Ahmad Abdul Haq


Social Benefits Of School

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Senin, 06 Februari 2012 19:04 WIBSocial Benefits Of School

Social Benefits Of School Education is not just for earning a living; it is also for living a life.
(William E. B. Du Bois)

Ukuran manfaat sosial (social benefits), beberapa di antaranya manfaat pasar, yang relevan dengan berapa banyak total investasi dalam pendidikan yang harus dibiayai publik merupakan ukuran standar seberapa besar bentuk keterlibatan publik terhadap pendidikan. Jika bentuk kesadaran ini hidup dan bertumbuh di masyarakat, maka manfaat sosial pendidikan untuk orang lain dan generasi mendatang pasti memiliki jaminan masa depan yang cemerlang. Pertanyaannya adalah, berapa persen kira-kira total partisipasi orangtua terhadap pendidikan anak-anak mereka?

Angka perkiraan partisipasi orangtua/masyarakat terhadap dunia pendidikan memang berbeda antara satu propinsi dengan lainnya. Di Aceh, menurut sebuah survey, orangtua dan masyarakat hanya mengeluarkan 15-20% dari pendapatan kotor per-bulan untuk biaya pendidikan anak-anak mereka. Angka ini cukup moderat, mengingat income perkapita masyarakat kita memang masih kecil dan spending lebih banyak dikonsentrasikan kepada hal-hal yang bersifat konsumtif. Dengan kondisi ini akhirnya negara berusaha memenuhi kebutuhan pembiayaan pendidikan masyarakat melalui APBN yang jumlah totalnya mencapai angka 20%.

Kita memang patut memberi apresiasi yang tinggi kepada pemerintah karena menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam program pembangunan nasional. Pendidikan harus terus diyakini sebagai satu-satunya solusi dalam memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa. Pendidikan dapat disebut sebagai prime mover yang menggerakkan proses transformasi sosial dan ekonomi, untuk mewujudkan sebuah bangsa yang maju dan modern. Dalam konteks ini, pendidikan jelas memiliki banyak sekali manfaat sosial, selain ekonomi dan politik, dalam menciptakan kesadaran masyarakat untuk cerdas dan bermartabat. Jelas sekali bahwa pendidikan secara nyata telah memberikan keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, individual maupun sosial, langsung maupun tak langsung.

Manfaat sosial pendidikan juga merupakan salah satu faktor determinan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Jika kita mampu mengingat pemikiran ekonomi klasik Adam Smith, jelas sekali bahwa faktor modal manusia sangat penting dalam mendorong kemajuan ekonomi, bahkan jauh lebih penting daripada modal finansial dan modal fisik lainnya seperti pabrik, peralatan, teknologi, dan sebagainya.  Para oakar ilmu ekonomi pembangunan menegaskan bahwa pendidikan mempunyai hubungan signifikan dengan pembangunan ekonomi; pendidikan dan ekonomi merupakan dua variabel yang saling bergantung. Sangat jelas betapa manfaat sosial pendidikan mempunyai korelasi positif dengan perkembangan dan kemajuan ekonomi suatu bangsa.

Meskipun wacana ini telah diketahui oleh para pemimpin kita dalam dua dekade terakhir, tetapi pada prakteknya pemerintah kita seperti jalan ditempat dalam menggalang tumbuhnya investasi di bidang pendidikan yang didanai oleh sektor swasta. Selain itu, dana APBN yang sudah 20% itu pun masih memerlukan koreksi total terutama pada aspek implementasinya. Minimnya kajian yang komprehensif dan terbuka tentang prioritas pembiyaan dalam sektor pendidikan kita membuat kinerja kementerian pendidikan nasional terus dipertanyakan. Salah satu hal paling mendasar dan sering terjadi adalah tiadanya keberlanjutnan program pendidikan yang didasarkan pada hasil kajian, bukan semata-masa menggunakan asumsi. Inilah misalnya mengapa menteri pendidikan seringkali membuat wacana baru, seolah membenarkan rumor bahwa setiap menteri baru memiliki kebijakan yang juga baru dan ingin terlihat berbeda dengan pendahulunya.

Kajian tentang pembiayaan sekolah (school funding) menjadi relevan mengingat sistem pendidikan kita belum menganut asas pembiayaan sekolah secara integral yang berorientasi pada pengembangan aspek kualitas sebagai target pembiayaan sekolah. Isu pembiayaan sekolah bermutu (school quality funding) masih dihitung secara minimal, yaitu menyangkut besaran subsidi dari pemerintah untuk tiap siswa pada setiap tingkat satuan pendidkan. Contoh dari kebijakan ini adalah bagaimana Dana Bos dihitung.

Perdebatan yang ramai dibicarakan oleh para praktisi, birokrat dan politisi di sekitar pembiayaan pendidikan pun baru menyentuh aspek kebutuhan siswa sebagai unit analisnya, tetapi belum menghitung kebutuhan institusi sekolah sebagai sebuah pendekatan penjaminan mutu (quality assurance). Agar anggaran pendidikan 20% yang diamanatkan Undang-undang dapat diserap secara effisien dan transparan, perlu dipikirkan skema-skema pembiayaan pendidikan dengan menggunakan sekolah sebagai unit analisis, bukan lagi kebutuhan siswa.

Beberapa studi tentang dampak kualitas sekolah terhadap capaian akademis siswa mengindikasikan pentingnya menciptakan sebuah budaya sekolah yang sehat secara manajemen, sehingga kebutuhan untuk membangun suasana belajar yang positif dan kondusif dapat dimasukkan kedalam komponen dan indikator pembiayaan pendidikan. Rob Greenwald, dalam "The Effect of School Resources on Student Achievement," Review of Educational Research, (1996), memperlihatkan bahwa strategi pembiayaan pendidikan di tingkat sekolah sangat berpengaruh terhadap capaian siswa. Jika ini yang dilakukan, maka manfaat sosial pendidikan akan lebih dahsyat dari hanya sekedar jargon dan omong kosong.
 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy