A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | R | S | T | U | V | W | Y | Z

Landung Simatupang




Nama :
Yohanes Rusyanto Landung Laksono Simatuandung Simatupang

Lahir :
Yogyakarta, 25 November 1951

Pendidikan :
- Fakultas Sastra jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Karir :
- Penerjemah lepas, pekerja teater, pembaca cerpen dan novelet

Penghargaan :
- Juara I Putra Lomba Deklamasi se-DIY 1971 - Juara I Penulisan Puisi se-DIY 1979 - Juara III Sayembara Penulisan Drama Bakom PKB DKI Jakarta 1981

Keluarga :
Ayah : W.J.P. Simatupang Ibu : Floriberta Sumardiyati Istri : Engelina Primasiwi Anak : 1. Lucia Cahyadini Simatupang 2. Tommi Arif Setiawan 3. M.I. Sekar Ayu 4. V.F. Sekar Arum

Alamat Rumah :
Tarakanita I/ 21, Gang Argulo, Gejayan Santren, Yogyakarta

 

Landung Simatupang


Lelaki bermarga Simatupang ini banyak alasan mengaku dirinya orang Jawa. Meskipun ayahnya dari Batak, ia beribukan perempuan Jawa dan dilahirkan di pusat kebudayaan Jawa, Yogyakarta. Tak bisa bercakap Batak dan beristrikan wanita setempat, lengkaplah €œkejawaan€ Landung Simatupang. Namun pembaca sajak dan cerpen serta pemain teater ini sering kesal kalau dipanggil €œMas Simatupang€ oleh kerabat istrinya.

Bernama lengkap Yohanes Rusyanto Landung Laksono Simatuandung Simatupang, ia anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ia mengenal sastra dari buku-buku milik ayahnya, Josef Polin Simatupang, guru kesusastraan Indonesia, bahasa Jerman, Belanda, dan seni suara di SMA de Britto, Yogyakarta.

Dari Josef pula ia mencintai seni panggung dan musik. Ayahnya ini sering mengajak Landung kecil menonton berbagai pertunjukan drama, termasuk yang dipentaskan Bengkel Teater pimpinan Rendra. Atau menghadiri konser musik dan paduan suara Exutate dengan konduktor Smiths von Waesberghe.

Dari ibunya, Floriberta Sumardiyati, Landung mengenal khazanah budaya Jawa seperti wayang kulit. Sang ibu juga sering mengajaknya ke Alun-alun Utara Yogyakarta melihat pertunjukan wayang orang Ngesti Pandowo dan Cipto Kawedar. Atau mengajaknya ke Dalem Notoyudan menyaksikan pertunjukan Langen Mandrawanara, ketoprak, dongeng-dongeng serta tembang dolanan Jawa.

€œDari garis ibu, leluhurku penari keraton Yogya. Kakekku seorang lurah di daerah Tempel yang pada 1950-an dikenal di daerahnya dan sering memerankan tokoh Bagong,€ ungkap seniman yang pernah berduet dengan aktris/presenter Wulan Guritno membacakan cerpen One Night Stands. Ia juga pernah main sinetron, misalnya Pengakuan Pariyem dan film Daun di Atas Bantal

Akhirnya, Landung kebablasan menyukai seni. Pada usia 20 tahun, ia mulai menapaki pembacaan puisi. Awalnya, pada 1971, ia menjuarai lomba deklamasi se-Yogyakarta ketika ada perayaan memperingati hari lahir penyair Chairil Anwar. Ada kebanggaan saat ia menerima piala kejuaraan dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta saat itu, Sri Paku Alam. Apalagi banyak pesertanya dari kalangan seniman yang sudah terbiasa dengan pembacaan puisi. Sejak itu ia sudah bulat tekadnya menjadi seniman.

Landung pun mulai menulis puisi. Sajak-sajaknya mulai muncul di media-media terkemuka. Pada 1975, Sajak Malam I dan Sajak Malam II dimuat Kompas(Jakarta). Berikutnya, beberapa sajaknya muncul di majalah-majalah Yogyakarta seperti Eksponen, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, dan Basis. Kemudian juga di majalah-majalah Horison dan Topik (Jakarta). Tetapi ia tidak ingin menjadikannya sebagai mata pencaharian. €œMakanya saya juga bekerja sebagai penerjemah lepas,€ tukas Landung.

Lahir dan hidup dalam lingkungan Jawa membuat cakap Bataknya jadi €œtak bunyi€. Ibunya biasa berkomunikasi dengannya dalam bahasa Jawa halus hingga €œkasar€ (ngoko). €œKarena kehalusan saya, di sekolah saya sering dipanggil dengan sebutan 'Hai Jawa!' bukan 'Hai Batak!'€ ujar pecinta jalan kaki ini.

Pada masa remajanya, Landung terbilang funky. Mengikuti mode flower generation di masa itu, ia suka memakai celana cutbrai, bersepatu hak tinggi, dan berkemeja ketat yang berkerah lebar. Namun ia menolak bergaya hidup seperti hippie. €œPernah mencoba ganja tapi tidak banyak,€ akunya. Pacaran pun ia enggan. Di tempatnya bersekolah, SMP dan SMA De Britto, semua muridnya laki-laki, hingga kurang kesempatan bergaul dengan anak perempuan. €œKalau yang lain sibuk pacaran, aku sibuk main bola,€ tutur Landung.

Sejak kuliah di sastra Inggris UGM (1975), ia mulai berteater. Suka mengintip-ngintip latihan Bengkel Teater, mulanya ia sempat €œngeri€ melihat latihan yang terlalu keras dan menyita banyak waktu yang diterapkan pimpinannya, Rendra. €œTeater Rendra hanya memberikan dua pilihan, kuliah atau berteater. Memilih kuliah berarti tidah usah berteater dan memilih teater tidak bisa kuliah,€ kata ayah empat anak ini.

Ia akhirnya memilih Teater STEMKA, yang memberi peluang yang sama pada kedua kegiatan itu. Lagi pula tempat latihannya tak jauh dari rumahnya. Teater yang berfiliasi dengan komunitas Katolik ini membawanya manggung dari satu gereja ke gereja yang lain, ditambah pernah mengisi secara tetap acara televisi di Yogya. Dari sini, kemampuannya jadi beragam: sutradara, pembaca cerpen, pelatih seni peran dan pembimbing lokakarya.

Sebagai sutradara ia pernah menyutradarai Montserrat (1978) karya Emmanuel Robbles, Sri Ratu/Ratu Pemberontak (1991) dari Betti dan Pesta Pencuri (2000) karya John Anuilh. Ketiganya dipentaskan bersama kelompok Teater Gajah Mada, yang ikut didirikannya pada 1976.

Pada awal 1999, selama dua setengah bulan, ia bergabung dengan Black Swan Theatre Company, Perth, Australia Barat, di bawah sutradara Andrew Ross. Tampil di Pesta Seni Internasional, ia menjadi aktor dan penerjemah bahasa Jawa ke Inggris untuk sekuen-sekuen wayang kulit.

Pada 2001, ia ikut keliling kota-kota Indonesia untuk mementaskan drama berdurasi 75 menit Mengapa Kau Culik Anak Kami bersama Seno Gumira Adjidarma, yang menulis naskah dan sekaligus menyutradarainya. Mereka bekerja sama dengan Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dan Kontras, dua organisasi yang peduli dengan orang-orang teraniaya.

Landung pernah menjadi dosen bahasa Inggris di alma maternya. Tetapi ternyata teater lebih cocok baginya. Dari teater pula ia menemukan jodohnya. Sayang perkawinan pertamanya itu kandas. €œKami sudah tak sehaluan lagi dan jarang berkomunikasi,€ ia memberi alasan.

Tahun 2000, Landung memutuskan menikah lagi, dengan Engelina Primasiwi, seorang janda yang tinggal di dekat rumahnya dan bekas anak didiknya di STEMKA. €œDari pernikahannya yang dahulu ia memiliki dua anak perempuan; kami terpaut 14 tahun,€ paparnya. Ia mengaku tak membedakan antara anak-anak kandung dan anak-anak tirinya.

Selama berteater, ada pengalaman yang tak terlupakan Landung: pertunjukan gagal total. Pada 1980, STEMKA menampilkan teater dagelan di hadapan buruh perkebunan teh Pagilaran, Jawa Tengah. Sudah berbusa-busa para pemain mengumbar dialog dan beraksi, namun tak satu pun penonton tersenyum, apalagi terbahak. Sampai akhirnya seorang pemain bernama Hasmi tampil dengan gaya pelawak sungguhan sambil menyanyikan lagu dangdut. €œOoo, mau melucu toh,€ seru seorang penonton dengan nada mengejek.

€œMendengarnya kupingku panas sekali, sampai saat menerima honor malunya bukan main,€ kenang Landung.

Copyright PDAT 2004

comments powered by Disqus

 


LASIYAH SUTANTO | LELY SAMPOERNO | LEO IMAM SUKARNO (LEO KRISTI) | LEO SOEKOTO S.J. | LEONARDUS BENYAMIN MOERDANI | LIE TEK TJENG | LIEM KHIEM YANG | LIEM SWIE KING | LINUS SURYADI AGUSTINUS | LIUS PONGOH | LUGITO HAYADI | LUKMAN HARUN | LUKMAN NIODE | LYDIA RUTH ELIZABETH KANDOU | Laksamana Sukardi | Landung Simatupang | Lily Koeshartini Somadikarta | Lola Amaria | Luhut Manihot Parulian Pangaribuan | Luluk Purwanto


Arsip Apa dan Siapa Tempo ini dipersembahkan oleh Ahmad Abdul Haq