Ahmad Abdul Haq


Serupa, Tapi Tak Sama

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Selasa, 14 Oktober 2008 20:31 WIBSerupa, Tapi Tak Sama

Serupa, Tapi Tak Sama Agus duduk di dalam ruang sebuah klinik. Ia terlihat tertekan, gugup dan cemas. Ia telah 'bersih' selama tiga hari, tapi masih juga merasakan efek 'nagih' yang kuat. Agus mengaku sangat bersalah atas perbuatannya dan sangat takut jika istrinya meninggalkannya. Karena hilang percaya diri dan pupus harapan, Agus merasa tidak mampu mengatasi masalahnya setelah mencoba belasan kali dan gagal.

Kinerja buruk, Aguspun kena PHK. Kondisi keuangan buruk, utangnya banyak. Secara fisik, kesehatannyapun memarah. Setelah beberapa kali menyakiti istrinya lewat kata-kata dan kekerasan fisik, kali ini istrinya mengancam akan meninggalkannya selamanya.

Saat wawancara, istri Agus, Sheila, terlihat tertekan dan sesekali menangis. Ia mengeluh soal pertengkaran yang selalu terjadi di rumah dan kekhawatirannya bahwa suaminya akan kehilangan pekerjaan. Kehidupan seksual dan emosional mereka pun sangat parah. Ketika menikah tujuh tahun lalu, Sheila mengira Agus sudah berubah. Ternyata dua tahun terakhir ia kembali ke kebiasaan lamanya.

Agus bahkan menambahkan, ia kini terisolasi dari teman-teman dan meninggalkan hobi olahraga basket yang dulu ia lakukan rutin. Agus mengakui ia kehilangan ketertarikan terhadap banyak hal, termasuk keluarganya sendiri. Yang paling menyiksanya adalah kenyataan bahwa ia sudah tidak menikmatinya lagi, tetapi ia tidak mampu untuk mengendalikan pikiran dan tubuhnya. Saat ini ia mengalami kesulitan tidur, berpikir untuk bunuh diri dan sangat tertekan tanpa tahu harus berbuat apa.

Cerita Dewi lain lagi. Dewi meningkatkan konsumsinya empat kali lipat sejak tahun lalu dan kini terus merasa kurang sehingga sering kali di tengah malam ia 'nagih' dan bahkan menyimpan beberapa persediaan di meja kantornya. Dewi baru saja bercerai dan mengaku perceraiannya disebabkan masalah konsumsinya itu. Dewi menyadari ia telah kehilangan kendali atas dirinya dan sekarang sedang mengalami depresi berat.

Dewi mengaku sering 'nagih' tiap sore, terlebih saat ia seorang diri. Kini, keinginan itu makin sering datang. Untuk memastikan tidak putus, ia bahkan membawa persediaan di tasnya! Dewi selalu mengalami depresi, rasa mual bercampur benci diri dan bersalah.

Peningkatan konsumsi itu membuat Dewi sering bertengkar dengan suaminya yang menuduhnya tidak dapat mengontrol diri, berpendirian lemah, dan istri yang buruk. Dewi sering berpikir bahwa ia adalah korban suatu kecenderungan kompulsif yang tidak tertahankan sehingga ia kehilangan kendali atas diri dan hidupnya. Batinnya selalu menjerit untuk mendapat perhatian dan pertolongan dari orang yang dicintainya.

Kedua cerita itu jelas menggambarkan suatu kondisi adiksi. Tapi, pada kenyataannya, Agus dan Dewi bukanlah pecandu narkoba! Agus adalah pejudi kelas berat dan Dewi tidak bisa mengontrol nafsu makannya. Tetapi mengapa kondisi mereka secara esensial sangat mirip dengan pecandu narkoba umumnya?

Sifat adiksi – tanpa atau dengan perantaraan narkoba – pada esensinya sama. Yang berbeda adalah konsekuensinya.

Konsekuensi kesehatan/badani yang dialami pecandu narkoba lebih berdampak langsung karena efek narkoba yang selalu menghantam kerja otak. Belum lagi konsekuensi hukum dan ketergantungan psikologisnya.

Dengan melihat contoh adiksi tanpa narkoba, seperti Agus dan Dewi, hal itu memungkinkan kita untuk melihat akar permasalahan yang sesungguhnya dari sebuah adiksi dan faktor-faktor penyebabnya. Apa semua ”perilaku berkelebihan atau tidak terkendali” menimbulkan adiksi? Atau, apakah pilihan seseoranglah yang dapat membuat dia kecanduan?

Simpul Adiksi

Banyak ahli mencoba mendefinisikan arti adiksi. Secara umum adiksi adalah sebuah ”perilaku kompulsif” atau kondisi ”ketidakberdayaan seseorang untuk menguasai diri terhadap sebuah kebiasaan” yang akhirnya mengarah kepada ”hilangnya kemerdekaan diri”; hilangnya hak dasar, hak istimewa yang menjadikan kita manusia.

Bahkan, sebuah teori klasik Becker mengatakan kecanduan adalah sebuah kondisi yang ”bisa diusahakan”. Artinya, adiksi adalah sebuah learned behavior. Jika dapat ”dipelajari”, tentunya bisa diunlearned.

Walau benar di dalam kandungan narkoba terdapat zat adiktif yang dapat menyebabkan kecanduan, namun apa yang terjadi dalam diri seseorang sejak tahap coba-coba sampai ke tahap adiksi sangatlah kompleks dan sulit diprediksi. Ini adalah hasil dari sebuah interaksi dinamis dari berbagai faktor internal (genetis, psikologis) dan eksternal (lingkungan sosial, ketersediaan narkoba). Keduanya berperan penting seimbang dalam pengambilan keputusan seseorang.

Tentunya, semua faktor ini berkorelasi dengan persepsi seseorang tentang apa yang dianggap sehat dan risiko dirinya untuk menjadi 'tidak sehat' karena narkoba sangat mewarnai pengambilan keputusan seseorang terhadap narkoba.

Pecandu dan keluarga pecandu perlu paham akan semua faktor yang bermain dalam perjalanan “karier adiksi” seseorang. Memang rumit. Tapi bukan berarti kusut dan tanpa harapan.

Kompleksitas tidak berarti ketidakberdayaan. Menelusuri alur dan menemukan simpul yang tepat dapat membongkar kekusutan adiksi. Yang pasti, perilaku ini dapat diunlearned. Dan setiap pecandu, jika memilih dan berkehendak keras untuk sembuh, pasti bisa pulih. Kuncinya adalah persistensi, dukungan dan kasih tanpa pamrih bagi mereka.

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy