Ahmad Abdul Haq


Orang-orang Buangan

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 19 Oktober 2006 12:00 WIBOrang-orang Buangan

Orang-orang Buangan Pada saat di tanah air peristiwa 30 September 1965 pecah, sejumlah orang Indonesia yang sedang berada di luar negeri tidak bisa pulang. Ada yang tidak berani dan ada pula yang ingin pulang tetapi tidak diperkenankan oleh pemerintahan yang baru, yang dinamakan Orde Baru. Banyak di antara mereka yang pada jaman Bung Karno dikirim belajar ke luar negeri. Ada yang sedang bekerja dan ada pula yang dalam penugasan sebagai duta besar atau staf Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Kebanyakan dari mereka waktu itu sedang berada di negara-negara sosialis komunis, antara lain di Uni Soviet, Tiongkok, Berlin Timur, dan Cekoslovakia. Sebut saja Sobron Aidit. Pada saat tragedi 30 September 1965, dia sedang mengajar di Institut Bahasa Asing Beijing, sebagai guru besar bahasa. Hari-hari menjelang kejadian, sang kakak, Dipa Nusantara Aidit, tokoh sentral PKI yang pada waktu itu sedang membawa delegasi Indonesia ke Cina, menasehati adiknya untuk tidak pulang. ”Itu pertemuan saya yang terakhir dengan abang saya,” ungkap Sobron. Tak lama kemudian DN Aidit dinyatakan tewas tertembak pada saat berada di Jawa Tengah, saat sedang sembunyi di dalam lemari. Delapan belas tahun lamanya Sobron menjadi orang buangan di Beijing, sampai kemudian dia mendapat kesempatan pindah ke Prancis. Di Paris, Sobron tinggal lebih dari 24 tahun dan hidup dari bisnis restoran yang sangat populer di kalangan orang-orang Indonesia di pembuangan. Selain Sobron, ada Koesalah Soebagyo Toer, adik kandung Pramudya Ananta Toer. Tahun 1960 dia mendapat beasiswa ke Moskow untuk belajar bahasa. Koesalah pulang pada tahun 1965 pada saat suasana sedang panas-panasnya. Sobron dan Koesalah memang dengan cepat bisa dituduh berhaluan kiri karena punya hubungan darah dengan DN Aidit dan Pramudya Ananta Toer. Tetapi bagaimana dengan Djoko Sri Mulyono, Gustaf Adolf Dupe, Tarjan, Rusdi Ardewi, dan mahasiswa lain yang pada tahun 1960-an mendapat beasiswa dari pemerintah? Ini kisah duka orang-orang buangan yang menderita akibat peristiwa 30 September 1965. Mereka harus terpisah ribuan mil jauhnya dari keluarga selama bertahun-tahun. Bagaimana reaksi mereka manakala pemerintahan SBY membuka peluang agar mereka kembali ke tanah air? Kali ini Kick Andy mencoba memotret kehidupan mereka, setelah sebelumnya Gus Dur, saat menjadi presiden, juga pernah membangkitkan harapan mereka pada tahun 2000 dulu. Jangan lewatkan tayangannya Kamis malam, 19 Oktober 2006, pukul 22.30 di Metro TV.

 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy