Tumbang Saham Tak Terbilang

Sumber: Tempo, 18-02-2018
URL: https://majalah.tempo.co/read/154956/tumbang-saham-tak-terbilang

Harga saham Grup Lippo terus melemah. Promosi Meikarta belum mampu mendongkrak kinerja perseroan.

SAHAM-saham murah milik Grup Lippo sempat membuat Wiangga kepincut. Alih-alih langsung tergiur, karyawan kantor periklanan di Jakarta Pusat itu mencermati kinerja keuangan Lippo agar investasinya tak merugi. “Yang sedang undervalue bisa naik lagi kalau fundamentalnya bagus,” ucap Wiangga, Rabu pekan lalu.

Wiangga mesti berhati-hati karena masa emas Grup Lippo di lantai bursa tengah berada di ujung tanduk. Saham-saham perusahaan di grup ini rontok dalam tiga tahun terakhir. Dua di antaranya, yaitu PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) dan PT Siloam Hospitals Tbk (SILO), tak lagi menjadi anggota kelompok saham paling likuid dan memiliki kapitalisasi besar (blue chips). Bursa Efek Indonesia bahkan mengeluarkan dua emiten tersebut dari daftar LQ-45 sejak akhir Januari 2017.

Saham PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) juga terkena rebalancing per 30 November 2017. Lippo Karawaci terlempar dari daftar indeks acuan Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia. Emiten ini masuk ke indeks saham-saham dengan kapitalisasi kecil atau disebut MSCI Small Cap Index. Riset pasar ini kerap menjadi acuan bagi investor dan manajer investasi global.

Grup Lippo memiliki ratusan perusahaan di bidang properti, asuransi, perdagangan, retail, rumah sakit, hingga teknologi. Dua entitas yang berperan sebagai holding adalah PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dan PT Multipolar Tbk (MLPL). Lippo Karawaci membawahkan bisnis apartemen, real estate, perhotelan, perkantoran, asuransi, dan rumah sakit. Di antaranya PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO), dan PT Gowa Makassar Tourism Development Tbk (GMTD). Sedangkan Multipolar bergerak di bidang investasi, perdagangan, retail, dan teknologi. Multipolar menaungi antara lain PT First Media Tbk (KBLV), PT Link Tbk (LINK), PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), dan PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA).

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan anjloknya saham-saham Lippo dipengaruhi kelesuan perdagangan di sektor properti. Goyangnya bisnis utama Lippo ini membuat sahamnya terdepresiasi sejak 2015. Harga saham Lippo Karawaci, misalnya, terjun hingga 55,36 persen selama tiga tahun terakhir. Menurut Hans, bisnis properti terakhir booming pada 2013, lalu slowing down sampai ke titik rendah pada 2016. “Tapi penurunan harga saham milik Lippo lebih besar dibanding yang lainnya,” kata Hans.

Lippo Karawaci pernah berjaya saat harga sahamnya menyentuh Rp 1.850 per lembar pada medio 2013. Kesuksesan itu berlanjut pada awal 2015. Meski setelah itu menurun, harga sahamnya bertengger di angka Rp 1.460. Penurunan berlanjut pada 2016 dan kian merosot pada awal tahun lalu. Dalam penutupan perdagangan Rabu pekan lalu, harga saham Lippo Karawaci bertengger di level Rp 520 per lembar selama dua hari berturut-turut. Volume transaksinya 9,18 miliar. Harganya anjlok 53,4 persen dibanding periode yang sama pada 2015.

Begitu pula pada PT Multipolar. Nilai sahamnya terjun bebas minus 81,7 persen sejak medio 2015. Pada penutupan perdagangan Rabu pekan lalu, harganya Rp 168 per saham. Pada periode sama tahun 2015, harganya Rp 740.

Anak-anak usahanya bernasib sama. Saham Matahari Putra Prima merosot hingga 86 persen dalam tiga tahun terakhir. Harga saham pengelola Hypermart, Foodmart, dan Boston ini pernah berada di level Rp 4.500, tapi kini hanya Rp 460. “Bisnis retail terkena imbas disrupsi beralih ke transaksi online,” ucap Hans. Perubahan ini mengganggu bisnis Matahari. “Ditambah lagi ada berita Hypermart yang menunggak bayar ke puluhan supplier-nya tahun lalu,” katanya.

Hal yang sama dialami pemegang proyek Meikarta, PT Lippo Cikarang. Nilai saham Lippo Cikarang turun 67,6 persen sejak 2015. Satu tahun terakhir, performanya terus-terusan merah. Nilai sahamnya kini hanya Rp 3.290 per saham, padahal dulu mencapai Rp 12.400 per lembar.

Rencana pembangunan Kota Meikarta di Cikarang, Jawa Barat, tak terlalu mendongkrak saham Lippo Cikarang. Saat diumumkan pada Mei tahun lalu, harga saham LPCK naik tipis di level Rp 4.140. Sebagian investor, menurut Hans, lebih tertarik membeli unit di Meikarta daripada membeli saham LPKR.

Analis senior Binaartha Parama Sekuritas, Reza Priyambada, menilai isu perizinan yang belum tuntas di proyek senilai Rp 278 triliun itu memberi sentimen negatif bagi pelaku pasar. Tak mengherankan bila penjualan unit belum mampu menopang keuangan perusahaan. Biaya iklan promosi Meikarta yang dikeluarkan Lippo juga dianggap terlalu jorjoran. “Ongkosnya cukup besar dibanding pendapatan perusahaan,” ujar Hans.

Riset Nielsen Indonesia menyebutkan Lippo merogoh kocek Rp 1,2 triliun untuk promosi proyek Meikarta. “Selama belum ada realisasi, Meikarta cost center saja.” Reza menilai masyarakat menengah ke atas yang menjadi target pasar Meikarta memilih menahan belanja.

Merosotnya harga saham Grup Lippo berdampak pada penurunan total kapitalisasi pasar. Berdasarkan laporan keuangan pada akhir September 2017, kapitalisasi pasar Lippo Karawaci tinggal Rp 12 triliun atau turun dibanding pada September 2016, yang sebesar Rp 22,8 triliun. Adapun kapitalisasi pasar Multipolar per 30 Juni 2017 hanya Rp 1,69 triliun, turun dari posisi Rp 3,6 triliun pada September 2016.

Dari sisi fundamental, pendapatan perseroan cenderung datar. Pendapatan Lippo Karawaci pada Januari-September 2017 hanya Rp 7,5 triliun—naik sedikit dibanding pada periode sama 2016, yang sebesar Rp 7,43 triliun. Adapun pendapatan divisi residensial dan urban development turun 20 persen.

Lippo beralasan hal ini dipicu oleh penurunan pendapatan dari penjualan townships menjadi Rp 957 miliar. Sedangkan pendapatan dari proyek kota baru, seperti Meikarta dan Millenium Village, hanya Rp 983 miliar. “Ini mencerminkan pelemahan pasar properti di Indonesia selama sembilan bulan pada 2017,” kata juru bicara Lippo Karawaci, Danang Kemayan Jati.

Di tengah pelemahan bisnis properti, bisnis kesehatan Lippo masih lebih bersinar. Pendapatannya tahun lalu tumbuh 12 persen menjadi Rp 4,3 triliun. Lippo kembali membuka delapan rumah sakit baru. Akhir tahun lalu, mereka menginvestasikan Rumah Sakit Siloam Yogyakarta dan Lippo Plaza Yogya kepada Real Estate Investment Trust di Singapura.

Manajemen berharap penjualan aset akan mendongkrak pendapatan Lippo Karawaci Rp 579 miliar. Cara ini juga dipakai untuk menambah laba bersih Rp 237 miliar. “Transaksi penjualan membuktikan keberlanjutan strategi asset light dan recycling capital LPKR,” ucap Presiden Direktur Lippo Karawaci Ketut Budi Wijaya dalam keterangan resmi laporan keuangan pada Januari lalu.

Ketut menilai pemanfaatan hasil penjualan beberapa properti untuk membiayai pembelian properti baru akan memperkuat posisi keuangan dan arus kas. Strategi ini pula yang dipakai untuk menyeimbangkan portofolio saham. Manajemen juga masih berharap pada pertumbuhan pendapatan berulang dari penyewaan gedung.

Bisnis retail dan teknologi di bawah Multipolar justru merugi sepanjang Januari-Juni 2017. Total kerugian mencapai Rp 323,5 miliar atau meningkat dibanding pada periode sama tahun lalu, yang rugi Rp 47,6 miliar. Pendapatan penjualan turun menjadi Rp 8,6 triliun dari sebelumnya Rp 8,7 triliun. Laba operasionalnya minus Rp 202,5 miliar.

Para analis menilai melemahnya kinerja Multipolar terdorong oleh lesunya bisnis retail milik Matahari Putra Prima dan Matahari Department Store. Kerugian Matahari Putra Prima mencapai Rp 170 miliar per Juni 2017. Angka penjualannya hanya menembus Rp 6,7 triliun. Angka penjualan Matahari Department Store hingga September lalu Rp 7,5 triliun. Meski tak merugi, gerai busana ini hanya membukukan laba tak lebih dari Rp 2 triliun.

Melihat laporan ini, investor perlu bersabar lebih lama untuk berinvestasi di Grup Lippo. Hans menilai pemulihan bisnis retail dan properti Lippo membutuhkan waktu empat tahun. “Kalau bersedia hold bisa dipertimbangkan, tapi kalau hanya untuk dua tahun banyak sektor lain lebih menarik,” ujarnya. Itu sebabnya kinerja keuangan dan prospek pertumbuhan industri menjadi kunci. Apalagi untuk investasi jangka panjang.

Putri Adityowati

Bagikan artikel ini:
Share