Ahmad Abdul Haq


SUGENG

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Senin, 05 Mei 2008 12:00 WIBSUGENG

kick andy

SUGENG Ini rahasia yang saya simpan sejak kanak-kanak. Saya tinggal bersama ibu dan dua kakak perempuan di Dinoyo Tangsi, sebuah gang sempit, di Surabaya. Umur saya tujuh tahun dan duduk di kelas satu sekolah dasar. Kulit saya putih dan rambut saya keemasan. Dengan kondisi fisik seperti itu, saya tampak berbeda dari anak-anak di kampung di situ. Di gang itu tinggal juga seorang anak yang kedua kakinya lumpuh.

Untuk menopang tubuhnya, dia menggunakan dua tongkat yang dijepit di ketiaknya. Saya lupa namanya. Tapi wajahnya, sampai detik ini, tak akan pernah saya lupakan. Saya sungguh-sungguh membencinya. Saya lupa apa pekerjaan orangtuanya, tetapi yang saya ingat anak tersebut punya sebuah sepeda roda tiga, yang mirip kereta bangsawan di Inggris, tapi dengan ukuran yang jauh lebih kecil. Bangku yang tersedia untuk satu orang tapi untuk anak-anak bisa berdua.

Guna menjalankan kereta itu, anak tersebut menggunakan kedua tangannya untuk mengayuh. Anak tersebut cukup duduk di jok, lalu tangannya yang bekerja. Saya tidak ingat, apakah dia anak orang kaya (untuk ukuran penduduk di kampung itu) atau kereta itu pemberian donator. Tapi, itu tidak penting. Bukan masalah kereta yang ingin saya ceritakan di sini. Namun kereta itu menjadi barang mewah di kampung kami. Terutama bagi anak-anak seusia saya.

Sehari-hari anak yang lumpuh tersebut memakai tongkat. Hanya pada saat-saat tertentu dia menggunakan kereta. Itulah saat yang ditunggu-tunggu oleh kami, para kanak-kanak di sepanjang Gang Dinoyo. Pasalnya, di bagian belakang kereta ada pijakan yang bisa kami gunakan untuk nggandol (numpang) saat kereta meluncur.

Namun di sinilah masalahnya. Untuk bisa menumpang ada macam-macam persyaratan. Selain harus membayar upeti, setiap penumpang harus bersedia melakukan beberapa perintah anak tersebut sebelum diijinkan nggandol di belakang kereta. Upeti atau bayaran disesuaikan dengan musim permainan yang ada. Jika pada saat itu musim permainan karet gelang, maka kami harus membayar dengan karet gelang untuk bisa menumpang.

Begitu juga jika sedang musim “gambar“ (gambar yg diambil dari tokoh-tokoh komik, misalnya Batman dan Robin, Samson, dll, yang dicetak kecil-kecil lalu digunting seukuran separuh kartu nama). Ini permainan yang populer saat saya kanak-kanak. Kalau musim layang-layang, kami harus setor layang-layang dulu. Jika tidak mampu membayar upeti, jangan harap bisa nggandol di kereta ajaib itu.

Berani coba-coba, kepala bisa benjol. Sebab pada saat naik kereta, anak yang lumpuh itu tetap membawa kedua tongkatnya. Tongkat itu bisa berubah menjadi senjata yang mengerikan dan sangat ditakuti karena sewaktu-waktu bisa dipukulkan ke badan atau kepala kami yang kecil-kecil. Satu hal yang sampai sekarang tidak saya mengerti, dalam banyak kesempatan dia memperlihatkan kebenciannya kepada saya.

Beberapa kali tongkatnya menyakiti badan atau kepala saya. Bahkan pada saat saya tidak berminat nggandol keretanya, dia tetap saja berusaha menyakiti saya. Usianya yang lebih tua dan kedua senjatanya yang sangat saya takuti, membuat saya tidak berdaya. Apalagi dia selalu mendapat perlindungan dari kakak-kakak lelakinya.

Sementara saya waktu itu tinggal hanya dengan seorang ibu dan dua kakak perempuan. Dua kakak laki-laki saya sudah di Jakarta ikut ayah. Sejak itu saya sangat benci pada orang-orang yang menggunakan tongkat. Dalam pikiran saya orang-orang yang kakinya tidak sempurna dan menggunakan tongkat adalah orang-orang jahat. “Racun“ itu menyebar di otak dan mengendap di hati saya untuk jangka waktu yang lama.

Traumatis yang saya alami dulu itu ternyata cukup parah. Setelah dewasa dan memahami bahwa setiap individu berbeda, tingkat kebencian saya mulai memudar. Tidak semua orang yang lumpuh kakinya jahat. Saya mencoba melakukan detoksi agar “racun“ kebencian pada orang-orang yang cacat kakinya terus berkurang. Namun trauma masa kanak sampai detik ini sulit dihapus tuntas.

Bayangan wajah dan perlakuan anak bertongkat yang saya terima di masa kanak dulu ternyata mengendap di bawah alam sadar dan kadang masih mencuat ke permukaan. Kalaupun saya mencoba mencari jawab mengapa dia membenci saya, dugaan kuat karena ada darah Belanda mengalir dalam tubuh saya. Darah Belanda ini tidak menjadi masalah ketika kita tinggal di kota besar seperti Jakarta apalagi di jaman sekarang. Tetapi pada masa awal 1960-an, dan jika kita tinggal di daerah perkampungan, soal darah Belanda ini bisa menjadi “takdir“ yang patut disesali.

Tinggal di kampung dengan kulit yang lebih terang dari rata-rata anak-anak kampung memang bisa menjadi persoalan tersendiri. Untuk jangka waktu cukup lama saya menderita dilahirkan sebagai “anak Belanda“. Sebab pada masa itu buku-buku sekolah dan pandangan para orangtua, terutama yang wawasan dan pergaulannya terbatas, bermuatan kebencian terhadap orang Belanda. Kala itu Belanda dianggap sebagai penjajah yang harus dimusuhi. Saya sering disingkirkan dari pergaulana anak-anak sebaya karena dicap “penjajah“. Saya menjadi musuh bersama.

Bahkan ada sebuah syair lagu dalam bahasa Jawa yang sampai sekarang tidak akan pernah saya lupakan baitnya. Sebab lagu itu sering dinyanyikan jika ada sekelompok anak-anak memusuhi saya. Bunyi syairnya begini: …kowe arep nang di, Le ? Kulo bade gawe boto, Boto karo nggo opo, Le Kanggo ngepruk Londo… (....kamu mau ke mana, Nak? Saya mau membuat batu bata Batu bata untuk apa, Nak? Untuk memukul kepala Belanda.) Mungkin itu dulu lagu perjuangan yang dinyanyikan di desa-desa atau di kampung-kampung untuk memberi semangat bagi para prajurit atau gerilyawan guna melawan penjajah Belanda.

Tapi apakah saya harus memikul ‘’dosa keturunan’’ itu hanya karena saya lahir dari rahim seorang perempuan yang memiliki darah Belanda dalam tubuhnya ? Akibat sering dimusuhi dan diperlakukan seperti itu, saya benci terlahir dengan darah Belanda mengalir di dalam tubuh saya.

Di rumah bahkan saya melarang ibu saya berbahasa Belanda. Sehingga ibu sering mencuri-curi berbahasa Belanda dengan kakak-kakak saya jika saya tidak di rumah.

Saya juga benci Belanda. Gara-gara mereka saya jadi dimusuhi teman-teman. Empat puluh tahun kemudian, saat saya mengundang Sugeng Siswoyudhono di Kick Andy, saya teringat kembali pada teman yang masa kanak dulu begitu saya benci. Teman yang dulu sering menganiaya saya dengan kedua tongkatnya yang mengerikan itu.

Kehadiran Sugeng di Kick Andy seakan sudah diatur oleh-Nya. Pertemuan dengan Sugeng mengikis kebencian yang secara tidak sadar rupanya masih mengendap di alam bawah sadar saya. Usai pertemuan dengan Sugeng saat rekaman Kick Andy, hati saya terasa lapang. Plong. Saya semakin yakin ini jalan yang dikehendaki Tuhan. Siapa bisa menyangka Kick Andy menemukan Sugeng, seorang pemuda nun jauh di sebuah desa kecil di Mojokerto, Jawa Timur? Pada saat duduk di kelas dua SMA Sugeng mengalami kecelakaan sepeda motor. Akibat kecelakaan itu kaki kanannya harus diamputasi. Tidak mudah bagi remaja aktif seusia dia menerima kenyataan harus hidup selamanya dengan hanya satu kaki.

Tapi, Sugeng membalikkan ratapan menjadi decak kekaguman. Bermula dari kaki palsunya yang sudah rusak, Sugeng tidak sampai hati meminta orangtua atau saudaranya untuk membelikan dia kaki palsu. Maka, dengan pengetahuan yang terbatas, Sugeng mulai merancang dan membuat sendiri kaki palsu untuknya.

Ternyata kaki palsu dari fiber ciptaannya tersebut lebih nyaman dan lebih ringan dari kaki palsu yang umum dipakai. Maka, singkat cerita, dari mulut ke mulut banyak orang tahu soal kaki palsu buatan Sugeng. Pesanan mulai mengalir.

Kaki palsu buatan Sugeng juga relatif murah karena sejak awal tujuannya memang lebih untuk membantu orang-orang yang tidak mampu. Bersama sejumlah anak muda di desanya, Sugeng membuka “Bengkel“ kaki palsu. Dari seorang yang seharusnya “dikasihani“, Sugeng yang sehari-hari bekerja sebagai penjual susu botol ini, justru tampil sebagai penolong orang-orang tak mampu.

Dalam keterbatasannya, Sugeng rela memberi. Saya semakin bahagia ketika mengetahui tayangan topik Sugeng tersebut ternyata menginspirasi banyak penonton. Seorang suami di Pamulang, yang tadinya tidak mau diamputasi dan patah semangat dalam menjalani hidupnya, tiba-tiba bangkit dan bersemangat setelah menonton tayangan tersebut.

Jika Sugeng bisa hidup – bahkan menikmati hidupnya – walau dengan satu kaki, mengapa dia tidak bisa? Begitu pikirnya. Penonton lain, seorang perempuan yang baru menikah, berusaha mencari alamat Sugeng. Dia ingin tahu berapa harga sebuah kaki palsu buatan Sugeng. Perempuan itu sekian lama sudah berusaha menabung dan ingin memberikan hadiah kaki palsu untuk ayah tercinta.

Dia dan keluarganya sedih melihat sang ayah, yang setelah kakinya diamputasi, lebih sering mengurung diri di rumah. Sang ayah menarik diri dari pergaulan karena merasa rendah diri. Dua perempuan dari Surabaya, juga mengejar Sugeng karena ingin mendapatkan kaki palsu buatan Sugeng guna diberikan kepada seorang sahabat mereka yang mengalami kecelakaan dan kedua kakinya harus diamputasi sebatas paha.

Masih banyak kisah lain yang kami baca di website www.kickandy.com, yang menunjukkan betapa tayangan tentang Sugeng di Kick Andy memiliki dampak yang luar biasa.

Tuhan menunjukkan kembali kebesaran-Nya. Pertemuan saya dengan Sugeng saya yakini bukan peristiwa yang tidak disengaja. Dengan cara-Nya, Tuhan hendak menghapus prasangka buruk yang masih tersisa di alam bawah sadar saya. Prasangka tentang orang-orang yang kakinya cacat. Kehadiran Sugeng di Kick Andy memang membuat banyak orang terinspirasi dan termotivasi.

Bagi saya pribadi, pertemuan dengan Sugeng membersihkan trauma masa kanak yang ternyata masih mengendap dalam hati saya, di bawah alam sadar. Karena itu saya mensyukuri pertemuan saya dengan Sugeng. Tuhan, terima kasih. Sejak bertemu pemuda berkaki palsu itu, hati saya jadi plong.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy