Ahmad Abdul Haq


Andy’s Corner 2

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Andy’s Corner 2 kick andy Judul Buku : Andy’s Corner 2
Penulis : Andy F. Noya
Penerbit : Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : x + 208 halaman
Harga : Rp. 69.000

Kick Andy episode Lentera Jiwa merupakan salah satu episode yang berhasil menuai banyak komentar. Setelah penayangannya, ternyata ada begitu banyak orang yang mengaku baru menemukan lentera jiwanya, atau mereka yang akhirnya mulai berpikir ulang tentang apa yang selama ini telah dilakukannya.

Respon masyarakat terhadap episode ini memang termasuk yang luar biasa, tidak hanya melalui komentar di situs kickandy.com. Bahkan sinopsis yang dimuat dalam halaman depan situs kickandy.com, beredar luas dibeberapa milis. Entah siapa yang memulainya atau darimana asalnya. Melihat respon yang demikian banyak, sang host, Andy F. Noya bahkan merasa perlu menuliskan jawaban sebagai bentuk respon dari para penonton Kick Andy. “Saya juga ingin mengikuti ‘lentera jiwa’ saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri”, tulis Andy dalam salah satu tulisannya yang diberi judul Lentera Jiwa. Jawaban ini mungkin salah satu cara Andy untuk menanggapi bergitu banyak respon masyarakat tentang episode Lentera Jiwa.

Sejak awal Andy’s Corner memang menjadi sebuah tulisan yang ditujukan untuk menjawab berbagai pertanyaan para penonton Kick Andy terkait topik-topik yang ditayangkan. Bukan itu saja, tidak dapat dipugkiri kalau tulisan dalam Andy’s Corner merupakan gambaran kehidupan sang host itu sendiri. Pembaca mungkin akan berdecak saat membacanya karena tidak akan mengira, betapa kayanya pengalaman yang ditulis. Atau sebenarnya kita sendiri yang sering lupa kalau pengalaman sekecil apapun akan menjadi berharga tergantung bagaimana kita memaknainya.

Berbeda dengan buku pertamanya, Andy’s Corner 2 kali ini dihadirkan dengan lebih berwarna. Ilustrasi yang disajikan dalam setiap tulisan, tampaknya memang sengaja dibuat untuk mengimbangi setiap cerita yang ditampilkan. Masih dengan kesan sebagai buku saku, Andy’s Corner tampaknya mencoba dihadirkan seringan mungkin agar para pembacanya dapat membaca tanpa mengerutkan kening. Mencontek dari motto tayangan Kick Andy, Andy’s Corner 2 ingin mengajak para pembacanya untuk membaca dengan hati. Memaknai pengalaman, tampaknya menjadi titik berat Andy dalam tulisannya di Andy’s Corner, yang diluncurkan pada ulang tahun ke-3 Kick Andy.

Pengalaman kecil yang sangat biasa menjadi sebuah kejadian penuh makna dan sangat dalam. Lihat saja dalam tulisannya tentang biskuit lebaran. Andy menceritakan pengalaman kehabisan bekal saat menumpang kapal dari Papua menuju Surabaya. Saat kehabisan bekal di atas kapal, tidak memiliki uang, dan “rebutan wilayah kekuasaan” di atas kapal memaksa Andy dan teman-temannya yang kelaparan untuk mencuri sekaleng biskuit. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kaleng biskuit yang dicuri adalah milik seorang kakek, transmigran asal Trenggalek, Jawa Timur, yang hendak pulang kampung untuk Lebaran. Dengan segenap kemampuan mereka mengumpulkan uang untuk membeli tiket ‘kelas dek’. Sementara sang kakek menguras uang tabungannya demi sekaleng biskuit merek Khong Guan.

Si kakek bersikukuh untuk terus menyimpan biskuit tersebut, dan tidak memperkenankan cucunya untuk membuka sekalipun sudah merengek. Bila lebaran nanti kaleng biscuit barulah boleh dibuka. Pada hari lebaran, keluarga itu ingin ‘memamerkan’ lebih dulu biskuit tersebut kepada tetangga mereka di kampung. Mereka ingin menunjukkan kepada warga desa betapa mereka sudah ‘berhasil’ di tanah rantau. Simbol keberhasilan itu mereka wujudkan dalam bentuk sekaleng biskuit Khong Guan.

Penyesalan

Sepanjang sisa pelayaran mereka harus disiksa perasaan bersalah dengan menyaksikan wajah-wajah yang bersedih, terutama wajah sang petani tua. Menyesal tetapi mereka juga tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak ada keberanian untuk mengakui apalagi kemampuan untuk mengganti barang yang telah dicuri. Mungkin petani pemilik biskuit itu tidak akan pernah membaca tulisan penyesalan si “pencuri”, dan cucu si petani mungkin juga tidak membaca tulisan penyesalan tersebut. Namun, pengakuan dosa itu lebih bertujuan sebagai bentuk pembelajaran sederhana untuk para pembacanya. Tanpa bemaksud menggurui, cerita yang ditulis memang tampaknya lebih seperti ungkapan perasaan ketimbang pengakuan dosa. Penulisnya menyerahkan pada pembaca seluruhnya mengenai “nilai” apa yang dapat ditangkap dalam cerita, karena setiap orang tentu akan menangkap nilai yang berbeda tergantung dari sudut mana ia berpijak.

Tidak hanya dalam satu tulisan, Andy sebagai penulis mengungkapkan penyesalan atas pengalamannya di masa lalu. Apakah ia menelanjangi diri sendiri? Rasanya jawabannya bisa ya dan tidak. Bisa berarti positif dan juga negatif, pembaca sendiri yang akan menilai dan memilahnya.

Kekhawatiran kalau orang-orang yang terkait dengan cerita akan membaca dan merasa tersinggung tentunya ada. Dan tidak sedikit kekhawatiran tersebut yang menjadi kenyataan. Misalnya, dalam tulisan tentang Yanti, cerita tentang seorang anak tunagrahita, tetangganya sewaktu tinggal di Surabaya. Andy pernah menjadi pengasuh Yanti agar dapat menumpang untuk nonton televisi di rumah Yanti. Delapan tahun setelah pindah ke Malang, Andy kembali ke Surabaya dan Yanti yang dikenalnya masihlah Yanti yang sama, wajah, mimik maupun sorot matanya. Namun Yanti tidak lagi mengenali Andy sebagai orang yang pernah mengasuhnya. Bertahun kemudian, Andy tidak lagi mendengar kabar tentang Yanti. Sampai suatu kali saat Andy memuat tulisan tentang Yanti dalam Andy’ s Corner, Mas Sentot, kakak Yanti yang membaca tulisan tersebut bahkan menuliskan komentar dan mengabarkan kalau Yanti sudah meninggal.

Melalui Andy’s Corner, Andy kembali bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya. Andy mengungkapkan keinginannya untuk bertemu dengan Ibu Ana, salah seorang guru SD nya. Ibu Ana adalah seorang yang memiliki peran besar hingga ia dapat menjadi seperti sekarang ini. Bukan dalam bentuk harta atau jabatan, tetapi kebahagiaan yang diraihnya sebagai seorang wartawan. Profesi yang sudah ‘’diramalkan’’ oleh Ibu Ana sejak ia masih duduk di bangku SD dulu.

Pencarian panjang itu akhirnya berbuah juga. Saat cerita Ibu Ana dimuat dalam situs KickAndy.com, salah seorang temannya, Iwan Gunawan menghubungi melalui facebook. Iwan yang juga pernah menjadi murid Ibu Ana, memberikan alamat dan nomor telepon Ibu Ana. Pertemuan guru dan murid ini diwarnai keharuan.”Ibu hanya menjalankan tugas seorang guru,’’ ujar Ibu Ana, seorang perempuan sederhana yang hingga masa tuanya masih begitu bersahaja.

Salah satu hal yang paling dikhawatirkan Andy adalah kalau tulisan-tulisannya tersebut dibaca oleh keponakan-keponakannya, atau anak dari kakak-kakaknya. Sebab banyak cerita yang dinilai terlalu pribadi. Suatu kali Andy bahkan dibuat kaget oleh respon salah seorang keponakannya. Salah satu anak Gaby, kakaknya yang meninggal akibat kanker, membaca kisah yang dituliskan Andy. Setelah membaca kisah tentang ibunya, dia menulis surat yang isinya membuat Andy terpana. Keponakannya itu mengungkapkan perasaannya yang sudah selama tujuh tahun dipendam. Perasaan bersalah, sedih, marah, penyesalan dan juga ungkapan terimakasih.

“Pernah terlintas dalam hati saya sebuah keraguan. Apakah menuliskan curahan hati saya di Andy’s Corner, yang kemudian diterbitkan menjadi buku, adalah keputusan yang benar? Banyak rahasia hidup saya yang selama ini tidak diketahui orang, terungkap di Andys’s Corner. Saya jadi merasa telanjang”. Tulisan Andy tersebut rasanya cukup menjadi jawaban. Ia mengaku kalau tujuan utamanya menuliskan kisah-kisah tersebut adalah dorongan untuk berbagi dan harapan agar pengalaman yang dialaminya dapat menjadi cermin bagi para pembacanya. Tentunya agar tidak ada lagi Andy-Andy lain yang akan melakukan penyesalan yang sama.

Curahan Hati

Pada awalnya kolom Andy’s Corner kebanyakan berisi klarifikasi mengapa suatu topik diangkat dalam Kick Andy. Belakangan, tulisan-tulisan dalam kolom ini mulai meluas, tidak hanya seputar tayangan Kick Andy, tetapi juga pada apa yang dapat direfleksikan oleh sang host sebagai si pemilik kolom melalui tayangannya maupun melalui pengalamannya sehari-hari.

Salah satu tulisan yang menarik adalah tentang kematian. Andy bahkan menuliskannya hingga dua bagian. Andy menceritakan kematian salah seorang sahabat dari masa kecilnya. Di depan matanya, kaki sahabatnya itu tergilas ban mobil yang dikemudikan ayahnya. Belajar dari kematian Eyen, Andy mempersiapkan diri untuk melepaskan neneknya yang sudah sejak lama sakit. Ia membawa anak dan istrinya ke Belanda untuk mengunjungi sang nenek, yang saat itu bahkan mereka tidak tahu apakah masih mungkin untuk bertemu kembali.

Lain lagi saat ia harus menghadapi kematian sang ayah. “Sepuluh menit yang lalu kami masih berdialog. Bahkan sedikit bersitegang. Gara-gara ayah melarang saya pergi”. Andy mendapatkan tiket gratis menonton pertandingan "Sarung Tinju Emas" di Gelanggang Olahraga Cenderawasih, Jayapura. Sayang, sang ayah melarangnya. Setelah perdebatan singkat ayah dan anak itu, ia pun nekad berangkat. “Tapi, baru beberapa langkah, terdengar jeritan ibu. Ayah ambruk. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, di dalam taksi, saya menyadari ayah telah tiada. Denyut nadinya datar. Jantungnya tidak lagi berdegup. Ayah telah pergi untuk selama-lamanya” ceritanya dalam Kematian 2. Kali ini ia tidak bisa mempersiapkan apapun untuk melepas ayahnya, bahkan hanya penyesalan yang tersisa.

Andy’s Corner tidak hanya menggambarkan curahan hati Andy Noya, tapi juga menceritakan dahsyatnya efek Kick Andy pada para penontonnya. Cerita tentang Harry Candi, seorang penyuluh petani tambak udang di Pare-Pare, yang dengan begitu bersemangatnya rela menempuh jarak 40 kilometer dengan sepeda motor setiap minggunya hanya untuk menonton Kick Andy. Tempatnya bekerja di Kabupaten Barru, kotamadya Pare-Pare, Sulawesi Selatan, sinyal televisi tidak bisa ditangkap. Karena itu, untuk menonton Kick Andy di Metro TV, dia terpaksa harus ke kota terdekat yang jaraknya puluhan kilometer. Lalu dimana menontonnya? Di warung-warung sepanjang jalan, atau menumpang di kantor pemerintahan. Perbedaan waktu antara Indonesia Barat dan Indonesia Tengah memaksa Harry untuk rela menginap di pompa bensin ataupun warung-warung sepanjang jalan sepulang menonton. Malam yang semakin larut dan tubuh yang sudah semakin lelah membuatnya tidak dapat langsung pulang.

Sebelum menonton Kick Andy, Harry mengaku hidupnya tidak berguna, tidak untuk dirinya ataupun untuk orang lain. Sampai suatu hari, tanpa di sengaja, dia menyaksikan Kick Andy episode “Mereka Memang Ada” yang menghadirkan Suster Apung. Seorang perawat yang dengan segala keterbatasan peralatan berkeliling dari pulau ke pulau di kepulauan terpencil di Lautan Flores, Sulawesi Selatan.

Jika Suster Apung dengan segala keterbatasannya bisa mengabdi dengan sangat luar biasa, Harry berpikir seharusnya ia juga bisa melakukan hal yang sama. Kesadaran untuk dapat berbagi dan berbuat untuk sesame menjadi sebuah semangat yang terus membara dalam hati Harry. Semangat itu juga yang terus memacunya untuk bekerja lebih baik, mengabdikan diri pada para petani tambak di Pare-Pare. Hasilnya?. Jika dulu para petani tambak hanya bisa memperoleh Rp 300 ribu, berkat pengetahuan yang diajarkan Harry mereka kini bisa mendapatkan Rp 15 juta sekali panen.

Sebuah tayangan bincang-bincang berdurasi 90 menit ini ternyata telah memberikan arti demikian besar bagi beberapa orang. Tidak ada yang menyangka kalau Kick Andy yang tayangan perdananya dimulai pada maret 2006 lalu itu kini didaulat menjadi program televisi terbaik versi rating publik. Para penggagas program itu mungkin juga tidak pernah menduga kalau pengaruh Kick Andy menjadi demikian kuat. Menyaksikan orang-orang yang terinspirasi melalui tayangan itu mungkin akan menjadi bonus besar bagi para pekerjanya, bonus yang tidak ternilai tentunya. Hal inilah yang coba disampaikan oleh Andy dalam tulisan pertamanya di Andy’s Corner 2. Sebuah ungkapan terimakasih kepada para penonton Kick Andy.

Seperti Kick Andy yang terus mencoba untuk tampil berbeda, Andy’s Corner 2 disajikan juga berbeda dengan buku pertamanya. Kali ini dilengkapi dengan bonus DVD Andy’s Diary dan kertas yang full berwarna. Tampilan buku yang cerah ini seperti menyiratkan tujuannya untuk menjadi sebuah pencerahan, memberikan sebuah warna baru untuk bisa memaknai hidup. Membaca buku ini, pembaca tidak hanya diajak untuk menyelami kembali episode-episode yang pernah ditayangkan di Kick Andy, tapi merenung lebih dalam mencari makna apa yang akan dipetik dalam setiap tayangannya. Mengutip tulisan Gede Prama dalam kata pengantarnya yang menyebutkan bahwa ada banyak bibit di dalam diri manusia. Ada bibit kebodohan, keserakahan, kemarahan, iri hati, dendam. Ada juga bibit kesabaran, kasih sayang, cinta, memaafkan, persahabatan. Pertanyaan berikutnya, bibit-bibit mana yang kita sirami setiap harinya?. [iu]


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy