Ahmad Abdul Haq


Stop ‘Bullying’

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Kamis, 14 Juni 2007 12:00 WIBStop ‘Bullying’

Stop ‘Bullying’ Fifi, yang baru duduk di kelas dua SMP, memutuskan mengakhiri hidupnya dengan cara yang mengenaskan. Dia melilitkan kabel antenna televise ke lehernya lalu menggantung dirinya sampai mati. Sungguh sulit dimengerti bocah berumur belasan itu nekad melakukan hal yang seharusnya tidak terpikirkan oleh remaja seusianya. Tetapi semua itu terjadi manakala Fifi tidak tahan lagi karena setiap hari harus menghadapi ejekan teman-teman sekolahnya: “Fifi anak Jokbur! Fifi anak Jokbur!” Fifi akhirnya tak kuat. Dia merasa ejekan yang membawa-bawa nama Joko bapaknya sebagai penjual bubur sungguh menginjak-injak egonya. Apalagi ketika hari pembayaran sekolah tiba, orangtuanya sering memintanya bersabar karena belum punya uang. Kedua hal itu membuat tekanan terhadap mentalnya tak terbendung lagi. Jalan keluar yang paling singkat untuk mengakhiri semua itu: bunuh diri. Kekerasan di sekolah yang dihadapi Fifi memang bukan kekerasan fisik. Tetapi banyak pihak tidak menyadari bahwa kekerasan terhadap mental juga sering menelan korban. Fifi hanya satu dari sekian banyak anak-anak dan remaja yang tak sanggup menerima kekerasan mental di sekolah. Karena itu, Kick Andy kali ini mengangkat topik bullying guna mengingatkan bahwa kekerasan di sekolah sudah terlalu banyak menelan korban. Akhir-akhir ini, dua peristiwa yang paling disorot media dalam soal kekerasan di sekolah adalah kasus di IPDN dan Akpol Semarang. Adalah Hendra Saputra, seorang taruna Akademi Kepolisian Semarang, harus kehilangan cita-citanya sejak kecil untuk menjadi polisi akibat kekerasan fisik yang dialaminya. Sejumlah seniornya di akademi itu melakukan kekerasan di luar batas kewajaran membuat pemuda 21 tahun ini harus dirawat selama hampir empat bulan di rumah sakit. ”Saya disetrum. Tangan saya dililit serbet basah, lalu mereka menyetrum berkali-kali,” ujar Hendra ketika tampil di Kick Andy. Bukan Cuma itu. Dia mengaku kekerasan yang dilakukan para senior itu membuat taruna yang sebentar lagi diwisuda ini mengalami cidera di kepala. Kasus ini kemudian masuk pengadilan dengan keputusan para seniornya itu dinyatakan tidak bersalah dan divonis bebas. Hendra kecewa berat. Orangtuanya meradang. Hendra yang merasa terancam memutuskan keluar dari akademi yang seharusnya membawa dia pada cita-citanya sejak kecil. ”Sebab sejak itu saya menerima banyak ancaman via sms. Lebih baik saya mundur.” Maka Hendra, yang mengaku sejak SMP sudah mempersiapkan fisik dan mental untuk menjadi polisi, harus mengubur dalam-dalam impiannya. Bagaimana dengan Cliff Muntu, mantan taruna IPDN yang juga tewas akibat dianiaya para seniornya? Salah satu yang disesali kedua orangtuanya adalah mereka kurang peka terhadap perubahan yang terjadi pada Cliff. ”Beberapa kali, kalau pulang ke rumah, Cliff mengeluh sakit di beberapa bagian tubuh tapi kami tidak terlalu menanggapi. Apalagi dia sendiri sering bilang keluhan itu biasa saja dan tidak usah terlalu dipikirkan,” ujar Sherly Muntu, sang ibu. Sang ayah, Noldy Muntu, juga melihat perubahan yang mendasar. ”Tadinya dia anak yang ceria dan ramah pada adiknya, tapi setelah sekolah di IPDN berubah menjadi pendiam.” Di ujung acara, Inu Kencana Syafiie, salah satu pengajar IPDN yang membongkar berbagai kasus di sekolah calon pamong praja itu tampil menjelaskan perkembangan terakhir dari kasus kekerasan yang menjadi bahan pembicaraan di mana-mana itu. Namun dalam buku ”IPDN Undercover”, terungkap pula bahwa sebagai pengajar, Inu juga melakukan kekerasan terhadap siswa-siswa IPDN. ”Saya hanya pukul seperti ini,” ujar Inu sembari memberi contoh. ”Tapi mereka ggak mati kan?” Sampai kapan korban kekerasan di sekolah -- baik fisik maupun mental -- ini akan berakhir? Berapa banyak lagi kita harus menunggu korban berjatuhan? Stop bullying sekarang juga!


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy