Muhammadiyah, Pancasila, dan Kepemimpinan Inklusif
Oleh Fajar Riza Ul Haq
Pada sisi lain, kedekatan ideologi Muhammadiyah dengan ideologi wahabisme telah memudahkan proses infiltrasi ideologi Islam politik ke dalam tubuh Muhammadiyah. Beberapa lini penting di amal usaha Muhammadiyah, utamanya institusi pendidikan, mulai dipengaruhi bahkan ditempati oleh kelompok-kelompok yang justru mencoba menggeser orientasi ideologi moderat Muhammadiyah.
Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah berpaut erat dengan perjuangan kebangsaan dan keindonesiaan. Secara khusus, Bung Karno memberikan apresiasi tinggi terhadap peran Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dalam perintisan gagasan nasionalisme bangsa. Presiden pertama Republik Indonesia ini menyebut Ahmad Dahlan sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh dalam pergulatan intelektualismenya disamping H.O.S. Cokroaminoto (2001:178). Pada masa kemerdekaan, Muhammadiyah berada di garis terdepan dalam proses perumusan dasar negara. Inklusivitas Muhammadiyah yang ditunjukan Kasman Singodimejo, tokoh penting Muhammadiyah pada masa awal kemerdekaan, dalam perumusan Pancasila menjadi kunci bagi lahirnya negara Indonesia yang majemuk. Kiprah Muhammadiyah dalam bidang pendidikan, kesehatan dan sosial telah berhasil menopang program pembangunan yang dijalankan pemerintah. Muhammadiyah dikenal sebagai satu organisasi sosial keagamaan mainstream yang memiliki komitmen terhadap gagasan keadaban sosial dan kebangsaan yang majemuk.
Berangkat dari kenyataan historis tersebut, menarik untuk ditanyakan, bagaimana Muhammadiyah merespon gejala syariatisasi bahkan fundamentalisasi telah menjadi bagian dominan dalam dinamika keagamaan saat ini? Kemunculan berbagai berbagai gerakan maupun kelompok yang mengusung ideologi Islam dan syariah Islam seakan mengepung organisasi mainstream Muhammadiyah dan NU. Kuatnya arus konservatisme-fundamentalisme Islam tersebut dikhawatirkan banyak pihak akan mendeterminasi NU dan Muhammadiyah untuk bersikap “diam” bahkan cenderung “mendukung” gerakan-gerakan Islam politik.
Misalnya, Prof. M.C. Ricklefs mensinyalir hasil dari proses Muktamar Malang 2005 memcerminkan kemenangan sayap konservatif di Muhammadiyah. Ambivalensi Muhammadiyah terhadap wacana Syariah Islam dan wacana-wacana produk modernitas-Barat (baca: demokrasi, HAM, pluralisme) bisa menjadi indikasi adanya krisis kepemimpinan organisasi, baik secara organisatoris dan ideologis.
Merespon fenomena tersebut, Prof. Dr. Din Syamsudin menegaskan bahwa Pancasila merupakan pilihan final bagi Muhammadiyah. Pernyataan ini disampaikannya dalam pertemuan dengan kalangan diplomat AS di Washington baru-baru ini.
Meskipun begitu, penegasan ini belum mampu mementahkan kekhawatiran banyak kalangan terhadap kuatnya pengaruh konservatisme dalam Muhammadiyah. Bahkan di kalangan internal Muhammadiyah sendiri sudah cukup banyak suara-suara yang mencemaskan kondisi Muhammadiyah pasca Muktamar Malang 2005. Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, sangat mencemaskan dominasi peran konservatisme tersebut dalam roda organisasi yang telah dipimpinnya selama 7 tahun (1998-2005). Secara khusus, beliau sangat menyesalkan perubahan nama “Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam” menjadi “Majelis Tarjih dan Tajdid” dalam periode sekarang padahal lembaga ini merupakan ikon sekaligus lokomotif pembaharuan pemikiran Islam di Muhammadiyah. “Muhammadiyah telah mundur 50 tahun ke belakang”, demikian ungkap Prof. Amin Abdullah menanggapi perkembangan Muhammadiyah tersebut.
Pada sisi lain, kedekatan ideologi Muhammadiyah dengan ideologi wahabisme telah memudahkan proses infiltrasi ideologi Islam politik ke dalam tubuh Muhammadiyah. Beberapa lini penting di amal usaha Muhammadiyah, utamanya institusi pendidikan, mulai dipengaruhi bahkan ditempati oleh kelompok-kelompok yang justru mencoba menggeser orientasi ideologi moderat Muhammadiyah. Kelompok-kelompok tersebut telah masuk dan menduduki pos-pos strategis di beberapa institusi pendidikan Muhammadiyah, seperti perguruan tinggi, pondok pesantren, serta madrasah. Infliltrasi ideologis itu sudah dimafhumi namun secara organisatoris serta ideologis elite Muhammadiyah belum banyak bersikap kongkrit.
Dengan mencermati perkembangan Muhammadiyah di atas, sesungguhnya yang sedang terjadi dalam Muhammadiyah adalah krisis kepemimpinan, baik secara organisatoris maupun ideologis. Kampanye anti sekularisme, pluralisme, dan liberalisme yang diusung kelompok-kelompok keagamaman konservatif-fundamentalis mendapat simpati bahkan dukungan dari kalangan kampus Muhammadiyah. Dalam skala yang lebih luas, kelompok-kelompok keagamaan telah terlibat dalam tindakan-tindakan intimidasi, kekerasan, bahkan penyerangan terhadap kelompok lain yang berbeda keyakinan dan agama.
Yang membikin miris nurani adalah kemudian fatwa MUI dijadikan dalih pembenaran atas setiap tindakan pemaksaan, kekerasan, diskriminasi dan pemberangusan kebebasan beragama seperti tercermin pada kasus-kasus di atas. “MUI mengeluarkan fatwa boleh-boleh saja, tetapi harus bisa membaca peta sosiologis bangsa karena bisa menimbulkan bentrokan sosial” (Republika, 15/02/06), demikian kritik Ahmad Syafii Maarif dalam menanggapi fatwa MUI. Lebih lanjut, mantan Ketua PP Muhammadiyah ini menegaskan bahwa tindakan kekerasan dan diskriminasi terhadap siapapun, termasuk Ahmadiyah, tidak bisa dibenarkan dari segi apapun, baik ajaran Islam, nilai-nilai Pancasila, maupun sisi kemanusiaan. Belakangan, polemik RUAPP (Rancangan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi) telah membelah opini masyarakat dalam kelompok ekstrem, yakni pro dan kontra. Kemunculan Majalah Playboy edisi Indonesia di tengah situasi ini praktis menjadi sasaran kemarahan kelompok-kelompok yang selama ini keukeuh mendesak disyahkannya RUAPP. Jika wabah anti perbedaan dan anti dialog ini berkembang bahkan mengakar maka kondisi ini menjadi tantangan serius bagi proses pembangunan tata sosial yang inklusif, beradab, toleran, dan demokratis.
Pada konteks ini, laporan Folke Bernadotte Academy, Swedia, menggarisbawahi bahwa kepemimpinan yang baik (good leadership) lebih terkait dengan kapasitas dan kapabelitas kolektif untuk menciptakan perubahan. Kapasitas tersebut tidak harus bertumpu pada individu tertentu namun dapat juga dalam bentuk kapasitas organisasi maupun gerakan (2005: 11). Dengan ungkapan lain, regenerasi kepemimpinan yang moderat sekaligus pluralis membutuhkan satu capacity building yang mendukung orientasi tersebut. Krisis kepemimpinan yang sekarang melanda berbagai organisasi maupun kelompok sosial berpengaruh terhadap proses konsolidasi demokrasi dan cita-cita tatanan sosial yang inklusif dan pluralis.
Potret buram masyarakat Indonesia tersebut sungguh mengejutkan. Keberagamaan masyarakat Indonesia yang menurut Farid Esack (2004) merupakan produk dari pluralisme agama justru seakan mengingkari keberbedaan (multikulturalisme) dan keberbagaian (pluralisme) bangsanya sendiri. Padahal kehidupan keberagamaan Indonesia mendapatkan apresiasi positif bahkan dianggap sebagai ikon negara Muslim moderat terbesar di Asia Tenggara. Studi Robert Hefner (2001) menegaskan bahwa Muhammadiyah dan NU merepresentasikan kekuatan sipil Islam yang berperan dalam proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. Namun berkaca pada rentetan kasus di atas, nampaknya tesis Esack dan Hefner mendapat ujian serius karena fenomena yang berkembang belakang tersebut justru menunjukkan hal yang bertentangan.
Mempertimbangkan kondisi sosial kebangsaan di atas, pembenahan sekaligus penguatan kepemimpinan kekuatan-kekuatan sipil Islam yang toleran, inklusif dan demokratis harus secepatnya dilakukan. Infiltrasi idelogis oleh kelompok-kelompok pro syariah, pro khilafah, serta anti demokrasi dan HAM terhadap kekuatan sipil Islam semacam Muhammadiyah jelas merupakan ancaman serius. Langkah strategis untuk membendung sekaligus mengebalkan kekuatan-kekuatan sipil Islam dari infiltrasi ideologis tersebut adalah penguatan serta reformasi training kepemimpinan kaum muda Muhammadiyah yang berpusat di kampus-kampus. Masa depan kepemimpinan akan banyak ditentukan oleh dinamika peta dominan di basis-basis proto-kekuatan masa depan itu sendiri, perguruan tinggi.[]
Fajar Riza Ul Haq, Direktur Program Maarif Institute for Culture and Humanity
Komentar
Saya ingin menjawab sedikit dari pertanyaan selemah itukah FBI, FAA dan CIA serta pentagon terhadap serangan WTC itu? Apabila anda pernah bepergian ke AS (terutama domestic flight) sebelum 9/11 tentu anda akan melihat betapa lemahnya memang pengawasan di airport, karena selain di jaga oleh orang2x yg sudah tua (orang2x panti jompo yg nyari kerja ringan2x) dan kita boleh membawa senjata tajam (dulu saya selalu membawa pisau lipat di saku) dan para pengantar dapat mengantar hingga pintu pesawat. Penjagaan airport cengkareng jauh lebih ketat daripada airport di AS.
-----
saya prihatin dengan pengalaman mas rahmat di sman 1 cirebon, bahwa ada guru yang memaksakan pelepasan jilbab kepada salah satu siswi. apakah hal itu barusan terjadi dalam 5 tahun terakhir? karena selama saya juga sekolah di sman 1 cirebon di awal 90-an pengenaan jilbab tidak pernah dilarang, dan belum pernah mendengar (sekalipun) ada larangan/upaya pemaksaan pelepasan jilbab, apalagi sekarang, seharusnya sudah bebas dan bahkan dijamin. pengalaman di sman 1 cirebon, saya rasakan suasana yang sangat kondusif untuk hidup yang majemuk, karena di sekolah ini adalah sekolah negeri (untuk kotamadya/kabupaten cirebon) yang paling banyak siswa non-muslim (bisa mencapai 10%) dan juga siswa keturunan (rata-rata 3-4 orang perkelas, baik chinese/arab). sungguh saya rasakan kehidupan di sman 1 ini dapat dijadikan contoh yang baik. sedikit gesekan pasti juga terjadi, terutama ketika siswa masuk kelas 2 dan masuk DKM, beberapa cenderung ekstrim dan anti kemajumukan, tetapi jumlahnya tidak signifikan. dan overall seperti yang saya tekankan tadi, adalah suatu contoh kamjemukan yang sangat kondusif. Demikianlah hendaknya Negara kita.
salam
Sebenarnya inilah yang menjadi sorotan publik Islam sejak dua abad yang lalu. Bung Fajar menyebutkan adanya kedekatan ideologi Muhammadiyah dan wahhabisme. Menurut sejarah memang benar kalau dilihat dari asal muasal nama gerakan masing-masing, tapi anehnya penisbatan wahhabi sendiri sudah tidak berdasarkan qiyas bahasa Arab yang benar.
Jika kita paham sejarahnya maka kita tahu gerakan pembaharuan Islam di abad 12H ini dilakukan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang berasal dari Najd. Nah, coba simak apa nama sebenarnya yang layak dinisbatkan sebagai nama gerakan tsb? Maka menurut kaidah bahasa yang benar gerakan pembaharuan Islam tersebut seharusnya bernama Muhammadiyah bukan wahhabi ataupun wahhabiyah karena nama awal tokoh pembaharu tersebut adalah Muhammad, bukan Wahhab. (lihat Atsar ad-Da’wat al-Wahhabiyah, Muhammad Hamid Al-Faqi)
Lalu mengapa KH. Ahmad Dahlan menyebut gerakan pembaharuan Islam yang ia dirikan tidak dengan nama Ahmadiyah, sesuai dengan nama awal beliau Ahmad, atau Dahlaniyah sesuai dengan nama belakangnya tetapi justru dengan nama Muhammadiyah. Maka jelas terlihat sekali kekacauan istilah yang sengaja dimunculkan oleh orang-orang yang tidak faham dengan apa misi dan visi gerakan wahhabi tersebut.
Tapi kalau dikaitkan dengan proses infiltrasi ideology politik islam ke tubuh Muhammadiyah yang dilakukan wahhabi jelas keliru, karena wahabi tidak pernah menyiapkan agenda konsep politik Islam dengan bendera wahhabinya yang tekstual layaknya Muhammadiyah atau NU dan tidak ada waktu dan tanggal pendirian gerakan tersebut layaknya kedua organisasi tersebut. Sampai saat ini pun tidak ada peringatan atau mukhtamar yang berkaitan dengan pendirian atau re-organisasi gerakan tersebut dan yang lebih menggelikan kita bahwa istilah ini tidak dikenal oleh ulama-ulama Islam salaf maupun kalaf.
Syaikh Abdul Wahhab sang pelopor hanya ingin mengembalikan ajaran tauhid dalam Islam yang telah dirusak oleh ahlu bid’ah dan kaum musyrikin Hijaz dan perlu diingat tidak ada yang tercela dari dakwah beliau seperti yang dituduhkan selama ini. Beliau banyak juga belajar dari sebagian ulama-ulama Hanabilah diantaranya Syaikh Abdullah bin Ibrahim bin Saif. Beliau sangat mengagumi karya-karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. Kaum Hanabilah ini begitu fanatik dengan ajaran mahzdab Imam Ahmad bin Hambal, maka merekapun menafikan sebuah pernyataan bahwa Syaikh Abdul Wahhab menciptakan mazdhab baru atau madzhab ke lima.
Maka kalau kita lihat kebanyakan kaum Muhammadiyah ini pun mengambil madzhad Imam Ahmad bin Hambal, dan juga madzhab Malik bin Annas walupun tidak anti Syafi’I dan Hanafi. Sebaliknya kaum yang selalu disebut wahhabi (tidak seharusnya demikian) lebih banyak merangkum semua mazdhab fiqh sebagai rujukan ijtihadnya dan juga dalam memperkaya khazanah keilmuan ulamanya.
Dari sudut ilmu fiqh, aqidah pun banyak kesamaan diantara keduanya. Dari kecermatan keduanya dalam masalah ilmu kritik hadist dan perawi dengan konsep al-jahr wa al-ta’dil, majelis takhrij Muhammadiyah ini sangat rajin mencari kebenaran dan keshahehan suatu hadist. Maka jangan heran jika kaum Muhammadiyah sungkan memungut hadist-hadist dha’if hanya untuk fadhailul amal. Sudah menjadi hal yang tidak asing juga jika seseorang yang sudah lama berkecimpung dengan Muhammadiyahnya dan dinisbatkan dengan wahhabi akan lebih menerima ketimbang seorang yang aktif dengan NU nya. Wallahu’alam bish shawab
Uraian mas Fajar sangat menarik… tetapi memiliki kekuatiran yang berlebihan, karena: 1. Fajar masih menganggap Muhammadiyah adalah ormas yang
belum dewasa, kuatir Muhammadiyah lemah 2. Muhammadiyah bahkan lahir sebelum NU lahir, jadi
Muhammadiyah cukup dewasa dan tidak perlu kuatir 3. Umat islam di Indonesia telah cukup lama dikekang,
sehingga wajar bila sekarang “unjuk gigi”, saya masih
ingat ketika saya masih duduk di bangku SMAN 1 Cirebon,
ada guru PMP yang memaksa dengan kekerasan agar jilbab
dilepas terhadap teman siswi SMA satu kelas. waktu itu
jilbab masih dilarang. sekarang Alhamdulillah ada
karyawan CitiBank yang tetap berjilbab 4. Pimpinan sekarang Prof Din Samsudin adalah lulusan
Gontor yang lugas, beliau pasti berusaha menjadikan
Muhammadiyah unggul dan bermartabat 5. Mas Fajar dalam pandangannya terlalu JIL (Jaringan
Islam Liberal), Fajar serlalu sering menyebut lawannya
dengan kalimat “islam fundamentalis” Kalu boleh saya beri saran untuk Fajar yang terhormat, maka saya akan kasih data bahwa kalimat “fundamentalis” awalnya dari Amerika, padahal Militer/CIA Amerika memiliki apa yang disebut sebagai “estafet kebencian”, mari kita urut-urut estafetnya: 1. Setelah menggilas suku asli Indian, Amerika selalu
merayakan kemerdekaannya tiap tanggal 4 Juli, mas
Fajar… itu merdeka dari kerajaan Inggris bukan
jajahan orang islam dan juga islam fundamentalis tidak
ikut menjajah. Coba mas fajar lihat film Mel
Gibson “Patriot”. Mas Fajar..ini perang antar umat
Protestan awal paling awal di tanah suku Indian. 2. Untuk menguji kekuatan tentara Union, Presiden Lincoln
menciptakan “civil war” dengan maskot “membebaskan
perbudakan kulit hitam”. Perang saudara ini adalah
perang antar umat Protestan kedua di tanah suku Indian.
hasilnya “hanya” 1,5 juta tentara mati baik dari
Selatan maupun Yankee (Utara). Dan pasukan Utara
menang. Dalam perang sipil ini mas Fajar… orang islam
dan islam fundamentalis tidak ikut 3. Setelah siap sebagai “Top Military”, Amerika memasuki
tahap utama pertama, yaitu Perang Dunia Pertama. ini
adalah perang antar umat Nasrani, terutama umat
Protestan, hasilnya “hanya” 34 juta bangsa eropa tewas.
Dalam perang dahsat ini mas Fajar… orang islam dan
islam fundamentalis tidak ikut 4. Setelah “agak” menang Amerika memasuki tahap yang
paling krusial yaitu Perang Dunia Kedua. Ini adalah
perang umat Nasrani baik Katolik maupun Protestan dan
sedikit umat Shinto (Jepang). Merunut Palang Merang
Internasional, total orang tewas dalam Perang
ini “hanya” 52 juta, termasuk “hanya” 6 juta kaum
Yahudi yang dibantai Nazi. Dalam perang dahsat ini mas
Fajar… orang islam dan islam fundamentalis tidak
ikut, kecuali “perang kecil-kecilan” di beberapa negara
dalam mempertahankan tanah airnya, misal di Indonesia 5. Sekutu yang dimoroti Amerika jelas keluar sebagai
pemenang. Yang kalah, misal jerman, Itali dan Jepang
dilarang bikin pesawat komersial dan tempur, dan hanya
boleh bikin mobil. Mangkanya Mobil Toyota, Mercy dan
Ferarri sekarang paling top. Pesawat tempur dan bom
Nuklir hanya boleh dibuat oleh negara2 pemenang Perang
Dunia Kedua. Mas Fajar bisa hitung sendiri jenis2
pesawat tempur sekarang: F4 tiger, F5 phantom, F14
tomcat, F15 Eagle, F16 Falcon, F18 Hornet, F22 Raptor,
Mirage2000, Rafele, Tornado, Sea Herrier, Mig24, Mig25,
Mig30, Sukhoi27 Cobra, Sukhoi30. dan bom Nuklir:
USA “hanya” memikili 7000 Hulu Ledak Niklir,
Rusia “hanya” memiliki 5500 bom nuklir, Prancis “hanya”
150 Bom Nuklir, Israel “hanya” 200 Bom “Litle Nuc”. 6. Kemudian Amerika masuk ke Perang Dingin. Amerika sangat
membutuhkan orang Islam Fundamentalis dan Militer Islam
dalam menghadapi Uni Sovyet. Ini perang yang paling
lama Mas Fajar yang terhormat… Coba Mas Fajar hitung2:
6.1 Pengaruh Komunisme cukup kuat di dunia ini, misal
di Itali, negara-negara eropa timur, amerika
latin dan asia
6.2 Namun Komunis hanya tumbang di negara-negara yang
penduduknyha mayoritas muslim, misal Indonesia
dan Afganistan
a. di Indonesia, setelah PNI, NU dan PKI
membentuk NASAKOM, terjadi G30S/PKI dan
berakhir dengan “sungai bengawan solo berwarna
merah” PKI dibantai oleh Suharto dan
komunis “mati”
b. di Afganistan, setelah Amerika gagal berjuang
bersama Muhajidin mengusir rezin Nazibullah
dan Uni Sovet, Amerika mengajak
Al Qaeda-Taliban dan BERHASIL.
6.3 Komunisme tetap bertahan di negara2 yang bukan
mayoritas Islam, misal: Filipina, Korea Utara,
Kuba, Itali, Vietnam, China, Rusia.
a. Di Korea, Amerika masuk dalam PERANG KOREA.
Perang ini berakhir dangan kalimat “gencatan
senjata” antara Korea Utara dan Korea Selatan.
Komunis Korea Utara tetap bertahan, bahkan
Korea Utara sekarang memiliki Peluru Nuklir
dengan jumlah “sedikit”
b. Di Vietnam, Amerika masuk dalam PERANG
VIETNAM, Perang ini adalah rekor dengan jumlah
tentara Amerika yang mati sebagai “mati yang
paling sedikit” yaitu hanya 36.000 tentara USA
yang gugur. Dalam Perang Vietman ini, Amerika
kurang beruntung, karena Komunis Vietnam tetap
memimpin pemerintahan hingga sekarang
Amerika mengakhiri Perang Dingin dan mengawali “The New
Order World” dengan ucapan Ronald Reagen: “kita
berterimakasih kepada umat Islam yang rela digaris
depan menghadapi komunisme…” 7. Amerika memasuki tahap terakhir yaitu “Perang Melawan
Terroris”, yang diawali oleh Pemboman WTC di New York.
Sebelumnya Amerika melawati PerangTeluk melawan Saddam
Husein dan “perang kucing-kucingan” dengan
Iran. “Perang Melawan Teroris” adalah parang yang
paling disesali oleh Amerika, karena:
7.1 Teroris (baca kaum Islam Fundamentalis) tidak
memiliki persenjataan yang memadai, Fundamentalis
hanya memiliki batu dan bom bunuh diri. Pesawat
tempur apa lagi bom Nuklir tidak dimiliki kaum
teroris ini.
7.2 Osama bin Laden dan Taliban, yang dulu dilatih CIA
untuk melawan Rusia, belum mati
7.3 Hingga hari ini, predikat teroris diarahkan ke Kaum
Islam Syiah: Iran dan Hizbullah. Hizbullah lah yang
paling siap melawan Israel, dengan kematian yang
ditimbulkannya sebasar 10% dari kematian yang
ditimbulkan oleh Israel. itu sudah cukup “memalukan” Nah Mas Fajar… saya ada beberapa pertanyaan: 1. Kenapa Anda dan JIL sangat membenci islam yang bukan NU
dan yang radikal? 2. Sudah puluhan jutakah kematian yang ditimbulkan oleh
mereka? 3. Bukankah Amerika dan sekutunya sekarang mengantongi
ribuan Bom Nuklir? 4. Amerika dan sekutunya serta Rusia adalah naraga2 yang
siap menghancurkan dunia. Bahkan setiap Ibu Kota di
setiap Negara telah disiapkan satu Bom Nuklir, termasuk
Jakarta? Bom Nuklir tidak hanya untuk Hirosima dan
Nagasaki aja Mas Fajar… ingat Mas Fajar kaum
Fundamantalis, yang Anda benci, tidak terlibat dalam
pemusnahan orang di Hirosima dan Nagasaki 5. kalau saya urutkan yang mana yang terbanyak membunuh
orang, maka yang terbanyak adalah orang protestan, dan
yang banyak dibunuh orang protestan adalah juga orang
protestan (Perang Dunia 1 dan 2: 34 juta dan 52 juta) 6. Pernahkah Mas Fajar menghitung dengan jari berapa
jumlah orang yang dibunuh kaum Fundamentalis?
Mungkinkah kaum ini yang melakukan pemboman terhadap
gedung kembar WTC di New York? Selemah itukan FBI, FAA
dan CIA serta Pentagon terhadap serangan WTC itu? Maaf Mas Fajar tentu saya banyak salah kepada Mas Fajar. Hormat Saya untuk Mas Fajar. Rahmat Gunawan, mahasiswa kimia itb
Muhammadiyah yang didirikan oleh KH.Ahmad Dahlan memang merupakan suatu pergerakan yang revolusioner dan berani. betapa tidak, di saat umat Islam pada umumnya terperangkap pada pemahaman keagamaan yang sinkretis dan dengan paradigma anti-barat dalam segala aspek kehidupannya, Muhammadiyah justru melakukan purifikasi dan “peniruan” metode barat, terutama dalam bidang pendidikan dan pemikiran. pada saat itu, hal seperti ini amat mendobrak kemapanan keagamaan umat. bahkan, KH.Ahmad Dahlan sempat mendapat term kafir. Seiring dengan berjalannya waktu, ternyata afiliasi kelompok di luar Muhammadiyah dengan Muhammadiyah menghasilkan corak pemikiran yang beragam. Adanya diskursus antara skripturalis dan modernis memang adalah sebuah keniscayaan. Bahwa akhirnya kelompok yang disebut pertama mendominasi Muhammadiyah bukanlah suatu hal yang aneh. Dari pengalaman, sebenarnya yang jadi masalah adalah minimnya budaya diolog dan sharing antara kedua belah pihak. masing-masing tertutup dan berekspresi di “belakang punggung” kawannya. Saya yakin, bahwa kawan-kawan di Muhammadiyah memiliki i’tikad baik sebagai seorang muslim, apapun corak pemikirannya. maka yang terpenting adalah adanya komunikasi.
Komentar Masuk (6)
(Tampil maks. 5 komentar terakhir, descending)