai raja dan ratu dangdut Indonesia. Meski terlambat, tentu cukup menghibur. Soalnya, jauh sebelum itu, di tahun 1985, majalah Asia Week telah menempatkan Rhoma Irama sebagai raja musik
Asia Tenggara.

Sukses duet Rhoma dan Elvy, sekilas bisa dijelaskan dengan mudah. Tapi kalau diperhatikan, sukses itu tak melulu lantaran kebesaran nama Rhoma dan Elvy. Banyak faktornya. Semula
panitia menduga, konser rujuk Rhoma-Elvy yang telah berpisah selama 26 tahun bakal dibanjiri penggemarnya dari zaman itu.

Tapi ternyata penonton yang hadir sebagian besar berusia 20 tahunan. Mereka yang kebanyakan belum lahir saat lagu, seperti Mandul, Rambate Rata Hayo, Malam Terakhir, dan Ke Monas, dipopulerkan. Barangkali di sini letak kehebatan Rhoma. Lagu itu tetap populer walau telah dinyanyikan berkali-kali sejak dulu. Selain lagu itu tak lekang oleh waktu, peran penyanyi duet macam Nada dan Nadi (menyanyi lagu Malam Terakhir - red.), Intan Ali, Evie Tamala, dan penyanyi dangdut lain yang pernah menyanyikan kembali lagu-lagu Rhoma, menjadi penting. Mereka menjadi jembatan antara generasi dulu dan sekarang.

Tapi bukan Rhoma Irama namanya kalau hanya mendompleng popularitas. Karena lagu-lagu itu karyanya sendiri, Rhoma mencoba mengubah syairnya.Rhoma berusaha menciptakan hal yang baru. Dengan enteng Rhoma mengubah lagu-lagu lama menjadi baru. Seperti lagu Ke Monas. Supaya lebih relevan dan aktual syairnya diganti dari /kita ke Monas saja/, menjadi Kita Ke Taman Mini. Perubahan itu tentu tak semata-mata lantaran pergelaran itu dilaksanakan TMII. Tapi Rhoma menangkap ada pergeseran bahwa tempat liburan yang murah tak lagi di Monas saja, tapi juga di Taman Mini. Sikap itu juga sekaligus menunjukan betapa proses kreatif lebih banyak dipengaruhi faktor individual pencipta. Menurut Cornelis Anthonie Van Peursen, pakar filsafat dari Belanda, proses kreatif itu lahir hasil tarik menarik antara dorongan dari dalam yang bisa dikendalikan (imanensi) dan pengaruh dari luar yang tak bisa dikontrol (transendensi), seperti kehendak pasar. Nah, Rhoma berhasil membawa proses kreatifnya ke sudut imanensi. "Dulu Papa lebih memilih keluar dari UI (Universitas Indonesia - red.) gara-gara saat Mapram (Masa Pra Mahasiswa -red.) diminta menggunting rambut gondrongnya. Papa menolak bentuk pemaksaan seperti itu," ungkap Deby, anak sulung Rhoma.

Juga saat Rhoma dan Elvy Sukaesih mengalami perbedaan pendapat. Mereka sepakat memilih jalan sendiri-sendiri. "Kami tidak bermusuhan. Beda pendapat dalam musik, itu wajar. Hubungan kami tetap baik. Kami bersyukur bisa duet kembali. Rencana awalnya sebenarnya ingin bikin rekaman dulu baru manggung," ungkap Rhoma Irama usai pertunjukan. Apakah karena lagu-lagu itu diciptakan dalam kondisi seperti itu, hingga tetap mempunyai tenaga meski telah melampaui zamannya? Tak tahu pasti. Yang jelas, lagu-lagu yang diciptakan Rhoma semua bertema kemanusiaan. Dicuplik dari peristiwa sehari-hari dalam masyarakat biasa. Bukan dari golongan yang ada di awang-awang. Struktur kalimat dalam syair lagu-lagu Rhoma tidak berbenturan dengan kondisi masyarakat pada saat itu, bahkan sampai sekarang. Baik gaya bahasa, cerita, maupun pilihan kata-kata yang dipakai, sesuai dengan cara ungkap masyarakat. Maka dari itu, banyak pencipta mencoba menerapkan formula ini. Ada yang sukses, tak sedikit yang gagal. Menggali struktur sebuah masyarakat butuh ketrampilan. Dan Rhoma Irama memiliki itu. guh


Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.

comments powered by Disqus

Website ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn.