|
|
Dari Goyang Reuni sang Raja dan Ratu Dangdut (2-Habis): Sebuah Konser Rujuk yang Diputuskan lewat SalatHarian Jawa Pos, 3 Januari 2002 Bagaimana Rhoma Irama dan Elvi Sukaesih yang sudah berpisah 26 tahun tersebut bisa rujuk lagi di pentas? Siapa yang berperan menyandingkan raja dan ratu dangdut itu serta bagaimana liku-likunya? TRIANA SARI, Jakarta MENYAKSIKAN Rhoma Irama dan Elvi Sukaesih bareng menyanyi di panggung, sangat mungkin muncul sebuah tanya besar yang bergelayut di benak penonton dan pemirsa pada pesta Malam Tahun Baru 2002 di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) itu. Yakni, siapa yang berperan besar menduetkan mereka sepanggung? Perlu diketahui, setelah 26 tahun berpisah, ternyata Rhoma dan Elvi juga memendam rasa kangen untuk berduet lagi. Namun, karena agenda kegiatan masing-masing, niat reuni itu tampaknya belum juga mendapatkan prioritas utama. Nah, begitu ada orang ketiga yang siap menjembatani usaha mereka bersua lagi di pentas, apalagi di event sekelas pesta Malam Tahun Baru, Rhoma dan Elvi menyambutnya gembira. “Saya punya Ide itu sekitar September lalu,” kata Al Moenir Rahmat, produser SCTV, yang memiliki ide awal menyatukan raja dan ratu dangdut itu. Menurut Al Moenir, ide merujukkan Rhoma-Elvi muncul setelah dia membuat cukup banyak paket acara dangdut di SCTV. “Saya sering membuat acara paket dangdut yang memakai tema. Saya pernah bikin Panen Raya atau Sunatan Massal. Nah, September lalu saya berpikir membuat acara spesial untuk tahun baru. Kantorlah yang lantas menugasi saya membuat acara dangdut yang spesial itu,” paparnya. Al Moenir pun mengutak-atik pikiran. Setelah berpikir cukup panjang, barulah ditemukan ide mempertemukan lai Rhoma dan Elvi dengan satu pertimbangan pasti: keduanya legenda di dunia musik dangdut tanah air. Kali pertama, Al Moenir mengontak Elvi.
“Tanpa berpikir panjang, dia langsung setuju,” paparnya. Pada saat mengemukakan persetujuan menerima rujuk dengan Rhoma itu, Elvi mengakui bahwa sebelumnya ada juga yang ingin membawa keduanya dalam satu panggung. “Tapi, entah mungkin karena paket acaranya tidak sesuai dengan keinginan mereka atau gimana, akhirnya ide itu belum terwujud,” kata Al Moenir menirukan Elvi. Artinya, niat Elvi bergabung lagi dengan Rhoma dalam satu panggung itu ada sejak dulu, tapi belum terlaksana. Celah pikiran Al Moenir pun terbuka. Tak ingin misinya gagal, dia pun penasaran dengan sosok yang pernah menawarkan ide merujukkan Rhoma-Elvi itu. “Setelah saya telusuri, saya bertemu dengan orang Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Namanya Pak Mas’ud Toyib. Rupanya dia juga (pernah, Red) punya ide yang sama. Maka, gayung kami pun bersambut,” ujarnya. Kemudian lahirlah kesepakatan bersama antara SCTV dan TMII untuk menggarap acara akbar reuni goyang raja dan ratu dangdut itu. Setelah itu, barulah Moenir menghubungi Rhoma untuk membicarakan hal acara tersebut. “Masih pada September itu, saya telepon Bang Rhoma. Dia bilang minta waktu lima menit untuk salat. Itu dilakukan setelah dia bertanya tentang bagaimana acara itu dikemas. Saya jelaskan soal konsep Raja Sulaiman dan Ratu Balqis. Kemudian, dia menutup telepon dan salat minta petunjuk,” kenang Moenir. Setelah lima menit, Moenir menghubungi Rhoma lagi. Hasilnya sesuai harapan. Rhoma menyetujui untuk tampil bareng dengan Elvi. Setelah kedua pihak setuju, segala persiapan mulai dilakukan. Panggung, pencahayaan, hingga pemilihan lagu yang hendak dinyanyikan dipersiapkan. “Soal lagu itu kita pilih bertiga: saya, Elvi dan Bang Rhoma. Terutama, lagu yang mereka bawakan secara duet,” jelas Al Moenir. Selain soal lagu, pihak TMII yang mengurusi keamanan, venue, serta mem-booking artis pembuka konser. Sedangkan SCTV mengurusi flow alias jalannya acara. Setelah dicapai kata sepakat untuk seluruh konsep, Elvi dan Rhoma pun mulai berlatih. “Mereka kebetulan sudah punya banyak kesamaan. Karena itu, mereka hanya perlu berlatih beberapa kali untuk penampilan duet ini,” kenang Al Moenir. Lagu duet tersebut sebenarnya pernah mereka bawakan bersama saat bertahun-tahun yang lalu. Jadi, mereka dulu memang pernah berduet dan membuat album (Mulai Begadang di Volume 1 Soneta, disusul Penasaran sebagai volume 2, hingga Rupiah di Volume 3). Saat menginjak Volume 4 album Darah Muda, Rhoma sudah pulang dari ibadah haji. Elvi cabut dari Soneta. Konon, kata rumor kala itu, Elvi tidak sependapat dengan ide bermusik Rhoma yang akan mengarah pada pesan-pesan religius. Rhoma pun menerima duet baru dengan Rita Sugiarto, lantas hadir Noer Halimah, serta beberapa pendatang untuk album tertentu seperti Riza Umami dan Intan Ali. Maka, memang begitu besar arti konser reuni ini. Sambutan khalayak membeludak. Selain itu, hasilnya sungguh luar biasa. Tiket yang dijual Rp 7.500 sesuai dengan standar TMII laris manis hingga mencapai 250 ribu tiket. “Benar-benar fenomenal,” aku Al Moenir. Bahagia dengan keberhasilannya ini. Lantas, apakah keberhasilan penyelenggaraan juga dibarengi keberhasilan rating di televisi sehubungan pada saat malam Tahun Baru 2002 semua stasiun televisi berlomba memberikan tayangan yang menarik. “Wah, sayangnya untuk rating kita baru bisa tahu seminggu setelah penayangan. Jadinya, hingga saat ini kami belum tahu apakah rating-nya bagus atau tidak. Tapi, yang saya tahu, di stasiun televisi lain ada juga program yang menayangkan Rhoma Irama. Tapi taping, nggak live,” paparnya. Dia memang benar. Pada malam Tahun Baru 2002 itu, ada dua stasiun televisi swasta (RCTI dan TPI – webmaster) -yang selama ini juga dikenal dengan program tayangan dangdutnya-menayangkan ulang rekaman show Rhoma Irama. Jadi, tampaknya, benar kata Al Moenir. Mungkin ada stasiun televisi lain yang agak kecewa dengan reuni Rhoma-Elvi yang disiarkan langsung oleh SCTV. So, ide memang mahal. (habis) |
|
Forum BEBAS tentang artikel di atas. Semua komentar tidak dimoderasi.comments powered by DisqusWebsite ini milik pribadi Ahmad Abdul Haq. Didukung oleh Wikiapbn. |