Ahmad Abdul Haq


MELAWAN NASIB DI UJUNG SENJA

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 23 Juli 2010 21:30 WIBMELAWAN NASIB DI UJUNG SENJA

MELAWAN NASIB DI UJUNG SENJA Sebagian  orang  merencakan  kapan  ia  akan  pensiun  dari  pekerjaan, lalu  menikmati  masa tua dengan  semua kenyamanan  hidup. Tapi sebagian  lain  berserah pada usia dan kekuatan  fisik untuk   menghentikannya. Mereka  adalah orang-orang yang harus  terus melawan  nasib  hingga  usia senja,  pantang  mengemis  dan  mencari nafkah demi keberlangsungan hidupnya. “Ora kerja, yo  ora mangan,”  kata Mbah Redjo, perempuan berusia  sekitar  75 tahun, yang  masih  bekerja  sebagai pembuat dan penjual dolanan anak  di  Bantul, Yogyakarta.

Sudah  lebih dari 40 tahun, Mbah Redjo  menjadi  pengrajin sekaligus penjual  dolanan  anak. Ia tak  peduli berapa banyak  produk  China  menyerbu  pasar mainan  anak-anak  di  negeri ini.  Ia  juga tak peduli seberapa canggih  aneka  permainan di jaman  modern ini. Ia  hanya peduli pada  perutnya,  pada keberlangsungan  hidupnya yang  ia kais  dari  berjualan  mainan tradisional.

Mbah Redjo  tinggal sendirian, suaminya  sudah lama meninggal,  dua anaknya  hidup terpisah. Ia memilih  hidup mandiri di rumahnya  yang  pernah terbelah  oleh  bencana  gempa tahun  2006  lalu. Kini rumahnya  sudah  diperbaiki  berkat bantuan  donatur. Meski  usianya merambah  renta,  tapi  ia pantang  meminta atau  numpang  hidup  kepada kedua anaknya. Ia mengaku  tidak ingin dan  juga  tidak  mungkin menjadi  benalu bagi kedua anaknya  yang  hanya  berprofesi   sebagai buruh  tani.
Nenek  yang murah  senyum ini,   mengerjakan  semua persiapan dan pembuatan  mainan  sendirian,  dari proses memotong  bambu, menggunting  besi tipis,  melipat  hingga mengecat.  Berbagai  mainan  anak tradisional ia  buat, seperti  kipas kertas, kincir,  boneka wayang, dan lain-lain.

Ketika fajar  mulai menyingsing, Mbah Redjo  memulai  aktivitas  harinya  dengan menggendong  bakulan  dagangannya dan  berjalan kaki  sejauh  10 km menuju  Pasar  Gamping  di  wilayah Sleman.  Ia menempuhnya  dengan  waktu sekitar 2,5 jam.  Pukul 8 pagi  hingga  menjelang  pukul  1 siang,  ia  menggelar  hasil karyanya  untuk diperdagangkan.

Harga  dolanan  buatan  Mbah Redjo  berkisar antara  Rp.1000 – Rp.2000.  Penghasilan  dari  berjualannya,  antara  Rp.30.000  -  Rp.50.000  per hari.  Berbeda dengan biasanya,  hari ini  dagangan  Mbah Rejo  laris manis.  Tak lain, ini karena kehadiran  Andy  F. Noya  di  Pasar  Gamping, khusus untuk menemui  dan menemani  Mbah Redjo berjualan. 

Sambil berjualan Host Kick Andy mengajak Si Mbah untuk bercerita tentang perjuangan hidupnya.

Ya, di episode kali  ini, secara khusus Host Kick Andy mengunjungi para nara sumber.

Dari   Pasar  Gamping, Sleman,  Andy  F. Noya  mengajak  pemirsa  untuk  menemui seorang   nenek  di sebuah tempat  asri  di wilayah  Jumo, Temanggung.  Kampung  yang  dilintasi  saliran  Sungai Tegong  ini memberikan  peluang  usaha  bagi  warganya, terutama kaum  perempuan,  untuk  menjadi penambang dan pemecah batu  kali. 

Salah satu  pemecah batu senior  yang  ditemukan  di  kampung  itu  adalah  Mbah  Klimah. Ia mengaku berumur   hampir  90  tahun.  Sudah  sejak   muda ia  bekerja  sebagai pemecah batu, terlebih setelah menjanda.  Mulai  pagi hingga petang,  dan diselingin  istirahat  makan siang,  ia duduk  di pinggir jalan desa bersama  para perempuan  pemecah  batu lainnya.

Ia nyaris tak bersuara selama  bekerja, sesekali  ia  mengusap  matanya  yang sudah  sering  berair.  Tangannya yang kurus dan   keriput   masih  semangat  mengangkat palu dan  meremahkan  batu-batu  kali.  Dan  Andy  F. Noya   mengaku  sangat  salut  pada   Mbah Klimah. “Saya  coba pecahkan  batu dan  ternyata  itu tak mudah,” ujarnya.

Mbah  Klimah   kini  hidup  bersama  anak bungsunya, Pon—yang juga  seorang janda. Pon  bekerja  serabutan,  dari tukang  mencari rumput  hingga  buruh harian  di ladang  orang lain. Jika  tak ada panggilan menjadi  buruh,  maka  ia bekerja  bersama  ibunya, memecah  batu atau  mengambilkan  batu  untuk  dari  kali  untuk  dipecahkan  ibunya. Maklum  Mbah Klimah  secara  fisik sudah tak kuat  lagi  wara-wiri  ke Sungai  Tegong  yang terjal.

Di  pinggiran  Sungai Tegong,  Andy  bertemu dengan  Mbah Rusmi, seorang  nenek seusia  Mbah Klimah  yang   sedang  mengambil  batu.  Kepada  Andy, Rusmi  mengaku  sudah sejak  muda mengerjakan pekerjaan ini.  Kebutuhan  hiduplah  yang  mengharuskannya, walau  ia  mengaku  sudah sering  sakit  badan.

Meski terlihat  sebagai pekerjaan  berat dan sedikit kasar,  menjadi  pemecah  batu  perlu kesabaran  dalam  menunggu  pembeli pecahan batu  atau  split  ini.  Sering kali   mereka  terpaksa  menjual  kepada  para  tengkulak  dengan harga  di bawah standar. “Harga  satu kubik   sekitar  60 sampai  80 ribu  rupiah,”  ujar  Mbak Pon.  Dan bayangkan,  satu  kubik  itu  adalah setara  dengan  hasil kerja  Mbah  Klimah memecah  batu selama  sekitar  2 minggu!  “Yah,  mau  gimana  lagi,”  ujar  Pon  yang diamini Mbah Klimah.

Semangat dan kerja  keras juga  dimiliki  oleh  Mbah Dasih asal Solo.  Nenek  berusia  75 tahun  itu  sudah   berjualan  nasi liwet  sejak  35  tahun lalu.  Sebuah  pilihan  profesi, yang  katanya,  tak  akan berubah  hingga tutup usia.

Sejak tengah malam,  Mbah  Dasih   memasak dan menyiapkan  dagangan makanan  khas  Solo ini.  Dini  hari  dengan menyewa sebuah  beca  ia   membawa dagangan ke tempat  mangkalnya  di emperan sebuah toko di Ngapeman, di Jalan Gajah Mada, Solo,  persis  di seberang hotel  Novotel Solo. Ia berjualan  dari   pagi  hingga  menjelang siang.

Kepada  Host Kick  Andy,  Mbah  Dasih  mengisahkan   banyak  hak tentang  prinsip  usaha sederhananya ini.  Untuk  sebungkus  nasi liwet dengan potongan ayam,  dia  menjualnya  seharga  Rp.6000.  Dibanding   dua  nenek sebelumnya,  mungkin usaha Dasih  terlihat  lebih  baik.  Tapi  tetap ada kesamaan;  kerja  keras  untuk  modal  melawan  nasib  di  hari senja.

Selain ketiga  nenek tadi, kami  juga  akan  memperkenalkan  anda pada  pejuang kehidupan lain. Ada  Mak Enik, seorang buruh  pembuat  genteng di Purwakarta, Jawa Barat.  Ia  harus  bekerja banting  tulang  untuk upah sebesar  Rp.20 ribu sehari. Upah  itu  dipergunakan  untuk membiayai kehidupan keluarga  dan suaminya  yang lumpuh. 

Sementara, dari Tangerang, ada kisah  Mak  Ida,  yang  pantang  jadi benalu bagi  anaknya,  kemudian memilih  tinggal  di  dekat  kandang kambing.   Dan  untuk  kehidupan sehari-harinya  ia  mencari uang dengan menjadi pengupas  kacang  di pasar.

Inilah  kisah penuh inspirasi  dari para  nenek yang  bertahan melawan  nasib dengan  kemandirian  dan kerja keras  di  usianya  menjelang senja. Selamat  menyaksikan. (*)


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy