Ahmad Abdul Haq


Jangan Jadi SUPERMAN!

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Senin, 20 September 2010 14:43 WIBJangan Jadi SUPERMAN!

Jangan Jadi SUPERMAN! Di dunia kerja yang super kompetitif seperti sekarang ini, masih banyak pemimpin yang merasa dia mampu mengerjakan semuanya, dari A sampai Z. Mereka ingin semua pekerjaan harus melalui dirinya sebelum boleh dieksekusi. Mereka merasa kalau ada pekerjaan yang tidak ‘lewat’ dia dan dieksekusi, pasti hasilnya tidak sempurna, pasti ada yang salah. Dan,...siap-siap untuk si yang berani mengeksekusi tanpa meminta pendapat atau approval-nya, akan kena teguran; siap-siap kena marah.

Apa yang saya tuliskan ini terjadi di banyak perusahaan. Bekerja di perusahaan yang seperti ini tidak memberikan rasa kerja yang nyaman. Biasanya, karyawan akan bertahan kerja di sana hanya karena (1) dia suka dengan brand yang dia kerjakan, atau karena  (2) dia belum mendapatkan kesempatan lain, dan tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja karena harus menghidupi dirinya dan keluarganya.

Nah, karena mereka bekerja tidak dengan sepenuh hati, maka sudah dapat dipastikan kalau perusahaannya memiliki ‘rapor merah’ alias tidak perform. Kalaupun perusahaannya mampu membukukan keuntungan, hasilnya pasti tidak maksimal; karena bagaimanapun juga, perusahaan yang dikelola oleh karyawan-karyawan yang memiliki totalitas terhadap perusahaan akan selalu lebih baik kinerja dan hasilnya jika dibandingkan dengan perusahaan yang ditempati oleh orang-orang yang hanya kerja untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.

Lalu, apa hubungan judul artikel ini “Jangan Jadi SUPERMAN” dengan apa yang telah saya kemukakan di atas? Jelas, si Boss yang merasa dirinya mampu mengerjakan semuanya merasa dirinya adalah Superman. Dia tidak sadar bahwa sesungguhnya, di dunia kerja yang nyata ini, tidak ada Superman...karena Superman hanya ada di komik (dan film)!

Ingat, Boss yang seperti ini bisa memiliki pemikiran dan berlaku seperti ini pasti ada sebabnya. Biasanya, karena untuk sekian lama karyawan-karyawannya tidak mampu untuk bekerja sesuai dengan ekspektasinya si Boss. Berulang kali dikasih tahu harus begini, harus begitu, hasilnya masih saja tidak sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh si Boss. Singkatnya, si Boss belum memiliki kepercayaan yang cukup untuk melepaskan tanggng jawab kepada karyawan-karyawannya. Tapi pertanyaannya, “Mau sampai kapan?”

Di dalam dunia kerja, ini yang seringkali disebut micro-managing. Perlu saya tekankan bahwa menjadi orang yang detail oriented itu bagus. Di buku “Young On Top”, saya bilang bahwa adalah pemikiran yang salah apabila seseorang berpikir, “Semakin tinggi posisi yang dia jabat, semakin tidak perlu untuk berorientasi terhadap hal-hal yang detail”. Tapi, kita harus tahu bahwa orang yang berorientasi terhadap detail sangat berbeda dengan orang yang micro-managing.

Perbedaannya kira-kira demikian: Orang yang detail oriented adalah orang yang mengetahui ‘seluruh’ detail yang ada, namun dia tidak mengerjakan, mengontrol pengeksekusiannya ‘setiap detik’ dari A sampai Z seperti yang biasanya dilakukan oleh orang yang micro-managing.

Mereka yang merasa ‘Superman di dunia kerja’ cenderung adalah orang yang perfectionist. Dulu orang bangga apabila dirinya perfectionist karena dengan kata lain, mereka akan selalu melakukan segala sesuatunya se-‘perfect’ mungkin. Padahal, karakter ini adalah karakter yang negatif, bukan karakter positif yang bisa membawa seseorang menjadi sukses. Bagaimana tidak? Orang yang mau semuanya sempurna pasti akan stress kerjanya. Kenapa? Karena tidak ada satupun di dunia ini yang sempurna. Saya setuju apabila setiap orang harus bermimpi dan berpikir besar, tapi kita juga harus memiliki toleransi untuk pencapaian yang tidak maksimal. Bukan berarti kalau hasilnya tidak maksimal “It’s OK”, tapi juga bukan berarti ketika tidak tercapai 100%, lalu marah-marah, menegur, pointing fingers ke karyawan!

Kalau selama ini kamu adalah ‘Superman di dunia kerja’, cobalah untuk belajar yang namanya empowerment,...delegation. Mau sampai kapan kamu  kerja dengan stress? Biasanya, 24 jam per hari rasanya tidak cukup untuk para ‘Superman’. Mau sampai kapan kamu ‘nyuapin’ timmu setiap hari?

Daripada jadi Superman, tokoh komik yang sesungguhnya tidak hebat kalau adanya di dunia kerja yang nyata ini, lebih baik jadi seorang Coach. Kenapa? Karena kerjaan seorang coach tidak lain adalah memberikan pelatihan agar timnya bisa menjadi lebih baik. Ketika timnya sudah sedikit lebih baik, dia akan berikan kepercayaan agar timnya berlatih lebih banyak lagi dengan ‘melepasnya’. Biarkan dirinya sebagai seorang coach untuk berani memberikan kesempatan untuk timnya melakukan kesalahan-kesalahan dari waktu ke waktu. Dia cukup memantaunya dari ‘pinggir lapangan’ dengan sekali-kali memberikan masukan ke timnya yang ada di dalam lapangan. Dan,...dia tidak perlu (tidak pernah ada, dan tidak akan pernah ada) lari ke dalam lapangan untuk menggolkan ke gawang lawan!

Kalau kamu mau memiliki “THE WINNING TEAM”, stop jadi Superman,...gimana caranya? Berikan clear guideline, ajak timmu di dalam proses perencanaan sehingga mereka akan memiliki sense of belonging yang tinggi, dan biarkan mereka mengimplementasikan rencana-rencana tersebut dengan caranya sendiri. Yes, biarkan kreatifitas mereka berkembang! Kamu cukup memantaunya. Berikan pujian apabila mereka melakukannya dengan baik, berikan saran apabila mereka mulai melenceng dari target yang telah disepakati bersama. Good luck! Billy Boen www.billyboen.com Chief Executive Officer – PT Jakarta International Management & Consulting Author & Host Radio Show “Young On Top” on Kis 95.1fm Jakarta, setiap Rabu pukul 7-8 malam

Follow me on www.twitter.com/billyboen  Follow “Young On Top” on www.twitter.com/youngontop  Join www.facebook.com/youngontop


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy