Ahmad Abdul Haq


Influence, Not Authority

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Minggu, 25 Maret 2012 00:36 WIBInfluence, Not Authority

Influence, Not Authority Perdebatan tentang perbedaan mendasar antara kepemimpinan (leadership), manajemen (management) dan administrasi (administration) adalah hal biasa dan lumrah dalam ilmu pendidikan modern. Dimmock (1999: 442), secara tegas dan menarik berusaha membedakan ketiga kata kunci di atas dalam konteks kepemimpinan sekolah. Dalam analisanya, tensi di antara ketiga kata kunci itu terlihat pada aspek yang ditanganinya. Jika titik tekan leadership adalah pada pengalaman dalam mengambil keputusan secara seimbang antara aspek pengembangan kapasitas serta student and school performance, maka manajemen lebih berorientasi pada aspek operasional dan pemeliharaan (fisik dan non-fisik) kondisi sekolah.

Sedangkan administrasi adalah fungsi yang melekat baik pada aspek leadership maupun management, karena orientasinya lebih banyak pada hal-hal teknis yang rutin dan sangat dibutuhkan keduanya. Dari sudut pandang pedagogis, jelas sekali perebutan kewenangan antara leadership dan management kerap terjadi dan berlangsung secara terus menerus. Keuntungan leadership adalah dapat mengambil bentuk lain dan keluar dari faktor management yang kerap dilingkupi sebuah proses dan prosedur yang kaku, sehingga leadership bisa secara bebas dinilai berdasarkan pengaruh sosial yang dimilikinya.

Dalam konteks perkembangan dunia pendidikan di tanah air, pengaruh sosial ini menjadi sangat penting untuk dicatat sekaligus diingat. Ada nama-nama, baik secara individual maupun kelembagaan, memiliki pengaruh sosial yang besar dan meninggalkan rekam jejak yang baik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Secara kelembagaan, ada banyak organisasi sosial-keagamaan yang memasukkan bidang pendidikan sebagai bagian dari garis perjuangannya. Sebutlah Muhammadiyah, satu di antara lembaga yang memiliki kepedulian tinggi terhadap dunia pendidikan.

Tetapi jika kita mau jujur, tak akan mungkin lahir sebuah lembaga jika tak ada orang atau tokoh sentralnya. Jika NU memiliki Wahid Hasyim, Persis memiliki Ahmad Hasan, maka Muhammadiyah memiliki K.H. Ahmad Dahlan. Terhadap para tokoh dan individu ini, kerap dinisbatkan sikap dan perilaku bersungguh-sungguh dari mereka untuk memperjuangkan apa yang menjadi keyakinannya.

Kesungguhan, keyakinan dan keikhlasan adalah tiga kata kunci yang relevan untuk diketengahkan dalam konteks kepemimpinan (leadership) pendidikan modern. Jika seorang tokoh mampu secara sungguh-sungguh menunjukkan keteldanan yang tiada henti, mengajarkan keyakinannya secara terbuka dan kritis, serta dibarengi dengan keikhlasan dalam melakoni setiap situasi sesulit dan semudah apapun dengan penuh tawakkal pada Tuhan, maka rekam jejaknya pasti akan menjadi semacam legacy yang secara terus menerus memberikan pencerahan kepada pengikutnya.

Karena itu menjadi penting untuk memberikan definisi leadership dalam konteks pendidikan, agar proses pendidikan menjadi benar dan terarah. Artinya, jika seseorang yang terlibat dalam sebuah proses pendidikan ingin dikatakan berhasil, maka yang harus dinilai adalah pengaruhnya (influence), bukan otoritasnya sebagai pejabat, rektor atau kepala sekolah. Karena itu salah satu indikator leadership yang tangguh adalah adanya pengaruh yang secara sosial maupun individual tetap hidup dalam pikiran dan perilaku banyak orang (Yukl, 2002:3).

Dalam banyak text book tentang karakteristik kepemimpinan di bidang pendidikan, setidaknya leadership harus memiliki tiga ciri. Pertama, memiliki pengaruh yang luas dan besar, baik secara individual maupun sosial. Kedua, memiliki nilai (values) dominan yang menjadi common believes setiap orang atau kelompok yang meminati dan mengikutinya. Sedangkan yang ketiga adalah adanya visi yang jelas dan terarah, sehingga misi dan tujuannya mudah dicerna dan diaplikasikan oleh setiap orang.

Dalam skala dan konteks yang lebih kecil, seorang guru atau dosen dapat dikatakan memiliki pengaruh yang kuat bagi para siswanya, jika mereka juga mampu menebarkan ide dan gagasan yang terus hidup di hati dan pikiran anak didik mereka. Karena itu leadership seorang guru harus terdapat sifat dan sikap yang mampu memberikan inspirasi bagi tumbuhnya kesadaran untuk bertindak, berpikir dan berasa. Pengaruh seorang guru dapat dikatakan baik jika para siswanya memiliki kemampuan untuk menggabungkan kesadaran dan tindakan, sehingga mampu menumbuhkan kesadaran untuk mensinergikan setiap perbedaan.

Hakikatnya guru yang memiliki pengaruh baik dan positif adalah bagian dari hierarki moral kebangsaan. Melalui mereka atau lebih tepatnya melalui kebijaksanaan mereka, masyarakat dituntun agar tetap berada di jalan yang benar. Mulder menyebutkan bahwa guru adalah orang yang memiliki wahyu untuk membagi pewahyuan, membagi kebenaran kepada murid sehingga murid tersebut mempunyai kebijaksanaan (2007:189). Contoh dan perilaku mereka akan dicatat sejarah sebagai sebuah awal dari kebangkitan moralitas kebangsaan yang selalu berusaha untuk terus memperbaiki diri. Paling tidak, kesadaran terhadap pentingnya sebuah pengaruh dalam proses pendidikan dapat menciptakan kondisi dunia pendidikan di tanah air yang lebih baik ke depan.

 



Kommentar Tidak Ada

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy