Ahmad Abdul Haq


Multatuli dari Dusun Ciseel

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 19 April 2012 11:06 WIBMultatuli dari Dusun Ciseel

kick andyJantung saya rasanya berhenti. Wajah sudah pasti pucat pasi. Terutama ketika motor yang saya tumpangi menuruni jalan terjal berbatuan. Di kanan tebing, di kiri jurang yang cukup dalam.

Tinggal menunggu, ban sepeda motor tua itu terpeleset oleh bebatuan yang licin, maka nama saya tinggal kenangan. Sepanjang jalan saya hanya berdoa semoga Tuhan melindungi saya dan tim Kick Andy yang saat itu sedang menuju ke Dusun Ciseel, Kecamatan Sobang, Lebak, Banten. Doa saya semakin kencang manakala jalanan menukik atau menanjak tajam.

Untuk mencapai desa di kaki Gunung Halimun itu, hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki atau menumpang kendaraan beroda dua. Jalanan menuju dusun tersebut  terlalu sempit untuk dilalui kendaraan roda empat. Bahkan di beberapa bagian, lebar jalan hanya cukup untuk dilalui satu sepeda motor. Belum lagi di beberapa ruas jalanannya hanya tanah liat yang becek dan licin jika hujan. Beberapa kali sepeda motor yang saya tumpangi harus berakrobat agar tidak terpeleset atau terpaksa berhenti karena rodanya tertancap di lumpur.

Penduduk Ciseel tidak lebih dari 150 Kepala Keluarga. Ada sekitar 96 rumah di desa yang terpencil dan terisolasi itu. Dari sekian rumah tadi, hanya dua rumah yang sudah dialiri listrik. Di sanalah para penduduk berkumpul untuk menonton televisi jika malam tiba. Berdesak-desakan di ruang tamu yang sempit. Pemandangan yang sungguh ironis jika dibandingkan dengan kondisi di kota-kota.

Perjalanan ke Dusun Ciseel yang terjal dan licin itu rata-rata ditempuh dalam waktu 20 menit dari batas akhir jalanan yang dapat diakses kendaraan roda empat. Tetapi selama 20 menit itulah pertarungan “hidup dan mati” berlangsung. Situasi yang terburuk bisa saja terjadi dalam kurun waktu itu.

Saya mungkin berlebihan menggambarkan kondisi jalanan dan perjuangan menuju Dusun Ciseel. Sebab pertarungan hidup dan mati yang saya lukiskan tadi harus dijalani masyarakat di sana setiap hari jika mereka hendak keluar dari dusun. Pilihan lain: jalan kaki berjam-jam menuju Desa Ciminyak, Kecamatan Muncang, kota kecamatan terdekat.

Namun perjuangan berat dalam perjalanan menjadi tidak sia-sia manakala saya dan tim Kick Andy bertemu Ubaidilah Mukhtar, seorang guru SMP di desa itu. Kang Ubay, begitu pemuda berusia 32 tahun ini biasa disapa, sudah tiga tahun bertugas sebagai guru PNS di dusun ini. Tetapi, dalam kurun waktu tersebut, dia berhasil membawa perubahan bagi anak-anak dusun kecil itu.

Setelah lulus tes masuk untuk menjadi guru dengan status pegawai negeri sipil, Kang Ubay ditugaskan untuk mengajar di sebuah SMP di Dusun Ciseel. Sebagai warga Depok, yang sudah terbiasa dengan aktivitas di malam hari dengan penerangan lampu 24 jam, Ubay sempat risau dengan penugasannya di tempat yang gelap gulita jika malam itu.

Namun kuatnya panggilan dalam hatinya untuk mengabdi pada penduduk di dusun itu, maka Ubay mulai merintis sebuah taman baca yang sederhana. Taman baca itu menempati ruang tamu tempat dia mengontrak di sana.

Dari ruang sempit itulah perubahan mulai dicanangkan. Dengan bantuan teman-temannya, dan juga gaji yang dia sisihkan, Ubay mulai mengumpulkan buku-buku. Tapi yang membedakan taman baca Multatuli yang dia dirikan itu dengan taman baca lainnya adalah, di taman baca ini kita bisa menjumpai buku Max Havelaar karya Multatuli dalam beragam bahasa. Mulai dari bahasa Indonesia, Sunda, Belanda, Prancis, sampai yang berbahasa Jerman.

“Saya ingin tunjukkan kepada anak-anak di sini bahwa buku Max Havelaar yang ceritanya mengambil latar belakang daerah Lebak, Banten, dan sekitarnya itu sudah menjadi kisah yang mendunia,” ujar Ubay. “Supaya anak-anak bangga pada daerah asal mereka ini,” dia menambahkan.

Multatuli memang nama samaran yang dipakai oleh Eduard Douwes Dekker, lelaki keturunan Belanda, saat menuliskan kisah tersebut. Eduard Douwes Dekker pernah menjadi Asisten Residen di Karesidenen Lebak, Banten pada masa kolonial Belanda. Kondisi masyarakat Lebak yang memprihatinkan akibat kesewenang-wenangan para pengusaha kopi dan bupati yang dilindungi Residen Belanda mendorong Multatuli untuk membelanya. Hal ini dilakukan dengan menuangkan pikiran dan cara pandangnya dalam buku Max Havelaar. Dengan gaya tulisan yang satiris, Multatuli yang artinya–saya  banyak menderita--menceritakan budaya berdagang Belanda saat itu yang hanya mencari untung di satu sisi. Namun, di lain pihak sangat menggurui. Multatuli menggugat pejabat kolonial yang korup dan memuji mereka yang berusaha mendobrak ketimpangan tersebut.

Namun lebih dari sekadar kebanggaan, pesan moral dalam buku itulah yang sebenarnya ingin disampaikan Kang Ubay kepada anak-anak di Dusun Ciseel. “Buku ini sarat dengan pesan moral. Pertama, bahwa siapa saja tidak boleh merampas hak orang lain. Kedua, soal kejujuran,” Ubay menegaskan. Dalam konteks kondisi bangsa kita saat ini yang sedang dilanda badai korupsi, pesan itu terasa sangat kuat dan mengena.

Apa yang dilakukan Ubay terkesan sederhana. Dalam kegiatan taman baca Multatuli, anak-anak di dusun itu diajak ke sawah atau ke sungai. Di sana mereka melakukan kegiatan reading group. Secara bergiliran masing-masing anak diminta untuk membacakan halaman demi halaman—dengan suara keras–buku Max Havelaar. Pada saat seorang anak mendapat giliran, maka yang lain menyimak dengan serius.

“Sudah puluhan kali buku ini kami baca berulang-ulang. Dengan begitu anak-anak akan semakin mampu menangkap pesan yang ingin disampaikan melalui kisah Max Havelaar,” tutur Ubay.

Tidak berhenti di situ, untuk semakin menangkap pesan moral tadi dalam kehidupan nyata, karya-karya di dalam buku mereka pentaskan menjadi drama kehidupan yang seakan nyata. Anak-anak diminta menghayati kisah-kisah di buku itu melalui pementasan drama.

Saya beruntung bisa menyaksikan anak-anak komunitas Multatuli mementaskan drama Saijah dan Adinda, salah satu bab dalam buku Max Havelaar. Ini kisah yang sarat pesan moral yang dibungkus romantisme jaman penjajahan. Bagi Anda yang belum pernah membaca karya sastra yang menarik ini, tidak ada salahnya untuk membacanya.

Anak-anak desa memainkan lakon tersebut di lapangan dekat sekolah. Bahkan, untuk menjadikan karya tersebut lebih hidup, mereka menggunakan kerbau sungguhan sebagai pendukung. Akting mereka sederhana dan kerap menimbulkan tawa bagi para penonton yang terdiri dari anak-anak dan ibu-ibu di dusun itu.

Apa yang saya saksikan di Dusun Ciseel ini memperkaya batin saya. Sebagai “orang Jakarta” yang setiap hari dijejali berita-berita negatif tentang korupsi yang kian menjadi-jadi, bentrok antarwarga, kejahatan yang semakin sadis, perkelahian antar-mahasiswa dan pelajar, perkosaan, konflik antar elite, penggunaan dan perdagangan narkoba yang merajalela, dan ribuan berita-berita negatif lainnya. Apa yang saya saksikan di Dusun Ciseel adalah oase yang membangkitkan rasa optimistis.

Justru dari sebuah dusun terpencil ini saya mendapatkan energi positif yang luar biasa. Berkenalan dengan Kang Ubay membangkitkan keyakinan bahwa bangsa ini masih punya harapan.

Saya beruntung karena dengan menjadi pembawa acara Kick Andy dan Kick Andy HOPE, saya bisa bertemu orang-orang semacam Kang Ubay. Orang-orang yang dalam keterbatasan mereka berbuat sesuatu bagi masyarakat di lingkungannya. Mereka inilah pahlawan-pahlawan yang sebenarnya. Pahlawan-pahlawan yang berkarya dalam diam. Pahlawan-pahlawan yang bekerja dalam sunyi. Merekalah pahlawan-pahlawan sejati.
 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy