Ahmad Abdul Haq


KAMI JUGA BERHAK SUKSES

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 21 Januari 2011 21:30 WIBKAMI JUGA BERHAK SUKSES

KAMI JUGA BERHAK SUKSES TKW disiksa. TKW dilecehkan. Pelanggaran  kontrak  gaji. Majikan  yang  melakukan kekerasan  bahkan pembunuhan  pada TKI yang  bekerja pada mereka.  Itulah serentetan  berita  duka yang  sering  kita  lihat di  media  berita.

Tak heran, karena menurut catatan  kementrian luar negeri kasus kekerasan terhadap tenaga kerja Indonesia  tahun 2010 mencapai 4.532 kasus! Angka itu diperoleh berdasarkan laporan dari seluruh kedutaan besar RI di dunia. Dan bisa jadi,banyak juga  kasus  kekerasan  yang  tidak  terdeteksi  atau   tidak  dilaporkan.

Bukan  soal kedukaan  yang  akan kami  kisahkan  di episode ini. Tapi  Kick  Andy  mengajak    anda  semua  untuk melihat  kisah-kisah  tentang sejumlah TKI   yang memiliki cerita  berbeda. Seperti kisah  Nuryati  Solapari, mantan TKW di Arab Saudi.

Keputusan  Nuryati  untuk  menjadi  seorang  TKI  adalah  demi  memenuhi  cita-citanya untuk melangsungkan  pendidikan ke jenjang kuliah. Kondisi  ekonomi keluarga  sangat  tidak  memungkinkan   baginya  untuk  berkuliah, meski dia  berpredikat lulusan  terbaik di  SMA-nya.  Maka  Nuryati pun   menjadi  TKW di Arab  Saudi pada kurun waktu tahun 1998 – 2001. Ia   bekerja sebagai baby sitter atau pengasuh bayi bagi keluarga arab yang memiliki dua orang anak.

Dengan  uang hasil keringatnya itulah,  kemudian  Nuryati  mendaftar kuliah di universitas Tirtayasa, Banten.  Dengan  upaya keras, terutama  soal mencari biaya, Nuryati tak hanya meraih gelar sarjana  di kampus itu, Ia juga berhasil meraih gelar S2-nya di bidang hukum.

Mantan TKW yang  kini  bekerja sebagai  dosen di  kampus almamaternya itu,  juga  sedang  menyiapkan diri  untuk meraih gelar  doctor. “Saya ingin menjadi TKW yang bisa  mencapai gelar  professor,”  ujar Nuryati   di Kick  Andy.

Pergi  untuk menjadi  TKI  memang  harus  punya  target. Setidaknya  itu  yang  diyakini Imam Nahrawi  sebelum memutuskan  menjadi  TKI ke Korea di  tahun  2000.  Imam  berangkat menjadi TKI ke Korea Selatan dengan target untuk mengubah kehidupan, karena gaji  sebelumnya sebagai  pekerja di pabrik pengolahan pisang,  dirasa tidak kunjung cukup.

“Istri  saya  sempat berpesan dan memberi saya  2 pilihan saat akan berangkat yaitu, pulang dan berhasil membuat iri tetangga karena sukses, atau pulang dengan malu karena disorakin tetangga karena tidak suskes,”   tutur  Imam.

Berbekal pesan  dari sang istri tadi, Imam pun bekerja di perusahaan tekstil  di  Pusan, Korea  Selatan. Tekad, usaha keras dan kejujuran  yang  membuat imam bisa mengumpulkan banyak  modal untuk  menjadi pengusaha di  tanah kelahirannya, setelah ia kembali  dari korea tahun 2002. Kini  Imam memiliki  sejumlah   usaha. Semua asset yang dibangun dari modal gaji yang dia kumpulkan selama bekerja di Korea itu, kini mencapai milyaran rupiah.

Uniknya  lagi, Imam kini  membangun sebuah pasar yang diperuntukan  bagi para  mantan TKW/TKI.  Pendirian pasar ini katanya, merupakan wujud prihatin karena banyak ditemukan mantan TKI  yang kembali miskin setelah pulang ke kampung halamannya, akibat  para mantan TKI berperilaku konsumtif dan tidak bisa mengelola uang hasil jerih payah selama bekerja di luar negeri.

Lain lagi kisah  Maryam,  mantan  TKW di Hongkong.  Para  TKI  bisa  belajar banyak bagaimana  trik-trik   Maryam  dalam   mengumpulan  uang  tambahan selama  menjadi  TKW  disana.  Pekerjaan utama  Maryam  di  Hongkong  adalah menjadi pembantu  rumah tangga di sebuah  keluarga, sekaligus menjadi   pengurus  seorang manula. Di sela-sela  itu, Maryam sangat jeli melihat peluang bisnis  yang menghasilkan keuntungan. Ia  mengaku tak  mau  konsumtif  seperti TKW-TKW lainnya.

Soal  TKW  di Hongkong,  memang  bukan cerita  baru. Banyak  kisah  tentang  TKW yang terlilit  hutang di sana, karena  kebiasaan  yang konsumtif  disana.  “Bayangkan di sana   itu  ada banyak TKW yang kalau ulang tahun itu mengadakan pesta, hingga  menghabiskan  3 bulan gajinya,”  kata  Maryam. 

Sineas muda  Lola Amaria  yang  memproduksi film   “Minggu Pagi di  Victoria Park”   juga   membenarkan  soal   kegiatan  konsumtif  itu.  Bahkan, menurut  Lola,  pekerja  Indonesia di sana  yang kebanyakan  perempuan itu  juga  gampang  terjerat  oleh  para  pria-pria  bertampang india. “Mereka  suka  membelanjakan uangnya  untuk  para pria-pria  itu,” ujarnya.

Kisah  dari  Jepang lain lagi.  Zulkifli, pemuda  asal Kendari  Sulawesi  Tenggara,  menjadi  TKI  di sana  selama  6  tahun. Di sela-sela  pekerjaannya,  Zul   sering menyempatkan waktu  untuk bermain  musik, dengan  membeli alat-alat music  bekas  untuk menyalurkan  hobinya.  Bahkan  beberapa  kali ia  sempat memiliki kesempatan untuk  manggung  di  kedutaan  Indonesia di Tokyo Jepang.

Lagu  Aishiteru yang  kini  popular  adalah salah satu karya yang ia  ciptakan  sambil  mengerjakan  tugasnya  sebagai  di sebuah pabrik. Katanya,  itu  adalah  sebuah  lagu  yang mengungkapkan kegundahannya sebagai lelaki  yang terpaksa harus  berjauhan  dengan sang istri. “Mesin di pabrik itu  kan berisik sekali,  jadi  saya teriak-teriak aja  nyanyi lagu itu, orang Jepangnya  juga  gak  denger,”  kata  Zul  diakhiri  tawa.

Sekembalinya  dari Jepang,  Zul  memantapkan karirnya  di  dunia musik tanah  air. Lagu  yang  yang  ia  teriakan saat  bekerja  di pabrik  itu kini  sudah  populer  di kancah musik Indonesia.   Dan  Zul  membawa  lagu  yang  berjudul  Aishiteru  itu  dengan  bendera  grup band  Zivilia.

Inilah  kisah-kisah  yang  akan memberi inspirasi  bagi  kita  semua, tentang semangat dan   perjuangan  saudara-saudara  kita  para TKI/YKW  hingga bisa meraih sukses.

Selamat menyaksikan.

Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy