Ahmad Abdul Haq


9 Summers 10 Autumns

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
9 Summers 10 Autumns kick andy Judul : 9 SUMMERS 10 AUTUMNS
Penulis : Iwan Setyawan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

9 kali musim panas dan 10 kali musim gugur atau jika dikalkulasikan menjadi 9 tahun adalah masa yang dihabiskan Iwan Setyawan selama tinggal di New York. Pria asal Batu, Malang ini meniti kariernya dari sebuah kantor di bilangan Thamrin hingga jabatan akhirnya sebagai Director Internal Client Management Nielsen Consumer Research, New York.

Pencapaian Iwan bukan tanpa perjuangan. Lahir sebagai anak seorang sopir angkot dan ibu yang tidak tamat SD, Iwan sangat hafal dengan rasa susah dalam hidupnya. Ruangan terbesar di rumah mereka adalah ruang tamu yang berukuran 2x4,5m. Di ruang itulah Iwan dan keluarganya, bersama 4 saudara perempuannya saling mengenal, mengakrabi hati mereka.

Impian masa kecilnya sangat sederhana, memiliki sebuah kamar sehingga ia tidak terus menerus berpindah tidur dari kamar orang tuanya, kamar saudara-saudaranya, rumah neneknya, hingga ke karpet coklat di ruang tamu mereka. Kondisi keuangan keluarga yang serba memprihatinkan membuat Iwan kecil dan saudari-saudarinya tidak merasakan nikmatnya memiliki mainan. Teman setianya adalah buku. Kegemarannya belajar didorong dengan hasrat untuk dapat memiliki sesuatu. Satu-satunya hal yang masih mungkin mereka dapatkan dengan segala keterbatasan keluarga, yaitu kebanggaan memiliki prestasi yang sama atau bahkan lebih dari anak-anak lainnya.

Sebagai anak desa, perjalanan Iwan ke Bogor menjelang kuliahnya di IPB adalah perjalanan pertamanya ke luar kota. Tapi siapa sangka kalau langkahnya hari itu akan mengantarkan ia untuk perjalanan selanjutnya, hingga menyeberangi samudera untuk menapaki karier di negeri yang sangat jauh dari rumah.
Dengan gaya bertutur layaknya sedang mendongeng pada seorang anak, Iwan menyajikan ceritanya dengan mengalir. Tokoh anak kecil laki-laki tampil menjadi bagian cerita seperti buku yang kembali dibuka. Iwan bercerita dengan alur maju-mundur mulai dari cerita masa kecil, perjalanan kariernya, hingga keputusannya untuk melepaskan karier cemerlang dan kembali pulang ke rumah. Membuka kembali kisah masa kecilnya, Iwan seperti sedang memaafkan semua hal yang tidak sempat dimilikinya saat kecil, mainan, kamar tidur, bahkan kesempatan untuk bermain. Dengan semua hal yang telah dijalani, Iwan menceritakannya dari sudut yang berbeda sebagai sebuah kesatuan dari perjalanan hidupnya hingga berada pada posisi saat ini.

Di kaki gunung Panderman, di dalam rumah kecil itu, adalah tempatnya kembali. Mereka, orangtua yang konon tidak berpendidikan itu, bukan hanya sudah membangunkan rumah untuk anak-anak mereka. Mereka juga telah membangunkan rumah bagi jiwa anak-anaknya, dan menghangatkannya dengan cinta. Dari kota apel ke The Big Apple, Iwan membagi kisahnya. Seperti sebuah apel yang masih menyisakan rasa manis dari seluruh rasa asamnya, begitupula kehidupan. Rasa asamnya kini sudah menjadi manis dengan ketekunan, kerja keras, dan cinta.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy