Ahmad Abdul Haq


GAMBAR BURAM LAYAR KACA KITA

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Senin, 10 Maret 2008 12:00 WIBGAMBAR BURAM LAYAR KACA KITA

kick andy Sesaat setelah lagu ”Cis kacang buncis eclek” selesai berkumandang, tiba-tiba muncul sosok Pak Raden dengan gaya khasnya yang arogan sambil marah-marah mencari si Unyil. “Maanaa si Unyil....lihat jambu ku haaaabisss semua,” ujar Pak Raden dengan suara lantangnya. Sejenak penonton K!ck Andy di studio malam itu pun tersenyum. Boleh jadi senyuman itu tak sekadar mentertawakan kehebohan Pak Raden mencari si Unyil, tapi juga mengingatkan mereka kembali akan sebuah tayangan yang pernah sangat digemari pada era 80-90 an, ’Si Unyil’. Pada masanya, tayangan boneka Si Unyil memang menjadi favorit semua kalangan. Pasalnya, tayangan tersebut bukan saja menghibur tapi juga kental dengan pesan-pesan yang mendidik. Menurut Drs. Suyadi selaku salah seorang tim kreatif sekaligus pengisi suara tokoh Pak Raden, kehadiran para tokohnya mewakili kondisi serta realita sosial kala itu. Unyil misalnya, menggambarkan anak Indonesia yang baik, penolong tapi juga agak bandel sesuai dengan karakter anak-anak. Sementara tokoh Meilani yang keturunan Tionghoa, menggambarkan adanya pembauran. Sayang, setelah selama 12 tahun menemani para pemirsanya, tayangan Si Unyil pun dihentikan. Persoalan dana konon menjadi penyebabnya. Tak hanya Unyil yang hilang dari layar kaca lantaran kendala dana. Cerita Boneka Si Komo pun mengalami nasib yang sama. Padahal cerita boneka inipun, selain sangat digemari anak-anak, juga sarat dengan pesan yang mendidik. Para tokohnya seperti Si Komo, Ulil, Dompu, Belu dan Piko memiliki karakter serta sifat khas yang dimiliki anak-anak. Menurut Kak Seto yang membidani lahirnya Si Komo, pembuatan cerita boneka dianggap lebih mahal dibandingkan film-film kartun import. Tak heran, jika belakangan layar kaca kita memang lebih marak dengan film-film dari luar yang seringkali kurang sesuai dengan budaya asli Indonesia. Belum lagi dengan maraknya sinetron yang terkadang hanya menebar mimpi dan kurang mendidik. Padahal, tak hanya tayangan boneka Si Unyil dan Si Komo saja yang pernah menyajikan hiburan sekaligus mendidik anak-anak. Gatot Soenjoto dengan boneka Tongki-nya juga pernah begitu berjaya. Dengan menggunakan seni bicara lewat perut, Gatot dan Tongki menjalin komunikasi dan mampu menyampaikan pesan-pesan, seperti jangan lupa cuci tangan atau jangan mengompol dan sebagainya. Demikian halnya dengan Ria Enes dengan boneka Suzan-nya. Dengan karakter yang pemberani, centil, ceriwis dan khas anak-anak, boneka Suzan bersama Kak Ria menjadi idola anak-anak di tahun 90-an. Ria menjadikan Suzan sebagai teman untuk berdialog dan berkomunikasi dengan anak-anak. Atas keprihatinan itulah kali ini K!ck Andy hadir dengan episode GAMBAR BURAM LAYAR KACA KITA. Topik ini diangkat karena semakin maraknya tayangan program anak-anak di televisi yang mengandung kekerasan dan seks, yang membuat banyak orangtua khawatir. Apalagi tayangan-tayangan tersebut diyakini bisa mempengaruhi kejiwaan anak-anak sehingga mereka menjadi agresif, melakukan kekerasan dalam tindakan mereka sehari-hari. Disamping itu, maraknya pemerkosaan yang dilakukan anak-anak di bawah umur serta remaja juga diyakini akibat pengaruh negatif program anak-anak di televisi belakangan ini. Karenanya lewat episode ini, K!ck Andy ingin sekadar mengingatkan bahwa layar televisi kita pernah semarak dengan program tayangan-tayangan anak yang mendidik. Semoga tayangan-tayangan tersebut bisa kembali hadir mencerahkan televisi kita. Sehingga tak ada lagi tudingan bahwa tayangan televisi menjadi penyebab lahirnya kekerasan maupun tindak kriminal yang dilakukan anak-anak.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy