Ahmad Abdul Haq


Kematian (2)

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Senin, 08 September 2008 00:00 WIBKematian (2)

kick andy

Saya baru saja meninggalkan rumah ketika terdengar jeritan ibu. Dengan bergegas saya masuk kembali. Saat itulah saya melihat ayah sudah tertelungkup di lantai. Badannya lunglai. Saat saya mengangkat dan memangkunya dalam pelukan, matanya menatap saya dalam sekali. Mulutnya berusaha mengeluarkan kata-kata namun gagal. Tangan saya digenggamnya kuat-kuat sebelum akhirnya melemah dan terdiam.

Kematian datang dengan caranya sendiri . Kadang tak terduga. Termasuk ketika dia menjemput ayah. Sungguh sangat tidak terduga. Sepuluh menit yang lalu kami masih berdialog. Bahkan sedikit bersitegang. Gara-gara ayah melarang saya pergi.

Seminggu lalu saya mendapat tiket gratis dari seorang teman. Tiket pertandingan "Sarung Tinju Emas" di Gelanggang Olahraga Cenderawasih, Jayapura. Sejak dulu saya tergila-gila pada tinju. Karena itu, betapa gembiranya saat mendapat tiket gratis.

Malam itu saya pamit pada ayah. Di luar dugaan, ayah melarang. Dia meminta saya tetap di rumah ‘untuk menjaga ibu’. Permintaan yang aneh. Selama ini saya selalu bebas menentukan ke manapun pergi. Ayah termasuk orangtua yang menyenangkan, yang tidak ‘neko-neko’. Karena itu larangannya sungguh mengejutkan.

Saya kecewa. Kesal. Kepada ibu saya lontarkan perasaan itu. Saya sungguh ingin menonton pertandingan tinju itu. Malam ini babak final. Petinju-petinju terbaik akan tampil. Apalagi tiket yang ada di tangan saya tiket VIP. Sejak seminggu lalu saya nyaris tidak bisa tidur menunggu detik-detik yang menentukan ini. Sudah terbayang saya duduk di deretan bangku paling depan, dengan wajah penuh kebanggaan. Saya membayangkan esoknya teman-teman pasti heboh. Di kota sekecil Jayapura, cerita tentang saya duduk di bangku VIP akan menjadi bahan percakapan yang tiada henti. Setidaknya di antara teman-teman saya. Haruskah impian yang tinggal sejengkal itu sirna? Hati saya berontak. Saya tidak rela.

Ibu, yang melihat kekecewaan saya, mencoba membujuk ayah. Terjadi perdebatan sebentar sebelum akhirnya ayah mengalah dan mengijinkan saya melangkah meninggalkan rumah. Dia hanya berpesan agar setelah pertandingan usai saya segera pulang.

Tapi, baru beberapa langkah, terdengar jeritan ibu. Ayah ambruk. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, di dalam taksi, saya menyadari ayah telah tiada. Denyut nadinya datar. Jantungnya tidak lagi berdegup. Ayah telah pergi untuk selama-lamanya.

Ketika menguruk tanah ke liang lahat, perasaan saya disesaki rasa penyesalan yang sangat dalam. Kalau saja jarum jam bisa diputar ulang, malam itu saya ingin menyenangkan hati ayah. Saya tidak akan bersikeras pergi ke pertandingan tinju. Tiket pertandingan tinju VIP tidak lagi punya arti berbanding permintaannya sebelum kematian menjemput. Saya ingin menghantarkan ayah berpulang dalam damai. Bukan dengan suasana hati yang galau. Namun apa mau dikata. Sesal kemudian memang tidak berguna. Kematian datang dengan caranya sendiri. Tidak mengenal waktu dan tempat. Kematian ayah begitu mendadak. Saya tidak siap.

Dalam bukunya, Psikologi Kematian, Komaruddin Hidayat menulis, ‘’Drama hidup yang penuh misteri dan seketika bisa mengubah jalan hidup seseorang -- serta keluarga -- adalah kematian. Setiap orang tidak bisa lolos darinya. Namun kita semua tidak tahu kapan dan bagaimana itu terjadi. Begitu absolutnya dan misteriusnya kematian sehingga semua yang ada ini tiba-tiba rapuh dan kecil, tak berdaya di hadapan-Nya’’

Sekian tahun kemudian, dalam penderitaannya yang panjang, saya menyaksikan waktu yang bergerak lambat dan menyakitkan ketika kematian menjemput kakak perempuan saya. Hampir setahun lamanya dia tergeletak dalam kesakitan yang tak terperikan akibat kanker yang menggerogoti kedua payudaraya.

Saya dan keluarga tahu, cepat atau lambat kematian itu akan tiba juga. Tetapi kami tidak pernah mencoba membicarakannya secara terbuka. Dalam buku "Psikologi Kematian" itu – buku yang juga dikutip Gde Prama ketika tampil di Kick Andy episode "Lentera Jiwa" – Komaruddin Hidayat menulis: ‘Kematian itu misteri yang menakutkan. Makanya sebagian besar masyarakat merasa tabu berbicara tentang kematian..’’

Komaruddin mencoba menjelaskan kepada kita, dalam menghadapi kematian kadang kita bagai burung unta yang menyembunyikan kepala ke dalam pasir. Dengan begitu kita merasa seolah persoalan sudah selesai. Pada saat orang-orang yang kita cintai sedang sakit dan dalam keadaan kritis, dokter dan anggota keluarga merasa tidak nyaman untuk membuat prediksi tentang datangnya ajal.

Tetapi, kakak saya justru lebih siap. Sisa-sisa hidupnya dia gunakan untuk melayani orang lain. Setiap hari, dalam kondisi yang semakin rapuh, dia mendatangi kamar demi kamar pasien di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Dia berusaha menghibur dan menguatkan para penderita kanker lain yang sedang dirawat di sana. Seakan dia sendiri bukan pasien.

Kepada kelima anaknya yang masih kecil-kecil, setahap demi setahap dia mulai mempersiapkan mereka untuk bisa hidup tanpa seorang ibu. Masing-masing anak mendapat ‘tugas’ yang harus mereka laksanakan jika dia 'pergi' kelak. Anak-anak diajarkan untuk bisa hidup tanpa ayah dan ibu mereka. Sudah lama anak-anak itu memang hidup tanpa ayah. Kini mereka dipersiapkan untuk bisa menjalani hidup tanpa kedua orangtua.

Namun saya bagai burung unta yang menyembunyikan kepala ke dalam pasir. Saya tidak siap menghadapi hari kematian yang pasti akan tiba. Saya berharap semua itu akan berlalu dan menemukan jalan keluarnya sendiri. Saya tidak berani membicarakan kematian kakak saya. Saya takut. Takut menghadapi kenyataan.

‘’Karena kematian sudah merupakan kepastian, dan kematian merupakan peristiwa menakutkan, maka orang lebih memilih tidak memikirkannya dan berusaha menghindarinya..’’ tulis Komaruddin. Saya merasa termasuk yang dituding Komaruddin dalam bukunya itu. Saya lebih memilih tidak memikirkan kematian itu dan berusaha menghindarinya.

Setiap kali saya datang membesuk, kakak saya selalu ceria. Tidak sedikit pun dia memperlihatkan penderitaan luar biasa yang dihadapinya. Dada yang hancur , berdarah dan bernanah, tak kuasa menahan semangatnya yang menyala-nyala. Senyumnya terus menebar dan kata-kata yang membesarkan hati selalu terucap dari mulutnya.

Kakak saya lebih siap. Dia sangat siap meninggalkan orang-orang yang dicintai dan mencintainya. Persiapan yang sudah dia lakukan sejak awal ketika dokter memvonis dia terkena kanker stadium empat dan tidak ada harapan hidup. Hanya sekali dia menangis. Dia menangis di pundak saya saat keluar dari ruang dokter yang menjatuhkan vonis itu. Dalam linangan air mata dia meminta saya bersedia mengambil tanggung jawab menjaga dan memelihara kelima anaknya.

Ketika kematian menjemputnya, tidak mudah bagi kami ‘membuat persiapan untuk mengantarkan kepegiannya’. Sebab kami sekeluarga, termasuk saya, lebih suka menghindar membicarakan kematian. Tetapi kakak saya sudah siap. ‘’Bagi mereka yang hati, pikiran, dan prilakunya selalu merasa terikat dan memperoleh bimbingan Tuhan, kematian sama sekali tidak menakutkan. Karena dengan berakhirnya episode kehidupan duniawi, berarti seseorang setapak menjadi lebih dekat pada Tuhan yang selalu dicintai dan dirindukan’’. ’’ tulis Komaruddin. Saya tidak tahu apakah kakak saya termasuk dalam kategori yang dimaksud Komaruddin. Saya juga tidak tahu apakah ayah saya sebenarnya sudah mempersiapkan kematiannya agar keluarga bisa ‘membuat persiapan untuk melepaskannya’. Tetapi yang saya tahu, kematian datang tanpa kita tahu kapan, di mana, dan dengan cara apa.

(Tulisan ini kupersembahkan untuk kakakku tercinta, Gaby, yang tidak pernah lelah membimbingku untuk mencintai Tuhan)

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy