Sumber: Kick Andy.com
|
|
Jumat, 03 Desember 2010 21:30 WIB
Di episode kali ini, Kick Andy ingin mengajak pemirsa bersama-sama membuka catatan tentang sejumlah nara sumber Kick Andy yang telah pergi untuk selama-lamanya. Mereka telah tiada tapi semangat dan perbuatan mereka bisa menjadi warisan berharga bagi kita semua. Dari Gusdur sang mantan presiden hingga seorang perempuan pemulung bernama Mery Elwarin telah memberikan kita banyak pelajaran bagaimana harus menyikapi hidup yang sarat perjuangan dan makna. Gusdur, salah satu tamu Kick Andy yang mengesankan. Kita bisa menilai Gusdur dari berbagai sudut pandang. Tetapi salah satu kekuatan gusdur yang sangat terasa adalah kejujurannya dalam berpendapat. Tidak peduli pendapatnya sering membuat banyak orang tidak nyama. Kekuatan lain yang dimiliki Gusdur adalah kesederhanaanya memaafkan, termasuk memaafkan orang lain yang telah menyakiti hatinya. Sementara Merry Elwarin adalah seorang ibu yang berjuang untuk pendidikan anak-anaknya. Setiap hari, mulai jam 3 dini hari sampai jam 9 malam, perempuan ini harus berjalan menyusuri jalan, memunguti botol-botol dan plastik bekas. Merry memilih menjadi pemulung demi pendidikan anak-anaknya. Perempuan yang tak bisa baca tulis ini punya keyakinan, pendidikan bisa menjadi jalan bagi keluarganya untuk keluar dari kemiskinan. Dan Merry berhasil menyekolahkan anak sulungnya hinga universitas. Catatan Kick Andy berikutnya adalah tentang seorang ayah yang memberi inspirasi kepada banyak orang tua yang anaknya terjebak narkoba. Almarhum Rony Patinasarani. Mantan pemain dan pelatih sepakbola kebanggan indonesia ini merupakan sosok ayah yang benar-benar mengaggap anak sebagai titipan tuhan yang selalu harus dikasihi, bahkan ketika dua anak mereka terjerumus dalam jeratan narkoba. Dari bidang lingkungan Kick Andy mengenang dua sosok pencinta lingkungan. Yang pertama adalah sosok sederhana dari Bogor. Badri adalah seorang penebang pohon liar, bertahun-tahun dia melanggar hukum dan merusak alam. Suatu hari kehidupannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Oleh sebuah kejadian, ia berubah menjadi seorang pencita lingkungan yang luar biasa. Pelestari alam lain yang ada dalam catatan saya adalah seorang expatriat asal Australia/ Gavin Bitch, alias Husin Abdullah. Sejak tahun 1986 ia memutuskan tinggal di Lombok dan bekerja untuk merawat wilayah itu menjadi bersih dan hijau. Bayangkan, Husin setiap hari memunguti sampah dan mengangkutnya sendirian, bahkan ia kemudian mengelolanya dan menciptakan mesin olah sampah secara mandiri. Dari dunia pendidikan, kita bisa mengenang seorang guru asal Malang, Jawa Timur, Tjandra Heru Awan. Ia adalah sosok guru yang pantang mengeluh atas segala keterbatasan fasilitas dalam mengajar. Di saat para guru terkendala oleh dana pengadaan alat praktek, Tjandra mendobraknya dengan kreativitas yang luar biasa. Dari tangannya lahir berbagai alat praktek fisika yang unik dan mudah dicerna. Alat-alat peraga itu dia ciptakan dari barang- barang bekas. Kepedulia pada dunia pendidikan juga dimiliki seorang ibu rumah tangga asal Bintaro, Banten, Edo Ettie. Bermula dari pertemuannya dengan dua pemulung yang tidak bisa membaca, Edo tergerak untuk memberikan pendidikan informal pada anak-anak pemulung. Pertengahan tahun 2009 lalu, Edo ettie wafat. Ia mewariskan banyak kebaikan di dunia pendidikan informal. Selain sejumlah anak-anak yang terselamatkan dari buta aksara, pengabdian Edo mengispirasi kita agar mau membuka mata dan hati untuk membantu sesama. Masih ada beberapa nara sumber lain yang akan kita kenang. Mereka yang telah meninggalkan kita, tapi penampilannya di Kick Andy semasa hidup meninggalkan banyak pelajaran hidup bagi kita semua. Sebuah warisan inspirasi yang tak akan pernah mati. Selamat menyaksikan. |
Tag: Kliping Media, Kick Andy |