Wahai Umat Islam yang Terlanjur Tersesat Jalan: Menuduh Siapa?

Sumber: Majalah Islam Furqon, edisi 85 tahun IX, Desember 2011

Tuhan kita sama, Nabi kita sama
Tuhan kita sama, kiblat kita sama
Kenapa harus saling mengkafirkan
Shalat kita sama, puasa kita sama
zakat kita sama, haji kita sama
kenapa harus saling membid’ahkan
Baca qunut dan tidak baca semuanya benar
Perbedaan raka’at tarawih semuanya benar
Yang tak benar yang tak sembahyang
Wahai umat Islam yang terlanjur tersesat jalan
Kembalilah pada jalan yang digariskan Tuhan

Di dalam lirik lagu tersebut, ada beberapa clue yang dapat kita pakai untuk menjadikan lirik dari Rhoma ini akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Dua bait pertama Rhoma menggambarkan seolah-olah umat islam jadi saling menuduh, saling mengkafirkan, saling membid’ahkan, hanya saja karena persoalan apakah hal itu tidak diterangkan secara rinci.

Kuat ditengarai Rhoma hendak lempar batu sembunyi tangan sebenarnya Ia hendak menuduh satu kelompok muslim saja, namun agar terkesan bias dan kabur, maka digunakanlah kalimat ‘kita’ untuk menegaskan bukan banya dirinya saja, tetapi bisa juga saya, engkau, bahkan seluruh umat islam telah terjebak dengan keadaan saling mengkafirkan, membid’ahkan dan sebagainya.

Pada bait ketiga barulah persoalan itu sedikit terang, karena saling mengkafirkan, saling membid’ahkan ini umat islam pada akhimya menjadi sesat. Sesatnya karena perdebatan klasik, baca qunut dan tidak baca qunut, perbedaan raka’at tarawih antara 23 dan 11 juga menjadi masalah klasik, karena perbedaan itulah mereka dianggap sesat.

Sungguh terlalu berani Rhoma Irama menuduh umat islam yang tersandung masalah fiqh ini sebagai sesat, padahal kriteria sesat didalam Al Qur’an dan sunnah karena pengingkaran yang serius. Di dalam tafsir surat al fatihah pada kata yakni jalannya orang-orang yang diberi nikmat, bukannya Jalan yang dimurkai Allah dan bukan pula jalannya orang-orang sesat dikatakan oleh Ibnu Katsir bahwa orang yang tersesat tak lain adalah kaum Nasrani sedangkan kaum yang dimurkai Allah tak lain adalah kaum Yahudi. Orang Nasrani dianggap sesat karena Ia kehilangan pengetahuan, dan karenanya Ia menjadi bodoh dan tidak bersedia mengamalkan ajaran mereka atau tidak taat pada Tuhan mereka karena kebodohannya. Sedangkan Orang Yahudi dianggap dimurkai Allah karena mereka telah mengetahui kebenaran namun justru mengingkarinya.

Apakah kesesatan yang dimaksud Rhoma adalah seperti kesesatan orang-orang Nasrani karena kebodohannya terhadap kebenaran dan karena kesyirikannya? Jelas tidak, tak mungkin seorang muslim dituduh sesat sedemikian parahnya, maka dari itu tuduhan Rhoma itu laksana bola liar yang bisa mengenai siapa saja. Rhoma Irama sama sekali tak jelas tengah menuduh siapa ketika Ia mengatakan umat islam telah tersesat jalan.

Bisa jadi, tuduhan Rhoma Irama ini bisa juga menyerang sesama muslim secara umum atau keseluruhan, atau bisa juga menuduh sesama muslim yang menjauhi bid’ah dan menyeru pada sunnah, atau menyerang mereka yang berbeda secara khilafiyah pada mazhab-mazhab fiqh.

Menyerang sesama muslim secara umum

Mana mungkin mereka tersesat? Selama mereka masih bertauhid, kemudian menjalankan ibadah kepada Allah dan tidak mengingkari pokok-pokok agama, mereka tidak bisa dihukumi sesat begitu saja. Kesesatan hanya bisa ditujukan jika sudah tidak ada kesepahaman dalam pokok-pokok aqidah seperti kelompok Lia Eden, Ahmadiyah atau pemeluk kebatinan di Jawa.

Menuduh sesama muslim yang tengah menjauhi bid’ah dan menyeru pada sunnah

Bagaimana mungkin mereka dituduh sesat sementara Rasulullah sendiri bersabda untuk menggigit kuat-kuat sunnah dengan gigi geraham kita agar tidak terlepas. Saudara-saudara kita ini hanya menyeru umat islam kembali ke sunnah dan menjauhi bid’ah karena bid’ah ini bisa merusak sunnah sebagaimana perkataan Ibnu Abbas, “Tidaklah datang kepada manusia satu tahun kecuali mereka mengadakan satu kebid’ahan dan mematikan satu sunnah. Demikianlah hingga berkembanglah kebid’ahan dan matilah sunnah.

Demikianlah, bagaimana mungkin para penegak sunnah itu dianggap sebagai sesat sementara mereka adalah orang yang senantiasa membendung kebid’ahan yang menjadi terkotorinya ajaran islam, ini sama saja mematikan langkah dan perjuangan mereka untuk memurnikan ajaran islam agar terbebas dari penya kit TBC (Takhayul, Bid’ah dan Khurafat).

Menuduh sesama muslim yang berbeda mazhab/cabang-cabang fiqh

Perbedaan mazhab takkan pernah sampai menjurus pada kesesatan. Perbedaan dalam tubuh umat islam adalah hal yang biasa karena perbedaan corak ragam pemikiran dan referensi yang ulama baca. Sekarang ini perbedaan itu tak pernah membuat umat islam sampai bersitegang atau gontok-gontokan, semua dapat diselesaikan dengan kepala dingin.

Kembali pada perilaku Rasulullah dan para sahabat

Jika merujuk pada perilaku Rasulullah dan para sahabat dalam beragama mereka biasa menghukumi suatu perkara agama dengan bid’ah, sunnah dan sebagainya, tetapi tidak ada masalah dengan itu dan mereka menerimanya dengan senang hati serta berusaha untuk memperbaikinya. Namun mengapa di masa sekarang ketika para penegak sunnah itu mengatakan berbagai perkara agama itu sebagai bid’ah, syirik. hal itu dianggap sesat?

Para tabi’it tabi’in. dan ulama mazhab seperti Maliki, Hambali, Syafi’i dan Hanafi juga terbiasa berbeda namun mereka menghargai pendapat mereka karena seandainya salah pun mereka tetap dapat satu pahala. Buktinya Imam Syafi’i yang menentang qunut shubuh ini ketika menjadi makmum terhadap gurunya Imam Maliki, beliau tetap ikut qunut. Ini sekali lagi membuktikan perbedaan adalah hal yang biasa di masa itu dan mereka tetap menjunjung tinggi ijtihad ulama lain tanpa menghukumi mereka sebagai sesat.

Untuk itulah wahai raja dangdut, sekali lagi kunasehatkan padamu untuk lebih hati-hati lagi dalam menulis lirik lagu karena hal itu bisa menjadi bumerang bagimu. Ketenaranmu sebagai pelopor musik dangdut nan santun bisa jadi hilang karena lirikmu yang kontroversial dan hanya mengikuti selera pasar yang menjijikkan ini.[]

Bagikan artikel ini:
Share
  • sahuri

    Bukan menuduh kepada orang tapi mengajak …… untuk ukhuwah…

  • Hadi

    wah ada yg tersinggung nih,, justru liriknya mengajak kita berukhuwah sodara… jangan talqin dan tdk talqin jadi bakar kampung sodara.. ini fakta sodara..
    bukan menuduh nih,, mengajak utk berukhuwah