Ahmad Abdul Haq


Life is Beautiful

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 30 Nopember 2006 12:00 WIBLife is Beautiful

Life is Beautiful Namanya Sri Lestary, panggilan akrabnya Lenes, Lestary Kenes, karena walau tinggi badannya tidak lebih dari 75 cm Lenes selalu tampil ceria. Tinggi tubuh dan cacat fisik tampaknya tidak mampu menghambat Lenes untuk tampil percaya diri dan optimistis dalam menjalani hidup. Setamat SMA, dia memilih mengajar bahasa Ingrris untuk anak-anak sekolah dasar. Sejak kecil Lenes mengaku sudah senang pada bidang psikologi. Sayang, cita-citanya untuk kuliah di jurusan psikologi patah di tengah jalan. Namun Lenes beruntung bisa menyalurkan minatnya itu dengan menjadi pengasuh program konsultasi untuk remaja di beberapa radio di kotanya, Tuban, Jawa Timur. Dengan fisik yang tidak sempurna itu, ke mana-mana Lenes harus digendong. Sang kakak, Suci Ningsih biasanya dengan setia mengantar Lenes ke tempat tujuan. Namun jika sang kakak yang guru SMU itu sedang mengajar, maka teman-teman Lenes dengan ringan hati menggantikan sang kakak menggendong Lenes ke radio untuk siaran atau ke tempat Lenes mengajar bahasa Inggris. Kehadiran Lenes di pogram Kick Andy, Kamis, 30 November 2006 ini diperkuat oleh Yusstanza Razali, bocah 10 tahun yang dengan lincah memainkan wayang kulit di tangannya. Siswa kelas 5 SD yang menderita autis ini memilih lakon Mahabarata untuk dipentaskan di Kick Andy. Sebuah lakon yang menceritakan perang besar antara Pandawa Lima dan Kurawa. Kelincahan Yusstanza sekaligus mematahkan anggapan orang selama ini bahwa anak-anak penderita autis sulit bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Bahwa anak autis punya dunianya sendiri. "Dengan medium wayang saya bisa berkomunikasi dengan Yusstanza," ujar Yusrizal Razali, sang ayah. Penonton di studio semakin terpesona manakala sejumlah penari yang terdiri dari mereka yang lahir tidak sempurna memperlihatkan kemampuan mereka. Di bawah naungan Yayasan GR Siswa Terpadu para penari yang terdiri dari para tuna-rungu, tuna-wicara, dan tuna-daksa itu dilatih membawakan beberapa nomor tari. Tarian mereka itu juga sempat membuat para juri dalam beberapa kompetisi antar-bangsa terkagum-kagum dan memberi nilai tinggi untuk kemenangan mereka. Moral yang hendak diangkat dalam episode Kick Andy kali ini bahwa ternyata mereka yang dilahirkan dengan keterbatasan tetap bisa menjalani hidup mereka dengan gembira dan berprestasi. "Anak-anak saya itu malah kadang terlalu percaya diri. Seringkali mereka bersikap layaknya orang normal sehingga tidak banyak orang tahu bahwa mereka itu lahir dengan keterbatasan," ungkap Ibu Lies Kusbiono, Ketua Yayasan GR Siswa Terpadu. Kegembiraan mereka tentu memicu kita untuk mensyukuri apa yang ada pada kita dan menyongsong hidup lebih optimistis dan lebih gembira. Life is Beautiful.

 

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy