Home > Kliping Media > Lain-lain

Ketika “Sang Raja” ke Beringin

Tabloid Aksi, No. 19 Tahun I, 1 – 7 April 1997

  • Dia menolak disebut “kutu loncat”. “Saya masuk Golkar untuk memperjuangkan umat Islam,” katanya.

Ketika raja dangdut Rhoma Irama dirangkul Golkar dan terdaftar sebagai salah satu caleg dari pohon beringin itu, tak urung langkahnya itu membuat geger orang. Reaksi datang dari kubu DPP PPP. Boleh jadi PPP kesal. Sebab selama ini, Rhoma boleh dibilang ‘bintang’ PPP. Pada pemilu 1977 dan 1982, Rhoma mendukung kampanye PPP. Ia menjadi juru kampanye yang paling diandalkan. Tak cuma itu. Dalam kampanye, Rhoma pun ikut menyiapkan topi, kaus, dan pamplet. Dan, semua itu dilakukan secara sukarela, tanpa bayaran sepeser pun.

Dalam dua periode itu, kampanye Rhoma selalu dipadati massa. Dengan suara bening, selain mengajak massa untuk mencoblos PPP, Rhoma juga menyanyi. Walhasil, pada Pemilu 1977, perolehan kursi PPP di Jakarta mengalahkan Golkar. Begitu juga pada Pemilu 1982, perolehan PPP terbilang lumayan, kendati tak mampu mengalahkan Golkar. Alasan Rhoma memilih PPP saat itu karena ia seorang Muslim yang harus memilih pimpinan yang Muslim pula. Ia melihat PPP berasaskan Islam, sehingga ia memilihnya sebagai salah satu jihad.

Ketika Golkar dipimpin Sudharmono, Rhoma sudah ditawari untuk bergabung dengan OPP itu. Namun ditolaknya karena ia melihat tidak ada satu partai pun yang berjuang atas nama Islam. Ia mengaku saat itu tidak termotivasi untuk terjun dalam kancah politik. Pada Pemilu 1987, Rhoma pamit kepada PPP. Ia mundur dari percaturan politik praktis. Tahun 1997, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Golkar DKI Jakarta, Tadjus Sobirin mengajaknya untuk bergabung dengan Golkar. Tapi, dia tak memberi tanggapan positif.

Usaha Golkar untuk membujuk Rhoma masuk dalam naungan Golkar tak sia-sia. Pertengahan eptember 1996, saat daftar calon legislatif (caleg) sementara diumumkan di Lembaga Pemilihan Umum, nama Rhoma tercatat di situ. Rhoma masuk dalam daftar caleg jadi, yakni nomor empat. Rhoma diharapkan bisa menambah jumlah kursi Golkar di wilayah Jakarta.

Tak jelas siapa sebenarnya yang berhasil melunakkan sikap Pak Haji itu –demikian banyak orang di sekelilingnya biasa memanggilnya. Ada yang mengatakan Siti Hardijanti Rukmana yang akrab dipanggil Mbak Tutut yang berhasil membujuk Rhoma. Puteri sulung Presiden Soeharto –yang juga sebagai salah satu Ketua Golkar– adalah salah satu orang yang mampu menarik Rhoma. Tapi, Mbak Tutut membantah bahwa ia yang menghubungi Rhoma.

Tapi, tawaran menarik ini, tak langsung diiyakan begitu saja oleh Rhoma. Ia memerlukan waktu 45 menit untuk mempertimbangkannya. Pada akhirnya setelah melakukan shalat istikharah, ia memutuskan untuk menerima. Keputusan ini jelas membuat Golkar bersuka cita. Sudah terbayang berapa banyak perolehan suara dengan masuknya Rhoma ke Golkar. Ya, kemampuan Rhoma tak bisa diragukan lagi. Jumlah massa penggemarnya ribuan. Masuknya Rhoma ke Golkar, diharapkan akan mengalihkan massanya ke pohon beringin.

Dalam daftar caleg, idola masyarakat tak cuma nama Rhoma yang tercantum, tetapi juga ada beberapa nama populer lainnya. Masuknya Rhoma dan idola lainnya ini diharapkan Golkar mampu memperoleh suara sebanyak-banyaknya pada Pemilu 1997. Setidaknya inilah yang menjadi harapan Golkar, sebagaimana diakui Ketua DPP Golkar Agung Laksono.

Keputusan Rhoma jelas membuat PPP kecewa. Julukan “kutu loncat” dialamatkan untuk Rhoma. Tetapi Rhoma menolak cap itu. Ia punya alasan tersendiri bergabung dengan Golkar. Kepada wartawan di DPP Golkar beberapa waktu lalu, ia mengaku saat vakum dari kegiatan politik, ia memperhatikan seluruh sepak terjang tiga partai di Indonesia yang paling valid dalam menyuarakan aspirasi Islam. Hasilnya, ia melihat Golkarlah yang paling valid dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk kehidupan beragama, terutama Islam. Ia menilai dengan Golkar ia bisa menjalankan misinya secara efektif.

Namun yanga agak berbeda –ketika di PPP– Rhoma hanya dijadikan vote getter. Pada saat itu ia tak mau dicalonkan sebagai caleg, dengan alasan bukan orang politik. “Saya ini seorang penyanyi,” katanya ketika itu. Barulah di Golkar ia bersedia jadi caleg dan tak cuma sebagai vote getter. “Sang Raja” memang ingin tampil total. (Sri Wulandari)


Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.

comments powered by Disqus

Website ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn.