Sumber: Kick Andy.com
|
|
Sabtu, 07 Februari 2009 00:49 WIB
Keberhasilan dan karakter anak yang terbentuk adalah suatu cerminan pola asuh yang diterapkan oleh orangtua. Walaupun demikian tidak ada ramuan ajaib untuk mencegah remaja mencoba narkoba. Berbagai pengalaman dan studi ilmiah menemukan fakta bahwa orangtua dapat sangat berpengaruh dalam hiduap anak. Mulai dengan berbicara mengenai bahaya narkoba sambil tetap terlibat secara aktif dalam kehidupan anak-anaknya. Semua ini memperkuat dugaan bahwa peran aktif orangtua dalam hidup anak sangat dapat mengurangi penggunaan narkoba di kalangan remaja bahkan di kalangan remaja berisiko tinggi sekalipun. Namun ada saat-saat dimana kita sebagai orangtua seakan kehilangan pegangan, kehilangan kendali atas hal-hal yang terjadi pada hidup anak kita. Bahkan, kehilangan kata-kata dan bijaksana untuk bagaimana menghadapi berbagai pertanyaan yang kita berdoa tidak pernah ditanyakan oleh anak kita. Siapkah kita bila anak bertanya? Siapkah kita menghadapi krisis? Ketika anak bertanya jika anda pernah mencoba narkoba Tidak ada senjata ampuh selain menjawab dengan jujur. Jawaban jujur itu adalah jawaban yang terbaik. Ini mencegah hilangnya kredibilitas kita jika suatu hari anak kita mengetahui hal yang sebenarnya. Namun, kejujuran perlu ditambah dengan kebijkasanaan. Banyak ahli di bidang terapi dan rehabilitasi pecandu percaya bahwa orangtua tidak perlu membicarakan dengan terinci pengalaman mereka dengan narkoba kepada anak karena ini dapat berdampak promotif yang menyulut keingintahuan anak. Penjelasan lebih baik singkat tapi jujur. Jika anda merasa siap untuk menceritakan pengalaman anda dengan narkoba, ingatlah untuk:
Ketika anak anda mengakui dia pernah mencoba narkoba Mereka mengatakan alangkah baiknya jika orangtua dapat mengendalikan emosi dan menenangkan diri. Namun saya tahu ini akan sangat sulit. Orangtuapun perlu untuk tidak lupa untuk menghargai kejujuran anak untuk mengakui hal ini kepada kita. Lebih jauh, saya sepakati bahwa kita perlu ingat tidak melakukan hal-hal yang membuat anak merasa menyesal memberitahu jika kita kehilangan kendali dan marah. Dalam kondisi seperti ini, saya rasa kita perlu bertukar pikiran lebih jauh dengan anak dalam situasi status quo sehingga anak akan lebih leluasa berpendapat. Ini adalah kesempatan untuk mempertegas beberapa mitos yang sering digunakan anak sebagai alasan: “Semua orang juga melakukannya!” “Ah, saya bisa kok mengontrol penggunaan narkoba saya.” “Ma, jangan khawatir deh.. Saya tahu kok cara menggunakan narkoba yang aman.”
Ketika mendapati anak yang sedang menggunakan narkoba Para orangtua yang pernah menghadapi hal serupa membagikan tips di bawah ini:
Paksakan diri untuk menyimpan kekecewaan dan kesedihan untuk sementara supaya dapat fokus kepada anak kita saat itu. Dan menurut pengalaman alm. Rony Pattinasarani ketika berhadapan dengan kenyataan ketika kedua anak laki-lakinya kecanduan narkoba, beliau selalu menekankan untuk tidak boleh kehilangan pengharapan. “Berikan kasih yang sejati,” kata beliau, “hanya ini yang dapat membawa anak kembali dari kecanduan. Dan siapkan diri untuk perjuangan panjang menuju kesembuhan total. It’s a long road!” Beliau sering mengatakan untuk konsisten untuk memberitahu anak bahwa walau kita membenci perbuatannyam namun kita tetap mengasihi dia tanpa pamrih. Memberikan kasih sayang sampai luber dan dukungan penuh adalah hal-hal yang anak perlukan. Perlu kita tanyakan anak bila dia berniat sembuh dan siap untuk berhenti. Jika perlu, datangkan konselor untuk melakukan konseling. Yayasan Cinta Anak Bangsa membuka layanan konseling bebas pulsa bebas biaya di nomor 0800-1-NO DRUG (0800-1-663784) atau konseling melalui e-mail ke : konseling@ycab.org. Jika anak tidak niat sembuh, tidak ada usaha atau program yang dapat menyadarkan mereka. Relaps pasti terjadi. Jika anak ditemukan dalam keadaan overdosis |
Tag: Kliping Media, Kick Andy |