Ahmad Abdul Haq


Suara Dari Penjara

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Minggu, 11 Januari 2009 10:43 WIBSuara Dari Penjara

kick andy“Kalapasku, kaulah pahlawanku

Anggaplah aku sebagai anakmu

Bukan demi kuturuti perintahmu

Disini aku bersamamu

Tersenyumlah wahai kalapasku

Anggaplah aku sebagai anakmu

Mimpi yang ada di benakku

Di sini, di dalam istanamu

Andai aku punya pesawat luar angkasa

Rela kuberikan kepadamu

Lewat lagu ini kuucapkan terima kasih atas segala kebaikanmu”

Saya tersentak mendengar syair yang dinyanyikan anak2 itu dengan sepenuh hati. Usia mereka saya taksir sekitar 12-15 tahun. Sembari menyanyikan lagu berjudul “Pak Haru” itu, mereka memainkan gitar,bas,gendang,termasuk alat musik drum yang sederhana. Mereka adalah penghuni Lembaga Pemasyarakatan Anak-Anak Tangerang. “Lagu ini saya persembahkan untuk Pak Haru,” ujar Anjar yang menjadi penyanyi. Selama band anak-anak yang dibentuk dalam LP itu menyanyikan lagu yang khusus yg mereka ciptakan bagi Pak Haru, hati saya mengharu biru. Sementara Pak Haru, Kepala Lembaga Permasyarakatan anak-anak Tangerang itu hanya tersenyum kecil. Senyuman penuh kasih.

Ini kedua kalinya saya bertemu Pak Haru. Pertemuan pertama terjadi beberapa tahun lalu, ketika Kick Andy melakukan rekaman di LP tersebut bersama anak-anak penghuni LP. Topik yang kami angkat waktu itu, mengenai kehidupan anak-anak di penjara. Bagaimana anak-anak itu – dalam usianya yang masih belia – sudah harus berpisah dengan orang tua dan keluarganya.

Sejak pertemuan pertama, saya sudah terkesan pada Pak Haru. Sosoknya santun, ramah, dan rendah hati. Penampilannya juga bersahaja. Tetapi bukan itu saja, yang membuat saya selalu teringat padanya. Saya kagum melihat prinsip hidup Pak Haru dalam memandang kehidupan anak-anak penghuni LP.

Pada kedatangan pertama, saya segera merasakan kepemimpinan Pak Haru di LP tersebut. Suasana penjara sangat bersih. Saya juga sempat berkunjung ke perpustakaan LP, yang waktu itu baru saja dibuka. “Walau mereka terkungkung di balik tembok penjara, anak-anak ini tetap berhak atas ilmu & pengetahuan,” ujar Pak Haru.

Di bawah bimbingan Pak Haru & para sipir di LP itu, anak-anak yang ditahan di sana, aktif mengikuti berbagai lomba. Bahkan mereka mampu mengukir prestasi demi prestasi. Mulai dari juara lomba melukis, membuat maket, mengarang, lomba puisi, sampai kompetisi band. Pak Haru selalu mendorong anak-anak LP untuk mengikuti berbagai kompetisi. Walau untuk itu Pak Haru harus mengambil risiko yang cukup tinggi.

Waktu itu saya mengagumi keberanian Pak Haru memberi kepercayaan pada anak-anak tahanan untuk bermain band di luar penjara dalam berbagai kesempatan dengan pengawasan yang minim. Apakah tidak takut mereka akan lari dan tidak kembali ke penjara?

Pak Haru menggeleng, “Justru dengan diberi kepercayaan seperti itu, mereka tertantang untuk menjaganya. Kepercayaan itu mahal bagi mereka,” tutur Pak Haru. Dari tahun ke tahun, anak-anak yang berprestasi diberi keleluasaan mengikuti berbagai kompetisi di luar penjara. Faktanya, tak satupun anak-anak itu yang menyalahgunakan kepercayaan tersebut dengan melarikan diri.

Saya kagum pada Pak Haru. Saya bisa merasakan kecintaan anak-anak tahanan di LP tersebut kepada lelaki berperawakan kurus itu. Sebaliknya, saya juga bisa merasakan kecintaan Pak Haru pada anak-anak yang terkungkung di balik tembok penjara.

Ingatan pada Pak Haru mendorong saya baru-baru ini-- Melalui Kick Andy Foundation—menyumbang sejumlah buku ke perpustakaan LP. Melalui pengurus Kick Andy Foundation saya mendapat kabar Pak Haru dan anak-anak LP sangat menginginkan bisa menonton film “Laskar Pelangi” di LP sekaligus bertemu Andrea Hirata, penulis buku “Laskar Pelangi”.

Saya segera mengontak Andrea Hirata dan teman-teman di Penerbit Bentang yang menerbitkan buku sekaligus membuat film “Laskar Pelangi”. Gayung bersambut, Andrea dan teman-teman di Bentang menyambut dengan antusias.

Maka hari itu kami berkunjung ke LP untuk memutar film tentang perjuangan anak-anak miskin di Pulau Belitong itu. Betapa bahagianya hati ini manakala saya melihat wajah anak-anak di LP itu tampak gembira bisa bertemu dengan Andrea Hirata yang selama ini hanya mereka kenal lewat pemberitaan dan cerita dari mulut ke mulut.

Andrea Hirata sendiri terkejut dan geleng-geleng kepala ketika band anak-anak di penjara itu dengan fasih dan atraktif menyanyikan lagu “lascar Pelangi” yang menjadi sound track film tersebut.

Pada kesempatan itu, Pak Haru menceritakan kegalauannya pada peristiwa penangkapan anak-anak tukang semir sepatu di Bandara Soekarno-Hatta. “Mereka baru berusia sekitar 12 tahun,” ujar Pak Haru masgul.” Tapi mereka sekarang harus meringkuk di dalam sel.”

Pak Haru lalu mengungkapkan pertentangan bathin yang kerap dirasakan dalam berbagai kasus yang melibatkan anak-anak di bawah umur. “Hukum kita memang harus ditegakkan. Tetapi jika sampai menyangkut anak-anak dibawah umur, hati saya sering berontak,” ujarnya.

Dalam kasus anak-anak yang ditangkap di bandara, dengan tuduhan berjudi, Pak Haru dengan jujur menyatakan pandangannya yang berbeda dengan petugas yang menangkap anak-anak itu. “Mereka hanya mengisi waktu sambil main-main. Memang ada permainan uang. Tapi, uang taruhannya kecil. Apalagi mereka sebenarnya bersaudara. Harusnya cukup orangtua mereka dipanggil, diberi nasihat, tapi tidak perlu sampai harus masuk penjara,” Pak Haru menegaskan. “Penjara, sebaik apapun, akan memberi pengaruh buruk bagi mereka.”

Saya bisa merasakan dilemma yang dihadapi Pak Haru. Termasuk ketika dengan nada galau lelaki berkumis tebal itu menunjuk tahanan paling muda di LP tersebut, yang berusia di bawah 12 tahun, yang hari itu sedang memperlihatkan keterampilannya bermain drum. “Sejak kecil dia tersesat ikut menggelandang di Pasar Anyer. Belum genap berusia 12 tahun, sudah harus menjadi penghuni LP,” kata Pak Haru. Padahal, menurut Pak Haru, anak tersebut hanya menjadi korban karena disuruh oleh orang dewasa.

Pada suatu hari, di bawah ancaman, anak tersebut disuruh mengambil motor dari halaman sebuah rumah. Pada saat sedang mendorong motor tesebut, tubuhnya yang kecil tidak kuat menyanggah sepeda motor tersebut. Sepeda motor terbalik dan menindih sang anak. Setelah ditangkap dan diproses, anak tersebut dikirim ke LP Anak Tangerang. “Tempat dia seharusnya bukan di sini,” ujar Pak Haru dengan wajah sedih.

Saya beruntung mengenal Pak Haru. Saya beruntung bisa melihat kehidupan lain di dalam penjara. Kehidupan lain di dalam penjara. Kehidupan anak-anak yang terpisah dari ibunya. Anak-anak yang seharusnya masih membutuhkan kasih saying dan bimbingan orangtua. Anak-anak yang oleh keadaan harus menghadapi masa depan yang penuh tanda Tanya.

Dengan mengenal Pak Haru dan melihat kehidupan di dalam penjara anak-anak itu. Saya bisa lebih berempati terhadap anak-anak itu. Dengan melihat kehidupan di dalam penjara, saya lebih menghargai kebebasan.

Secinta-cintanya mereka pada Pak Haru, mereka tentu akan lebih berbahagia jika berada di luar tembok penjara. Berada di antara orangtua dan keluarga. Bukan terpisah oleh tembok penjara. Belum lagi stigma yang harus mereka pikul seumur hidup sebagai “bekas tahanan”.

Dengan melihat kehidupan anak-anak ini di dalam penjara, setidaknya saya bisa membuka mata hati saya. Bahwa mereka hanya korban keadaan. Bukan keinginan mereka untuk dilahirkan dalam situasi yang menghantarkan mereka di dalam penjara.

Saya percaya kata-kata Andrea Hirata kepada anak-anak di penjara itu, bahwa dalam kehidupan, jika kita salah dalam melangkah, masih ada “kesempatan kedua”. Karena itu, mereka berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua itu. Pertanyaannya : adakah kita memberi mereka kesempatan kedua?


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy