Ahmad Abdul Haq


Anatomi Sekolah Sehat (Sosro)

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 10 Januari 2014 15:58 WIBAnatomi Sekolah Sehat (Sosro)

Anatomi Sekolah Sehat (Sosro)

Ada yang menarik dari kemasan program Sekolah Sehat Sosro (SSS) yang di launching pada tanggal 22 September 2011 lalu di Gedung Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta. Wamendiknas Fasli Jalal, yang dalam kesempatan itu memberikan sambutan, sangat antusias menyambut sinergitas antara dunia usaha dengan dunia pendidikan,apalagi konsep yang hendak dibangun oleh program SSS adalah menumbuhkan kesadaran belajar berjangka panjang. Menurut Fasli Jalal, pemerintah akan berusaha maksimal untuk memanfaatkan seluruh domain program Corporate Social Responsibility (CSR) yang dimiliki perusahaan negara maupun swasta, kecil maupun besar, untuk mendorong terciptanya kesadaran masyarakat dalam membangun sekolah yang sesuai dengan cita-cita mereka secara bersama-sama.

CSR dari PT Sinar Sosro bekerjasama dengan Media Indonesia dan Yayasan Sukma selaku penggagas program tentu faham benar tingkat kesulitan yang akan dihadapi. Tetapi jika CSR dimaknai sebagai the continuing commitment by business to behave ethically and contribute to economic development while improving the quality of life of the workforce, and their families, as well as of the  local community and society at large," (World Business Council for Sustainable Development:2009), maka secara implisit definisi ini menempatkan organisasi perusahaan sebagai penanggungjawab sosial tidak hanya kepada konsumen atau pengguna produknya, tetapi pekerja, shareholders dan masyarakat yang berada di lingkungan perusahaan sebagai suatu ‘keharusan ekologis’. Maknanya, kegiatan CSR memang harus melampaui komitmen ekonomi atau politik yang bersifat pragmatis dan sesaat.

CSR juga harus digarap secara amat serius oleh nagara untuk pengembangan masyarakat (community development), terutama dalam rangka memberdayakan peran dan tanggungjawab masyarakat dalam jangka panjang terhadap sekolah dan atau pendidikan anak-cucu mereka ke depan. Meskipun definisi umum tentang CD sangat beragam, namun dari sejarahnya kita dapat belajar dari gagasan awal Robert Owen yang menawarkan konsep community planning untuk menciptakan masyarakat yang sempurna (James B. Cook: 2009). Jika konsep ini kemudian dielaborasi secara luas di mana masyarakat dilibatkan dalam setiap perencanan pembiayaan dan program pendidikan, maka kecerdasan masyarakat dalam mengembangkan konsep sekolah yang sustainable akan tercipata. Karena itu dibutuhkan partnership seperti perusahaan-perusahaan yang memiliki program CSR untuk aktif terlibat dalam memberikan pendampingan dan advokasi peningkatan kualitas sekolah.

Program SSS sesungguhnya sedag berusaha menarik kembali simpati dan dukungan masyarakat untuk masuk kembali ke sekolah dan membantu membesarkannya. Program SSS mengusung prinsip yang secara normatif dan kuantitatif dapat diukur keberhasilannya (measurable). Program ini berusaha menumbuhkan kesadaran baru bagi pesertanya untuk membentuk sistem pengelolaan sekolah yang menjamin terwujudnya kualitas sekolah yang bersih, hijau, hemat, kreatif, aman, damai dan berkelanjutan(berhikmat andalan). Indikator ini akan diterjemahkan ke dalam sebuah peta rencana aksi (action plan map) yang berisikan dua hal besar, yaitu mengusung perubahan berdasarkan aspek kultural dan struktural.

Secara kultural, ada tiga hal perlu disepakati oleh setiap peserta progra SSS, yaitu komitmen tentang nilai-nilai (values), pengetahuan (knowledge), dan keterampilan (skill) apa yang secara kultural ingin disepakati oleh komunitas sekolah, terutama yang berkaitan dengan indikator berhikmat andalan. Sedangkan secara struktural, sekolah harus mensepakati hal-hal yang berkaitan dengan pilihan strategi dan kebijakan (strategy and policy), menetapkan bentuk-bentuk kelembagaan yang ingin dibuat, dan outcome yang ingin dicapai, dijalankan dan dikembangkan dalam konteks berhikmat andalan tersebut.

Indikator berhikmat andalan sesungguhnya secara sadar ingin memperbaiki anatomi sekolah yang sekarang dianggap “tidak sehat,” serta mengajarkan komunitas sekolah tentang arti penting kebersamaan (togetherness). Isu soal kesehatan adalah isu yang sangat netral, sehingga seluruh stakeholders sekolah dapat berpartisipasi aktif dalam mensukseskan program SSS tanpa melihat latar belakang suku, etnis, budaya, atau agama tertentu. Membangun budaya bersih dan ramah lingkungan di sekolah pada akhirnya merupakan manifestasi dari komitmen, kegiatan dan aksi ramah lingkungan baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat sekitar sekolah. Komitmen, kegiatan dan aksi ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang harus dilaksanakan di Sekolah.

Berbagai kegiatan dalam program SSS akan dilakukan melalui serangkaian workshop dan pendampingan. Tujuan besarnya adalah bagaimana membentuk budaya bersih dan hijau di lingkungan sekolah melalui serangkaian program yang berkesinambungan, mengembangkan model sekolah sehat yang bersih dan hijau melalui pengembangan kurikulum (curriculum development) budaya bersih dan sehat di lingkungan sekolah, serta menginisiasi terwujudnya Statuta Sekolah (rules of games) tentang budaya bersih dan hijau di lingkungan sekolah. Dengan pendekatan andragogis yang menyenangkan dan terbuka, seluruh peserta SSS akan diajak dan diperkenalkan dengan materi-materi yang berkaitan dengan pendekatan lintas kurikulum (cross curricular approach), dan prinsip-prinsip sekolah yang bersih dan hijau dalam konteks Sekolah Sehat Sosro. Selamat bekerja!


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy