WTP Keumala Belum Bermasalah

Pindahan dari Multiply

URL: http://danarrapbn.multiply.com/journal/item/147/WTP-Keumala-Belum-Bermasalah
Tanggal: 10 November 2008

* Dijamin Bermanfaat

Sumber: Harian Serambi Indonesia, 10-11-2008

BANDA ACEH –

Deputi BRR NAD-Nias, Bastian S Sihombing menyatakan, proyek pengolahan/penyulingan air bersih (water treatment plant/WTP) yang dibangun BRR dengan dana Rp 30,7 miliar bukan Rp 31,5 miliar di Keumala, Pidie, dan realisasi fisik proyeknya sudah mencapai 80 persen itu belum menimbulkan masalah.

“Jika ada anggota DPRK Pidie menilai proyek tersebut bermasalah, itu merupakan penilaian tanpa penelatian yang jeli dan terlalu dini.

Bagaimana anggota Dewan itu bisa menyimpulkan proyek WTP Keumala bermasalah, sementara proyek tersebut belum selesai 100 persen dan juga belum beroperasi,” ujar Bastian kepada Serambi Minggu (9/11) menanggapi tudingan anggota DPRK Pidie dari Fraksi PBR, Khairil Syahrial yang menyatakan proyek tersebut bermasalah.

Bastian yang didampingi Kasatker Air Bersih Sanitasi Drainase dan Persampahan BRR NAD-Nias, Ibu Ani dan dua staf ahli lainnya mengatakan, setelah membaca berita di harian Serambi terbitan Kamis (25/10) lalu berjudul WTP Keumala Bermasalah dan kuras dana Rp 31,5 miliar, sebagai Deputi Infrastruktur BRR NAD-Nias, kami langsung memanggil Kasatker dan PPK yang menangani proyek tersebut. “Kita minta Kasatker dan PPK memerintahkan konsultan pengawas dan kontraktor pelaksana turun ke lokasi proyek untuk melakukan pemeriksaan terhadap empat masalah yang dituding anggota DPRK Pidie tersebut,” katanya.

Anggota DPRK Pidie dari Fraksi PBR, Khairil Syahrial menilai proyek WTP yang dibangun di Desa Keumala Pidie itu pelaksanaan pekerjaannya belum memenuhi standar penyambungan pipa air bersih yang benar dan letak WTP-nya juga dinilai tidak strategis. Kecuali itu, penempatan intake atau tempat pengambilan air bakunya bisa mengurangi debit air irigasi Baro Raya, sehingga setelah proyek tersebut selesai tidak akan memberikan manfaat bagi rakyat, melainkan menjadi proyek bermasalah yang telah menguras uang rakyat mencapai Rp 31,5 miliar.

Dari hasil pemeriksaan konsultan dan kontraktor yang didampingi Kasatker, PPK dan dua orang staf ahli pembangunan WTP BRR NAD-Nias minggu kemarin, kata Bastian, pelaksanaan pekerjaan proyek tersebut sampai kemarin masih berjalan normal dan hasil kerjanya belum menimbulkan masalah. Empat masalah yang dituding anggota DPRK dari

Fraksi PBR kepada BRR NAD-Nias, setelah dilakukan pengecekan di lapangan tidak terbukti. Pembangunan proyek WTP Keumala itu menggunakan hasil penelitian. Maksudnya, jelas Bastian dan Ani sebelum proyek itu dikerjakan, BRR bersama dinas teknis setempat melakukan lebih dulu penelitianlapangan. Pelaksanaan pekerjaan teknisnya menggunakan prototype yang telah teruji. Contohnya untuk pembangunan instalasi pengolahan air dan pengambilan air 80 liter/detik serta peletakan intake atau tempat pengambilan air baku di hulu sungai Krueng Baro Raya menggunakan prototype yang telah berhasil dikembangkan PT Wijaya Kusuma Emindo. Jadi pengambilan air sebesar 80 liter/detik yang terdiri dari dua unit pengolahan dengan kapasitas masing-masing 40 liter/detik, tidak akan mengurangi debit air untuk irigasi yang besarnya mencapai 15.000 liter/detik pada musim hujan.

Begitu juga pemasangan pipa dan penyambungannya menggunakan teknis atau metode yang benar dan jika ada sambungan dan belokan pipa yang bocor, kata Ani, itu masih menjadi tanggungjawab konsultan pengawasnya, Royal Hosking dan kontraktornya PT Hutama Karya untuk memperbaiki dan tidak ada pekerjaan yang tumpang tindih.

“Kritikan dan saran Dewan kami terima, tapi sebelum memberikan keterangan pers, hendaknya diteliti dulu apakah yang telah dikerjakan konsultan dan kontraktor proyek WTP Keumala sudah benar atau belum,” katanya.

Sedangkan misi dari proyek ini adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dengan cara memberikan pelayanan air bersih yang berkualitas untuk masyarakat Pidie. Jaringan pipa air minum WTP Keumala ini jangkauannya lebih panjang dan luas serta debitnya lebih besar tiga kali lipat dari WTP yang telah ada sekarang ini.” Kami sangat yakin sekali proyek ini bermanfaat bagi masyarakat Keumala, Beurenun dan Kota Sigli sekitarnya,”ujar Bastian.(her)

Bagikan artikel ini:
Share