Ahmad Abdul Haq


Dewa Ruci

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Sabtu, 17 Januari 2009 16:47 WIBDewa Ruci

kick andyBegitu kapal mendekati perairan Brunei, sekelompok kadet menyergap saya. Jam tangan dan sepatu saya dicopot paksa. Termasuk dompet di kantong celana dikeluarkan. Setelah itu mereka menggotong saya ke geladak. Dalam hitungan detik tubuh saya dilempar melalui pagar geladak dan melayang di udara bebas kemudian tercebur di telan ombak laut.

Kenangan akan kejadian pada tahun 1989 bersama Dewa Ruci memang sulit dilupakan. Pada saat saya naik ke geladak dengan pakaian basah kuyup, seluruh kadet sudah berbaris rapih dengan seragam coklat-coklat mereka yang gagah. Korps musik langsung mendendangkan sebuah lagu gubahan mereka “Taruna Bangladesh” pada saat komandan kapal menuangkan segelas sampagne untuk saya. Tak terasa air mata berlinang.

Ingatan saya pada kehidupan di tengah laut itu kembali ketika mendengar Kapal Motor Teratai Prima tenggelam di Perairan Batu Roro, 50 km dari Majene, Sulawesi Barat. Kapal tersebut sedang dalam perjalanan dari Pelabuhan Pare-Pare, Sulawesi Selatan, menuju Samarinda, di Kalimantan. Kuat dugaan kapal tenggelam akibat dihantam ombak besar. Sejumlah penumpang berhasil selamat tetapi sedikitnya 200 penumpang lain sampai tulisan ini saya buat belum jelas nasibnya. Ganasnya ombak membuat tim SAR sulit melakukan operasi penyelamatan.

Sebulan lamanya sebagai wartawan saya berlayar bersama seluruh awak kapal dan Taruna Akabri Angkatan Laut. Kami berlayar bersama Kapal Latih Dewa Ruci yang terkenal itu. Kami dalam misi pelayaran menuju Thailand dan pulangnya memutar melewati Brunei, Kalimantan, baru kemudian kembali lagi ke Surabaya.

Pada malam kedua, saat kami baru berangkat, Dewa Ruci dihantam badai besar di Laut Cina Selatan. Ombak setinggi lebih dari enam meter waktu itu membuat Dewa Ruci seperti sabut kelapa yang dipermainkan ombak. Lautan gelap gulita. Bagian haluan timbul dan tenggelam menabrak gelombang. Hujan sebesar butir jagung terasa pedih ketika menyentuh kulit. Sementara petir terus menyambar-nyambar di udara.

Sirene meraung-raung tak henti. Seluruh awak kapal dan taruna sibuk menurunkan layar di tengah hujan deras dan kiltan petir. Tali-tali layar yang putus berubah menjadi berbahaya karena bergerak liar menyambar-nyambar dengan kekuatan yang luar biasa. Tidak mudah menurunkan layar dalam situasi seperti itu. Sebab tiang-tiang layar juga bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti irama ombak laut yang menggila.

Sesudah mengambil gambar kesibukan awak kapal dan taruna yang sedang berjuang melawan badai, diam-diam kamera saya masukkan ke dalam kantong plastik. Jika saja kapal tenggelam, pikir saya, setidaknya saya bisa menyelamatkan dokumentasi yang sangat berharga itu.

Komandan Dewa Ruci akhirnya memutuskan kapal kembali dan berlindung di Pulau Batam. Cuaca dan kondisi layar yang koyak tidak memungkinkan Dewa Ruci meneruskan perjalanan ke Thailand. Ketika matahari mulai bersinar, barulah kami menyadari kerusakan lebih parah dari yang kami duga. Seluruh layar koyak dan harus diganti. Kami terpaksa berlabuh satu hari lagi sembari menunggu layar baru yang harus didatangkan dari Jakarta.

Satu bulan terapung-apung bersama para pelaut membuat saya berempati terhadap mereka. Bisa dibayangkan kehidupan mereka yang lebih banyak di laut ketimbang di darat. Lebih banyak berpisah dari keluarga ketimbang melihat pertumbuhan anak-anak mereka. Belum lagi jika cuaca buruk dan ombak tinggi.

Dalam pelayaran tersebut berkali-kali Dewa Ruci dihadang gelombang besar. Kadang saya tidak percaya kapal sekecil ini pernah berlayar hingga ke Timur Tengah, Eropa, Amerika, bahkan sampai ke Kanada. Sejarah Dewa Ruci terlalu panjang untuk diceritakan. Kehebatan awak kapal dan para kadet yang berlatih juga sudah menjadi legenda. Hal yang juga pernah dibuktikan oleh para awak kapal layar Phinisi yang melanglang sampai Amerika.

Saya beruntung punya kesempaan menyaksikan dengan mata kepala sendiri perjuangan para pelaut kita. Terutama ketika badai menghadang. Betapa tangguh dan berdedikasinya mereka. Bahkan di tengah malam, ketika gelombang tinggi, mereka harus tetap bergantian berjaga di tiang utama layar yang tingginya mencapai sepuluh meter, yang berayun-ayun liar dipermainkan ombak. Setiap taruna yang bertugas selalu membawa serta ember kecil untuk penadah muntah.

Ketika melintas garis Khatulistiwa, saya sempat “dibaptis” di atas kapal. Siapa saja yang belum pernah melintas garis Khatulistiwa, tidak perduli siapa dia dan apa pangkatnya, harus dibaptis. Caranya, mereka “ditelanjangi” dan hanya bercelana dalam, lalu dipaksa minum “jamu” buatan awak kapal. Namanya memang jamu, tetapi jangan ditanya komponennya apa saja di dalam jamu itu. Setahu saya, dari hasil nguping, jamu itu terbuat dari semua bumbu masak yang ada di atas kapal dijadikan satu lalu ditumbuk. Rasanya? Saya yakin siapa pun yang pernah merasakannya tidak akan sudi untuk mencobanya lagi.

Setelah minum jamu, semua berbaris satu per satu di geladak menuju sebuah drum yang isinya campuran olie bekas dan air garam. Sejumlah “algojo” suruhan “Dewa Neptunus” akan menangkap “korban” kemudian dengan kepala di bawah badan sang korban dicelup paksa ke dalam drum berisi cairan hitam legam tersebut. Cairan yang luar biasa. Setidaknya seminggu kemudian bau olie tidak akan hilang dari rambut.

Tapi, semua peristiwa tersebut memperkaya bathin saya. Tidak semua orang punya peluang ikut dalam pelayaran Dewa Ruci. Lebih lagi tidak semua orang berkesempatan melewati garis Khatulistiwa dan dibaptis di atas Dewa Ruci.

Jika menengok ke belakang, saya selalu bersyukur pernah mengalami banyak hal dalam hidup ini yang membuat saya bisa merasakan apa yang dirasakan orang. Setelah perjalanan panjang dengan Dewa Ruci, saya bisa berempati terhadap kehidupan para pelaut kita. Mereka yang mengabdi dalam diam dan sepinya lautan. Mereka yang menjaga laut kita yang maha luas. Tapi mereka jauh dari publikasi dan pujian.

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy