Ahmad Abdul Haq


Davos 2011: "New Reality"

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 11 Februari 2011 13:33 WIBDavos 2011: "New Reality"

Davos 2011: Prof. Schwab memang seorang visioner. Setelah 41 tahun merintis pertemuan ekonomi tingkat dunia, kini World Economic Forum (WEF) menjadi ajang paling bergensi para elit politik dan ekonomi dunia. Tahun ini lebih dari 30 kepala negara, 1000 perusahaan global, ratusan tokoh dunia dan semua media raksasa berkumpul di sebuah desa ski mungil di kaki pegunungan Alpen, Swiss. Sungguh, tidak pernah terpikir saya datang ke sini untuk pertemuan seserius ini. Sangat langka melihat pemandangan orang berdasi simpang siur di desa ski pada penghujung bulan pertama tahun ini

Tujuh hari menikmati diskusi panel bertaburkan berbagai tokoh dunia memang mengasyikan. Mulai dari menikmati sentuhan sosial Bono, Bill dan Melinda Gates sampai kepada pembahasan serius cenderung terlalu umum tentang ekonomi dan risiko global. Beberapa kepala negarapun diberi waktu khusus untuk bicara di plenary. Kesempatan ini diberikan kepada Presiden Medvedev dan President Sarkozky  dalam konteks G20 dan sesi khusus bagi Indonesia oleh Presiden kita SBY. Yang lebih seru ketika  bertemu Bill Clinton, berinteraksi langsung dengan Melinda Gates atau sekedar bersebelahan dengan PM Inggris saat antri mengambil makan siang. Semua ini memang membawa kebanggaan tersendiri. Namun excitement terus menerus itu benar-benar menguras energi.

Setiap hari lebih dari lima belas jam tanpa henti mengikuti sidang dan panel diskusi tokoh-tokoh penting. Belum lagi pontang panting berpindah ruang dan lokasi workshop sampai kepada keharusan untuk hadir dalam pertemuan-pertemuan khusus sebagai anggota komuitas Young Global Leader (YGL). Undangan nightcap sampai lewat tengah malam  tiada henti mengalir di email saya. Pesta-pesta akbar yang digelar JP Morgan, Deloitte, Harvard, Yale dan berbagai perusahaan raksasa lainnya memang menjadi ajang kompetisi tersendiri. Pesta Google melegenda karena kerennya, Japanese Night juara karena sajian sushinya, hebatnya tahun ini Indonesian Night pertama kali diadakan dan menjadi buah bibir mereka yang hadir. Tampak Pangeran Andrew di antara pejabat dunia dan CEO beberapa perusahaan multinational. Semua mengambil kesempatan untuk berinteraksi dengan beberapa menteri yang hadir dan tentunya dengan SBY dan Ibu Ani dalam suasana cocktail.

Intinya tujuh hari di Davos itu seru tapi betul-betul memerlukan stamina khusus. Apalagi di tengah badai salju di dua hari pertama, rasanya untuk sampai ke konggres zentrum perlu perjuangan khusus. Untung saya selalu bisa nebeng mobil teman saya yang khusus membawa asisten pribadi untuk antar jemput kita. Pengalaman memang membawa persiapan matang dan tentunya comfort. Saya termasuk yang sangat beruntung.

Seminggu cepat berlalu tapi pada saat yang bersamaan terasa lama sekali. Susah menjelaskan hal ini. Mungkin karena tiap hari hanya kebagian tidur 5-6 jam, lama kelamaan tubuh serasa bergerak dalam gelembung slow motion. Namun kegiatan tiap hari yang super padat sebaliknya membuat waktu berjalan dengan cepat. Seperti dalam sebuah relativitas waktu. Tapi yang jelas bukan ini yang dimaksud Einstein.

Di penghujung minggu, pertanyaan yang saya tanyakan ketika saya berangkat belum terjawab. Memang sebuah kehormatan sebagai Young Global Leader dan dipilih untuk mewakili Indonesia di Davos tahun ini. Tapi apa gunanya bagi saya yang pekerja sosial ini? Apakah dampak dan inspirasi apa yang dapat diraih dari Davos?

Tema World Economic Forum tahun in adalah "Shared Norms in the New Reality". Tadinya saya tidak mengerti "new reality" yang dimaksud. Namun kemudian saya senang juga ketika pokok pembahasan menukik kepada kenyataan baru dunia yaitu timbulnya Asia sebagai polar baru dunia. Dunia kini berbasis multi-polar, dari barat menuju ke timur. Ini bicara tentang mata dunia yang teruju ke Asia, di mana Indonesia mendapat perhatian khusus sebagai emerging economy.

Buktinya Presiden SBY diberikan sesi khusus untuk bicara. Dan Indonesian Night pertama kali diadakan sejak WEF mulai empat dekade yang lalu. Belum lagi Mendag Mari Pangestu, Menlu Marty Natalegawa dan Ketua BKPM Gita  yang berkesempatan menjadi panelis bersama tokoh dunia lainnya. Ini satu-satunya WEF di mana peran Indonesia bergaung.

Hal kedua, selain nilai networking yang luar biasa, saya memikirkan relevansi shared norm yang dimaksud. Ternyata salah satunya adalah nilai universal yang mendasari sebuah platform global yang menyuarakan kepentingan kaum papa.

Siapa yang tidak tahu Bill dan Melinda Gates. Selain pasangan terkaya di dunia, mereka juga merupakan dermawan terbesar di abad ini. Ratusan juta dollar telah mereka donasikan setiap tahunnya untuk menunjang riset dan distribusi vaksin berbagai penyakit anak yang bisa dicegah di negara miskin. Sebagai YGL, saya berkesempatan untuk bertemu Melinda Gates dalam sebuah meeting terbatas. Sekitar 20 YGL hadir berdiskusi dengannya di hari ke tiga Davos. Satu hal yang saya tangkap dari sosok seorang Melinda Gates yaitu kesederhanaan, pengorbanan dan kesungguhan hatinya untuk menolong kaum miskin. Ia mengatakan, "Dignity comes before development" - timbulkan harga diri dulu, baru pembangunan. Inilah shared norm yang perlu ditiru.

Berbeda dengan sang suami, Melinda tampak tangkas dalam memaparkan data-data. Bill lebih santai dalam melontarkan gagasananya, Melinda terlihat lebih strategis dan akurat. Tidak heran dia dulu menjabat Chief Marketing Microsoft sebelum dipinang Bill! Api semangat terlihat jelas di sorotan matanya ketika bercerita tentang keberhasilan mereka membuat vaksin polio jenis (strain) tertentu yang disesuaikan dengan daerah tertentu di Afrika. Pengembangan vaksin tidak murah. Karena itu, pasangan Gates memakai ajang Davos untuk mengumumkan sumbangan 100 juta dollar yang kemudian diikuti oleh PM Inggris David Cameron sejumlah yang sama - matching fund istilahnya. Bukannya untuk menyombongkan diri supaya dipuji dunia, Bill berharap teladan mereka menginspirasi berbagai pihak untuk turut membantu.

Itulah kesungguhan sekaligus pengorbanan yang saya lihat dari pasangan Gates ini. Passion mereka untuk mengembangkan vaksin untuk menghapuskan polio, hepatitis, pneumonia, diare bahkan HIV dari muka bumi sungguh luar biasa.

Gates Foundation megklaim telah menyelamatkan 2,5 juta bayi dari polio. Namun dalam kapasitas  sebesar itu, saya rasa mereka masih rendah hati saat mengatakan kemampuan mereka terbatas untuk mencapai tujuan ini. Bayangkan orang terkaya di dunia mengutakan kalimat seperti itu. Bukankah hal ini lebih lagi membuat kita terpesona?

Shared norm in the new reality bicara tersendiri buat saya. Dengan meniru kesungguhan, kerendahan hati, pengorbanan melalui pekerjaan saya di YCAB, setidaknya dalam kapasitas saya yang terbatas saya ingin lebih baik dalam berkarya. Jika mungkin, malah kita bangsa Indonesia harus bisa  membuktikan pada dunia bahwa polar baru di belahan timur dunia ini akan menelurkan inovasi sosial di bidang pembangunan anak muda yang handal. (VC/02/2011)


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy