Ahmad Abdul Haq


Salah Asuh Abad 21

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Senin, 22 Nopember 2010 10:49 WIBSalah Asuh Abad 21

Salah Asuh Abad 21 Yakinkah Anda bahwa anda sudah menjadi orangtua yang baik? Yakinkah Anda bahwa melalui pola pengasuhan Anda saat ini, Anda sudah berkontribusi terhadap kehidupan yang lebih baik bagi anak Anda di masa depan ?

Diana Baumarind seorang pakar ilmu pendidikan keluarga mengatakan, parenting style atau gaya mengasuh anak perlu disesuaikan dengan kepribadian anak. Tidak ada istilah “one size fits all”. Menurut Baumarind ada empat gaya mengasuh anak  yakni: autoriter, diplomatik, permisif dan cuek (uninvolved). Biasanya anak dengan kepribadian dominan tidak cocok dengan gaya autoriter, konflik selalu mengintai; sebaliknya, kepribadian intim (atau sanguine) akan berdampak negatif jika dipadukan dengan gaya permisif atau cuek.

Oleh sebab itu, orangtua perlu memiliki kejelian dalam mengidentifikasikan kemudian mencocokan parenting style seperti apa yang tepat untuk kepribadian anak tertentu. Kejelian orangtua dalam hal ini akan sangat bermanfaat dalam melindungi anak dari berbagai perilaku berisiko termasuk alkohol, narkoba dan seks bebas.

Namun ternyata kejelian ini tidak cukup. Orangtua perlu juga berhati-hati dengan sikap atau kecenderungan over-protective terhadap anak.

Memang melindungi anak adalah insting alami setiap orangtua. Akan tetapi, jika orangtua sering dengan sengaja menghindarkan anaknya untuk menghadapi konsekuensi atas pilihan-plihannya, maka sebenarnya mereka sedang memberi efek yang lebih merusak dibanding mendidik anak.

Saya ingin mengajak pembaca untuk mengikuti beberapa pertanyaan di bawah ini. Jawab ‘YA’ jika anda setuju atau  ‘TIDAK’ jika anda tidak setuju:

YA/TIDAK: Jika anak saya berperilaku tidak baik, saya sering berpikir, ”Ah, nanti juga dia akan berubah kalau sudah besar.”
YA/TIDAK: Di rumah tidak ada kebijakan yang mengharuskan anak melaporkan kemungkinan dia terlibat dalam rokok, alkohol atau narkoba
YA/TIDAK: Sesekali saya suka mencari alasan kepada sekolah ketika anak sedang malas bersekolah
YA/TIDAK: Kami kadang-kadang mengerjakan tugas membantu di rumah yang jelas adalah tanggung jawab anak.
YA/TIDAK: Walau terkadang saya merasa ada indikasi anak saya merokok, minum alkohol atau mencoba narkoba, saya lebih baik mengesampingkan rasa curiga saya dengan berpikir jangan-jangan saya mengada-ada
YA/TIDAK: Saya dan pasangan saya sering tidak sependapat mengenai cara mendidik dan membesarkan anak.

Bagaimana hasil yang anda peroleh ? Jika anda jawaban anda lebih banyak “ya” artinya anda perlu berhati-hati dengan gaya mengasuh anda.

Faktor Pendorong yang Merusak
Para ahli memakai istilah “faktor pendorong” yang diterjemahkan sebagai faktor yang “memfasilitasi” anak tumbuh menjadi anak yang tidak bertanggungjawab. Faktor  pendorong ini dapat berasal dari berbagai situasi dan kondisi di mana parenting style secara tidak sengaja cenderung mendorong anaknya untuk menjadi tidak bertanggungjawab.  Hal ini dapat dimunculkan dari dua aspek yaitu perasaan dan keyakinan.

Perasaan
Setiap orangtua pasti mencintai anaknya. Perasaan cinta yang mendalam ini perlu disertai oleh keseimbangan. Keseimbangan terhadap nilai-nilai kehidupan yang mendasar pada pola asuh tercermin pada kasih dan keadilan, reward dan punishment. Keseimbangan ini perlu disampaikan dengan jelas kepada anak supaya tidak ada salah tafsir. Banyak ahli berpendapat bahwa kelalaian orangtua untuk mendatangkan keseimbangan ini dalam hidup sehari-hari adalah pangkal pemicu faktor pendorong tersebut.

Beberapa contoh cerita di bawah ini dapat membuat anda menangkap esensi dari poin perasaan di sini:
- Bingung
Ani (39 tahun) bercerai dari suaminya dan tinggal bersama anaknya Joko (13 tahun) yang menginjak remaja. Joko memaksa ibunya untuk memberi dia izin pergi camping bersama teman-temannya yang menurut Ani tergolong anak-anak nakal. Joko terus memelas dan akhirnya ibunya memberi izin dengan berat hati. Kenapa hal ini dapat terjadi?

Sering kali orangtua yang merasa bersalah (karena bercerai atau karena terlalu sibuk bekerja) gampang menyerah kepada keinginan anak. Intinya bingung harus berbuat apa lagi untuk merebut hati anaknya.

Kondisi seperti ini jika terjadi berulang-ulang jelas dapat menginspirasi anak untuk belajar bagaimana memojokkan orangtuanya untuk mengambil keputusan yang kurang bijaksana demi kesenangan anak. Bagaimana nantinya sikap orangtua seperti ini terhadap penggunaan narkoba?

- Terlalu takut dan cemas
Arif pernah minggat dari rumah ketika ia berumur 10 tahun. Kini, Arif sering mengancam orangtuanya ia akan minggat lagi jika apa yang ia minta tidak dituruti. Karena Arif anak satu-satunya atau anak emas dalam keluarga, orangtuanya cenderung sering terlalu cemas hal itu akan terjadi lagi. Arif memakai kondisi ini agar memperdaya orangtuanya untuk mendapatkan apa yang dia mau. Hal ini jelas mengkondisikan Arif untuk tumbuh tidak bertanggungjawab.

- Emosional
Ada orangtua yang sering marah-marah secara ekstrem; bicara kasar kepada anak, sumpah serapah dan histeris yang tidak perlu. Para ahli psikologis berpendapat hal ini dapat membuat anak menjadi kebal dan bebal.

Selain menyebabkan suasana rumah jadi tidak hangat, ini dapat pula membuat mereka tidak lagi menghargai pendapat anda terhadap apa pun, termasuk pandangan anda terhadap rokok, alkohol dan narkoba.

Keyakinan
Keyakinan bisa berupa mitos. Mitos sering dimulai dari seputar streotype jender (anak laki-laki tidak boleh menangis, malu!), atau slogan-slogan tertentu (“Drug is cool!”; “Banci kalo enggak merokok!”). Beberapa contoh kepercayaan yang salah misalnya: “Anak zaman sekarang sih beda … terlalu banyak tekanan dari mana-mana. Jadi, jangan terlalu lagi dituntut macam-macam.”
“Kalau semua temannya begitu, mau gimana lagi? Harusnya sih tidak apa-apalah…”

Memang benar, anak sekarang lebih banyak menghadapi tekanan zaman. Akan tetapi jangan sampai tekanan ini membuat mereka ‘bebas’ dari tanggung jawab. Mengerjakan PR atau tugas di rumah, menjaga barang-barang pribadi, menggunakan uang jajan dan bangun pagi sendiri untuk sekolah adalah salah satu bentuk tanggungjawab mendasar anak kita. Jangan sampai anda yang mengerjakan untuk mereka.

Menurut Wilmes (1995), masalah cinta dan kepercayaan kepada anak adalah dua hal yang berbeda. Cinta memang tidak terkondisi – artinya, kita harus terus mencintai anak walaupun apa yang dia lakukan tidak sesuai dengan harapan kita. Benci perbuatannya, tapi cintailah terus manusianya.

Tapi kepercayaan itu soal lain. Kepercayaan akan pudar jika terjadi pelanggaran atas batasan atau aturan yang pernah disetujui bersama. Tekankan pada anak bahwa mereka harus menerima bahwa pengembalian kepercayaan adalah sebuah proses.

Menjadi orangtua adalah sebuah ibadah. Lakukan yang terbaik dengan mencocokkan gaya parenting dengan kepribadian tiap anak dan mawas diri terhadap perasaan ataupun mitos-mitos yang berada di seputar kita. Jangan sampai atas nama cinta, sikap over-protektif kita malah menjerumuskan anak sendiri. 

Segala sesuatu yang kita lakukan untuk anak umumnya adalah hal yang kita pandang baik. Namun, jelilah bahwa segala sesuatu tidak selalu bermanfaat, dan tidak selalu bijaksana. (VC/11/2010)


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy