|
|
YATIE OCTAVIA: Pernah Dibayar 50 Juta untuk Satu Judul FilmBintang Indonesia GENERASI yang lahir di era '80-an, mungkin, kurang tahu banyak siapa sebenarnya Yatie Octavia (47), pemeran Ratih di sinetron Kalau Cinta Jangan Marah, SCTV. Padahal, wajahnya tetap kerap muncul di layar kaca, semisal di sinetron Bunga-Bunga Kehidupan, Romantika, Saras, Cewek Komersil, Gejolak Jiwa, dll. Memang, Yatie tidak lagi kebagian peran utama, melainkan peran pendukung, memerankan ibu, misalnya. Tak usah heran di lokasi syuting dia sering dipanggil dengan sebutan ibu, bunda, mami, atau mama oleh pemain-pemain baru. ''Saya menganggap pemain-pemain yang berusia lebih muda sebagai anak saya sendiri,'' kata Yatie sembari tersenyum. Usia Yatie memang terus bertambah. Begitu pula dengan berat badannya. Pernah naik sampai 15 kg. Kerut-kerut kecil memang sudah muncul di bawah matanya. Namun wajah Yatie tetap mulus. ''Di luar semua itu, semuanya masih asli lho, hahaha,'' tegas Yatie sambil tertawa. Begitulah Yatie Octavia. Meski tak lagi dielu-elukan sebagaimana di masa jayanya, dia tetap bisa hidup normal. Dia masih ingat betul peringatan yang disampaikan Pangky Suwito, yang menikahinya pada 1979 -- setelah cerai dengan suaminya yang pertama. ''Tidak selamanya kamu menjadi bintang film. Ada generasi yang akan menggantikan. Jadi, lebih baik hidup biasa-biasa saja. Dan, ternyata hidup seperti itu membuat saya lebih tenang,'' ungkap Yatie. Kini, dia lebih banyak mendedikasikan waktunya untuk keluarga: suami dan anak-anaknya. Hidup tenang dan tidak banyak pikiran dia jadikan sebagai pegangan. Yatie mengawali karier pada 1971, saat usianya baru 17 tahun. Film pertamanya berjudul Intan Perawan Kubu. Meski hanya sebagai figuran, justru wajah Yatie-lah yang ''dijual'' untuk promosi. Yatie tak pernah melupakan pengalaman ini. Berperan sebagai istri kepala suku, dia diharuskan bertelanjang dada --tapi bagian depan ditutupi rambut panjangnya. Sebenarnya, Yatie berkeras menolak adegan itu. Bahkan sampai menangis. Buntutnya, dia disuruh pulang dari lokasi syuting di Jambi, sendirian pula. Akhirnya -- dengan terpaksa -- dia bersedia mengikuti kemauan sutradara. Perkenalan yang tak mengenakkan dengan dunia film. Pengalaman itu ternyata tak membuatnya kapok. Dia malah mendapat banyak tawaran, meski masih sama, sebagai pemeran pembantu, salah satunya di film Brandal-Brandal Metropolitan. Setelah berjuang keras selama 3 tahun, pada 1974 lewat film Hamidah dia mulai mendapat yang diinginkannya. ''Saya mulai menjadi leading lady,'' ujar Yatie bangga. Pada masa itu, terjadi booming film-film panas. Dia sendiri mengaku tak pernah punya keinginan untuk mengeksploitasi kemolekan tubuhnya. Tapi dia tak mampu membendung tawaran untuk berperan di dalamnya. Dalam perkembangannya Yatie malah dikenal sebagai salah satu bom seks kala itu, lewat beberapa film yang mengguncang pasar, semisal Ali Topan Anak Jalanan (1977), Akibat Pergaulan Bebas (1977), Rahasia Cinta (1978), dll. ''Saya memang bermain dalam film panas, tapi tidak vulgar,'' aku Yatie. Untuk beberapa peran yang benar-benar panas, dia menggunakan jasa pemeran pengganti. Puncak kejayaan Yatie memang dalam kurun ini, 1976-1978. Masa itu, selain liputan pers yang terus menerus, sambutan penggemar juga beraneka ragam. ''Pokoknya, tingkahnya macam-macam,'' beritahu Yatie tanpa merinci lebih jauh. Film Akibat Pergaulan Bebas yang dia bintangi bersama Jenny Rachman, Roy Marten, Robby Sugara, Dorris Callebaute -- menurut data Perfin -- tercatat sebagai film paling laris di Jakarta dengan penonton 311.286 orang. Begitu juga dengan film Rahasia Perkawinan yang dibintangi bareng Roy Marten. Dalam pembuatan film ini, Yatie sempat mengalami luka bakar, tepatnya saat pengambilan gambar adegan keluar dari gubuk yang dibakar. Peristiwa ini sempat menimbulkan masalah asuransi pemain dan karyawan film yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Kesediaan Yatie untuk digunduli juga menjadi sensai tersendiri yang diekspos media habis-habisan. Film ini juga tercatat sebagai paling laris di Jakarta dengan penonton 178.007 orang, meraih beberapa penghargaan pada Festival Film Indonesia (FFI) 1979-1980, salah satunya Piala Antemas (FFI 1980) untuk film terlaris. Kedua film itu membuat nama Yatie semakin berkibar. Namanya dimasukkan dalam jajaran bintang papan atas yang dikenal dengan sebutan The Big Five, lima artis termahal, bersama Roy Marten, Robby Sugara, Jenny Rachman, dan Doris Callebaute. Citra Yatie Octavia berubah total setelah bermain bersama Si Raja Dangdut Rhoma Irama melalui beberapa film, seperti Begadang (1978), Rhoma Irama Berkelana I (1978), Berkelana II (1978), Pengorbanan (1982), dll. Di film yang dia bintangi bersama Rhoma Irama, Yatie Octavia berperan sebagai Ani. Nama Ani sangat lekat di hati para penggemar Rhoma Irama. ''Ke mana pun pergi, saya selalu dipanggil Ani,'' kenang Yatie Octavia. Bersama Rhoma Irama pula, Yatie menerima honor paling tinggi. ''Saya dibayar 50 juta untuk satu judul film,'' ungkapnya terus terang. Wow, jumlah yang sangat tinggi untuk ukuran waktu itu. sl |
|
Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.comments powered by DisqusWebsite ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn. |