Ahmad Abdul Haq


BERBAGI ORGAN, BERBAGI KASIH

Back | Up | Next

 

Sumber: Kick Andy.com

 

 
Jumat, 25 Februari 2011 21:30 WIBBERBAGI ORGAN, BERBAGI KASIH

BERBAGI ORGAN, BERBAGI KASIH Seperti dikatakan nukilan seorang penyair terkenal, Anda dianggap memberi sedikit ketika memberikan harta benda Anda pada orang lain. Tetapi bila Anda memberikan diri Anda sendiri, maka itulah pemberian yang sesungguhnya. Dalam episode ini, Kick Andy mengangkat kisah orang-orang yang memberikan organ atau bagian dari tubuhnya untuk menyelamatkan nyawa orang lain. Ada juga kisah orang yang menyerahkan seluruh jasadnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

Tuhan memberi kita sepasang kaki dan tangan untuk berjalan dan memegang, juga sepasang mata dan telinga untuk melihat dan mendengar. Tetapi mengapa Tuhan hanya menganugerahkan sekeping hati pada kita? Tetapi sekeping hati itulah yang tulus diberikan seorang karyawan pada pimpinannya. Kisah Putut Handoko, seorang pemuda usia 27 tahun, yang dengan niat bulat mendonorkan hatinya guna menyelamatkan Hendra Adidarma, seorang presiden direktur sebuah perusahaan cat di kawasan Tangerang. Walaupun dari 10 karyawan yang bersedia menjadi pendonor, tetapi setelah melalui serangkaian test, ternyata hanya 1 orang saja yang cocok, dan dialah Putut Handoko. Dalam operasi liver transplantation di sebuah rumah sakit di Hongkong, Putut merelakan separuh hatinya untuk ditanamkan pada hati Pak Adi, yang saat dioperasi berusia 72 tahun. Baik Pak Adi maupun Putut, karena keduanya bukan satu keluarga, proses sebelum dilakukan operasi memiliki banyak hambatan yang menguji kejiwaan mereka. Bagi Putut, pengorbanannya ini selalu mendapatkan pandangan sinis dari berbagai kalangan karena justru ketulusannya menimbulkan prasangka dan nada cemooh yang menyakitkan perasaannya. Tetapi hal itu tak menyurutkan niatnya menolong pimpinan perusahaan tempat ia bekerja tersebut. Sedangkan bagi Pak Adi, ditolaknya pelaksanaan operasi di Singapura karena lewatnya batasan usianya yang diperbolehkan (65 tahun usia maksimal boleh dilakukan transplantasi) dan adanya donor hidup yang dibawa dari negara sendiri (apalagi bukan dari keluarga) sehingga membuat komisi etika disana tidak percaya. Hal itu hampir saja membuatnya ragu untuk melanjutkan perjuangan mencari kesembuhan.

Kisah pendonor hati lain adalah kisah Widya Ari Dewi yang memberikan 60% hatinya untuk menyelamatkan ibundanya, Ibu Henny Sutanto. Seperti diketahui sebelumnya Ibu Henny (istri dari Jend. Pol (Purn) Susanto, mantan Kapolri) adalah penderita diabetes yang kemudian berlanjut mengalami sirosis (pengerasan hati). Liver transplantation juga satu-satunya jalan yang disarankan dokter yang harus ditempuh untuk meraih kesembuhan. Meski menurut dokter donor terbaik adalah dari pihak keluarga, tetapi tidak semua anggota keluarga bisa cocok. Setelah menjalani beberapa test, dari keempat putra-putri Ibu Henny, hanya putri bungsunya Widya Ari Dewi (27 tahun) yang cocok untuk menjadi pendonor. Di bulan Juni 2010, operasi besar yang memakan waktu14 jam di sebuah rumah sakit di Singapura telah dilalui oleh ibu anak ini. 100% liver Ibu Henny yang telah mengeras diangkat dan hati Widya yang sehat dicangkokkan ketubuh ibunya. Pengorbanan seorang anak untuk kehidupan sang ibu kini telah membawa hasil.

Banyak orang enggan mendonorkan organ tubuhnya karena konsekuensi kelangsungan hidup pendonor saat melakukan operasi atau resiko kesehatan paska ia kehilangan sebagian organnya itu. Pandangan ini berlawanan dengan pandangan pasangan suami istri asal Kota Malang - Soesanto dan Hanna Rosilawati. Sejak tahun 1986, keduanya telah membuat surat wasiat dengan pengesahan notaris yang menyatakan bahwa kelak bila keduanya meninggal maka mereka akan menyumbangkan korneanya pada bank mata di kota itu, dan menyerahkan seluruh jasadnya pada Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya- Malang, untuk digunakan sebagai cadaver (tubuh manusia yang digunakan untuk praktika kedokteran). Niat tulus Pak Soesanto yang merupakan bungsu dari 6 bersaudara ini, ternyata menginspirasi kakak tertuanya, Budi Setiawan, yang juga ikut membuat wasiat yang sama. Sayang, di tahun 2003 si kakak sulung, Budi Setiawan telah berpulang. Pak Soesanto pun melaksanakan wasiat yang telah diamanatkan sang kakak. Kornea mata Pak Budi ternyata telah membantu seorang gadis kecil yang membutuhkan dan jasadnya telah diserahterimakan pada FK. Univ. Brawijaya.

Pendonor organ di Indonesia jumlahnya masih sangat sedikit. Adanya benturan pada budaya, etika, dan keyakinan agama mengenai pro kontra menyumbangkan bagian tubuh makin menjadikan minimnya jumlah organ yang tersedia. Kick Andy juga mengundang seorang ahli jaringan yang menjadi penggagas bank jaringan di Indonesia - Dra. Nazly Hilmy PhD - yang juga telah mewasiatkan dirinya sebagai donor ketika kelak meninggal dunia. Hadir juga Sonia Wibisono, entertainer yang memutuskan menyimpan stem sell dari darah tali pusat bayinya di sebuah bank stem sell swasta meski berbiaya besar. Bagaimana stem sell ini mampu menjadi donor kehidupan bagi organ yang membutuhkan?


Kick Andy: Home • The Show • Special • Andy's Corner • Foundation • Recommended Book • Andy's Friend • Andy's Team • About

Tag: Kliping Media, Kick Andy