Ahmad Abdul Haq


PERADILAN SESAT

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 12 Februari 2010 21:30 WIBPERADILAN SESAT

PERADILAN SESAT Adagium yang berkata lebih baik melepaskan 1000 orang bersalah, daripada menahan atau memenjarakan satu orang tidak bersalah, sepertinya tidak terlalu “laku” di dunia peradilan Indonesia. Berbagai kasus salah tangkap hingga salah vonis masih terus terjadi. Masih ingat kasus Sengkon-Karta pada era 1970-an? Kasus ini adalah salah satu contoh berlakunya peradilan sesat di Indonesia yang cukup fenomenal.

Apakah sejarah kelam seperti ini masih akan terus terulang? Sepertinya iya. Pada tahun 2007, Kick Andy pernah mengangkat kisah peradilan sesat atas pasangan suami istri Risman Lakoro dan Rostin Mahaji di Gorontalo, serta Budi Harjono di Bekasi. Risman dan Rostin harus mendekam di penjara selama kurang lebih 3 tahun, atas dakwaan membunuh anak kandungnya sendiri, sementara Budi harus merasakan dinginnya kurungan besi selama enam bulan. Belakangan, terbukti tuduhan dan vonis terhadap mereka salah besar. Namun mereka telah terlanjur merasakan pedihnya hukuman atas sesuatu yang tak pernah mereka lakukan.

Namun pasca sejumlah peristiwa tersebut, idealisme penegakan hukum dan kenyataan yang terjadi, ternyata masih “njomplang”. Terutama kasus yang menimpa pada kalangan rakyat kecil dan awam hukum. Di Bandung, peradilan sesat terjadi pada seorang Iwan Setiawan. Iwan harus menerima kenyataan pahit, diciduk polisi dan diadili atas tuduhan melakukan pembunuhan terencana terhadap mantan majikannya pada 31 Juli 2006. Padahal, pada hari terjadinya pembunuhan Iwan sedang berada di rumah sakit menunggui sang bibi yang sedang dirawat. Iwan yang mengaku mengalami “pembinaan” saat interogasi penyidik, divonis penjara seumur hidup pada 2007. Iwan mendekam di lapas Sukamiskin Bandung selama 1 tahun 9 bulan, sebelum akhirnya kasasi tim kuasa hukumnya diterima Mahkamah Agung dan memutuskan ia tidak bersalah.

Sementara di Singkawang Kalimantan Barat, pasangan suami istri Cu Kin Sun alias A Sun, dan Fu Jan Lie, serta putra kedua mereka Cu Jiu Liong atau A Liong, juga harus merasakan perihnya hidup di penjara selama satu setengah tahun di LP Singkawang dari vonis 10 tahun penjara. Mereka bertiga divonis melakukan pembunuhan terencana pada tetangga mereka Bun Lie Ngo pada April 1995 silam. Tragis, karena Fu Jan Lie saat itu tengah mengandung, dan akhirnya harus melahirkan bayinya di penjara. Padahal keluarga petani miskin itu tak tahu apa-apa soal kasus dan tuduhan yang ditimpakan pada mereka. Belakangan diketahui, ada “permainan” hukum di dalam kasus ini. Berkat perjuangan tak kenal lelah pengacara pro bono mereka, upaya banding mereka dikabulkan Mahkamah Agung. Mereka diputus tidak bersalah dan bebas murni. Namun ironis, 13 tahun pasca kebebasan mereka sejak Januari 1997, proses rehabilitasi nama baik mereka dari MA, belum pernah terealisasi hingga kini.

Sementara kasus peradilan sesat yang cukup mengemuka dari Jombang Jawa Timur, adalah kasus pembunuhan Mr.X, pada 2007 silam. Kasus ini melibatkan Imam Khambali alias Kemat, David Eko Priyanto serta Maman Sugiyanto alias Sugik sebagai tiga tersangka utama. Kasus yang selanjutnya berkembang rumit ini, juga sempat bersinggungan dengan kasus pembunuhan berantai oleh Very Idham Henyansyah alis Ryan si Jagal Jombang, yang belakangan justru menjadi pintu terkuaknya peradilan sesat yang menimpa ketiganya. Kemat dan David sempat menjalani masa penahanan selama lebih dari setahun, dari vonis 17 tahun dan 12 tahun yang dikenakan pada keduanya. Sementara Sugik, harus merasakan proses penyidikan dan persidangan lebih dari lima belas bulan atas tuduhan padanya.

Di luar negeri, seorang warga Negara Indonesia juga harus merasakan pedihnya peradilan sesat. Doli Syarief Pulungan, pengusaha jual beli alat berat yang ke Amerika untuk mengecek proses pengiriman peralatan yang dipesannya, terpaksa harus merasakan hidup di balik terali besi lima penjara negara bagian yang berbeda-beda di Amerika Serikat selama dua tahun. Ia dituduh terlibat usaha perdagangan senjata secara ilegal dan memberikan keterangan palsu pada Pemerintah Amerika Serikat, dan akhirnya tervonis 4 tahun penjara. Di sini pulalah ia akhirnya merasakan, betapa negaranya sendiri kurang peduli dalam hal perlindungan hukum terhadap warga negaranya sendiri di luar negeri. Ia harus berjuang sendiri tanpa bantuan hukum dari pemerintah Indonesia sedikitpun, untuk membuktikan bahwasanya ia tidak bersalah, dan hanya menjadi korban paranoid berlebihan pemerintah Amerika Serikat terhadap terorisme.

Kasus terbaru dan hingga saat ini masih dalam proses persidangan, terjadi di Solo. Lanjar Sriyanto, nasibnya boleh dibilang seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Lanjar kehilangan sang istri, Saptaningsih, akibat kecelakaan lalu lintas yang mereka alami pada hari kedua lebaran tahun 2009 lalu. Saat terjatuh dari motor, istrinya tersambar mobil dari arah berlawanan. Sang istri meninggal seketika. Dan tragisnya, kini Lanjar harus menghadapi tuntutan hukum penjara maksimal 5 tahun, atas tuduhan kelalaian dan menyebabkan orang lain alias istrinya sendiri kehilangan nyawa. Bagaimana perjuangan Lanjar dan kuasa hukum pro bono-nya berusaha mementahkan “logika” hukum yang aneh ini?


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy