Sri Mulyani: Ahok Layak Jadi Presiden RI

Sumber: Seword.com, 02-04-2017
URL: https://seword.com/politik/sri-mulyani-ahok-layak-jadi-presiden-ri/ (sudah putus)

Oleh Argo

Menteri Keuangan Sri Mulyani memuji prestasi dan kinerja Ahok yang tokcer dalam upayanya membangun Jakarta tanpa menggunakan sepeser pun APBD DKI Jakarta. Mulai dari proyek-proyek Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), proyek-proyek Rumah Susun, baik itu Rusunawa maupun Rusunami, sampai yang terkeren yaitu proyek prestisius Simpang Susun Semanggi.

Sri Mulyani fokus dalam proyek Simpang Susun Semanggi yang digarap Ahok tanpa menggunakan sepeser pun APBD DKI, melainkan dibiayai dari kewajiban pengembang yang meminta penambahan Koefisien Luas Bangunan (KLB) sebagaimana diatur Ahok dalam Peraturan Gubernur Nomor 175 Tahun 2015.

Sampai saat ini jumlah kompensasi dari pihak pengembang yang sudah tercatat dan wajib dibayar oleh Pengembang ke Pemprov DKI sudah mencapai Rp 579 miliar, sedangkan dana proyek Simpang Susun Semanggi hanya sebesar Rp 369 miliar saja. Masih sisa Rp 210 miliar kewajiban Pengembang untuk dimanfaatkan Ahok membiayai proyek-proyek pembangunan lainnya, baik itu fasos maupun fasum lainnya di DKI Jakarta.

Proyek spektakuler ini digagas Ahok karena selama ini kawasan Semanggi adalah titik pertemuan arus kendaraan dimana semua ruas jalan masuknya ke titik sentra Semanggi dari berbagai arah, sehingga seringkali terjadi kemacetan yang parah baik di pagi hari, sore hingga malam hari.

Proyek raksasa Simpang Susun Semanggi ini akan jadi ikon baru Jakarta setelah Monas tak hanya menyimpan kecanggihan, tetapi estetika dengan makna personal bagi Jakarta. Salah satu estetika yang akan dinikmati warga nantinya adalah gempuran pencahayaan lampu warna-warni di sepanjang bentang Simpang Susun Semanggi.

Pagar flyover atau parapet dibangun dengan corak motif daun Semanggi di sisi luarnya, sedangkan di sisi dalam akan bermotif gigi balang seperti rumah adat Betawi. Simpang Susun Semanggi bentuknya seperti daun Semanggi yang mengapung di atas air, lampunya itu bisa disetel warnanya untuk memberikan efek seperti gelombang air.

Pencahayaan Simpang Susun Semanggi ini didesain oleh pakar pencahayaan dari Australia dimana lampu-lampunya langsung dikendalikan dari Balai Kota, yaitu dari pusat Jakarta Smart City besutannya Ahok.

Proyek prestisius yang digagas Ahok ini senilai Rp 369 miliar yang dibangun dengan sistem dua Ramp, yaitu dari arah Grogol ke Blok M dengan jarak 796 meter dan dari arah Polda Metro Jaya ke Monas dengan jarak 826 meter dimana lebar jalannya seluas 8 meter dengan sistem dua jalur. Jarak antar kolom terjauh, sekitar 80 meter.

Proyek Simpang Susun Semanggi ini dilakukan dengan skema rancang bangun. Dua flyover yang melingkar ini tersusun dari 333 segmental box girder yang telah dicetak (precast) untuk kemudian disusun.

Proyek besutannya Ahok ini menggunakan teknologi tercanggih di mana proyek ini merupakan sejarah pertama di Indonesia yang memasang precast yang membentang sepanjang 80 meter diatas Semanggi.

Dengan adanya Simpang Susun Semanggi tersebut maka arus kendaraan dari arah Grogol menuju Blok M tidak perlu lagi masuk ke kupingan Semanggi, begitu juga dengan arus kendaraan dari arah Polda Metro Jaya menuju Monas, sehingga akan mengurangi kemacetan hingga 40 %.

Pekerjaan proyek Simpang Susun Semanggi dikerjakan oleh BUMN PT Wijaya Karya sejak 8 April 2016. Target Ahok, wajah terbaru Semanggi ini akan selesai pada hari kemerdekaan RI, yaitu pada tanggal 17 Agustus 2017.

Proyek non APBD ini ini membuat Menteri Keuangan Sri Mulyani angkat jempol dan berdecak kagum. Sri Mulyani menilai bahwa Ahok pantas jadi Presiden RI karena kinerja, prestasi dan pencapaiannya melebihi kemampuan dan kapasitasnya seorang Gubernur.

Kekaguman Sri Mulyani terhadap Ahok jelas ada dasarnya karena Sri Mulyani menilai pengelolaan APBN yang dianggarkan dalam APBD oleh sebagian besar Kepala daerah saat ini realisasi belanja mereka sangat jauh dari yang diharapkan oleh negara karena tingkat efektivitas pengelolaan APBD mereka sangat rendah.

Beda dengan Ahok, selain dana kompensasi dari pihak pengembang dan dana CSR yang dikumpulkan Ahok itu dimanfaatkannya dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin agar hasilnya dapat dinikmati oleh warga DKI, mulai dari ratusan RPTRA yang telah dibangun di seantero Jakarta sampai proyek Simpang Susun Semanggi tanpa menggunakan satu rupiah pun yang dicomot dari APBD DKI Jakarta.

Sri Mulyani menekankan bahwa Pengelolaan APBN tidak hanya tentang bagaimana uang bisa masuk, namun juga keluar dengan tepat. Pernyataan Sri Mulyani sebenarnya menyentil penggunaan anggaran yang tidak tepat sasaran dengan tingkat efektivitas yang sangat rendah.

Jadi kalau Anies Baswedan dan Fahri Hamzah, entah lugu atau karena mereka memang belum pengalaman jadi Gubernur, menuding Ahok tidak becus memanfaatkan anggaran APBD DKI, hanya 60% saja dan penggunaan dana CSR dianggap sangat berbahaya oleh Fahri Hamzah, maka mereka salah besar.

Justru Ahok dengan etos kerja yang tinggi telah melakukan penghematan APBD DKI yang luar biasa besar. Tanpa menggunakan APBD DKI pun, Ahok mampu membangun Jakarta dengan maksimal.

Memangnya ada Gubernur di Indonesia ini yang mampu membangun kotanya tanpa menggunakan APBD? Belum ada seorang pun, kecuali Ahok. Tanpa Ahok, kebocoran dana APBD DKI akan terjadi dengan semena-mena diembat oleh oknum-oknum serakah yang duduk manis di gedung DPRD DKI.

Justru serapan APBD DKI yang ditekan Ahok saat ini ternyata jauh lebih banyak hasilnya dan spektakuler dibandingkan era Gubernur-Gubernur DKI Jakarta sebelumnya di mana APBD DKI habis terkikis digunakan tapi hasilnya nihil.

Serapan tinggi atau serapan maksimal hingga habis bukan jaminan bahwa tujuan atau sasaran dapat tercapai. Bahkan dalam banyak kasus, terutama di negara kita tercinta ini, serapan dana APBD yang tinggi justru sering berakhir dengan dana yang disunat, dicuri, digelembungkan (mark-up) sefantastis mungkin untuk dikorupsi dengan semena-mena.

Jadi wajar kalau Menteri Keuangan sekaliber Sri Mulyani berpendapat bahwa Ahok lebih pantas dan layak jadi Presiden RI daripada mulut nyinyir Anies Baswedan dan Fahri Hamzah yang bisanya hanya menista.

Kura-kura begitu.

Catatan Ahmad

Tulisan di atas merupakan salinan dari situs Seword.com yang ditulis oleh Argo, salah seorang kontributornya. Saat ini artikel telah dihapus dari Seword, namun jejaknya masih dapat dilihat pada Google Cache.

Komentar

  • Avatar Paijo • 21 hours agoBaca tulisan mas Argo serasa nonton serial mega structures di NGC. Mungkin menurut si mulut bencong fahri, dana csr tak akan bahaya jika masuk kantongnya, haha. Orang sekaliber mbak Sri aja mengakui kehebatan bang Ahok. Cuma si fahri & gerombolannya yg ga mikir.
  • Avatar Putra Makassar • 20 hours agoJempol buat Bro Argo..
    Karya anda layak dibaca dan perlu…
  • Avatar Ichsan Alamsyah • 21 hours agoLink berita pernyataan Bu Sri Mulyani ada nggak…? Kok sudah saya cari-cari, tidak ketemu…
Bagikan artikel ini:
Share