Ahmad Abdul Haq


Mereka Korban

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Selasa, 03 Juli 2007 12:00 WIBMereka Korban

kick andyPernahkah melihat orang yang Anda cintai meregang nyawa di depan mata Anda? Bagaimana perasaan Anda? Seperti itulah yang saya rasakan. Mungkin menjadi lebih menyayat karena prosesnya lama dan menyakitkan . Apalagi yang sedang meregang nyawa seorang anak muda yang baru saja menginjak usia 20an.

Seharusnya perjalanan keponakan saya itu masih panjang. Lebih panjang dari saya. Tapi narkoba menghentikan langkahnya lebih awal. Dan saya tidak berdaya. Dia pergi dengan cara yang tidak selayaknya.

Ada perasaan sesak dalam hati. Apalagi adegan yang tidak bisa saya hapus dari ingatan itu juga disaksikan ayah, ibu dan adik-adiknya. Dalam kondisi sekarat, di balik alat bantu pernafasan, saya merasakan betapa tatapan matanya seakan hendak meminta tolong. Tapi saya tidak berdaya. Ayah dan ibunya pun tidak berdaya. Kedua adik perempuannya juga tidak berdaya. Sementara dokter sudah menyatakan tidak bisa berbuat apa-apa. Kami hanya bisa pasrah melihat sakratul maut perlahan tapi pasti merampas nyawa keponakan saya dari raganya. Raga yang kurus dan tak berdaya akibat daya tahan tubuh yang melorot ke titik nadir.

Setelah peristiwa itu, keponakan saya yang lain, Heymard, yang juga terjerat dalam cengkeram barang-barang jahanam itu, mengirim sms kepada saya. "Om, aku sadar akan tiba giliranku mati dengan cara yang sama. Aku menyesal. Tapi semua sudah terlambat. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku pasrah."

Saya memcoba memberinya semangat untuk tidak menyerah. Termasuk mendorongnya masuk ke sebuah panti rehabilitasi di Jawa Tengah. Sebuah keputusan yang berat karena saya telah memisahkannya dari kedua orangtuanya dan dari lingkungan tempat dia tumbuh. Kedua lingkungan yang ternyata menjerumuskan dia ke dalam lubang gelap penuh ketidakpastian dan berujung kematian.

Ingatan saya kembali ke tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun di mana saya menjaga Heymard ketika masih kanak-kanak, mengantarnya sekolah, memandikannya, menyuapinya dan mencintainya dengan sepenuh hati.

Namun setelah menikah dan berkeluarga, saya tidak dapat lagi mengikuti dengan seksama pertumbuhan mereka satu per satu. Belakangan baru saya tahu ternyata mereka tumbuh dalam situasi yang kurang mendukung. Baik di dalam keluarga maupun di lingkungan sekitar tempat tinggal.

Sampai suatu hari, sekitar lima tahun lalu, tiba-tiba kakak perempuan saya, ibunya Heymard, menelepon dalam balutan tangis yang memilukan. Dia melapor lemarinya baru saja dibongkar. Dia tahu siapa yang melakukannya. Sebab ini bukan yang pertama kali. Sudah sekian lama dia mencoba menyembunyikan dari saya bahwa satu per satu barang-barang di rumahnya lenyap tak berbekas. Benda-benda itu berganti dengan obat-obatan terlarang yang menjadi konsumsi sang anak tercinta.

Jika malam itu akhirnya dia menelepon saya, bukan karena urusan uang yang dicuri tapi lebih karena kakak saya ketakutan karena sebelum meninggalkan rumah sang anak dalam keadaan "sakau". Kakak saya khawatir terjadi sesuatu pada sang anak tercinta. Saat itulah saya baru mengetahui dua keponakan saya terlibat narkoba. Bahkan kondisi mereka sudah parah.

Malam itu juga saya menelusuri lorong-lorong di sebuah perkampungan di daerah Kebayoran. Hati saya pilu ketika menemukan keponakan tercinta sedang "sakau" berat karena baru saja menyuntikkan sesuatu ke lengannya.

Perasaan sedih dan kecewa berubah menjadi amarah yang meledak. Saya tidak mampu mengendalikan diri dan betindak kasar (yang saya sesali sampai sekarang). Saat itu matanya yang menatap nanar seakan tidak lagi mengenali saya. Ah, betapa semakin hancurnya hati ini.

Maka ketika Alain, keponakan yang meregang nyawa tadi akhirnya pergi untuk selama-lamanya, saya kembali belajar satu hal tentang kehidupan. Mereka anak-anak yang tidak bersalah, mereka hanyalah korban. Korban situasi rumahtangga yang tidak harmonis. Mereka anak-anak yang miskin cinta kasih, anak-anak yang kesepian di rumahnya sendiri. Mereka memendam derita yang tak terkatakan dan mereka mencari jawabnya melalui cara yang salah.

Walau terlambat, saya bersyukur Heymard dapat bertahan sampai sekarang. Daya tahan tubuhnya memang sangat rentan namun sudah lebih dari dua tahun Heymard mencoba bangkit dengan bantuan pemilik panti dan dukungan sesama pecandu – yang rata-rata sebaya – yang juga sedang berjuang untuk pulih dari ketergantungan.

Karena itu saya merasa bersalah ketika suatu ketika mengijinkan Heymard kembali ke Jakarta. Baru dua hari kembali ke rumah, saya dapat kabar Heymard masuk ICU di sebuah rumah sakit akibat over dosis. Malam itu juga saya meluncur ke rumah sakit dan berjanji jika dia selamat, saya akan segera mengembalikannya ke panti rehabilitasi di Jawa Tengah.

Tapi, dua hari kemudian sebelum sempat dia berangkat ke Jawa Tengah, tiba-tiba datang lagi kabar keponakan saya ditangkap polisi karena sedang menggunakan narkoba bersama sejumlah anak jalanan. Secepat itukah? Bukankah dia baru saja over dosis dan nyaris kehilangan nyawa? Saya lagi-lagi disadarkan betapa cengkeraman narkoba sudah begitu mengerikan.

Setelah bebas, kini Heymard mulai hidup normal di panti rehabilitasi. Ibunya sudah pasrah dan merelakan berpisah dengan anak laki-laki satu-satunya itu " Aku lebih rela melihat dia hidup normal walau jauh di mata daripada pulang dan terpangaruh teman-temannya,’ ujar kakak saya. Saya merasakan kepedihan yang luar biasa. Tapi itulah harga yang harus dibayarnya.

Tampilnya Ronny Pattinasarany di Kick Andy, yang mengungkapkan kisah pedih dan perjuangannya untuk menyelamatkan dua putranya dari jerat narkoba, sungguh memberikan inspirasi dan motivasi bagi banyak keluarga lain yang mengalami hal yang sama.

Upaya yang dilakukan Ronny dan Stela istrinya dalam berjuang merebut kembali cinta kedua anaknya dari bandar narkoba, semakin membuktikan bahwa cinta kasih yang tulus dari keluarga merupakan cara ampuh untuk menyelamatkan anak-anak dari cengkeraman obat-obatan jahanam itu. Sebab mereka adalah korban. Mereka seharusnya dipeluk, dibelai, dan dicintai untuk bisa terlepas dari ketergantungan. Bukan sebaliknya mengucilkan dan menghakimi mereka dan membiarkan anak-anak tak berdosa itu tenggelam semakin dalam.

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy