Ahmad Abdul Haq


JANGAN MENYERAH

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 24 Desember 2010 21:30 WIBJANGAN MENYERAH

JANGAN  MENYERAH Hidup dengan kanker payudara, siapa sudi? Tapi menurut data dari organisasi kesehatan dunia atau WHO setiap tahun jumlah penderita kanker payudara bertambah sekitar tujuh juta. Dalam setiap 3 menit, terdeteksi penderita penyakit kanker payudara dan setiap 11 menit dikabarkan penderia penyakit ini meninggal dunia.

Kenyataan ini lah yang membuat sebagian dari kita tak bisa mengelak dari serangan kanker payudara. Dan harap dicatat, kanker payudara tak hanya menyerang kaum perempuan, tapi juga kaum laki-laki.

Meski kanker payudara termasuk salah satu penyebab kematian, tapi banyak hal bisa membantu meminimalisir parahnya penyakit bahkan menyembuhkan. Dan Kick Andy kali ini khusus mengundang sejumlah survivor kanker, yang berjuang untuk melawan penyakit mematikan ini, sebagai sebuah pelajaran yang patut kita ketahui.

Satu hal yang paling penting dalam menghadapi datangnya penyakit ini adalah deteksi dini dan kewaspadaan terhadap adanya benjolan di daerah payudara. Enny Anggraeni Harjanto, seorang wanita karir, sempat tak peduli ketika menemukan benjolan di payudaranya. Ketika benjolan itu membesar, baru ia kemudian memeriksanya ke dokter. Dan ketika dokter menyatakan bahwa itu sebuah tumor, Enny kemudian memilih untuk berobat alternative. “Saya kira dengan alternatif bisa lebih cepat sembuh,” tutur Enny.

Dan ketika pengobatan itu tak membuahkan hasil, Enny akhirnya kembali ke dokter dan harus menerima kenyataan pahit. Ia terkena kanker payudara stadium empat! Dan parahnya kanker itu sudah menyebar hingga ke paru-paru.

Enny pun harus menjalani operasi dan beberapa treatmen pengobatan yang menyakitkan. Bahkan bagi Enny periode ini disebut sebagai rangkaian penyiksaan. Karena pengobatan itu mengakibatkan fisiknya berubah drastis, seperti kukunya yang menghitam, rambut rontok, kulit keriput, sampai gigi yang meregang.

Dengan dukungan suami dan keluarga, Enny berhasil melewati semua. Pengalaman hidupnya telah mengantar Enny menjadi seorang relawan di bidang kanker. Ia membantu banyak pasien kanker untuk menerima kenyataan dan mau menjalankan pengobatan walaupun sangat berat.

Artis Rima Melati pun pernah mengalami hal yang sama. Ia pernah terkena kanker payudara. “Saya sudah sempet nangis karena saya berpikir I’m not going to life any longer,” ujarnya.

Meski sempat merasa demikian, tapi akhirnya Rima memilih tegar untuk menghadapi penyakitnya. Perjuangan yang tak mudah ia jalani, mulai dari operasi pengangkatan sebagian payudara hingga kemoterapi. Kesabaran untuk menjalani proses penyembuhan, dan juga dukungan sang suami, telah membuat semangatnya terus menyala untuk melawan sakit, hingga memperoleh kesembuhan.

Berkah kesembuhan ini kemudian menyemangati Rima untuk terus berbagi semangat dengan saudara-saudara lainnya yang masih berjuang melawan kanker.

Berbeda dengan nara sumber lainnya, kisah Melky Goeslaw yang sempat terkena kanker payudara, menjadi sangat trgagis.

Tahun 2001, saat usianya 54 tahun, Melky menemukan benjolan di dekat putting payudaranya. Seorang dokter yang memeriksanya pernah menyarankan untuk mengoperasi benjolan itu, namun Melky tak menghiraukannya. Tahun 2004 penyanyi legendaris ini harus menghadapi kenyataan, benjolan itu ternyata sudah menjadi kanker stadium 4 dan kondisinya sudah pecah!

“Melky sempat mengalami shock berat, tahun 2004 menjalani kemoterapi, hingga tahun 2005 melky sempet pulih,” tutur Linda sang istri.

Tahun 2006, takdir berkata lain, diam-diam kanker di tubuh Melky terus menjalar hingga paru-paru dan getah beningnya. Dan pada 20 Desember 2006, penyanyi legendaris itu berpulang ke haribaan Tuhan.

Lain lagi dengan kisah Ibu Supraptini. Pada 23 tahun lalu ia menghadapi sebuah perjuangan dan pilihan berat. Ia divonis kanker payudara stadium 3, di saat ia sedang mengandung anaknya yang ke-empat. Sejatinya naluri seorang ibu, Supraptini pun memilih untuk mempertahankan keselamatan janinnya, ketimbang harus mengobati sel-sel kanker yang menjalari tubuhnya. “Kalo saya melakukan pengobatan sama dengan membunuh nyawa anak saya,” tuturnya di Kick Andy.

Dan untuk anda ketahui, menurut Dokter Ahli Kanker Sucipto, kehamilan saat kanker sangat beresiko. Tapi toh, dengan keyakinannya, Supraptini memilih untuk membiarkan anak itu terlahir ke dunia.

Supraptini menjalani operasi pengangkatan payudara sebelah kanan, empat hari setelah ia melakukan persalinan bayi di tahun 1987. Bayi perempuan yang diberi nama Gita Nurul Hidayah itu lahir secara normal dan kini telah tumbuh menjadi remaja yang sehat dan kini menjadi seorang dokter.

Di Kick Andy, Gita menuturkan perasaan terimakasihnya pada sang ibu. “Andai waktu itu pilihan ibu lain, mungkin ceritanya akan berbeda,’ ungkapnya. Dan diakhir acara, Gita memberikan sebuah hadiah indah bagi ibunya. Apakah itu? Saksikan lengkapnya di episode “Jangan Menyerah”. Selamat menyaksikan.


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy